Lanjut ke konten
Iklan

Bersalaman dan Kebudayaan


 

Saya diantara dua patung yang terletak di depan Manila Bay-Manila. Beberapa waktu yang lalu. Mohon Maaf, karena foto ini, saya sekali tidak ada hubungannya dengan materi tulisan yang ada dibawah ini. Kalaupun ada, mungkin tidak banyak.

 

Bagi orang Indonesia, bersalaman (dengan menggunakan tangan) adalah salah satu bentuk sopan santun yang formal dan juga cenderung profesional. Bersalaman dilakukan pada pertemuan pertama dengan orang baru atau lama, setelah lama tidak berjumpa. Tindakan ini dapat juga digunakan sebagai bentuk perkenalan, disamping perkenalan diri dengan memberikan informasi diri. Bersalaman juga digunakan sebagai bentuk ucapan selamat atas keberhasilan seseorang dalam mencapai suatu prestasi atau target.

Bersalaman dapat dilakukan dengan berdiri tegak atau sedikit membungkuk. Membungkuk disini adalah bentuk perendahan diri dan sikap penghormatan kepada orang yg diajak bersalaman.

Menarik karena kebiasaan bersalaman ini tumbuh subur dan melekat pada orang Indonesia.

Ketika saya berada di Manila, Filipina. Bersalaman bukan merupakan bagian dari budaya mereka. Sedikit aneh untuk melakukan ritual bersalaman ketika pertama kali bertemu atau mengucapkan selamat. Mereka lebih memilih untuk melakukan kontak pipi sama pipi (‘piso-piso’) untuk mengucapkan salam dan selamat. Pipi yg digunakan hanya satu pipi saja.

Budaya bersalaman entahlah aslinya dari mana. Tapi, Sebagai orang Indonesia saya bangga dengan kebudayaan sederhana yang baik ini.

Mempelajari kebudayaan orang lain, saya rasa baik nilainya. Tanpa membuang atau melupakan kebudayaan milik sendiri. Karena namanya budaya, maka Ia akan sangat melekat erat dengan tanah atau tempat dimana kebudayaan itu lahir dan berkembang di masyarakatnya.

Ketika saya berada di Indonesia, maka kebudayaan Indonesialah yang harusnya saya sematkan dalam pergaulan saya. Sebaliknya, jika saya berada ditempat orang maka kebudayaan orang lainlah yang patut saya pelajari tanpa melupakan kebudayaan asli milik saya. Karena kebudayaan asli inilah yang menjadi identitas diri.

Kerap, karena saya memiliki darah Dayak Ma’anyan (Salah satu suku di Kalimantan), penduduk Filipina ditempat saya bekerja selalu menyangka saya adalah orang Filipina. Baru setelah mereka bergaul dengan saya beberapa menit mungkin, baru mereka menyadari bahwa saya bukan seorang Filipina dan berakhir dengan ujaran, “Maaf, saya pikir Anda Pinoy”.

Dari teman-teman saya, saya sedikit tahu bahwa ternyata saya memiliki ciri khas milik orang Indonesia. Beberapa diantaranya adalah sopan dan santun dalam bertutur kata (Maaf, saya sedikit percaya diri mengatakan hal ini), dan yang tidak bisa dibohongi adalah aksen saya dalam berbicara. Meskipun saya sudah banyak bergaul dengan mereka, saya masih belum bisa menghilangkan dialek kedaerahan dan juga Indonesianya saya ketika berbicara.

Sebagai tambahan, teman-teman juga berkata bahwa saya sedikit tidak menyukau kontak fisik dengan siapapun. Mungkin ini juga bagian dari kebudayaan Bangsa, untuk selalu menjaga jarak dan berpenampilan rendah hati (Hahaha…atau karena memang saya pada dasarnya tidak suka disentuh-sentuh).

Bangga juga rasanya.

Jadi, kebudayaan memang adalah hal yang sangat penting untuk dipelajari. Kebudayaan memang perekat dan juga identitas diri seseorang. Ia memberi ciri asal dan kelompok mana Individu ini berasal.

Menarik bukan ?

 

Dari Meja Kerja Saya di Banjarmasin,

Maria Frani Ayu Andari Dias, S.Kep.,Ners
(Perawat)

Salam.

Iklan
12 buah komentar Post a comment
  1. Hahahahaha….itu mah menyebabkan kesialan untk orang lain dan murka orang bisa langsung jatuh ke kita usai bersalaman 🀣🀣

    Suka

    3 Mar 2018
  2. salaman yg ideal adalah setelah bab, cbk ga pake air atau tisue

    Disukai oleh 1 orang

    3 Mar 2018
  3. Terima kasih sudah mampir, Kak.

    Hahaha, Ia. Nama Ayu panjang.

    Suka

    2 Mar 2018
  4. Ya ni Yu. Lain tempat lain jg kebiasaannya atau budayanya. Sy jg gak tahu bersalaman itu dr mna ya, tp kita asyik aj tu sllu brsalaman. Aplgi ada yg cium tngan (anak k ortu).

    Mnarik ulsanmu, Yu. Dan ya, namamu pnjang jg trnyta, haha…

    Disukai oleh 1 orang

    2 Mar 2018
  5. πŸ‘πŸ‘

    Suka

    2 Mar 2018
  6. πŸ˜†πŸ˜†πŸ‘ŒπŸ‘Œ

    Disukai oleh 1 orang

    2 Mar 2018
  7. Hahahaha…jangan lupa senyum khas orang Indo ya Mbak…
    Banyak yang bilanv kalau senyum manis oramg Indonesian itu berkesan 😊

    Suka

    1 Mar 2018
  8. baiklah nanti kupraktikkan πŸ˜†πŸ˜†

    Disukai oleh 1 orang

    1 Mar 2018
  9. Setuju banget!

    Berbeda itu berwarna dan itu pastilah Indah. Tinggal kita sendiri menempatkannya pada porsi yang sesuai.

    Suka

    1 Mar 2018
  10. Bersalaman dengan orang Indonesia itu mudah, Mbak. Tinggal sodorkan tangan dan ajak bersalaman. Salaman juga ada bentuknya yg tidak bersentuhan tangan, tinggal katupkan kedua tangan dan letakkan dijari sambil membungkuk.

    Hahahahaha…maaf kalau rada-rada ngak jelas ya…

    Suka

    1 Mar 2018
  11. Perbedaan perbedaan itu dapat membuat kita kaya ya. Membuat nya terasa indah dan menghargai masing-masing ya.

    Saya termasuk berprinsip, beda itu belum tentu tidak baik.

    Disukai oleh 1 orang

    1 Mar 2018
  12. iya mba, saya juga suka salaman. tapi gaada yang mau salaman ama saya πŸ˜…πŸ˜…

    Disukai oleh 1 orang

    1 Mar 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: