Skip to content
Iklan

Perbedaan yang Memberikan Pilihan


Oleh,

Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Saya adalah seorang perawat. Pekerjaan ini menjadikan saya secara otomatis mengatasnamakan kemanusiaan dalam setiap tindakan yang saya lakukan terhadap klien dan mereka yang terkait. Hal ini juga menciptakan ‘keberagaman’ atau ‘perbedaan’ menjadi topik dan hal yang sangat special dalam hidup saya. Ini adalah kisah saya dalam menghadapi perbedaan dalam kehidupan saya sehari-hari dan bagaimana orang-orang disekitar saya begitu menginspirasi hidup sederhana yang saya miliki.

Tugas dan juga pekerjaan saya adalah untuk merawat setiap manusia yang lahir dan datang dari latar belakang yang berbeda. Mungkin pengalaman saya tidak banyak, tapi selama kurang lebih 4 tahunan ini, saya belajar bahwa perbedaan adalah sesuatu yang semu tapi juga mutlak (Ini pendapat saya pribadi looo…Jangan kaitkan dengan definisi perbedaan menurut ahli tertentu, kalah banyak saya). Semu karena sampai saat ini, saya masih belum bisa tepat mendefinisikan apa itu ‘perbedaan’ dan mutlak adalah karena tidak ada satu orangpun persis sama didunia ini. Bahkan yang namanya saudara satu rahimpun ‘berbeda’ dari tingkatan tertentu. Sebagai tambahan, saya dapat mengatakan bahwa kita manusia, lahir dari dan diatas perbedaan.

Perbedaan itu menjadi semu karena ketika kita mensejajarkan dua benda, sebut saja A dan B. Maka dari sifat unsurnya, keduanya akan kita katakan berbeda, tidak sama, atau tidak serupa. Tapi, kalau kita telusuri lebih jauh lagi. Meskipun berbeda, kedua benda ini, A dan B memiliki kesamaan pada tingkatan tertentu.

Sebagai Perawat, saya dituntut untuk memperlakukan klien saya sebagai subjek yang spesial. Berbeda dan unik menurut pribadinya. Tidak ada asuhan keperawatan yang benar sama antara satu pribadi dengan pribadi yang lainnya. Tapi, ketika asuhan keperawatan satu individu dan individu lain ini di telusuri lebih jauh lagi, keduanya atau keseluruhannya berdiri diatas pola asuhan keperawatan yang sama, satu dan universal. Asuhan keperawatan ini berdiri diatas persamaan kehendak untuk mencapai kesehatan paripurna, wellness.

Perbedaan itu saya katakan mutlak karena ketika kita mensejajarkan misalkan dua objek A dan B, maka sangat jelas kita lihat bahwa kedua objek ini berbeda. A tidak sama dengan B dan B tidak sama dengan A. A jika ingin sama dengan B, harus merubah diri menjadi B dan sebaliknya (Mungkin). Perbedaan itu seperti dua sisi mata uang bagi saya, itu yang ingin saya sampaikan disini. Tapi, saya ingin menitikberatkan bahwa sebagai Manusia, saya memiliki kekuatan untuk memilih mana yang terbaik bagi saya dan hidup saya.

Menghadapi perbedaan didalam profesi saya adalah hal yang sangat sering terjadi. Mulai dari perbedaan Bahasa, perbedaan pola pikir dan lain sebagainya. Pertama kali berhadapan dengan yang namanya perbedaan, kata pertama yang keluar dari kepala saya adalah “Stress”. Stress karena tidak terbiasa, stress karena tidak nyaman dan stress karena tidak sesuai dengan nilai-nilai yang saya terapkan dalam hidup. Tapi, sungguh Tuhan itu Maha Kuasa. Manusia masing-masing dianugerahi kemampuan untuk menghadapi dan menanggulangi keadaan stress ini. Inilah yang disebut dengan proses beradaptasi. Proses untuk menghadapi stressor yang ada di hadapan masing-masing orang. Hasil akhir dari proses adaptasi ini dapat dibagi menjadi dua, pertama yaitu toleransi terhadap perbedaan dan intoleransi terhadap perbedaan.

Saya, memilih untuk menjadi toleran terhadap banyaknya perbedaan yang ada di lingkungan saya. Tentu, saya tidak dapat memaksakan pilihan saya terhadap orang lain. Tapi, saya memilih demikian. Berjalan beriringan dalam kedamaian dengan bermacam-macam perbedaan dan variasi di hadapan saya. Dengan memilih hal seperti ini, saya dimampukan untuk memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan klien saya dan saya dapat mengerjakan tugas dan fungsi saya sebagaimana mestinya.

Selanjutnya adalah beberapa hal yang saya temukan dalam perjalanan saya untuk menghadapi perbedaan dalam kehidupan saya sehari-hari. Selain dari pemikiran saya sendiri, ini adalah hasil dari diskusi berharga saya dengan beberapa orang sahabat dan juga rekan serta pelajaran berharga yang saya dapatkan dari Klien-klien tangguh yang pernah saya rawat.

Sadari. Bukan dalam artian pemeriksaan payudara sendiri seperti yang dipopulerkan oleh penggiat atau aktivis peduli kanker payudara. Sadari dalam artian saya adalah menyadari bahwa perbedaan dan juga persamaan adalah hal yang sangat penting untuk di rayakan secara seimbang dan bersama-sama. Saya memulai perjalanan untuk mencintai secara seimbang perbedaan dimulai dari langkah-langka sederhana ini. Bukan hanya karena tuntutan pekerjaan, tapi lebih karena keinginan saya untuk hidup damai dan harmonis dengan lingkungan dan komunitas di mana saya berada.

Menyadari bahwa saya adalah seorang manusia ciptaan Tuhan. Saya diciptakan dari cinta yang sama oleh Yang Maha Kuasa dan lahir dari nenek moyang yang sama. Menyadari akan kekayaan ini, maka perbedaan bukanlah hal yang menyakitkan bagi saya. Perbedaan adalah tanda kasih-Nya kepada saya dan juga ciptaanNya yang lain. Saya dapat melihat gambar dan rupa pencipta saya dari banyaknya rupa perbedaan yang ada di sekeliling saya. Saya seakan diajak untuk bermain teka-teki, puzzle untuk mendapatkan gambaran besar dari upaya saya untuk mencari dan menemukan kehendak Dia yang merupakan Tuhan atas hidup saya.

Langkah selanjutnya adalah Pelajari. Pelajari setiap perbedaan yang ada, bahkan perbedaan yang menggelitik hati, entah itu adalah sesuatu yang sangat kecil atau sesuatu yang sangat besar. Misalkan mengapa mata saya kok ukurannya besar sebelah dan tidak simetris kalau dibandingkan dengan rekan saya.  Rayakan! Karena entah kenapa saya percaya perbedaan adalah sesuatu yang sangat indah dan unik, embace them all. Seperti contoh sebelumnya, setelah mempelajari keadaan dan menyadari perbedaan ukuran mata saya (O…Ternyata karena genetic, misalkan) maka sikap saya selanjutnya adalah dengan mencintai perbedaan yang saya miliki. Boleh saya merasa berbeda dengan rekan saya, tapi mata saya memiliki ukuran cantic tersendiri dan saya harus bangga memilikinya.

Seorang Klien saya pernah berkata,

Mereka yang memilih untuk menjadi tidak toleran mungkin adalah mereka yang belum mampu untuk mempelajari indahnya perbedaan dan merayakannya”.

Kata-kata ini benar-benar mengajarkan saya bagaimana menghadapi perbedaan dan seperangkat rasa tidak nyaman yang mengikutinya. Ada konsep baru yang ditawarkan disini dan hal tersebut secara langsung menilai penyebab dari sikap intoleran (Tidak mampu menghargai perbedaan) dan memberikan solusi sekaligus (“…Belum mampu untuk mempelajari indahnya perbedaan dan merayakannya”). Bagaimana dengan pembaca?

Resapi. Sebuah kalimat indah pernah dilontarkan oleh seorang tokoh kartun, “Peace is started from ability to understand each other”. Kedamaian dimulai dari kemampuan untuk memahami sesama. Begitu kira-kira artinya. Setelah mempelajari perbedaan, harapan yang ingin saya timbulkan didalam hati saya adalah kemampuan untuk mencintai perbedaan dan selanjutnya memberikan tindakan nyata untuk mewujudkan ide pikir yang saya miliki.

Saya tidak bisa membayangkan ada perawat yang melayani klien-nya dengan cara ‘membeda-bedakan’. Misalkan Klien yang kaya atau miskin, klien yang cantik atau kurang cantik. Bisa banyak orang yang akan mengutuk profesi ini dan tempat bekerja si perawat kemungkinan bisa bangkrut dengan diikuti masalah ‘tidak manusiawi’ dibelakangnya. Tapi, perawat juga dituntut untuk peka dengan keadaan disekitarnya. Peka akan budaya dan peka akan aturan yang berlaku. Misalkan ada aturan perawat hanya boleh merawat mereka yang memiliki jenis kelamin yang sama dengannya. Si perawat tentu harus mengikuti peraturan ini dan mengambil konsekuensinya (Kalau masih mau bekerja hehehehehe). Hargai dan rayakan keadaan ini. Wujud menghargai perbedaan itu mungkin tidak jauh-jauh. Hanya dengan kelapangan hati untuk menerima perbedaan itu sendiri.

Akhirnya, sadari-pelajari-resapi menjadi cara saya untuk memproses stress akibat perbedaan yang saya rasakan didalam kehidupan sehari-hari. Sahabat saya yang saya paksa untuk membaca tulisan ini meminta saya menambahkan kata, “Amalkan ”atau “praktikkan” (dalam kehidupan nyata) apa yang menjadi niatan baik hasil dari proses menyadari-mempelajari dan meresapi makna perbedaan.

Ketiga, eh sekarang keempat (Setelah ditambahkan kata Amalkan) cara ini mungkin tidak membuat saya kaya secara material, tapi mereka membuat saya kaya dalam pemikiran dan kaya dalam persaudaraan. Sejauh ini, syukurnya saya tidak pernah mendapatkan masalah dengan klien-klien saya terkait dengan perbedaan yang kami miliki (Kebanyakan saya yang mengalami masalah). Perbedaan yang saya miliki baik dengan klien dan rekan kerja saya hingga saat ini masih kuat mengajarkan kami untuk mempelajari satu sama lain dan bersatu dalam semangat untuk mengusahakan yang terbaik dalam karya dan kerja kami sehari-hari.

Terlepas dari apa itu perbedaan, apa itu keberagaman. Kita sebagai manusia diberikan kebebasan untuk memilih apa yang menjadi hal yang terbaik bagi diri kita dan sesama. Keputusan ada ditangan kita.

Selamat memilih.

 

20882732_10155154712381725_1411660100688992620_n

Gambar 1. Perbedaan yang memberikan pilihan. (Gambar diambil pada acara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia lintas suku dan ras di Manila beberapa waktu yang lalu. Sambil menyantap makanan, kami yang masing-masing berasal dari suku, ras bahkan negara yang berbeda disatukan dalam diskusi hangat mengenai warna-warni perbedaan yang kami miliki)

 

….

Catatan dibalik layar:

Tulisan ini sudah lama mengendap di Bank penyimpanan tulisan-tulisan acak di Komputer saya. Saya terus menerus mengalami konflik antara ‘publish‘ atau ‘un-publish‘ tulisan ini. Alasan sebenarnya adalah ketidakyakinan saya akan logika berpikir yang saya miliki dan juga (saya akui) kurang dalamnya pemahaman saya akan konsep ‘tema’ tulisan ini. Ini juga menjadi alasan mengapa saya awalnya menuliskan judul “..dari sebelah sisi kacamata kuda”. Kacamata kuda adalah istilah yang kebanyakan menggambarkan pribadi manusia yang sifatnya apatis atau lebih ke arah egoistis. (Mereka yang mengenakan atau dalam pemikirannya disematkan frasa ‘kacamata kuda’ ialah orang yang bisa diartikan tidak peduli dengan keadaan sekitar, mereka hanya yakin bahwa apa yang mereka lakukan ialah” yang paling benar”). Dan, inilah yang terjadi pada saya ketika saya menuliskan tulisan acak ini. Saya dengan sombongnya menggunakan kebebasan saya untuk menelurkan ide-ide yang kelewat tidak masuk diakal tapi menggunakan kata-kata yang dipaksakan logika berpikirnya. Tapi, selanjutnya saya mengubah pemikiran saya dan mengganti judul tulisan ini.

Ketika saya menulis catatan ini sampai editing terakhir, saya masih diliputi oleh keraguan yang sama ketika kata pertama dari tulisan ini saya telurkan dari pemikiran saya. Saya juga memilki rasa cemas yang sama. Tapi, saya akhirnya memutuskan untuk menerbitkan tulisan acak ini dengan alasan mendapatkan koreksi dari pembaca dan belajar untuk mengatur isi kepala saya sendiri. Semoga yang membaca berkenan.

Sekian dari saya, Salam.

Oh ya, hampir lupa. Tulisan ini saya ikutsertakan dalam event Giveaway yang diselenggarakan oleh Mas Ryan dari tulisannya di sini.

Terima kasih atas kebaikan hatinya untuk menyelenggarakan event menulis seperti ini. Semoga berkah dan sering-sering aja hehehehehe.

 

Iklan
12 buah komentar Post a comment
  1. Terima kasih Kakak…😍😍

    Suka

    25 Okt 2017
  2. novly masriat #

    Profisiat adik. Tulisannya bagus.

    Disukai oleh 1 orang

    25 Okt 2017
  3. Terima kasih Bang Yos…
    Semangat untukmu juga.

    Suka

    16 Okt 2017
  4. Kalau saya kebanyakan ide, jadi kadang suka ditunda biat bikin artikelnya, karena bingung mau nulis yang mana. Tapi, giliran saya ada waktu untuk nulis, malah nggak ada ide. Salut untuk artikelnya, Mbak.

    Disukai oleh 1 orang

    7 Okt 2017
  5. Terima kasih kakak….
    👍👍

    Suka

    6 Okt 2017
  6. Jangan diendap2 ntar makin mengendap! Keluarin aja smua..
    Nice posting!

    Disukai oleh 1 orang

    5 Okt 2017
  7. Terima kasih Quraeni….
    Dirimu juga ya!

    Suka

    5 Okt 2017
  8. Kak…terima kasih atas masukannyaaa…
    Ayu masih harus banyak bljar lagi!

    Disukai oleh 1 orang

    5 Okt 2017
  9. 😊 dtgu tulisan slnjutnya mbaa

    Disukai oleh 1 orang

    5 Okt 2017
  10. Bagus kok tulisannya, hnya sja tdk padat, sehingga yg baca emang mesti fokus..selebihnya, ide2nya keren kok…berasa baca buku motivasi dari psikolog ternama.

    Disukai oleh 1 orang

    5 Okt 2017
  11. Terima kasih mbak…
    Tunggu yooo, kita bongkar2 dulu.

    Suka

    5 Okt 2017
  12. Tulisan yg bagus mba, jika msh ada tulisan yg tersimpan d draft, publish aja mbaa hehee

    Disukai oleh 1 orang

    5 Okt 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: