Lanjut ke konten
Iklan

Pemuda ber’kemeja’ Biru


photogrid_15326698686714263717940305232814.jpg

Oleh,

Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

 

Seiingatku, biru bukan warna yang kusukai. Biru sesuai kata orang melambangkan keluasan hati, kedamaian batin dan kemurnian cinta.

Tapi, aku lebih memilih hitam, yang menutupi dan menyembunyikan semuanya, yang lahir dan mati dengan ketiadaannya.

Suatu hari, selepas bertatap muka dengan sang pencipta di Bait-Nya, seorang pemuda berbaju biru berdiri di pintu. Perbatasan antara kebaikan dan keburukan. Menunggu dan mencari.

Lalu, bertemulah mata kami.

Saat itulah aku ingat, bahwa warna biru berarti damai dan dalam sedetik aku merasa surga tiba-tiba saja turun.

Ku abaikan saja.

Karena bukan aku, bukan aku yang mengharapkan damai, bukan aku yang mengharapkan ketenangan.

Sejak pertemuanku, aku tahu bahwa tugasku saat ini adalah menjadi tidak tenang, menjadi tidak damai dan menjadi menderita.

Tapi, warna biru ini menghajarku dan menggodaku untuk bertekuk lutut padanya.

Tapi, tetap kuabaikan saja karena ini semua bukan waktunya.

 

 

Note: Sebuah catatan kecil selepas pulang, Banjarmasin Juli 17, 2017.

Iklan
11 buah komentar Post a comment
  1. Hahahahaha…Lagi ngaco aja kemarin itu Kak,…hahaahha

    Disukai oleh 1 orang

    25 Jul 2017
  2. Blm siap atau gmn ni ceritanya? Jngan disangkal kalau udah tergoda, haha…
    Ap krn lg fokus berkarir atau gmn? 😇😇

    Disukai oleh 1 orang

    22 Jul 2017
  3. Terima aksih atas penjelasannya, ini ilmu baru buat Ayu. Sekali lagi, Terima kasih.
    Benar, pembaca bebas untuk menginterpretasikan tulisan apapun yang Ia baca dan sejalan dengan hal itu, Penulis juga dipersilahkan untuk menulis sesuatu yang membuat pembaca putar otak untuk menginterpretasikannya.

    Suka

    21 Jul 2017
  4. Well, Semiolog dan Kritikus Sastra Roland Barthes pernah berdalil bahwa di Dunia Publisitas, teks (konsep konsep dan teori teori sosial dan humaniora)tak punnya tempat berlindung yang pasti nan nyaman. Teks menentukan nasibnnya sendiri.
    Lalu dalam esainya tentang The Death of the Author pernah bilang bahwa saat sebuah karya dipublikasikan penulisnya telah “mati” dan kematian penulis adalah kelahiran pembaca karena pembaca bebas menginterpretasi sebuah tulisan sesuai keinginannya tanpa dibatasi oleh keinginan penulis. (penulis telah mati). Pembahasan ini memang sangat panjang tetapi setidaknya saya menjelaskan intisarinya saja…

    Disukai oleh 1 orang

    19 Jul 2017
  5. Yang judulnya, “Saat kita telanjang”.
    Dulu, Ayu punya satu tulisan yang judulnya hampir sama, “Telanjang” tapi, tidak berani untuk di publikasi disini, karena takut menimbulkan makna yang berbeda..hehehehe.

    Disukai oleh 1 orang

    19 Jul 2017
  6. Hahah sama-sama
    (Bole tau tulisan yang mana?) 😀

    Suka

    18 Jul 2017
  7. Terima kasih….

    Terinspirasi setelah membaca tulisan Risar sebelumnya,

    Disukai oleh 1 orang

    18 Jul 2017
  8. “Tapi, warna biru ini menghajarku dan menggodaku untuk bertekuk lutut padanya.”
    I love it…

    Disukai oleh 1 orang

    18 Jul 2017
  9. dua sisi yang membuatnya satu

    Suka

    18 Jul 2017
  10. Biru ada dua sisi,

    Disukai oleh 2 orang

    17 Jul 2017

Trackbacks & Pingbacks

  1. Pemuda ber-kemeja Biru — SHARING IS CARING – https://wordpress.com/customize/identity/madroni.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: