Skip to content
Iklan

Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian: Tiga Hal yang bisa kita pelajari bersama.


 

photogrid_15320738561291755515014436194638.jpg

Keluarga

 

Oleh,

Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Pada masa sekarang ini, rasanya tidak ada satu orang pun yang immune terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan ini ditandai dengan digitalisasi hampir disemua aspek kehidupan manusia. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Setuju ?.

Hasil Survey dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa setiap tahunnya terjadi peningkatan yang sangat signifikan pengguna Jasa Internet di Indonesia. Pada tahun 2017, survey menunjukkan dari total populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 262 Juta Jiwa, 143.26 Juta Jiwa adalah pengguna Internet yang aktif. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2016 yang hanya berjumlah 132.7 Juta jiwa. Bayangkan saja, dalam waktu satu tahun, sudah terjadi peningkatan seperti ini.

Perkembangan teknologi dan komunikasi yang sudah mengglobal ini, memberikan dampak positif dan juga dampak negatif. Dampak negatif inilah yang terus menerus kita upayakan bersama agar tidak merugikan bagi individu/keluarga maupun untuk komunitas. Tantangan agar dampak negatif perkembangan teknologi dan komunikasi pada era digital dan juga era kekenian ini tidak merusak masa depan generasi yang akan datang, terletak pada pundak orang tua, keluarga, dimana cikal bakal generasi muda belajar untuk memulai hidupnya. Keluarga yang merupakan unit terkecil dalam suatu masyarakat memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam mendidik anak-anaknya, yaitu calon generasi masa depan, untuk menggunakan internet secara aman dan beretika. Ini tentunya bukan pekerjaan yang mudah dan nyaman untuk dilakukan, apalagi mengingat betapa mudahnya mendapatkan akses internet di jaman serba instan ini.

Untuk menyikapi permasalahan dan tantangan mendidikan anak di Era Digital dan masa kekinian ini, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sudah sejak lama bergerak untuk melakukan promosi sekaligus tindakan preventive yang diharapkan dapat menekan dampak negatif penggunaan internet bagi generasi muda melalui keluarga. Salah satu langkah pentingnya adalah dengan meluncurkan paket panduan-panduan berupa buku saku yang bisa diakses oleh siapa saja secara gratis dan bebas, terutama oleh orang tua dan juga calon orang tua untuk dapat mendidik anaknya pada era digital seperti saat ini. Buku Pertama adalah Seri Pendidikan Orang Tua: Mendidik Anak di Era Digital dan Buku Selanjutnya yang juga bisa dijadikan panduan adalah Mendidik Anak Di Era Digital yang dikeluarkan oleh Sahabat Keluarga dibawah naungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Mayarakat serta Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga. Buku-buku ini diharapkan dapat membantu keluarga mengatasi dilema dan juga membantu dalam mengasuh anak pada era digital dan kekinian ini.

Orang tua kadang berhadapan dengan dilema membesarkan anak pada era dan zaman ini, dilema antara membiarkan saja atau mengekang anak untuk tidak menggunakan akses internet sampai pada usia-usia tertentu dan masih banyak permasalahan lain yang menyebabkan orang tua hampir tidak lelap tidur setiap malam. Orang tua memang diharapkan untuk mampu melindungi anak-anak dari ancaman era digital, tetapi tidak menghalangi potensi manfaat yang juga ikut ditawarkan oleh media dan perangkat digital pada zaman digital ini.

Solusi yang banyak ditawarkan dan menurut saya sangat tepat adalah melakukan pendampingan. Orang tua duduk bersama anak dan mendampingi anak untuk melewati masa-masa dimana si anak membutuhkan tuntunan kebijaksanan orang tua dalam menghadapi masa-masa pertumbuhan media informasi dan komunikasi yang sangat pesat dewasa ini. Orang tua, baik suami dan istri, Bapak dan Ibu harus bekerja sama untuk mengasuh anak dalam menghadapi tantangan yang pastinya tidak mudah.

Sebagai anak, saya melihat dan memperhatikan bagaimana kedua orang tua saya mendidik dan membesarkan saya dan saudara-saudari saya. Mereka saya nilai berhasil dalam membesarkan kami bersaudara melewati krisis digitalisasi pada beberapa waktu yang telah lewat dan berhasil menanamkan fondasi untuk berhadapan dengan perubahan dunia saat ini. Belajar dari teladan kedua orang tua saya yang mempunyai pengalaman membesarkan saya dan saudara-saudari saya, berikut adalah hal-hal yang mungkin bisa diperhatikan oleh orang tua masa sekarang dalam upayanya untuk mendampingi anak-anaknya. Ini juga mungkin bisa dijadikan bekal bagi kita sekalian yang sedang mempersiapkan diri untuk berkeluarga.

Tingkatkan Dialog dan Interaksi orang tua dan Anak

Komunikasi mungkin adalah kunci keberhasilan sebuah hubungan. Entah itu adalah hubungan pertemanan, bahkan hubungan keluarga. Sebagai sebuah keluarga, saya melihat bagaimana orang tua saya berusaha jatuh bangun untuk membentuk jembatan komunikasi yang baik antara mereka dan kami sebagai anak-anaknya. Komunikasi ini bukan berbicara soal hanya percakapan sebatas satu anggota keluarga dan anggota keluarga yang lain, tapi lebih pada upaya untuk memahami satu dengan yang lain.

Komunikasi ini semakin menantang ketika kami harus berhadapan dengan masalah keluarga. Terutama masalah yang berhubungan dengan perekonomian keluarga. Kegagalan berkomunikasi sering kami rasakan, tentu saja memberikan pengalaman yang menyakitkan bagi kami semua. Tapi, orang tua saya mengajarkan kami bersaudara untuk belajar dari kesalahan dan bangkit kembali untuk memperbaiki mana yang sudah rusak.

 

photogrid_15320736299031715676199182035.jpg

Orang tua saya mengajarkan bahwa perkembangan teknologi yang semakin canggih harus diiringi dengan semakin banyaknya kebaikan dan manfaat dalam penggunaannya. Teknologi harus bisa menyatukan dan mengeratkan hubungan keluarga, dan mengerjakan fungsi aktifnya untuk membantu menyelesaikan masalah.

 

Perkembangan teknologi diikuti dengan perubahan perkembangan keluarga terjadi juga pada keluarga kami. Ketika satu persatu kami bersaudara meninggalkan rumah dan mulai merantau untuk menemukan kehidupan kami masing-masing. Tapi, orang tua saya mengajarkan bahwa perubahan dan juga perkembangan dunia harus bisa dimanfaatkan untuk mencapai kebaikan, terutama kebaikan untuk diri sendiri dan keluarga. Meskipun kami bersaudara kadang terpisah jarak yang jauh, tapi kami selalu berusaha untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan menggunakan alat komunikasi yang tersedia. Komunikasi harus terus ada dan waktu untuk keluarga pun harus selalu ada.

Libatkan anak dalam aktivitas keluarga yang mendidik, asyik dan menarik

Hidup dan menghabiskan masa kanak-kanak saya disebuah desa dengan akses internet yang hampir tidak ada dan jaringan komunikasi yang juga kadang susah untuk diakses, memberi keutungan sendiri. Saya tumbuh menjadi individu yang cukup bisa beradaptasi dengan keadaan dimana tidak ada internet sekali. Saya juga menyadari bahwa saya ternyata sangat menikmati keadaan tanpa jaringan komunikasi dengan melakukan berbagai aktivitas menarik yang tentunya sanggup membuat saya terlena sampai lupa waktu.

 

photogrid_15320727311474193270891204504924.jpg

Aktivitas Keluarga yang ditawarkan oleh Kedua Orang Tua Saya

 

Sejak masa kanak-kanak, orang tua saya memang mendidik saya dan saudara-saudara saya untuk lebih mendekatkan diri dengan alam dan dunia nyata, bekerja keras untuk membuat sesuatu, menghasilkan sesuatu dan membuat perubahan meskipun kecil untuk kehidupan setiap hari. Orang tua saya menanamkan bekerja keras dan berusaha mengajarkan interaksi dan komunikasi dengan alam. Mungkin juga karena saya tinggal di tempat dimana hutan, perkebunan dan hasil olahan dari tanah menjadi sumber hidup. Sehingga penting sekali untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan alam dan komponen didalamnya.

Orang tua saya sangat senang membawa kami bersaudara untuk pergi ke sawah, ke kebun untuk hanya sekedar jalan-jalan, menghirup udara segar supaya tidak penat karena pekerjaan di dalam rumah. Kalau saya pikirkan lagi, mungkin ini adalah bagian dari rekreasi yang ditawarkan oleh kedua orang tua saya kepada kami anak-anaknya. Cara rekreasi yang tidak hanya untuk menghibur diri tapi juga mampu menghasilkan sesuatu dan belajar sesuatu. Kegiatan ini cukup membuat kami bersaudara lupa akan televisi atau acara TV di rumah. Kegiatan ini mampu membuat kami melupakan jaringan internet yang tidak ada sama sekali dan kami menikmatinya.

Berikan kepercayaan dalam menyelesaikan tugas dan ajarkan mengenai tanggungjawab.

Sebauh ritual terbaru terjadi di rumah kami. Ritual ini digagas oleh Ibu saya yg merupakan pencinta drama2 India. Kami sekeluarga duduk manis di depam televisi dari jam 6 sampai jam 9 malam. Makan malam kdang dilakukan bersama-sama ketika iklan sedang berlangsung, dan didepan TV. Ibu saya membuat kami sekeluarga jatuh cinta pda Drama Bollywood. Saya yg pada dasarnya pecinta Oppa-Oppa Korea, sekarang beralih pda keturunan Bangsa Arya, India. Ibu saya bahkan berkata sudah menjadi "fans" untk drama2 cinta klasik asal Bollywood. Bukan soal kesukaan kami akan drama Bollywood yg ingin saya tekankan. Tapi, acara kumpul keluarga yg menarik dan asik inilah yg sangat saya sukai & sangat saya rindukan. Sambil menonton, kami tidk berhenti untk membahas setiap adegan dalm televisi. Bahkan iklan pun kami komentari. Saya jga bisa melihat bhwa di keluarga kecil kami, ada yg berbakat sbgai komentator film, filsuf bahkan ada yg berbakat sbgai cinematografer dgn ide cerita super brilian. Acara menonton kluarga menjadi bgian yg tidak terpisahkn dri bagaimana orang tua kami mendidik kmi masing2. Melalui adegan2 yg muncul di layar kaca, Ayah dan Ibu kami mentransfer ilmu kehidupan kpda kami anak2nya. Dari adegan drama, Tidak semuanya baik untk ditiru, tpi ada hal baik yg bisa diterapkan dlam kehidpan sehari-hari. Hal2 baik inilah yg ditekankan oleh kedua orang tua kami. Terima kasih Ayah dan Ibu 😍 And Absolutely missing @lenafrani88 in this moment.

A post shared by a Nurse (@ayufrani) on

Orang tua saya memberikan kebebasan yang mengikat kepada saya dan saudara saya. Kebebasan ini kami sebut sebagai kebebasan yang mengikat karena meskipun bebas untuk melakukan apa yang kami inginkan, kami harus bertanggung jawab atas apa yang kami pilih. Kebebasan ini termasuk kebebasan untuk menggunakan jaringan internet secara bebas sesuai dengan keinginan kami. Tidak ada pembatasan atau kesepakatan untuk tidak boleh membuka situs ini atau situs itu. Orang tua kami seolah percaya bahwa anaknya bisa membatasi diri dan melindungi dirinya sendiri. Sangat berisiko memang !

Tapi, sampai detik ini, kami masih bisa menerima kerusakan yang diakibatkan hubungan intens dengan dunia maya. Selain merasakan efek negatifnya, kami masih banyak bisa mengambil nilai positif dari dunia maya yang sangat luar biasa perkembangan dan pengaruhnya untuk hidup masyarakat saat ini.

Bahkan karena kepercayaan atas kebebasan yang mengikat yang dibuat oleh kedua orang tua saya, saya dan saudara-saudari saya mampu membangun family support yang sangat baik ketika kami berhadapan dengan masalah, baik dari dalam keluarga atau masalah dari luar. Kami banyak belajar sendiri bahkan tanpa bimbingan dari orang tua kami, termasuk di dalamnya dampak teknologi informasi dan komunikasi saat ini.

Demikianlah setidaknya hal-hal yang bisa saya bagikan kepada para pembaca sekalian. Ini juga merupakan hal-hal yang sangat saya syukuri. Saya tumbuh dan besar di keluarga yang jauh dari kata sempurna, tapi karena ketidaksempurnaan ini, saya bisa melihat dan belajar banyak tentang kehidupan.

Banyak sekali permasalahan yang dilalui oleh keluarga kami, tapi manusia itu memang sangat luar biasa. Justru pada saat keterpurukannya, Ia menunjukkan kekuatan dan kemampuan yang berada diluar prediksinya. Hubungan keluarga yang mengikat menjadi pembakar semangat yang sangat luar biasa besarnya. Saya sangat bersyukur karena orang tua saya, keluarga saya memperkenalkan saya akan besarnya potensi dan kekuatan besar ini. Tentu saja ini sangat berguna untuk hidup saya, bahkan ketika saya merantau jauh dari mereka, memaksakan diri untuk hidup mandiri.

Bagaimana dengan teman-teman pembaca sekalian?. Pastinya memiliki pengalaman dan pelajaran yang luar biasa.

Feel free to share it di kolom komentar dibawah ini. Saya akan dengan senang hati membaca dan menanggapi setiap komentar teman-teman sekalian.

Salam dari saya.

#SahabatKeluarga

Iklan
3 buah komentar Post a comment
  1. Terima kasih banyak, Kak.

    Ayu selalu bersemangat untuk membagikan sesuatu yang menurut Ayu bermanfaat dan layak untuk dibagikan. Semoga bisa bermanfaat bagi mereka yang membacanya.
    Ini salah satu bentuk terima kasih untuk keluarga, teman-teman, orang-orang yang Ayu temui, yang sudah mengajarkan Ayu banyak pelajaran berharga sampai sekarang. Sayang saja rasanya kalau informasi dan pelajaran seperti ini dibuang percuma, tanpa diabadikan dan disebarkan.

    Ayu juga terinspirasi dari kakak dan teman-teman blogger lainnya, yang selalu bersemangat untuk menulis dan membagikan kehidupannya, bagi Ayu ini sesuatu yang luar biasa.

    Terima kasih ya kak, atas dukungannya. Dan semoga apa yang Ayu bagikan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat, berkat bagi mereka yang membutuhkan.

    Salam.

    Disukai oleh 1 orang

    30 Jul 2018
  2. Stuju dg
    Stiap membaca ulasan2 Ayu, topik apa saja, sy merasa bhwa Ayu itu pribadi yg sngat peduli, informasi yg dibagikan sllu informatif dan membangun. Tentu sngat bermanfaat. Walau kadang ckup panjang lbar, dan kita hrs sbar, tp saya salut. Informasi yg dibagi bnar2 ‘bergizi’

    Wlau msh muda dan blm mnikah tp pemikiran2mu luas Yu. Saya serasa kmu sprti tlah punya anak dst. Tp sy ykin, krn kmu membagikan semua itu berdasar atas pnglman kluargamu yg luar biasa. Membaca kisahmu brsama keluargamu itu sy sllu salut. Sy bangga bisa mngenal anak muda sprtinu, Yu. Sy justru bnyak bljar dr orang sprtimu. Teruslah berkarya dan mnjadi inspirasi ya, Yu!

    Mksh ya,

    Disukai oleh 1 orang

    30 Jul 2018

Trackbacks & Pingbacks

  1. Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian: 10 langkah mendidik Anak di Era Digital – Maria Frani Ayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: