Skip to content
Iklan

Dokter Wawan


Asik membuka catatan-catatan lama, saya menemukan sebuah cerita yang saya tulis dengan Judul Dokter Wawan. Cerita ini saya tulis dan saya terbitkan Pada tanggal 12 Februari tahun 2013 silam di Blogspot, ketika saya masih menempuh pendidikan dasar keperawatan. Cerita ini saya tulis karena pada saat itu saya kesulitan untuk mengingat pengkajian Jantung dan Paru yang menjadi bahan ujian pada beberapa hari kemudian. Saya kesulitan untuk mendapatkan teman yang bersedia saya jadikan tempat belajar dan saya bosan menggunakan guling saya sebagai bahan praktik. Saya juga ingat betapa malasnya saya ke Kampus untuk meminta ijin menggunakan Phantom untuk pemeriksaan fisik, jantung dan paru.

 

Foto-0609

Seorang Mahasiswa Keperawatan Jurusan Diploma III Keperawatan dan Saya, beberapa tahun silam.

 

Warnita atau Nita adalah seorang perawat yang baru saja lulus dari sekolah keperawatan, meskipun hanya ber-ijasahkan D3 ia optimis bisa di terima di rumah sakit x yang menjadi tujuan seluruh aktivitasnya hari ini. Mengapa rumah sakit x?
Cerita sebelumnya, Nita harus dengan diseret-seret membawa neneknya untuk menemui Cardiolog, karena dalam beberapa hari terakhir, neneknya mengeluh berdebar-debar tidak karuan, tidak kuat berjalan jauh dan beberapa gejala yang membuat Nita pusing memikirkannya. Rumah sakit x adalah rumah sakit yang baru saja berdiri beberapa tahun yang lalu, tapi karena didukung oleh manajemen yang kuat, rumah sakit ini menjadi rumah sakit yang maju dengan pesatnya. Nita memutuskan untuk membawa neneknya ke rumah sakit ini.
Nita mendaftarkan neneknya ke bagian Poliklinik Cardiologi dan menunggu antrian. Entah kenapa hari itu antrian panjang sekali dan benar-benar membosankan harus mendapatkan diri menunggu dengan perut keroncongan. Nenek Nita hanya terus tersenyum-senyum sabar dan sepertinya mengolok-olok Nita karena sikap tidak sabarnya ini. Tidak berapa lama, nama Nenek Nita di panggil. Nita bergegas membawa neneknya masuk ke ruang pemeriksaan. Ketika pintu di buka, Nita dan neneknya di sambut oleh senyuman manis seorang dokter yang tampaknya masih muda dan ramah. Nita tanpa sadar mencengkram erat lengan neneknya dan baru sadar ketika neneknya berkata “aduhhh“. Nita menuntun neneknya ke ranjang pemeriksaan dan membantu neneknya mengatur posisi yang nyaman.
Saya dokter wawan, ada keluhan apa ini?
eeeee,,,begini dok, nenek saya dalam beberapa hari ini sering berdebar-debar dan kadang sulit berjalan jauh, mudah capek gitu,,e,,ee” Nita menjawab dengan rasa gugup yang semakin menjadi-jadi, apalagi ketika dokter berwajah tampan itu mendekat. Sempurna, guman Nita.
oo, oke saya mengerti, kalau begitu, ijinkan saya melakukan pemeriksaan pada nenek Anda, bagaimana nenek, bersedia? ” tanya dokter, agaknya ingin mempersingkat waktu.
ee,,,ia, silahkan ” jawab nita .
Ia, cu,,” kata nenek kemudian. Ini pertama kalinya nenek bersuara dan itu cukup membuat Nita kaget, karena nenek malah tersenyum sumbringah malu-malu. Astaga nenek,,,, pikir Nita.
Nita membantu dokter melepas pakaian atas nenek, dokter tidak lupa mengatakan kata permisi dan selalu mengulang-ulang kata “Maaf yaaa,,“. Nita tersentuh melihatnya. Dokter menjelaskan beberapa hal yang perlu diketahui Nita dan neneknya lalu memeinta persetujuan dari keduanya. Tentu saja tanpa lambat beraksi, nenek langsung memberikan persetujuan.
Dokter memulainya dengan menyuruh nenek memperlihatkan jari-jari tangannya, disana dilihat apakah ada abnormalitas seperti pada pasien dengan jari tabuh, nenek di suruh membalik tangannya untuk memperlihatkan talapak tangannya lalu membalik lagi, dokter memeriksa capilary refill time-nenek. Tampaknya normal-normal saja.
Pemeriksaan di lanjutkan dengan memeriksa denyut nadi radialis nenek, dokter memegangnya dengan mantap lalu meminta nenek menaikkan lengannya untuk memperlihatkan dan merasakan adanya collaps pulse. Dokter juga memeriksa nadi brakhialis sebagai pembanding dengan nadi radialis. Lalu dokter meminta nenek untuk menoleh ke sebelah kiri untuk memperlihatkan jugular vein pressure kalau tidak salah sih,,tampaknya nenek tidak memiliki gambaran pelebaran vena di leher. Dokter lalu menekan bagian bawah iga sambil melihat ke arah leher nenek, mungkin ini sejenis manuver.
Dokter melanjutkan pemeriksaan dengan menatap wajah nenek, agaknya pemeriksaan berlanjut ke arah pemeriksaan wajah. Nenek di minta untuk membuka matanya lebar dan melihat ke atas untuk memperlihatkan bagian sklera mata. Nenek juga di suruh menjulurkan lidah dan membuka mulutnya. Tampaklah gigi nenek yang hampir tidak ada, hanya ada beberapa gigi yang tersisa. Dokter tersenyum melihat tingkah nenek yang langsung menutup mulutnya dan cekikan tertawa. Astaga nenek,,,,komentarku dalam hati. Dokter kemudian melanjutkan dengan memeriksa carotid pulse dan bersiap untuk pemeriksaan precordial.
Untuk pemeriksaan precordial, dokter mengawalinya dengan inspeksi. Apakah ada hal berbeda di dada nenek? , dokter juga melihat apakah ada pulse yang tampak pada daerah ictus cordis.
Dokter lalu melakukan palpasi pada bagian ictus cordis merasakan denyutnya di sana lalu memperlebar palpasinya hingga ke bagian anterior axilla, medial axilla. Dokter mempalpasi pada hampir semua permukaan jantung. Dokter lalu mengambil stetoskop lalu mendengarkan bunyi jantung, dokter mendengarkan bunyi jantung untuk s1 dan s2 lalu membandingkannya dengan denyut carotis. Dokter mendengarkan bunyi nafas tambahan dengan memeriksa setiap katup jantung yang ada. Auskultasi di lakukan pada 4 titik, yaitu mitral, trikuspid, pulnonary dan aortik. Dokter malakukan pemeriksaan mitral regurgitasi yang ditandai dengan melebarnya bunyi abnormal hingga ke axilla. Berlanjut ke mitral stenosis, akan sangat ketahuan bila nenek di suruh miring ke sisi kiri. Aortic stenosis yang melebar hingga carotid arteri. Nenek di suruh duduk tegak posisi fowler lalu dokter mendengarkan bunyi jantungnya tepat di tengah-tengah dada. Dokter mengakhirinya dengan tersenyum manis. Agaknya itu yang menyebabkan nenek tidak gugup dan malah antusias menjalani pemeriksaan ini.
Pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan bagian punggung. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui keadaan paru-paru, keadaan paru cuma di periksa dengan auskultasi saja.
Pemeriksaan lalu dilanjutkan untuk memeriksa sacral edema yang dapat menunjukkan adanya gagal jantung.
Pemeriksaan berlanjut ke pemeriksaan abdomen dan oedem pada kaki, tampaknya nenek tidak memiliki tanda-tanda itu. Pemeriksaan selanjutnya adalah EKG, warna-warnanya; merah, kuning, hijau, coklat, hitam dan ungu. Ekstremitas atas, merah kuning, bawah, hitam hijau.
Dokter melakukan dengan cepat setiap pemeriksaannya lalu mempersilahkan kami untuk duduk tenang, dokter menjelaskan maksud dan arti dari pemeriksaan yang dilakukannya.
Yuppppzzzz, jelas nenek tidak menunjukkan adanya penyakit jantung. Nita bahagia sekaligus sedih. Untuk lebih lanjutnya,nenek di minta melakukan foto rontgen dada dan kembali pada pertemuan berikutnya. Dokter wawan mengakhiri pertemuan itu dengan senyumnya yang manis. Itulah alasan mengapa rumah sakit x menjadi tujuan perjalanan nita hari ini. Ia optimis diterima dan optimis sukses dan bla,,bla,,bla,,
Senyum dokter wawan memang membuatnya bersemangat untuk mengajukan lamaran pekerjaan di rumah sakit x.

 

….

Ketika membacanya kembali setelah beberapa tahun. Saya tentu saja kaget dengan kemampuan menulis cerita saya, “Tidak buruk” gumam saya. Hanya sedikit ‘ganjen’ yang kemungkinan besar diakibatkan oleh usia pertumbuhan saya yang sangat penuh semangat. Memang pada saat itu adalah masanya!

Saya menyadari bahwa pertumbuhan saat ini adalah berkat pertumbuhan dan perjuangan saya pada masa-masa sebelumnyasebelumnya. Membuka catatan-catatan lama, membuat saya menyadari bahwa menulis ternyata adalah bagian terbesar yang berkonstribusi terhadap pertumbuhan saya sebagai seorang manusia. Saya tanpa sadar meninggalkan banyak jejak disana-disini, jejak-jejak pertumbuhan saya sebagai anak, remaja dan orang dewasa pada saat ini. Jejak saya dalam bentuk tulisan.

Sebagai catatan akhir, Saya juga ingin memohon maaf kepada pembaca untuk banyaknya istilah-istilah ilmiah yang tercantum bebas dalam cerita ini, tidak bermaksud menyombongkan diri, hanya saya memang perlu cukup waktu untuk menulis glosariumnya disini.

Salam.

Iklan
14 buah komentar Post a comment
  1. Hallo, Nafisah. Mohon maaf, saya bukan dokter. Saya seorang perawat.
    Gigi yang bengkak sehabis cabut gigi, terutama karena cabut gigi geraham adalah wajar terjadi. Hal ini dikarenakan jaringan disekitar gigimu sedang berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan ketika gigi mu dicabut. Bengkak dan nyeri adalah pertanda bahwa jaringan disekitarmu sedang berusaha untuk mengobati dirinya sendiri.
    Kompres dengan kompres es dapat mengurangi nyeri dan bengkak. Sambil kompres es, Silahkan mengkonsumsi obat pereda nyeri dan aman, seperti contohnya Asam Mafenamat. Cukup 1 sampai 2 kali sehari (pagi dan sore) hingga nyeri berkurang.
    Bengkak akan terjadi sampai setidaknya 1 minggu.
    Jaga supaya makanan tidak masuk ke bagian gigi yg luka. Makan makanan yg lunak dan hindari mengunyah dibagian yg sakit.

    Salam.

    Suka

    24 Nov 2017
  2. Dok .boleh gak kalau gusinya bengkak karna gigi berlubang yg sakit dicopot kedokter gigi. Soalnya saya udah gak tahan dengan sakitnya… setiap kali makan gigi sakit terus.. sampek” pipi qw juga ikut bengkak sebelah.
    Berisaran nya dok. Terimakasih

    Disukai oleh 1 orang

    23 Nov 2017
  3. Yaap! Versi online, itu cukup Kak 😊

    Disukai oleh 1 orang

    29 Agu 2017
  4. Oh ya?…wah, terima Kasih banyak untuk sarannya. Sangat membantu banget! Baiklah, akan segera d cari bukunya. Nampaknya sudh ada versin online-nya ya… Hehehehe

    Sekali lagi, terima Kasih banyak!

    Suka

    29 Agu 2017
  5. Hahahaha. Baiklah.

    Sebenarnya Novel Andrea Hirata bisa menjadi sumber belajar menulis. Teringat beberapa pelajaran menulis di novel beliau yang bisa kakak gunakan untuk menulis cerita semacam ini 😃

    Disukai oleh 1 orang

    29 Agu 2017
  6. Kalau boleh jujur sih ngak… Dulu pernah beli novelnya yg laskar pelangi, tpi lebih memilih nonton movienya hahahahahaha

    Suka

    29 Agu 2017
  7. Kakak rajin baca Andrea Hirata nggak? 😃

    Disukai oleh 1 orang

    29 Agu 2017
  8. Oh I C…sipz..met beraktivitas Ayu

    Suka

    28 Agu 2017
  9. Untuk mereka yang memiliki sedikit gangguan emosi, seperti depresi dan isolasi sosial; menulis adalah terapi yang di anjurkan agar klien tetap mempertahankankan jalan pikirannya tetap sehat. Begitu hehehehehehe

    Terima kasih kembali, smeoga membantu.

    Suka

    28 Agu 2017
  10. Hemm..terapi kejiwaan
    ? Gimana tu Ayu?😊
    Sangat membantu sekali, penjelasanmu bijak bangetz, thanks.
    Yupz..SEMANGAT!!!
    OK…

    Disukai oleh 1 orang

    27 Agu 2017
  11. Banyak orang yang seperti Mas, saya juga demikian, menulis masih tergantung mood dan masih sebatas mengisi waktu luang kalau ada inspirasi. Tapi tidak apa, semuanya memang membutuhkan proses.
    Saya secara pribadi menjadikan menulis sebagai terapi kejiwaan, meredakan stress dan mengurangi pikiran2 yang tidak menentu hahahaha. Tentu saja masing2 orang mmiliki alasan untuk menulis masing2.
    Saya juga memiliki rasa takut demikian, apalagi soal publish. Tpi, saya kemudian memutuskan bahwa “sharing is caring” atau berbagi adalah bentuk kepedulian. Meskipun tulisan saya mungkin masih jauh d bawah standar, tpi saya ingin belajar dan mendapatkan banyak masukan dari banyak teman2 penulis lainnya. Dengan berbekal keinginan ini, saya mampu melawan keinginan untuk ogah publish d wordpress.
    Ini cerita saya ya… Hahahaha, semoga bisa membantu sedikit banyak.

    Semangat menulis! D tunggu tulisan2 lain dari Mas..

    Salam kenal juga.

    Suka

    27 Agu 2017
  12. Terima kasih banyak Ayu..
    Jujur saya nulis itu kadang mood, tapi lebih banyak enggak moodnya.😁
    Dilaptop saya ada tulisan lebih dari 20 halaman. Kumpulan dari beberapa tulisan pendek yg iseng saya tulis. Ada bagian diblog ini yg saya pos kan..sedangkan yg lain blum karena enggak begitu PD tuk diposkan..🐹

    Terima kasih banyak ya Ayu udah share ilmu atau tipsnya.

    Salam kenal

    Disukai oleh 1 orang

    27 Agu 2017
  13. Terima kasih atas appresiasinya..
    Baik tidaknya tulisan itu bersifat subjektif, tapi tergantung penilaian banyak orang dan juga sesuai dengan jenis tulisan seperti apa. Haduh… Ngomong apa, coba.
    Tips?. Jujur saja, saya tidak tahu tips apa yang harus saya bagikan untuk bisa menulis yang baik, karena jujur saja, saya juga masih penulis amatir yang masih merangkak untuk bisa menulis dengan baik. Tapi, dari banyak teman-teman, saya belajar bahwa, untuk dapat menghasilkan tulisan yang baik adalah dengan tidak berhenti menulis!. Menulis dan terus menulis, sambil belajar gaya tulisan dari banyak penulis berbakat. Sampai kita menemukan “passion” menulis kita sendiri, gaya bertutur sendiri. Memang tidak mudah, tpi dengan proses latihan yang terus menerus, pasti bisa!

    Salam.

    Suka

    27 Agu 2017
  14. Awal menulis aja udah baik, apa lagi sekarang tentunya udah lebih baik ya Bu..
    Share dong gimana tipsnya, agar saya juga bisa menulis jadi lebih baik.
    Thanks

    Disukai oleh 1 orang

    27 Agu 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: