Lanjut ke konten
Iklan

Hal-hal yang bisa kita pelajari dari pemberitaan media mengenai penyelamatan 13 Warga Thailand


Oleh,

Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Dunia sedang merasakan euphoria yang luar biasa, bukan karena masalah piala dunia, tapi karena kejadian luar biasa yang terjadi di Thailand baru-baru ini. Kejadian tersebut adalah penyelamatan 13 orang penduduk Thailand dari sebuah gua yang medannya terasa sangat mustahil. Kegiatan penyelamatan ini semakin menjadi sorotan karena bukan hanya satu atau dua negara saja yang ikut terlibat didalamnya tapi banyak negara, bahkan negara seperti Inggris menerjunkan langsung petugas nomor satunya untuk ikut serta dalam misi kemanusiaan yang sangat dramatis ini.

Pemberitaan mengenai penyelamatan ini semakin heboh karena baik media local, nasional dan internasional berlomba-lomba menyuguhkan berita tebaru dan hot untuk audience mereka. Saya rasa, saya pun ikut terbakar untuk ikut serta dalam memeriahkan tulisan yang banyak sekali hubungannya dengan kisah penyelamatan paling mendebarkan tahun ini, setidaknya untuk saya pribadi.

Berikut adalah hal-hal yang bisa kita (Saya terutama) pelajari tentang pemberitaan mengenai kegiatan penyelamatan 13 orang warga Thailand yang dilakukan dalam beberapa waktu ini.

Tidak ada berita heboh yang mengabarkan tentang sikap ‘menyalahkan’ 13 orang yang terperangkap dalam Gua, menyalahkan pelatih yang merupakan individu ter-tua didalam group atau menyalahkan 12 orang anak remaja yang dengan beraninya masuk kedalam Gua.

Rentetan berita mengenai penyelamatan 13 orang warga Thailand ini bermula dari kegiatan yang dilakukan sendiri oleh 13 orang ini. Niatan mau berlatih main bola dilanjutkan dengan kegiatan tambahan meng-eksplorasi gua. Meskipun ketiga belas warga ini adalah warga asli, mereka termasuk warga yang mungkin saja tidak begitu familiar dengan keadaan disekitar gua. Hujan yang terjadi tiba-tiba ternyata menyebabkan banjir, banjir inilah yang akhirnya membuat mereka tidak bisa keluar dari dalam gua dan mengawali proses penyelamatan panjang dan luar biasa.

Tapi, media sama sekali tidak memberitakan secara berlebihan mengenai ada orang atau kelompok tertentu yang menyalahkan tindakan yang dilakukan oleh ketigabelas warga ini. Ya, setidaknya setahu saja demikian. Media malah membicarakan mengenai bagaimana anggota keluarga dari anak-anak (pemain bola) ini memaafkan apa yang dilakukan oleh pelatih bola dan mereka memaafkan apa yang sudah terjadi. Opini masyarakat pun nampaknya terbentuk kearah yang positif, ada memang opini warga net yang menyalahkan pelatih dan juga kenakalan anak-anak ini, tapi tidak dimuat secara langsung di media (terutama di media asing seperti CBS News, Guardian, CNN News).

Tidak ada pemberitaan mengenai nama-nama 13 warga Thailand yang menjadi focus berita dari misi penyelamatan (Setidaknya untuk nama anak-anak remaja).

Nah, poin ini seharusnya saya tempatkan menjadi nomor satu. Karena dari awal pemberitaan media, hal yang saya soroti pertama kali adalah nama-nama dari mereka yang menjadi subjek utama dari pemberitaan. Biasanya, warta berita seperti CNN akan dengan sangat gencar memberitakan mengenai nama-nama korban kecelakaan atau korban karena musibah tunggal lainnya. Tapi ini, sama sekali tidak ada!.

Apakah ada yang berpikir seperti saya ?.

Sepertinya memang pihak pemerintah Thailand atau mereka yang bertanggungjawab terhadap misi ini sengaja merahasiakan nama-nama dari anak-anak yang sedang mengalami musibah ini. Meskipun foto dan video mereka menjadi sangat terkenal di berbagai media social dan portal media. Saya terkesan.

 Pemberitaan di luar negeri ini juga agak sedikit aneh bagi saya, karena saya terbiasa dengan pemberitaan dari dalam negeri yang sangat luar biasa memberitakan nama-nama korban bahkan keluarga korban juga ikut menjadi highlight berita jika topik dari pemberitaan adalah mengenai bencana atau musibah yang menimba satu atau sekelompok orang.

Saya mengambil pelajaran berharga mengenai hal ini yaitu sikap melindungi dan penghargaan, karena mereka yang menjadi subjek dari warta berita adalah masih dalam kelompok anak-anak, wajar rasanya untuk melindungi data pribadi milik mereka. Termasuk nama disini. Saya tahu, public pasti sangat penasaran, tapi saya salut dengan upaya dan usaha dari pemerintah Thailand yang tidak mengeluarkan ke public nama-nama dari para korban. Media juga nampaknya menahan diri untuk tidak membeirtakan mengenai nama-nama para korban terutama mereka yang masih anak remaja, mungkin saja ya…ini hanya praduga.

Tidak ada pemberitaan mengenai pendapat paranormal/cenayang terkait dengan musibah yang menimpa warga mereka.

Secara sekilas memang ada pemberitaan mengenai mitos bahkan legenda dari gua dan air yang keluar dari dalam gua seperti yang diberitakan oleh CNN News. Tapi, saya tidak menemukan judul berita seperti “Pendapat Paranormal mengenai kejadian…” dst. Judul berita hanya memfokuskan mengenai proses penyelamatan dan juga upaya yang dilakukan untuk membantu proses penyelamatan yang dilakukan oleh para professional didalam gua. Menarik !

Saya tidak tahu dengan warta berita di Thailand yang merupakan negara asal, mungkin saja ada jenis berita seperti ini yang diberitakan dalam bahasa local. Tapi, warta berita yang disiarkan oleh media asing, sama sekali tidak ada yang tertarik mengangkat mengenai pendapat paranormal atau ramalan apa begitu yang menyebabkan musibah atau upaya para cenayang untuk membantu proses pencarian korban sebagai highlight berita. Wah, saya salut. Padahal, Thailand adalah salah satu negara yang masih memegang teguh kepercayaan yang bersifat animism.

Tidak ada pemberitaan yang mengeksplor jauh mengenai keluarga dari 13 warga ini.

Hampir sama seperti poin sebelumnya, banyak berita yang saya saksikan menunjukkan tidak banyak yang mengekplor mengenai ‘perasaan’ keluarga korban mengenai masalah yang sedang menimpa mereka. Ya, berita yang saya termukan adalah berita seputar keluarga yang menunggu hasil dari proses penyelamatan, tapi itu juga secara umum, tidak menyebutkan keluarga si anu dan si anu. Padahal, bisa saja kan kalau si wartawan bersikeras menanyakan, “Dari 13 orang itu, siapa yang merupakan anggota keluargamu ?”. Oh ya, saya lupa, ada berita dari Tante si Couch Sepak bola, ada sorotan khusus malahan. Tapi, itu juga dimunculkan karena ada spekulasi negative dan bumbu-bumbu dari netizen yang mau mem-bully si-pelatih. Entah bagaimana berita selanjutnya bukannya semakin menguatkan opini untuk mem-bully si pelatih, malahan membela dan membuat image-nya mendadak bersih (dimata saya setidaknya).

Uniknya, media mampu membantu membalikkan opini ini dan public sepertinya tidak banyak membahas mengenai hal ini. Saya yang awalnya juga sedikit menyalahkan si pelatih, tapi lama kelamaan menjadi berubah pikiran. Apalagi setelah membaca surat yang diberikan oleh Pelatih ini kepada orang tua dari anak-anak yang dilatihnya. Jawaban dari para orang tua inipun luar biasa, saya tidak bisa menahan untuk tidak meneteskan air mata waktu membacanya.

Nah, meskipun saya bukan orang yang belajar khusus mengenai jurnalistik, tapi saya boleh dong mempelajari sesuatu terkait dengan penyiaran atau pemberitaan media seperti ini. Saya merasa senang karena baru pertama kalinya saya memperhatikan berita seperti ini bahkan membuat sedikit perbandingan didalam hati.

Saya menjadi sedikit mengerti kekuatan dari pemberitaan dalam mengarahkan opini dari pembaca atau penonton. Bagaimana kekuatan media dapat membawa perubahan yang positif dan pemberitaan yang negative. Saya yakin, karena kekuatan pemberitaanlah makanya berdatangan pertolongan dari negara-negara lain. Saya bahkan salut dengan negara seperti Jepang, meskipun didalam negerinya sendiri sedang tertimpa musibah, mereka masih sempat mengirimkan perwakilannya ke negara lain. Saya sedikit kecewa mendengar tidak ada satupun yang menyebutkan nama Indonesia, hum….entahlah.

Ini yang bisa saya pelajari dari peristiwa yang mengguncang kemanusiaan kita semua baru-baru ini, saya harap kita sekalian bisa belajar sesuatu dari postingan sederhana ini. Saya yakin teman-teman pembaca sekalian pasti memiliki lebih banyak hal yang bisa kita pelajari bersama. Saya berharap ada yang mau berbaik hati membagikan kisah dan hasil belajarnya ya. Sehingga nanti kita bisa saling berdiskusi bersama untuk memperkaya diri.

 

Catatan di balik layar:

Saya sedikit dilemma untuk menulis mengenai kejadian ini, karena dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, negara kita juga sedang dalam masa berduka karena tenggelamnya kapal-kapal pengangkut penumpang dengan jumlah korban yang bahkan jauh lebih banyak dari kejadian di Thailand. Belum lagi banjir yang terjadi di Jepang dan banyak berita yang tidak enak didengar dibeberapa tempat baik dalam dan luar negeri. Saya bahkan merasakan ketidakadilan disini, dalam hati saya berpikir, “Masalah di Negeri sendiri saja tidak diberi perhatian, mengapa harus memberi perhatian kepada masalah di negeri orang ?”. Belum lagi rasa curiga diiringi dengan pertanyaan yang muncul dari dalam otak saya, “ Mengapa kejadian di Thailand baru-baru ini terasa sangat luar biasa diberitakan di media-media, baik Nasional dan Internasional ?”. Ada drama apakah dibalik semua ini?”.

Sahabat saya bahkan harus membagi kelompok kami menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah kubu yang seperti warga masyarakat dunia kebanyakan, menyambut baik dan antusias proses penyelamatan yang terjadi di Thailand ini. Kubu kedua adalah kubu yang tidak mau ambil pusing, bahkan lebih kearah tidak peduli. Kubu kedua berpendapat bahwa kita seharusnya menaruh perhatian pada isu-isu didalam negeri yang masih belum terselesaikan dan melihat bagaimana tidak ada satu negara pun yang mau menyuarakan bantuannya ketika terjadi kecelakaan kapal pengantar penumpang di negara kita.  Saya jadi binggung mau memihak yang mana, jadi saya memutuskan untuk membuat kubu ketiga, kubu netral dan tidak memihak. Saya hanya dengan egoisnya mau cuci tangan dari perseteruan antara sahabat-sahabat saya ini.

Cukup berat sesungguhnya membuat tulisan pengantar untuk tulisan saya kali ini. Tapi, saya akhirnya melepaskan semua pemikiran ini dan membulatkan tekat untuk menulis sesuatu yang baik dari kejadian penyelamatan yang baru saja terjadi ini. Saya ingin belajar, itu saja, karena saya juga harus menang melawan pikiran negative yang saya miliki dan mendekap erat pikiran-pikiran positif didalam diri.

 

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: