Gelar Sarjana Keperawatan dan Profesi

21 komentar

Suatu hari beberapa mahasiswa/i keperawatan mendatangi saya dan bertanya apakah mereka harus melanjutkan pendidikan sarjana keperawatan yang sudah mereka peroleh dengan pendidikan profesi/Ners atau tidak. Pertanyaan ini bagi saya adalah hal yang sangat menarik untuk diperbincangkan mengingat perbedaan pendidikan keperawatan antara Indonesia dan negara-negara lain.

Pendidikan keperawatan di Indonesia mungkin pendidikan dengan gelar yang bisa membuat binggung pada awalnya. Saya secara pribadi, harus menjalani pendidikan Sarjana keperawatan, lalu diwisuda dan lanjut dengan pendidikan profesi keperawatan yang selanjutnya diambil sumpahnya dengan menggelar acara kedua. Gelar ?, Saya memiliki gelar, S.Kep.,Ners. Sampai saat ini, saya masih belum dapat memahami secara paripurna makna dari gelar saya. Jika di luar negeri, teman-teman saya sangat bangga dengan gelar RN-nya, maka saya ketika di Indonesia bangga dengan gelar Ners saya, yang kadang diletakkan di bagian depan nama saya atau dibagian akhir saya.

S.Kep dan Ners yang diambil dengan periode waktu yang berbeda dan dirayakan secara berbeda ternyata adalah satu kesatuan. S.Kep tanpa Ners tidak lengkap!. Bisa dikatakan bahwa seseorang akan menjadi Perawat profesional jika sudah memiliki gelar S.Kep.,Ners. Jika tidak, maka tidak bisa menjadi perawat atau menyandang gelar, Perawat SEUTUHNYA. Kenapa ?, Banyak orang yang menjawab demikian, “Ya, Karena Undang-undangnya yang mengatakan demikian!“. Saya sependapat dengan hal ini. Undang-undang dilahirkan dari penelitian, pembahasan para ahli dan pemikiran yang mendalam. Ada alasan dibalik penetapan keputusan ini.

Jika merefleksikan dari pengalaman saya secara pribadi yang merupakan korban dari pendidikan keperawatan dan kurikulumnya, maka memang memperoleh pendidikan Ners adalah sebuah keharusan. Pendidikan dijenjang Sarjana, sangat tidak mencukupi keinginan untuk menguasai ilmu ‘praktik’ atau terapan. Maklumlah, Ilmu keperawatan ini, sama seperti ilmu kedokteran yang merupakan ilmu yang tidak hanya berbicara tentang teori belaka, tapi juga praktik yang merupakan proyeksi nyata dari ilmu abstrak.

Tapi, pendidikan keperawatan di Indonesia ini memang aneh. Aneh karena selain memiliki pendidikan sarjana, Ia juga memiliki pendidikan diploma yang 60 % dari pendidikannya dikonsentrasikan ke arah praktik. Jadi, mereka yang memiliki gelar diploma berkeinginan untuk melanjutkan ke sarjana, akan mendapatkan pendidikan komplit untuk ilmu abstract dan praktik. Kalau mereka memutuskan untuk mengambil pendidikan profesi, kita bisa mengatakan bahwa pendidikan praktik mereka double dan diharapkan lebih baik. Menarik bukan?.

Kesimpulan dan jawaban yang saya berikan untuk para mahasiswa/i yang bertanya diatas hanya satu, silahkan pikirkan sesuai dengan kepentingan masing-masing. Baik dan buruknya, dipertimbangkan dengan cerdas dan matang. Sehingga diharapkan tidak memberikan penyesalan dikemudian hari.

Salam Profesi.

Iklan

21 comments on “Gelar Sarjana Keperawatan dan Profesi”

  1. Makanya mending langsung ambil yg sarjana aja jd gak usah dua kli acara wisuda.

    Trmksh buat share nya, Ayu. Kmi yg outsider stidaknya jd tahu ttg mkna S.Kep Ners tsb

    Suka

  2. Yang ambil sarjana 🎓 banyak yang menyesal, karena taunya bisa langsung buat cari kerja. Mending ambil D3, lulus 🎓 bisa untuk kerja, mau lanjut S1 juga bisa

    Disukai oleh 1 orang

  3. Benar Kang, Banyak teman-teman yang memiliki pemikiran seperti ini. Tapi, kembali lagi, Hidup adalah pilihan. Memilih lalu bertanggungjawab dengan pilihan yang diambil dan selalu ada pengalaman yang bisa di bagikan disetiap jalannya.

    Suka

  4. Ia benar sekali Kang,…DIII juga ada uji kompetensinya. Pas lulus, gaji yang diperoleh bahkan tidak bisa dibilang sepadan dengan biaya seluruh perjalanan pendidikan.

    Luar biasa ya…hehehehe

    Suka

  5. Untuk seorang perawat, terutama di Indonesia, kita dibagi menjadi dua kelompok dengan kemampuan Vokasi dan profesional. Perawat Vokasional adalah mereka dengan gelar DIII dan profesional dengan gelar sarjana keperawatan profesi (S.Kep.,Ners). Masing-masing perawat ini, akan diujikan sesuai dengan kompetensinya masing-masing.
    Kalau dalam rumpun ilmu keperawatan, perawat itu adalah profesi, kalau di Indonesia, program profesi keperawatan dibedakan dengan program pendidikan akademiknya.
    Rumah sakit akan membuka lowongan pekerjaan sesuai dengan tenaga kerja mana yang mereka inginkan, bisa d3 atau sarjana profesi. Kalau mengambil pendidikan sarjana, harus lengkap dengan ‘Ners’ atau pernah mengambil pendidikan profesi. Kalau hanya S.Kep (Sarjana keperawatan) saja, biasanya diletakkan di bagian administrasi atau manajemen, karena pengalaman praktik yang masih di-asumsikan minim. Tapi, tentu saja ini tergantung dengan riwayat kerja si perawat itu sendiri dan juga kebutuhan rumah sakit.

    Demikian,..semoga bisa membantu.

    Disukai oleh 2 orang

  6. Jika merunut sejarahnya, ilmu keperawatan di Indonesia berkembang dengan dinamika yang lumayan kompleks. Pendidikan sarjana pertama di buka di Universitas Indonesia pada tahun1985 dan sekaligus pengesahan kurikulum pendidikan tenaga keperawatan jenjang S1. Kalau tidak salah, saat itu gelarnya masih berbentuk S.Kp. Tidak seperti sekarang yang sudah berubah menjadi S.Kep. Kurikulum pendidikan Ners sendiri di tetapkan pada tahun 1995. Tapi pada sat itu, gelar Ners sendiri masih belum familiar. Gelar ‘Ners’ itu sendiri merupakan implementasi dari SK Menkes No. 647 tentang Registrasi dan Praktik Perawat sebagai regulasi praktik keperawatan pada tahun 2000. Penggunaan gelar Ners itu sendiri tidak jelas kapan mulai ‘booming’, kalau di Kalimantan sendiri, baru sekitar tahun 2003an menjadi populer. Waktu masih pendidikn sarjana, binggung banget dengan keberadaan gelar seorang perawat waktu itu, sampai saat inipun masih sama hahahahaha

    Demikian Bu,..semoga membantu ya..atau mungkin menjadi lebih binggung.

    Disukai oleh 1 orang

  7. Waduh, terimaksih banyak penjelasannya yg komplit mbak.
    Btw, sy kemarin menominasikan mbk Ayu juga atas postingan sy Sunshine Bloger Award sbg jawaban dr postingan mas desfortin, mhn maaf kalau kurang berkenan,

    Disukai oleh 1 orang

  8. Terima kasih kembali, Bu.
    Oh ya ?, Wah…Ayu sepertinya ketinggalan banyak kabar berita. Akhir-akhir ini perhatian untuk menulis banyak dialihkan untuk hal lain hehehehe,
    Ayu sangat berterima kasih atas nominasi yang Ibu berikan, Ayu merasa sangat terhormat. Terima kasih banyak…
    Ayu harap, Ayu bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk ikut tantangan sunshine blogger award juga.

    Semangat !

    Disukai oleh 1 orang

  9. keperawatan?kebanyakan aturan iya,kerja rodi gaji sepi
    udah gaji sepi,cari kerja di RS pun susah,harus ada tahapan kompetensi,yang kerja orangnya apa str nya?
    kenpa dipersulit klo yang mudah saja bisa

    Disukai oleh 1 orang

  10. Halo, Sadako.
    Sedih mendengar komentar seperti ‘kerja rodi, gaji sepi’. Saya rasa ini bukan hanya terjadi pada Sadako saja, tpi banyak Teman2 Perawat kita yg lain. Kenyataan bahwa sampai saat ini, lulusan Perawat masih banyak yg berstatus honorer atau bahkan menganggur (Mohon koreksi saya kalau salah).
    Soal STR dan Uji Kompetensi, kita harap maklum. Pembuatan aturan demikian tiada lain dan tiada bukan adalah untuk keselamatan klien kita. Karena ditangan kita, dipercayakan nyawa seseorang.

    Suka

  11. Sejauh yang saya tahu, untuk mendapatkan STR memang memerlukan gelar Ners untuk sarjana. Tapi, perawat DIII atau diploma juga bisa memiliki STR untuk gelar atau kompetensi diploma miliknya.

    Terima kasih sudah bertanya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s