Skip to content
Iklan

Gangguan Tidur yang Menyiksa: Shift Work Disorder


 

20180428_1801154786145087416510316.jpg

Pemandangan Matahari Terbenam dari depan Mall of Asia di Manila-Filipina

 

Oleh,

Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Beberapa waktu ini, karena banyaknya masalah yang harus saya tangani dan memang terasa sangat beban yang ada dipundak ini, saya harus rela untuk mengalami ganggun tidur yang pastinya sangat menyiksa. Gangguan tidur ini ditandai dengan jam tidur saya yang berubah sangat dan beberapa gangguan lainnya yang akan saya rincikan dalam tulisan ini.

Keadaan ini terjadi salah satunya karena saya adalah pekerja shift yang harus mengganti-ganti jam istirahat dan bekerja. Sialnya adalah, kalau saya harus bertugas shift malam, artinya saya harus bekerja ketika nyaris semua orang tidur atau tubuh saya seharusnya dalam keadaan tidur. Lalu, saya akan tidur ketika semua orang bangun dan beraktivitas dan bekerja dengan mengumpamakan bahwa ini adalah normal.

        Baca Juga : Irama Tidur yang bermasalah

Gangguan tidur yang saya alami saat ini tentu saja sangat menyiksa, selain karena saya mulai merasakan gejala penurunan imunitas yang semakin tidak bisa saya tolerir, muncul gejala-gejala lainnya dari tubuh saya sendiri yang sangat tidak bisa saya diamkan begitu saja untuk berlarut-larut. Meskipun saya begitu memaksa tubuh saya untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu, kalau melihat keadaan saya saat ini, jelas menunjukkan bahwa saya sudah sangat kelelahan dan saya membutuhkan pertolongan segera.

Ya, ini juga adalah alasan mengapa saya lama absent dari kegiatan menulis. Pekerjaan dan sakit yang melanda beberapa waktu ini benar-benar membatasi aktivitas saya untuk menulis sesuatu untuk dipublikasikan. Saya tahu, saya tidak seharusnya membuat ini menjadi alasan, untuk itulah saya bersemangat untuk memulai aktivitas dan mulai meningkatkan kembali produktivitas dalam hidup saya sehari-hari.

Salah satu efek dari bekerja secara shift adalah kesehatan, yupz, kesehatan akan sangat terganggu. Banyak yang mengenalnya dengan Shift Work Disorder dan pekerjaan ini berefek pada waktu istirahat dan tidur. Untuk materi-materi yang akan saya tuliskan dibawah ini, saya merujuknya pada sumber terpercaya dari National Sleep Foundation yang merupakan organisasi khusus yang bergerak dalam bidang kesehatan dan penelitian yang terkait dengan istirahat dan tidur. Silahkan kunjungi website keren milik mereka yang sangat recommended untuk dijadikan bahan bacaan harian. Teman-teman yang ingin melakukan penelitian juga bisa memanfaatkan situs ini sebagai salah satu rujukan dalam penelitian atau sumber untuk melakukan pendidikan kesehatan kepada Klien dan Keluarga.

Shift Work Disorder atau marilah kita singkat dengan SWD, adalah kondisi yang tergolong kronis, yang secara langsung berhubungan dengan jadwal bekerja seseorang atau individu. SWD digolongkan kedalam ‘circadian rhythm sleep disorder’ oleh International Classifications of Sleep Disorders, yang berarti terdapat ketidaksesuaian atau tidak sinkronnya sleep patterns atau pola tidur. Jika seseorang mengalami SWD, maka individu ini akan menunjukkan kesulitan untuk tidur sesuai dengan yang diharapkan dan yang diinginkan dan sesuai.

Tanda dan gejala dari Shift Work Disorder (SWD) adalah

  1. Keinginan tidur yang berlebihan ketika individu seharusnya berada dalam keadaan sadar penuh, alert dan productive.
  2. Insomnia, atau ketidakmampuan untuk tidur dan beristirahat ketika Individu menginginkannya. Dapat berarti bermasalah untuk memulai tidur, atau bangun setelah Individu mendapatkan waktu tidur atau istrirahat yang cukup.
  3. Tidur yang rasanya sangat tidak cukup atau tidak membuat badan terasa segar.
  4. Memiliki keluhan sulit untuk berkonsentrasi
  5. Perasaan ‘kurang’ energi untuk memulai hari atau bekerja. Rasa lelah yang berkepanjangan dan tidak hilang meskipun sudah diganti dengan istirahat.
  6. Mudah tersinggung dan sensitive, kadang bisa depresi.
  7. Memiliki kesulitan dalam menjalin hubungan personal.

Keadaan yang dijelaskan diatas, akan terus berjalan seiring berjalannya waktu dan dampak terburuknya adalah mengganggu pekerjaan dan hubungan keluarga dari Individu ini.

SWD terjadi pada pekerja yang memiliki jadwal bekerja yang tidak menentu setiap harinya. Contoh paling umum adalah Perawat yang bekerja di Rumah sakit atau tempat perawatan. Karena pekerjaan merawat yang sangat membutuhkan waktu 24 jam setiap harinya atau fulltime, Perawat harus bekerja secara tim dan bergantian untuk memenuhi kebutuhan perawatan dari Klien. Kepala Perawat mau tidak mau harus menyusun jadwal setiap bulannya untuk dapat memenuhi kebutuhan akan perawatan Klien yang optimal dan berkesinambungan ini.

Mereka yang mengalami SWD, memiliki perasaan bahwa mereka ‘berutang’ waktu tidur setiap waktunya. Seperti tidur yang baru saja mereka alami belum ‘cukup’ untuk diri mereka sendiri. Hal ini mendorong mereka memenuhi utang yang mereka miliki tapi bukannya mendapatkan kecukupan, keadaan ini dapat berefek sangat tidak baik untuk keadaan kesehatan.

Efek dari SWD terhadap kehidupan seperti pekerjaan dan relasi diri dengan orang lain akan dijelaskan satu persatu sebagai berikut.

Kesehatan fisik

Bekerja dengan shift sudah banyak kali dihubungkan dengan kejadian penyakit-penyakit kronis. Long term Shift work dihubungkan dnegan penyakit kanker dan masalah-masalah kesehatan metabolic seperti penyakit jantung, ulcers (Lambung), masalah-masalah di saluran pencernaan dan obesitas. Waktu tidur yang tidak sesuai atau tidak cukup juga berhubungan dengan perubahan metabolisme tubuh dan nafsu makan, kadang ada juga individu yang menyimpan kadar triglyceride yang tinggi dalam darahnya. Selain factor-faktor biologis seperti yang sudah disebutkan, Pekerja Shift kadang harus berhadapan dengan jadwal makan yang tidak teratur dan diet yang tidak sehat, yang pastinya berhubungan dengan peningkatkan potensi atau kejadian metabolic.

Mereka yang bekerja pada malam hari, harus berhadapan dengan keadaan dimana zat Melatonin didalam tubuh mereka harus ditekan produksinya karena paparan dengan sinar atau cahaya ketika mereka bekerja. Melatonin ini biasanya memang dikeluarkan tubuh pada malam hari dan sangat berguna untuk membuat seseorang beristirahat dengan cukup. Melatonin yang produksinya ditekan atau tidak normal melakukan kerja dan produksi dapat berujung pada pembentukan pola tidur yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, yang selanjutnya menyebabkan efek terhadap kesehatan tubuh.

Kesehatan mental

Sudah bukan rahasia lagi jika pola tidur yang tidak teratur juga berefek pada kesehatan mental atau kesehatan jiwa. Orang-orang dengan shift work juga mengalaminya dan bahkan sering. Tanda-tanda yang paling sering terlihat adalah ‘sensitif’, orang-orang menjadi sangat sensitive dan mudah sekali tersinggung. Efek lain adalah depresi. Depresi ini terjadi karena disruption of the circadian system yang meregulasi pengeluaran berbagai macam zat kimia didalam tubuh yang sangat berguna untuk membuat seseorang normal seperti manusia pada umumnya.

Shift work berkonstribusi terhadap permasalah social individu yang dapat merusak kesejahteraan seseorang dan juga kebahagiaannya.

Nah, dari gambaran ini bisa dibayangkan bagaimana kerasnya hidup dan bekerja sebagai seorang Perawat ?. Tidak mudah untuk memberikan pelayanan yang prima dengan senyum yang tulus diwajah sambil mempertahankan efek dari pekerjaan yang sangat tidak menentu ini. Bukan berniat untuk menakut-nakuti, hanya saja memang seperti inilah pekerjaan sebagai Perawat ini. Sulit dan susah memang, tapi memang semuanya butuh latihan bukan ?.

Penampilan kerja (Performance)

Produktivitas dan work performance dari individu akan suffer dengan alasan tertentu. Mereka yang bekerja secara shift boleh dikatakan mengalami pengurangan jumlah tidur atau istirahat secara normal jika dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan. Keadaan ini akan memicu ‘sleep debt’ yang berkepanjangan dan menumpuk bagi individu.

Keadaan-keadaan ini berkonstribusi secara positif terhadap reaction time individu ketika berhadapan dengan masalah, gangguan konsentrasi dan kesulitan untuk focus ketika berhadapan dengan pekerjaan. Reaction time individu dapat ditunjukkan ketika Individu berhadapan dengan masalah yang memintanya untuk segera mengambil kesimpulan yang akurat dan cepat. Banyak kali individu melaporkan mengambil keputusan yang beresiko dan kadang harus ‘disesali’. Mengerikan bukan ?. Bayangkan saja jika petugas kesehatan dimana dirimu mempercayakan nyawa secara tiba-tiba mengambil keputusan yang akan merugikanmu  Oh NO. bahkan lebih parahnya, studi menunjukkan bahwa ‘kesalahan’ dalam pengambilan keputusan banyak terjadi pada ‘malam hari’. Menyeramkan !

Kejadian serupa juga terjadi pada mereka yang masih berstatus mahasiswa atau pelajar. Dengan jumlah mata kuliah atau mata ajar yang buanyak, anak-anak harus dan diwajibkan untuk tetap focus dan mampu mengambil keputusan terbaik dalam memecahkan masalah, tapi keadaan lingkungan dan jadwal harian mereka sangat tidak memungkinkan untuk melakukan hal seperti ini. Bisa dibayangkan bagaimana kesalahan yang akan mungkin mereka lakukan ?.

Safety (Keamanan dan Keselamatan)

Shift Work adalah pekerjaan yang sangat beresiko terhadap keselamatan kerja baik kepada pekerja dan juga kepada objek pekerjaan yang dihadapi. Masalah keselamatan merupakan masalah ‘utama’ yang membutuhkan perhatian khusus dan banyak kepada pekerja pada umumnya. Terutama pada administrator yang memperkerjakan pekerja dengan jadwal tertentu.

Terdapat beberapa alasan mengapa shift work dapat digolongkan kedalam kegiatan yang sangat berbahaya. 1) Shift work dapat berujung pada keadaan ‘mengantuk’ yang tidak tertahankan, hal ini menyebabkan seseorang menjadi lambat dalam memberikan reaksi terhadap masalah yang ada dihadapannya dan juga berefek pada pembuatan dan pengambilan keputusan terkait dengan masalah”. 2) Bekerja pada malam hari sesungguhnya berlawanan dengan pola alami dari jam tubuh, jadi meskipun si pekerja sudah memiliki cukup waktu untuk beristirahat, tetap saja kewaspadaan bekerja pada malam hari tetap saja berkurang. Sudah dari sono-nya kalau malam hari dipergunakan oleh manusia untuk tidur dan istirahat, melawan hukum ini, tentu saja memberikan efek kepada manusia yang melakukannya. 3) Orang kadang melakukan penilaian yang salah dan kurang tepat bila berbicara mengenai keadaan kurang tidurnya, percaya bahwa mereka waspada dan mampu untuk melakukan keputusan yang tepat, ketika pada kenyataannya keputusan yang mereka lakukan sebenarnya banyak kekurangannya dan kadang tidak tepat dan tidak sesuai dengan keadaan. 4) Kegiatan supervise pada pekerjaan yang dilakukan pada malam hari relative berkurang atau kendor.

Banyak kali pekerjaan yang dilakukan secara shift, terutama pada malam hari menyebabkan kejadian kecelakaan. Banyak penelitian yang telah melaporkan banyak keadaan tidak mengenakkan akibat kesalahan yang kerap dilakukan pada malam hari atau pada jadwal kegiatan pada malam hari.

 

photogrid_15260171478098804586253444939713.jpg

Salah satu efek dari tidur yang tidak normal, kantong mata yang mengerikan dan perubahan tekstur kulit wajah yang tidak nyaman (Personally)

 

Nah, setelah berbicara mengenai tanda dan gejala, bahkan efek yang kemungkinan ditimbulkan karena keadaan SWD, selanjutnya mari kita kupas satu-satu treatment yang memang direkomendasikan untuk mengatasi keadaan atau masalah ini, untuk postingan ini, saya akan mengkonsentrasikan pada non-medical treatments yang memang sesuai dengan pekerjaan saya.

Masalah pekerjaan yang menggunakan shift tidak bisa hanya diselesaikan dengan menyudahi pekerjaan dan memilih untuk bekerja pada jam-jam tertentu saja. Sebagai seorang Perawat, saya tahu betul bahwa hal ini sangat tidak mungkin. Apalagi untuk mereka yang bekerja sebagai perawat klinis yang memang harus bekerja dengan menyesuaikan diri dengan jadwal yang sudah ditentukan. Apa yang bisa dilakukan oleh pekerja dengan jenis pekerjaan seperti ini adalah ‘menyesuaikan diri’. Menyesuaikan dengan keadaan atau pekerjaan dan berusaha untuk melakukan kompensasi terhadap konsekwensi dalam bentuk atau rupa apapun.

Melatonin dan Terapi Cahaya

Melatonin adalah zat kimia yang dikeluarkan oleh tubuh secara natural dengan tujuan untuk membuat ‘mengantuk’. Zat ini normalnya dikeluarkan pada malam hari dengan tujuan menyebabkan individu mengantuk dan tidur. Kadar Melatonin didalam tubuh meningkat ketika individu bersiap-siap untuk beristirahat. Normalnya, Kadar melatonin berada pada kondisi yang tinggi pada malam hari dan mulai menurun pada pagi dini hari, menjelang siang. Melatonin ini bersifat sangat peka cahaya, dalam artian akan berproduksi ketika tidak ada cahaya disekitar tubuh individu. Produksi melatonin akan sedikit terganggu jika ada cahaya matahari atau artificial light disekitar tubuh. Nah, sekarang tahu kan mengapa kita harus mematikan semua lampu didalam kamar ketika kita tidur.

Untuk mereka yang bekerja secara shift, terutama mereka yang bekerja pada malam hari, produksi melatonin akan dipaksa untuk berkurang atau melakukan produksi secara abnormal. Produksi yang abnormal ini sangat berefek pada individu, efeknya saya rasa sudah jelas pada penjelasan sebelumnya.

Nah, terapi medikasi untuk Klien dengan masalah SWD adalah salah satunya dengan mengonsumsi melatonin. Melatonin ternyata sudah dijual dalam bentuk dietary supplement atau suplemen kesehatan dengan label obat bebas terbatas, termasuk golongan vitamin dan mineral dan kalau di Amerika, suplemen ini tidak dibawah supervise Food and Drung Administration. Hal ini menyebabkan seseorang harus melakukan konsultasi dengan dokter yang bersangkutan terkait dengan penggunaan terapi ini.

Sedangkan untuk terapi non-medikasi yang dapat dilakukan oleh individu dengan masalah ini adalah Terapi cahaya. Terapi Cahaya dapat dilakukan di rumah masing-masing individu, terutama di kamar tidur. Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, tubuh akan sangat sensitive terhadap adanya cahaya, terutama dalam hal produksi Melatonin. Individu harus memutuskan kapan dan dimana untuk beristirahat, dengan memainkan trik cahaya ini, inidvidu yang bersangkutan dapat mengatur kembali irama tidurnya. Individu dapat mematikan lampu atau menggelapkan ruangan untuk mendapatkan lingkungan yang nyaman untuk dapat segera tidur.

Caffeine

Caffeine adalah zat yang terdapat pada kopi dan teh, zat ini membuat tubuh individu menjadi alert atau waspada dengan keadaan sekitarnya. Caffeine terkenal sebagai zat yang dapat mengalahkan peranan melanin dalam tubuh. Caffeine dengan takaran yang cukup dapat membantu Individu untuk stay awake dalam rentang dan ukuran waktu tertentu. Seperti yang dianjurkan, individu setidaknya mengonsumsi kruang dari 200 mg caffeine sehari untuk menghadapi masalah mengantuk yang diakibatkan oleh pekerjaan shift yang cukup mengganggu ini.

Caffeine terkenal sebagai zat yang bertahan didalam aliran darah dalam waktu tertentu, tergantung pada jumlah dan takarannya. Inidvidu harus bijaksana dalam mengonsumsi zat ini, terutama pada saat menjelang masa-masa istirahat/tidur. Individu perlu mengurangi jumlah intake yang masuk kedalam tubuh pada beginning half dari shift-nya.

Bagi mereka yang ingin menggali lebih dalam mengenai pola tidurnya, dapat membuat sleep diary dengan mencatat waktu tidur dan waktu bangun setiap harinya. Hal ini akan sangat membantu mengkalkulasikan secara kuantitatif jumlah jam tidur atau istirahat setiap harinya dan kapan saja merasakan mengantuk. Tindakan ini juga akan sangat membantu dokter atau petugas kesehatan untuk menilai apakah memang masalah tidurmu ini dikarenakan disorder atau hanya karena masalah-masalah tertentu lainnya. Sleep diary saat ini sudah banyak tersedia dalam bentuk ‘digital’ atau aplikasi yang dapat diunduh secara langsung dan mudah di PlayStore.

Nah, saya rasa hanya demikian yang dapat saya jelaskan pada postingan kali ini. Panjang memang, dan itulah alasan mengapa saya sedikit malas juga untuk berbagi tulisan seperti ini. Sahabat saya bahkan pernah mengejek dengan berkata, “ Siapa yang mau membaca ?”, dan ada juga “Sekalian aja buat buku!”. Yah…teman-teman saya memang adalah orang-orang yang luar biasa.

Selamat untuk berpikir, semoga postingan ini mencerahkan sedikit.

Salam hangat dari saya,

20180523_022906.png

Meja Kerja, Juni 03 2018.

 

Catatan:

Mohon maafkan Bahasa Indonesia yang saya gunakan didalam tulisan ini. Saya merasa sedikit aneh ketika menulisnya, tapi saya abaikan saja.

Iklan
10 buah komentar Post a comment
  1. Ia, menurut statistiknya memang terjadi peningkatan gangguan irama tidur untuk masing-masing orang atau generasi milenial sekarang. Alasannya adalah karena penggunaan internet yang full 24 jam ini looo…hahahahah

    Disukai oleh 1 orang

    6 Jun 2018
  2. Kadang aku juga kacau irama tidurnya, apalagi kalo udah di depan laptop pas malem-malem

    Disukai oleh 1 orang

    6 Jun 2018
  3. Hahahaha…Ia, Mas Faisal. Sejauh ini, aman dan masi terkendali.

    Suka

    5 Jun 2018
  4. Hati hati ya mbak heheh. Banyak tuh gejalannya ,

    Disukai oleh 1 orang

    5 Jun 2018
  5. Siap, sama-sama mbk.

    Iya Mbak, semoga panjang umur dan terjaga kesehatannya semuanya.

    Disukai oleh 1 orang

    4 Jun 2018
  6. Terima kasih banyak atas apresiasinya, Ikha. Senang bisa membagikan pengalaman seperti ini. Semoga kita bisa saling mengisi dan berbagi ilmu dan pengetahuan.

    Ia, Ikha. Mereka yang bekerja di bidang penyedia informasi misalkan Wartawan juga, perlu kita beri apresiasi dan masih banyak bidang pekerjaan yang lainnya juga. Doakan semoga panjang umur dan terjaga kesehatannya.

    Disukai oleh 1 orang

    3 Jun 2018
  7. Waah, terima kasih tulisannya kak. Mencerahkan.

    Selama ini tahu efeknya kerja shift gitu hanya ke “numpuk utang tidur” tapi ternyata bisa sampe kena SWD sampe ke kesehatan mental, sensitif perasaan dan sebagainya.

    Salut sama temen-temen yang mampu kerja shift siang malam, terutama petugas medis, semisal perawat.

    Disukai oleh 1 orang

    3 Jun 2018
  8. Terima kasih banyak atas apresiasinya Kak,..

    Hehehehe…

    Tidak apa2, Perawat yang sadar bahwa dirinya ada masalah, pasti sudah bergerak untuk mengatasi masalahnya. Karena, kalau tidak, akan sangat kelihatan pada asuhan keperawatan yang dia berikan. Jadi, aman aja Kak.
    Tegur juga ngak apa-apa Kak, karena itu penting untuk kualitas pemberian asuhan kepada kliennya nanti.

    Suka

    3 Jun 2018
  9. Waw..pnjang mmang ya, tp sy klar kok bcanya :))

    Dpat ilmu baru dech, SWD…Tdnya sy mau nnya ttg cara mengatasinya, tp krn d bagian akhir udah djlskan ya gak jd dech.

    Klau ktmu perawat yg lg kena SWD sy rada gmn ya, hhmm… takut slh diagnosa sih, kan berabe 😂

    Smoga bs sembuh ya, dan bs normal kmbli.

    Disukai oleh 1 orang

    3 Jun 2018

Trackbacks & Pingbacks

  1. Healthy sleep: Tidur dan istirahat yang tergolong sehat, seperti apakah itu? – SHARING IS CARING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: