I hope Someday, Peace will find You

21 komentar

Saya mengenalinya tidak lama setelah saya masuk ke Sekolah Menengah Atas. Dia pribadi yang muncul ketika saya berharap agar menemukan self-ideal untuk memenuhi ego komunitas dan lingkungan disekitar saya.

Menengok kembali pertemuan saya dengannya, membuat saya ingin bercerita tentangnya.

Ia sosok yang pendiam, tegas, disiplin yang kadang sangat dan bahkan terlalu keras dan brutal untuk dirinya sendiri. Seperti katanya, Ia menjadi demikian hanya karena satu hal, “Tuntutan Peran” dari lingkungan dan komunitasnya, disamping karena ambisinya dan egoistik diri yang berlebihan.

Ia tidak pintar, tapi Ia pekerja keras. Ia percaya bahwa, “Orang pintar akan kalah dari orang yang bekerja keras“. RAJIN, sebuah kata yang dituliskannya di pintu lemari pakaiannya sebagai pengingat. Ia tidak kuat seperti nampaknya, tapi Ia berusaha agar rapuhnya bagian dalam cangkangnya tidak nampak jelas.

Jiwanya sudah rusak ketika Ia mulai menerima tawaran peran dari orang lain dan Ia melakukannya dengan sangat baik. Tapi, Ia cukup cerdas untuk menyembuhkan luka jiwanya sejak dini. Berjilid-jilid buku harian yang tersimpan rapi di rumahnya adalah bukti betapa kerasnya Ia mengupayakan agar kesadarannya tetap dalam jalur ‘sehat’.

Jatuh cinta pada masa itu merusak jiwanya, melukainya begitu dalam. Luka mengerikan yang tidak nampak, tapi menjalar dan menggerogoti jiwanya. Ia tidak menerima keadaannya, tapi membuang dirinya pada sisi paling gelap dari kesadarannya, membuatnya membenci dirinya sendiri dan berusaha keras mengalihkan kegelisahan dan ketakutannya.

Self-esteemnya sudah terluka jauh ketika Ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Ia belum paham betul waktu itu, tapi lambat laun luka itu semakin dalam hingga Ia kembali terluka dan selesailah dia. Ia menggandalkan defense mechanism yang Ia miliki, memproyeksikan diri, merasionalisasikan kenyataan dan berharap lari sambil menahan lukanya menjalar jauh. Lambat laun, dirinya sendiri tidak mampu menahan sakit yang timbul karena luka lama yang tidak ingin Ia sembuhkan. Ia menjadi terbiasa dalam keadaan sakit, rapuh dan terluka. Ia menjadi biasa melukai dirinya sebagai ganti menyenangkan orang lain diluar dirinya. Ia yang nampak seperti pohon tegak berdiri dipermukaan,menyimpan akar-akar yang busuk hingga kedalam tanah. Semakin dalam semakin busuk dan berbau.

Ia menahan diri untuk tidak menyalahkan orang lain atas keadaannya, Ia menyimpannya kembali dalam dirinya, melukai jiwanya setiap kali Ia dikecewakan atau merasakan kecewa dengan dirinya. Ia yang tumbuh setiap harinya penuh luka, derita dan nestapa.

Tapi, karena deritanya itulah kami bersahabat. Saya belajar mengenalnya setiap waktu, karena ternyata Ia tidak pandai menutup rahasianya. Ia memberi jejak pada tulisan-tulisan berserakan serta karya-karya yang Ia ciptakan. Sejak pertemuan pertama kami, muncul harapan kecil baginya,

“Semoga suatu hari nanti kedamaian menemukan dirinya”.

Ia hanya Manusia biasa, Sahabat dan Ia bagian dari diri saya.

#menuliskantemanmenuliskankenangan

 

Catatan dibalik layar:

Tulisan ini saya buat secara sengaja untuk diikutsertakan dalam kegiatan Giveaway yang diselenggarakan oleh Mbak Faris Aulia. Keterangan untuk berpartisipasi dapat dilihat pada tulisannya yang berjudul GIVEAWAAAAAAY 2018.

Saya awalnya tidak berminat untuk ikut bergabung, mengingat akhir-akhir ini saya sibuk dengan pekerjaan dan juga kegiatan yang tiada habis-habisnya. Saya takut kalau saya tidak mendapatkan ide yang mumpuni untuk ikut berpartisipasi. Tapi, tiba-tiba muncul ide menulis dalam pikiran saya. Saya tidak ingin melepas begitu saja ide ini dan memutuskan untuk membuka Laptop dan mulai menarilah jari-jari saya mengetikkan setiap kata yang lahir dari dalam pikiran saya sambil membayangkan sosok sahabat yang merupakan objek dari tulisan ini.

Tulisan ini juga saya publikasikan di Instagram Pribadi Saya dengan versi yang lebih singkat, @AyuFrani.

 

Salam,

Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Mariafrani10@gmail.com.

Iklan

21 comments on “I hope Someday, Peace will find You”

  1. Rasanya memang nggak adil dunia di tengah masyarakat seolah memaksa kita untuk bersikap seolah kita baik-baik saja. Sebagian orang mungkin memang dimaksudkan menjadi pribadi yang kuat seperti sahabatnya mbak Ayu. Setiap orang dibentuk oleh berbagai jenis rasa sakit.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Oh begitu ya mbak Ayu, kalau menurut saya diambil positipnya saja, memberi kesempatan mbak Ayu untuk meraih banyak pahala jika bisa membantu masalah mereka atau minimal sekedar tempat curhat mereka.
    Ikutan Give away mbak Fasya itu tulisan yg gimana mbak, apa bebas temanya, bentuknya atau gimana. Trus sampai kapan waktunya?

    Disukai oleh 1 orang

  3. Terima kasih, Bu.
    Hidup saya dikelilingi banyak orang-orang dengan masalah-masalah yang seperti fiksi, Bu. Entah ini berkat atau apa begitu.

    Ayo, Bu. Ikut berpartisipasi dalam giveaway-nya Mbak Fasya. Sekedar meramaikan dan melatih kemampuan menulis juga.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s