Kesepian: Penyakit yang Perlahan dapat Membunuh

 

Salah satu jalan yang sepi dan jarang digunakan di University of the Philippines Diliman

 

Oleh,

Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Kesepian, anak muda mana sih yang tidak kenal dengan kata ini. Kesepian adalah alasan mengapa banyak anak muda membuat status galau sepanjang masa dan bahkan mendoakan turunnya hujan lebat dimalam minggu. Hayoo..Ngaku!

          Baca juga, SEPI: Sebuah Perkara

Seperti halya perasaan yang lainnya (Marah, Bahagia), kesepian juga merupakan sebuah bentuk perasaan yang bersifat sangat personal. Kesepian adalah salah satu jenis perasaan yang cukup unik untuk digali dan dicermati.

         Baca juga, Antara Aku dan Kesunyian

Kita mungkin bisa mengatakan bahwa kita hidup dengan dikelilingi oleh orang lain, teman, keluarga dan pekerja. Tapi, kita tetap saja akan merasakan perasaan emosional atau social yang disconnected dari orang-orang yang berada disekitar kita. Untuk mengandaikannya adalah ungkapan seperti “Merasa sunyi diantara keramaian Ibu kota”. Ya, memang tidak ada jaminan kalau orang lain akan membantu kita untuk immune terhadap perasaan kesepian dan efeknya.

Kesepian menciptakan emosional pain, dalam artian bahwa kesepian menyebabkan luka yang tidak kelihatan bagi individu yang mengalaminya. Emosional pain ini lambat laun akan menjadi borok yang sangat sulit untuk disembuhkan dan mengancam produktivitas hidup dari mereka yang memilikinya.

Emosional pain yang ditimbulkan oleh rasa kesepian yang tidak terobati, akan berefek pada kesehatan fisik dan respon stress psikologis dan lambat lain merusak fungsi system imum. Sebagai dampak nyatanya, orang yang bersangkutan akan mulai mengalami penyakit fisik yang datang silih berganti. Penyakit yang paling banyak dihubungkan dengan keadaan ini adalah, penyakit pembuluh darah dan jantung (cardiovascular diseases). Bahkan ada penelitian yang menyebutkan bahwa kesepian kronik yang diderita oleh seseorang akan meningkatkan resiko untuk cepat meninggal dunia sebanyak 26 persen. Ini bukan angka yang main-main. Melalui statistic ini, kita dapat memprediksi bahwa mereka yang mengalami kesepian memiliki kesempatan hidup yang sedikit jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami kesepian dalam jangka waktu yang lama (dalam artian merasa bahagia dan terkoneksi dengan orang lain).

Tahu bahwa masalah kesepian ini sangat urgent, sikap kita sebaiknya menganggap serius masalah ini dan dengan aktif mencari solusi yang diharapkan untuk mengurangi dan lebih baik mencegah bergugurannya korban jiwa atau kerusakan yang ditimbulkan oleh keadaan ini. Seharusnya, ya.

Nah, tulisan yang mungkin agak panjang ini, bertujuan untuk memberikan sedikit informasi yang dibutuhkan untuk melihat dan setidaknya menyadari betapa pentingnya mengatasi kesepian yang ada didalam hati dan pikiran kita masing-masing, selanjutnya membantu orang lain disekitar kita yang mengalami hal ini, untuk bangkit dan menatap hidup lebih optimis kembali.

Mengali masalah kesepian pun bukan perkara yang mudah, karena ternyata sangat menantang dan membutuhkan banyak energi untuk mengulitinya satu persatu (Saya sendiri baru sadar setelah menyelesaikan tulisan ini).

Mengapa Kesepian ?

Banyak sekali penyebab atau alasan mengapa muncul perasaan kesepian atau loneliness ini. Tapi, yang menjadi garis merah disini adalah ‘hubungan’ atau koneksi antara individu satu (milik pribadi yang bersangkutan)  dengan individu lainnya. Sebagai contoh, berhadapan dengan perpisahan antara sahabat satu dengan sahabat yang lainnya, jam pekerjaan yang bertambah (lembur) yang menyebabkan kita harus kehilangan kontak social dengan orang-orang yang kita sayangi, putusnya hubungan percintaan dengan orang yang terkasih, ditolaknya pengakuan cinta kita, dan yang lebih parah adalah perpisahan dengan orang yang terkasih, terutama dalam kematian.

Kesepian juga bersarang pada mereka yang menderita penyakit-penyakit kronis, penyakit menular dan bahkan mereka yang menjalani pengobatan yang panjang. Contoh adalah mereka yang menderita penyakit kusta, kita masih dengan sangat teganya mengucilkan dan menghina mereka dengan keadaan penyakit ini. Alhasil, kita membentuk pagar pembatas yang menyebabkan mereka yang terkena penyakit kusta harus mengasingkan diri, menjauh dan pastinya merasa kesepian. Contoh lainnya adalah mereka yang dinilai sudah tidak produktif lagi, misalkan mereka dengan keterbatasan fisik. Karena anggapan kita yang salah terkait dengan kondisi dan keadaan yang dialami oleh saudara-saudari kita ini, kita menyebabkan mereka bersahabat akrab dengan sepi dan menjadikannya teman bahkan seumur hidupnya.

Mereka yang mengalami masalah sakit psikologis dan emosional, mereka yang terluka batinnya, hatinya adalah mereka yang secara langsung membentuk kurungan didalam dinding mental mereka sendiri, kurungan ini sangat sulit untuk dihancurkan dan pastinya memberi dampak yang sangat buruk untuk kehidupan pemiliknya. Kesepian yang juga merupakan masalah sakit psikologis membuat kita percaya bahwa orang-orang yang ada disekitar kita care much less dibandingkan dengan apa yang sesungguhnya mereka lakukan. Dalam artinya bahwa mereka disekitar kita memiliki kepedulian yang rendah hanya menurut pemikiran kita saja. Kepercayaan ini jelas keliru. Kepercayaan yang keliru ini, membawa kita pada pandangan yang semakin negative terhadap hubungan kita dengan orang lain disekitar kita. Kita melihat orang-orang disekitar kita sebagai orang-orang yang sangat tidak penting dan sangat tidak baik untuk kita beri waktu dan perhatian. Mengerikan bukan ?.

Masalah kesepian ini tidak bisa kita anggap sebagai sesuatu yang sepele, karena banyak contoh kali masalah kesepian berakhir dengan depresi yang mendalam dan yang paling extreme adalah masalah self-harm hingga suicide.

Melepaskan diri dari kesepian, mungkinkah ?

Melepaskan diri dari perasaan kesepian dan menyembuhkan luka psikologis yang kita rasakan adalah mungkin, tetapi tentu saja diiringi dengan sebuah keputusan yang berani dan juga tanggung jawab dibelakangnya. Keputusan dan tanggung jawab ini akan melahirkan action untuk melawan keinginan diri sendiri untuk menjauh dan semakin menjauh dari hubungan social dengan orang lain yang sedkit banyak akan membantu kita.

Setidaknya ada tiga hal yang direkomendasikan untuk dapat memabntu kita berhadapan dengan perasaan kesepian dan membantu kita untuk membebaskan diri dari penjaga isolasi diri.

Take action

Terima keadaan yang kamu rasakan. Terima keadaan bahwa perasaan kesepian sedang meracuni pikiran dan persepsimu dengan mulai membuatmu menjauhi diri dari orang lain dan dunia. Cobalah untuk membuka peluang pemikiran yang lain bahwa selain pendapat negative, juga terdapat pendapat positif dari orang-orang lain diluar sana. Tapi, bukan pendapat mereka yang penting bagimu tapi pendapatmu tentang dirimu sendirilah yang penting. Baiknya dirimu memberikan penilaian yang positif terhadap dirimu sendiri tapi juga tetap dalam koridor yang jujur.

Jika kau merasakan perasaan kesepian, galau atau rindu dan memiliki perasaan bahwa kau ingin sekali berkomunikasi dengan seseorang. Pergi dan carilah kontak orang yang ingin kau hubungi dan segera hubungi orang yang bersangkutan. Jangan menahan diri untuk menghubungi orang yang bersangkutan dan katakan bahwa saat ini, kau benar-benar ingin merasakan perasaan ‘terhubung’ kembali dengan dunia.

Ya, ini mungkin adalah tindakan yang sangat menakutkan dan tergolong sangat berani. Tindakan ini juga akan menjadi sangat tidak memungkinkan untuk mereka yang memutuskan untuk menjadi secret admire dari seseorang. Nah, untuk memberanikan diri menghadapi langkah pertama ini, pentinglah bagi kita untuk memperhatikan langkah selanjutnya,

Give the benefit of the doubt

Saya rasa adalah adil untuk berpikir bahwa mereka yang pernah menghabiskan waktu denganmu dimasa yang lalu juga akan merasakan enjoy untuk menghabiskan waktunya pada masa sekarang dan yang akan datang denganmu. Dalam artian mereka adalah teman-teman dan keluarga dekatm (atau memang orang yang kamu kenal).  Ada ikatan emosi yang cukup mendalam, yang mampu membuat kita merasakan ‘rindu’, ‘kangen’ dan rasanya ingin berkomunikasi dengan seseorang yang kita kenal (atau yang ada didalam pikiran kita) dalam waktu yang tidak bisa ditunda atau segera.

Beranikan diri untuk mengambil resiko dengan asumsi bahwa mereka yang ingin kita hubungi pun adalah orang yang juga merasakan kerinduan dan perasaan yang sama seperti kita. Hubungi mereka dan jangan tunda lagi, cobalah untuk santai dan hadapi dengan penuh canda dan perasaan rilex didalam diri.

Jika ternyata nanti mereka tidak memiliki perasaan yang sama seperti kita, santailah. Respon yang diberikan kepada kita, kita ambil dan sikapi dengan positif. Mereka yang pernah ditolak cintanya pasti sangat familiar dengan perasaan ini (hehehehe…).

Mungkin, kita juga perlu sedikit ber’egois’ diri dengan mengatakan bahwa kita sedang kesepian dan membutuhkan teman untuk berkomunikasi dan menghapus rasa sepi didalam hati kita. Mintalah dengan sopan orang yang kita hubungi untuk mengerti apa yang kita rasakan. Malu ?, hum…ini adalah bagian dari keputusan yang kita ambil, maka timbanglah lalu putuskan dengan baik.

Approach with positivity

Beriringan dengan resiko untuk diterima dan disambut baik, ada yang namanya penolakan. Ya, ini adalah alasan mengapa banyak diantara kita tidak berani untuk mengambil resiko untuk menghubungi orang lain atau orang yang kita rindukan. Karena kita pada dasarnya takut akan penolakan (Hayooo…Ngaku, benar kan ?).

Untuk menghadapi ini, mari kita coba untuk berpikir dengan menggunakan logika berpikir yang berbeda (mengambil perspektif berpikrian yang berbeda dan tetap dalam koridor yang positif) dan jangan sampai kalah dengan pikiran yang berusaha untuk menjebak rasionalisasi yang kita miliki.

Penolakan itu sama sejajarnya dengan penerimaan. Spesialnya penerimaan sama spesialnya dengan penolakan. Kita nampaknya perlu memperbaiki sedikit pengertian diri kita mengenai penolakan. Jangan pernah menganggap bahwa penolakan adalah akhir dari dunia, karena sejujurnya memang penolakan bukanlah akhir dari dunia. Penolakan adalah proses, adalah hasil dari aksi yang kita berikan pada suatu massa/persoalan. Jadi, jangan terlalu dibuat semakin rumit dan ribet. Santailah..ambil nafas panjang dan hembuskan perlahan. Kita pasti akan menjadi orang yang baik-baik saja. Semuanya akan bisa kita jalani dengan baik.

Beranikan diri untuk mengambil resiko dan hubungilah orang yang memang saat ini ada dipikiran kita. Katakan padanya bahwa saat ini kita memikirkannya dan pada saat ini kita pun merasakan perasaan yang mendesak untuk menghubunginya. Katakan bahwa kita merasakan perasaan yang tidak nyaman yang bernama kesepian dan kehadiran orang yang kita hubungi ini adalah sangat penting untuk kita. Mintalah pengertiannya dan nikmati percakapan atau jalinan komunikasi yang terjadi diantaranya.

Siapa yang akan tahu bahwa mungkin saja, mereka yang ada didalam pikiran kita saat ini juga sebenarnya membutuhkan kehadiran kita untuk menemani sepinya. Ia bukan?.

Ambil resiko dan celebrate apapun reaksi yang timbul sesudah kita mengambil keputusan ini.

Jadi, demikianlah. Kesepian dapat berarti sebagai perasaan yang sangat dan sangat menyakitkan, tapi jika kita mampu untuk mengenali tanda dan gejalanya, dan tahu efek yang ditimbulkannya, kita bisa dengan sangat cepat dan tepat mencegah kerusakan yang mendalam dan tidak tertolongkan.

Jangan menyerah, ketika kamu merasakan sentuhan kesepian didalam dirimu, segera koneksikan kembali dirimu dengan dunia, ambil rute untuk menyelamatkan diri dan have faith !

Kesehatan dan juga kebebasan (dari rasa sepi) akan menjadi reward yang sangat pantas untukmu.

Dari Meja Kerja Saya,

June, 17. 2018

20180523_022906.png

 

Catatan:

Tulisan ini terinspirasi dari Presentasi yang sangat luar biasa memukau dari salah satu psikolog favorit saya, Dr. Guy Winch di situs TED.Com. Presentasinya mengenai ‘Why We All Need to Practice Emotional First Aid’ benar-benar menginspirasi saya untuk segera menulis dan membagikan pengetahuan ini.

Dr. Guy Winch juga menuliskan serta membagikan tulisannya yang sangat berharga berjudul “How to beat loneliness” yang dapat diakses disini.

 

Iklan

6 respons untuk ‘Kesepian: Penyakit yang Perlahan dapat Membunuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s