Lanjut ke konten
Iklan

Dendam, ketidakmampuan untuk memaafkan yang memutuskan tali kebaikan


 

photogrid_15317332801824232410013815429878.jpg

Saya dan Sahabat masa kecil Saya, Hema Kusumawati. Disalah satu jalan sehabis pulang sekolah. Kami biasa menggunakan sepeda dayung untuk pulang pergi ke sekolah dengan jarak tempuh satu jam perjalanan.

 

Pernahkah diantara Pembaca sekalian bertengkar dengan orang lain (Sahabat atau Kekasih misalkan) lalu orang tersebut memutuskan kontak komunikasi untuk saat ini bahkan meminimalkan kemungkinan untuk melakukan komunikasi dimasa yang akan datang ?. Saya pernah, dan itu terjadi dua kali dalam hidup saya. Dua…humm..Mungkin lebih, tapi memang yang paling saya ingat adalah dua kejadian ini.

Kejadian pertama ketika saya masih duduk di bangku Sekolah menengah pertama (SMP) dan kejadian kedua, baru-baru ini saja, masih dalam hitungan bulan. Kejadian pertama membutuhkan waktu setidaknya 5 tahun lebih agar saya dan sahabat saya (yang saya ajak bertengkar) menyadari betapa tololnya tingkah laku dan perbuatan kami. Sedangkan kejadian yang kedua, saya tidak tahu perlu waktu berapa lama bagi saya untuk mengusahakan diri menjalin kontak kembali.

Ketika masih kecil, masih kana-kanak begitu, bertengkar adalah hal yang sangat biasa. Dendam bukan merupakan bagian dari asiknya waktu-waktu bermain (Seingat saya sih begitu). Dalam ingatan saya, saya memiliki masa kanak-kanak yang luar biasa bersama sahabat-sahabat saya, saya sering bertengkar pastinya, bahkan dengan sahabat-sahabat laki-laki. Tapi, sejauh yang saya ingat, saya tidak pernah bertengkar sampai mendendam yang mandarah daging bahkan sampai memutuskan kontak atau tali komunikasi.

Agak sulit memang kalau sampai memutuskan kontak, karena waktu itu saya tinggal di desa yang kecil dan tidak banyak penduduk disana. Memutuskan komunikasi itu sangat tidak mungkin, karena setiap hari pasti ketemu. Meskipun saling ‘marah’, tidak pernah lama, satu hari mungkin bahkan tidak sampai satu hari, kemudian disusul dengan tindakan berdamai. Mungkin saat itu kami sadar bahwa jumlah anak-anak sebaya kami tidak banyak, kalau bertengkar, sama sekali tidak akan memberi manfaat positif atau keuntungan, karena siapa lagi teman main ?. Ngak ada kan ?. Berdamai adalah jalan yang paling menguntungkan dan tidak ribet (Setidaknya saya sudah belajar mengenai untung dan rugi sejak masa kanak-kanak saya, meskipun ketika sudah besar begini masih harus belajar banyak untuk jadi entrepreneur).

Ketika sudah beranjak dewasa, lingkungan pergaulan semakin luas plus kesadaran akan masalah semakin dalam, maka senggolan-senggolan dari teman-teman sebaya bisa diartikan sebagai permusuhan yang sangat sulit untuk diperbaiki. Saya sering mengalami perang-perang kecil dengan tema yang seperti ini, ego yang tinggi dan juga harga diri yang dipaksa untuk menjadi tinggi juga. Kalau saya pikir, bagus juga, karena pertengkaran seperti ini mengajarkan saya untuk menjadi tangguh dan tahan banting ketika dewasa, ya meskipun harus dengan jalan yang tidak nyaman sewaktu remaja. Ketika saya SMP kelas satu, entah bagaimana saya bertengkar dengan salah satu sahabat saya yang memang sudah sangat akrap dengan saya sejak SD. Sejak pertengkaran itu, kami putus kontak dan komunikasi. Kalau jalan, pura-pura tidak kenal dan secara sengaja menghindar. Namanya masih SMP, ya mudah tersinggung, drama…dan lain sebagainya. Meskipun pertengkaran sewaktu SMP dulu pasti akan sangat jauh berbeda dengan pertengkaran anak SMP jaman sekarang (Hayo, mana nih guru SMP, benar ngak ?).

Lucunya, meskipun saya dan sahabat saya ini tidak saling berkomunikasi di sekolah, kalau di rumah kami masih mengakui kepada orang tua kami bahwa kami bersahabat baik. Kadang, masih bisa saling menyapa (dengan terpaksa, supaya tidak ketahuan berbohong). Kejadian seperti ini berlanjut sampai sahabat saya ini pindah sekolah dan kami menjalani perjalanan hidup yang berbeda. Saya ingat betul, ketika sahabat saya ini liburan dan pulang kembali ke kampung, saya kadang secara sengaja mengendarai sepeda saya lewat didepan rumahnya, berharap dapat melihat sekilas wajahnya dan memastikan bahwa dia baik-baik saja. Kalau saya pikir kembali, benar-benar deh ya, anak-anak!. Ternyata, bukan hanya saya, sahabat saya pun ternyata berusaha untuk bertemu dengan saya, meskipun tidak secara langsung Ia mengatakan bahwa Ia ingin menemui saya. Lihat betapa besarnya ego yang saya miliki ketika saya masih remaja, masih bocah. Sombongnya kebangetan!.

Perlu waktu setidaknya 5 tahun agar saya dan sahabat saya ini bisa berdamai satu sama lain dan kejadian itu terjadi ketika kami berada di perguruan tinggi. Saya lupa apa pemicunya, tapi akhirnya kami saling mengakui kesalahan masing-masing dan memutuskan untuk melupakan apa yang sudah terjadi. Kami dengan mudah kembali seperti masa-masa sebelum kami bertengkar lima tahun sebelumnya. Bodohnya.

Bersahabat itu membutuhkan hati yang besar, hati yang siap untuk memaafkan dan hati yang juga siap untuk menerima maaf dari orang lain.

Tapi, karena peristiwa ini saya belajar banyak hal. Terutama belajar untuk tidak menganggap serius segala macam permasalahan, terutama jika itu berhubungan dengan yang namanya sahabat. Bersahabat itu membutuhkan hati yang besar, hati yang siap untuk memaafkan dan hati yang juga siap untuk menerima maaf dari orang lain. Hati yang tidak mendendam karena mendendam itu membawa rasa yang tidak nyaman. Lima tahun yang saya lalui tanpa sahabat saya waktu itu benar-benar menyiksa saya, saya membayangkan jika pada saat itu kami masih saling bersahabat, pasti lima tahun itu akan menjadi menarik dan penuh kenangan manis. Sayang, saya memilih jalan yang lain. Pilihan itu selalu diiringi dengan resiko, ya terima saja.

Dan, masalah serupa pada masa sekarang terulang lagi. Saya harus menerima kenyataan bahwa saya masih bermental anak-anak, saya masih belum bisa tulus untuk memaafkan dan masih bisa menyimpan dendam didalam hati kepada salah satu sahabat yang sebelumnya cukup dekat dengan saya. Sebenarnya saya sudah memaafkan, tapi melihat bagaimana dia memutuskan kontak secara total dengan saya, mem-block nomor saya, me-remove saya dari pertemanan di media social membuat saya kesal juga. Saya bukannya mau dan berniat untuk tidak berdamai, saya malah semakin tidak ingin menjalin hubungan dalam bentuk apapun dengannya. Hayooo siapa yang duluan coba!. Saya ingin sekali bertanya ada apa dan kenapa kami harus berada di posisi demikian, bukankah tidak nyaman berada dalam posisi saling bermusuhan seperti itu?. Tapi, saya urungkan niat tersebut. Saya pikir, mungkin saya dan dia harus disekolahkan oleh kehidupan selama lima tahun terlebih dahulu untuk menyadari pentingnya persahabatan dan pentingnya memaafkan.

Saya ingat betul pesan terakhir saya waktu itu, sebelum dia memblokir semua kontak saya, “Terima kasih…”, sepertinya itu adalah pesan terakhir untuk hubungan persahabatan dan juga komunikasi kami. Sedihnyaaaa, dan saya harus merelakan kehilangan satu sahabat baik lagi hanya gara-gara keegoisan diri seperti ini ? ironis !.

Iklan
24 buah komentar Post a comment
  1. Terima kasih banyak, Kakak. Wah…senang sekali Ayu dapat komen seperti ini. Terima kasih, Kak.

    Ada beberapa teman Ayu juga yang berpendapat sama dengan Kakak, seharusnya bukan Ayu yang merasa kehilangan, tapi teman Ayu inilah yang harusnya merasakan perasaan demikian. Malah saya dikatakan ‘terlalu dramatis’ menyikapi permasalahan yang dianggap ‘sederhana’ seperti ini. Kalau dipikir-pikir benar juga, Ayu mungkin terlalu dramatis ketika menulis postingan ini dan berpikir demikian, Kak.
    Sayangnya, sampai saat ini, Ayu belum bisa bebas mengontak sahabat Ayu ini. Ya…seperti tulisan Ayu, mungkin kami membutuhkan tambahan waktu untuk menyadari sikap konyol kami berdua hahahahahaha.

    Suka

    26 Jul 2018
  2. Hidup anak-anak dan orang dewasa itu memang berbeda, beda bnget. Anak-anak itu msh lebih mudah memaafkan ketimbang orang dewasa. Kayaknya itu memang fakta manusia yang berdosa kali ya. Dari 2 cerita Ayu di atas, saya sangat memahami posisi dan sikap Ayu itu, serba salah memang. Cuma satu hal, kalau orang lain dulu yang memutuskan persahabatan dengan kita, saya pikir, yang kehilangan itu bukan kita tapi dia (org lain itu). Artinya dalam hal ini kita masih membuka ruang bagi dia di hidup kita.

    Tapi rumit juga memang ya, jadi orang dewasa itu gak gampang ….. saya paham itu, menjadi pemaaf itu memang tak semudah kata-kata, sekalipun kita tahu semua bahwa berjiwa pendamai itu sangat indah dan agung.

    Semoga saja ada jalan terbaik ya buat Ayu dan temannya itu supaya tidak bermusuhan terus. Dua hal yang bikin kita tenang dan merdeka dalam hidup itu, yakni tidak ada musuh di dalam hati (tidak ada kebencian) dan tidak ada dengki. Itu sih kalau menurut saya.

    Oya, saya setuju banget dengan kalimatmu berikut:

    Bersahabat itu membutuhkan hati yang besar, hati yang siap untuk memaafkan dan hati yang juga siap untuk menerima maaf dari orang lain.

    SETUJU banget saya, walau saya jg tahu, bahwa menyetujuinya tak semudah mempraktekkannya 😂😅

    Disukai oleh 1 orang

    26 Jul 2018
  3. Terima kasih banyak atas dukungannya ya…

    Wah, bagus ini, ” …Circle sedikit tapi berkualitas”. Luar biasa!

    Tapi, benar juga, kalau melihat kebelakang ini kejadian lo. Semakin tahun, jalinan persahabatan juga ikut teruji. Yang tidak tahan berevolusi, mundur dengan teratur. Bak teori evolusi aja sudah ya…

    Suka

    19 Jul 2018
  4. Sabar ya kaka. Semakin dewasa kita bakal nyaman dengan circle sedikit tapi berkualitas. Lebih bagus bersahabat yang salingn pengertian 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    19 Jul 2018
  5. Terima kasih juga sudah berkunjung Pak 🙏
    Semoga apa yang saya tulis bisa membawa pelajaran baik bagi mereka yang membacanya.

    Salam hormat dari saya 🙏.

    Suka

    18 Jul 2018
  6. Membaca ini, betapa penting ya, Mbak, belajar terus bagaimana dada ini terasa lapang, karena di sinilah rasa nyaman itu berada, termasuk dalam hal persahabatan, makasih ya, Mbak, ini pelajaran penting, tentunya juga bagi saya.

    Disukai oleh 1 orang

    18 Jul 2018
  7. Nah, ini dia, Ayu mendapatkan beberapa jawaban yang kurang lebih sama terkait dengan perkembangan anak-anak SMP sekarang. Kesimpulan yang Ayu peroleh, kebanyakan dari mereka ‘terpengaruh’ oleh sinetron di Televisi swasta negeri ini. Ibu-ibu yang jadi teman kerja juga banyak mengeluhkan hal yang sama. Jadi penasaran, ada apa dengan sinetron di negeri kita (maklum, ngak sering nonton sinetron wkwkwkwkwk).

    Sama ternyata ya, Kak. Setidaknya kakak sudah baikan, kalau Ayu masih belum ada tanda-tanda baikan nih…, yang ada hanya pengabaikan, diabaikan hiks hiks

    Suka

    17 Jul 2018
  8. Sama sama, kan juga sering mampir.

    Anak smp sekarang ya seperti itu, persis dengan sinetron.

    Saya mengalami hal yang sama, baikannya ketika kami jadi satu kamar kos

    Disukai oleh 1 orang

    17 Jul 2018
  9. Terima kasih Mbak Vera..Dukungan seperti ini sangat dan sangat berarti.
    Sangat bersyukur masih dikelilingi oleh banyak orang baik.

    Disukai oleh 1 orang

    17 Jul 2018
  10. Bersikap biasa ,itu aku setuju. Aku juga pernah kok ngalamin hal kek kmu. Rasanya kalau lagi ada masalah sama temen itu nggak enak. dan aku adalah tipe orang yng suka nggak enakan dan sensitif. Aku paling nggak bisa punya masalah sama temen. Tpi ada satu kejadian yng mengajar kanku untuk biasa menghdapi masalah dengan teman. Benar, kita memang hrus bersiap untuk berbagai keadaan.

    Masih ada saya mbak, walau hanya teman blog ajah 😊

    Disukai oleh 1 orang

    16 Jul 2018
  11. Amin…Semoga ya.

    Suka

    16 Jul 2018
  12. Iya setuju banget mba. Semoga kita diberi hati yang lapang dan mau memaaafkan ya.

    Disukai oleh 1 orang

    16 Jul 2018
  13. Setuju, Kak.
    Dendam itu memang sangat tidak baik. seumpama penyakit dendam itu mnegakar dan bisa menyebabkan sakit psikologis dan bisa merambah ke sakit fisik. Sangat tidak dianjurkan memang untuk menyimpan dendam. Memang baiknya kalau kita sadar bahwa ada kesalahan, kita harus segera meminta maaf dan berdamai.
    Ia, kan ya ?

    Suka

    16 Jul 2018
  14. Hahahahaha….Sudah sampai segitunya ya Kak,

    Terima kasih sudah mampir, Kak.

    Suka

    16 Jul 2018
  15. Terima kasih kembali

    Disukai oleh 1 orang

    16 Jul 2018
  16. Wah, saya sendiri malah tipikal orang pendedam loh, mungkin karena wataknya pendiam kali ya. Tapi, saya selalu usahain buat maafin walau kadang kerasa nyesek. Soalnya banyak hal buruk yang ditimbulkan dari sifat dendam ini, baik buat psikologi kita sendiri ataupun hubugan kita dengan orang yang punya masalah dengan kita tersebut.

    Disukai oleh 1 orang

    16 Jul 2018
  17. Iyaa, anak smp sekarang bertengkarnya berbeda, pemicu yang rebutan gebetan cowok yang sama… Haha.

    I like this quote, Bersahabat itu membutuhkan hati yang besar, hati yang siap untuk memaafkan dan hati yang juga siap untuk menerima maaf dari orang lain.

    Disukai oleh 1 orang

    16 Jul 2018
  18. Terima kasih Mbak.

    Disukai oleh 1 orang

    16 Jul 2018
  19. Amin, Mbak.

    Suka

    16 Jul 2018
  20. yupe.. setuju.. semoga ngga akan pernah lagi deh..

    Disukai oleh 1 orang

    16 Jul 2018
  21. Sakit banget kan, Mbak ?. Nah itu dia yang saya rasakan. Udah niat mau memaafkan dengan tulus, berdamai begitu…eeee….malah diputuskan kontak. Nomor di blokir, sosial media diblokir juga, ya udah…nyerah deh ! hahahahaha.
    Kita jadikan pengalaman aja ya Mbak, semoga tidak terjadi lagi dilain waktu. Ngak enak soalnya.

    Suka

    16 Jul 2018
  22. kalau dendam sama temen ngga ada sih, dan semoga ngga pernah ada.. tapi diputusin temen gitu sampe diblokir2 pernah sekali… sakiiiiiiiiit… apalagi sy ngerasa ngga salah ^^ dan ngga dikasi kesempatan buat jelasin apa2..

    Disukai oleh 1 orang

    16 Jul 2018
  23. Terima kasih sudah berbagi cerita, Bang Yos. Kalau sudah bisa menceritakan sampai sedetail ini tanpa merasakan dendam dan rasa sakit hati, artinya proses memaafkan sudah pernah dilalui, entah masih kontak atau tidak dengan individu yang dimaksud.
    Penolakan seperti yang Bang Yos rasakan pastinya membekas, apalagi Bang Yos bilang kalau Lia memandang Bang Yos sebagai orang yang ragu. Penolakan yang ditambah dengan melukai harga diri ini pastinya sakit dan sangat susah untuk dimaafkan siapapun, jarang saya temui orang-orang yang mau dengan tulus dan cepat memaafkan orang dengan kasus seperti ini.
    Ya, seperti halnya saya, memaafkan membutuhkan waktu, belajar dari kesalahan yang sudah kita lakukan dan masih banyak lagi.

    Tidak apa-apa, saya juga sedang curhat ini, semoga kita masing-masing bisa belajar dari pengalaman yang kita bagikan. Belajar itu tidak mesti harus dari keberhasilan, bukan ?. Tapi juga dari kejatuhan dan rasa tidak nyaman yang kita rasakan.

    Semangat untumu, Bang Yos.

    Disukai oleh 1 orang

    16 Jul 2018
  24. Kalo bicara urusan dendam, aku cuma pernah dendam ke satu orang. Orang ini namanya Lia dan dia adalah orang yang aku sukai waktu SD dulu. Awalnya, aku suka banget sama Lia (ya, walaupun namanya cinta monyet), tapi rasa cinta itu berubah menjadi dendam hanya karena Lia memandangku seperti orang yang ragu.

    Aku membenci Lia hampir sekitar 2 tahun. Sebenernya, kami juga ada di SMP yang sama, tapi karena aku udah terlanjur kesel (dan dendam), alhasil aku pun jarang bertemu Lia lagi. Sekarang, aku udah maafin Lia, tapi aku udah nggak pernah kontak lagi sejak SMP karena aku nggak mau sakit hati lagi.

    Maaf jadi curhat lagi, ngomong-ngomong ini curhatan aku yang kedua di blognya Mbak Maria 🙂 .
    -Yos-

    Disukai oleh 1 orang

    16 Jul 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: