Lanjut ke konten
Iklan

Dasar dan Inti Terapi Aktivitas Kelompok yang dipraktikkan Perawat Jiwa


photogrid_1535984763893504496286698024293.jpg

Oleh, Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Jika teman-teman sempat melakukan perjalanan ke Rumah Sakit Jiwa di Daerah atau tempat tinggal teman-teman, berkunjung ke ruang perawatan, teman-teman akan menemukan aktivitas harian yang biasanya dilakukan oleh teman-teman Perawat di ruangan. Aktivitas ini dikenal dengan nama Terapi Kelompok (TK) atau ada yang mengatakan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK). TK atau TAK ini adalah bagian dari terapi yang diberikan kepada Klien terutama ditujukan untuk individu yang lebih dari satu atau kelompok.

Kadang, teman-teman akan melihat penghuni ruang perawatan di ruangan akan mengatur duduknya dalam sebuah lingkaran dengan perawat-perawat yang berada diantaranya atau berada dibelakang kelompok. Aktvitas ini menjadi bagian dari kegiatan para perawat keperawatan jiwa sehari-hari dan ada ‘teori’ yang cukup rumit dan agak sulit untuk dipahami yang mendukung aktivitas ini.

Untuk tulisan ini, saya ingin berbagi sedikit mengenai dasar praktik TAK yang dilakukan oleh kami Perawat sehari-hari terhadap Klien yang melakukan perawatan kesehatan di ruangan.

Saya perlu ingatkan bahwa tulisan ini akan cukup panjang, jadi silahkan baca langsung pada poin-poin penting dalam tulisan. Tulisan ini juga merupakan request dari beberapa Mahasiswa/I Program Ilmu Keperawatan yang kerap bertanya, “Mengap harus melakukan TAK ?, apa dasar ilmiahnya ?”. Nah, ini looo jawabannya.

 

Sebagai Perawat, pemberian asuhan keperawatan atau terapi haruslah didasarkan oleh teori atau landasan ilmiah yang kuat. Untuk itulah mengapa kami Perawat harus menghabiskan waktu setidaknya tiga tahun lebih untuk mempelajari dasar-dasar pemberian asuhan keperawatan dan terapi yang harapannya dapat membantu banyak orang. Salah satu praktik asuhan keperawatan ini ditujukan untuk individu yang lebih dari satu, yaitu dalam kelompok/group.

Yalom adalah seorang ahli terapi kelompok yang aktif dalam memberikan praktik terapi kelompok dan juga menggali secara ilmiah makna dan inti dari terapi aktivitas kelompok ini. Yalom menitikberatkan teorinya pada pendekatan interpersonal, dalam artian dengan menekankan hubungan antara manusia dan manusia sebagai jalan untuk mencapai kesembuhan. Selain terkenal dengan pendekatan Interpersonal, Yalom juga terkenal dengan pendekatan existentialism dalam melakukan terapi kelompok terhadap Kliennya. Dalam ilmu Psikologi dan group therapy, Yalom ini adalah jagonya, jadi kemampuannya sudah tidak diragukan lagi.

Dalam rangkaian penelitiannya terkait dengan terapi kelompok ini, Yalom menemukan setidaknya sebelas factor yang menjadi hal terapeutik atau berfungsi sebagai keuntungan terapi bagi Klien saat dan setelah melakukan terapi dalam kelompok. Faktor-faktor ini adalah sebagai berikut:

Instillation of hope. Terapi yang dilakukan dalam sebuah kelompok memiliki tujuan dan juga fungsi untuk dapat menggali, menemukan dan menyuburkan harapan. Harapan yang dimaksud adalah harapan untuk kembali menjadi produktif seperti manusia dan individu kebanyakan. Harapan ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses penyembuhan banyak Klien dengan masalah gangguan jiwa, karena entah teman-teman pernah mendengarnya atau tidak, tapi mereka dengan masalah gangguan jiwa juga akan selalu bertanya, “Apakah bisa sembuh ?”, hampir setiap waktu.

Harapan ini bisa ditemukan dari koneksi dengan orang-orang lain, melihat, merasakan dan berinteraksi dengan orang lain yang mungkin saja memiliki keadaan yang sama dan juga berjuang untuk keluar dari masalah. Dengan melihat, merasakan dan berinteraksi seperti ini, Klien yang mungkin tidak memiliki harapan sama sekali diharapkan untuk melihat dunia dengan perspektif yang berbeda, dan menumbuhkan harapan dari sana.

Universality. Mereka yang mengalami masalah dengan psikologisnya, kebanyakan merasa bahwa ‘hanya mereka saja’ yang merasakan dan mengalami masalah ini, padahal kenyataannya adalah tidak. Banyak orang yang memiliki masalah yang serupa, dan individu-individu ini sangat bersemangat untuk mencari sesamanya, untuk saling menguatkan satu sama lain. Mungkin ini ada hubungannya dengan teori yang menyatakan bahwa manusia ini adalah makluk social, pada dasarnya. Dalam keadaan apapun Ia, Ia akan berusaha untuk tetap terkoneksi dengan orang lain atau individu diluar dirinya sendiri.

Terapi kelompok yang dilakukan bersama Perawat di ruangan membantu Klien untuk melihat, merasakan dan melakukan koneksi dengan klien lainnya dan melihat kenyataan yang sudah dideskripsikan ini. Kenyataan bahwa Ia tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini. Masalah yang sebelumnya Ia rasakan sebagai hanya ‘dia sendiri yang bisa mengerti masalahnya’, melalui terapi ini Ia juga ingin menunjukkan pada dirinya sendiri bahwa ada orang lain diluar dirinya yang mengalami hal serupa, dan tentunya ada pertolongan dan ada harapan untuk memecahkan masalah atau keluar dari masalahnya.

Imparting information. Kelompok adalah tempat terbaik untuk berbagi informasi dan membuka diri kita sebagai tanda kehadiran kita dikelompok.Berbagi informasi ini dapat dicapai setidaknya dengan dua acara, pertama adalah dengan didactic instruction dan yang kedua adalah melalui direct advice. Didactic instruction adalah keadaan berbagi informasi dimana anggota kelompok menyerap informasi dari kegiatan berbagi pengalaman antara satu anggota kelompok dengan anggota kelompok lainnya. Selanjutnya adalah direct advice adalah perolehan informasi langsung yang diberikan oleh anggota kelompok satu untuk anggota kelompok lainnya. Misalkan, Anggota kelompok/Klien A langsung memberikan saran kepada anggota kelompok/Klien B mengenai bagaimana caranya mengatur jadwal hariannya di ruang perawatan.

Altruism. Kunci untuk poin ini adalah memberi. Member dalam group/kelompok merasakan bahwa melalui mereka, dengan memberi dirinya bagi orang lain, waktunya untuk orang lain, seseorang dapat terbantu hidupnya. Perasaan ini akan secara otomatis mengalir dalam kelompok dan secara tidak sadar, anggota kelompok akan saling membantu satu dan lainnya untuk dapat memberikan kesembuhan bagi orang lain dengan menawarkan dirinya sendiri.

The corrective recapitulation of the primary family group. Terapi kelompok yang dilakukan oleh Klien dengan masalah gangguan jiwa dapat membantu Klien untuk sembuh dari luka masa lalunya. Interaksi dalam group, akan membantu Klien mengingat kembali masalah pada masa-masa pertumbuhan awalnya dalam keluarga yang juga dipercaya merupakan asal muasal perkembangan coping mechanism yang bersifat maladaptive. Interaksi didalam kelompok akan membuat klien melihat kembali dan sekaligus belajar bagaimana menghadapi masalah yang ada, dan selanjutnya berdamai dengan masa lalunya.

Development of socializing techniques. Sudah bukan merupakan rahasia lagi jika terapi kelompok bermanfaat untuk membantu Klien untuk belajar bagaimana bisa menjalin hubungan dengan orang lain. Mereka yang memiliki masalah isolasi social dan suka berdiam diri, ditarik dari dunianya yang seperti itu untuk belajar mengenal orang lain diluar dirinya, membuka diri untuk melihat orang lain.

Imitative behaviour. Dalam Kelompok, selain belajar bagaimana bersosialisasi dengan orang lain, masing-masing individu akan langsung belajar dari mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh inidvidu yang lain. Sikap ini muncul karena secara tidak sadar, individu belajar, memproses informasi yang masuk kedalam dirinya dan selanjutnya mengambil keputusan untuk mengikuti/mempraktikkan hasil belajarnya. Terapi aktivitas kelompok dengan ditemani atau dibimbing oleh Perawat disana sangat penting untuk dapat mengajarkan kembali kepada klien, apa yang penting dan apa yang harus dilakukan oleh Klien untuk menghadapi masalah atau keterbatasannya.

Interpersonal learning. Ini merupakan hal yang paling mendasar dalam terapi kelompok, pembelajaran yang dilakukan melalui cara interpersonal. Jika kita menggali lebih dalam, kita akan menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa dengan jalan interpersonal learning ini individu dapat diselamatkan dan individu mendapatkan kesemapatan untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat. Dalam interpersonal learning ini, terdapat tiga hal penting yang menjadi bagian dari proses penyembuhan Klien. Pertama adalah jalinan hubungan terapeutik yang dilakukan oleh Individu dengan anggota-anggota kelompok lainnya dan juga perawat. Kedua adalah proses untuk mengoreksi pengalaman-pengalaman emosional yang dimilik oleh individu dalam proses interaksi yang berjalan dalam kelompok dan yang terakhir adalah Pemanfaatan kelompok sebagai bagian dari ladang untuk belajar dan tumbuh menjadi pribadi yang siap untuk menghadapi masalah-masalah psikososial yang Ia hadapi.

Group cohesiveness. Kelompok yang dibentuk, memiliki tujuan yaitu untuk terapi atau terapeutik. Kelompok ini terdiri dari orang-orang atau individu yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan kepribadian/personality ini menjadi media belajar yang sangat menarik. Individu didalam kelompok akan mengalami jatuh dan bangun dalam menjalin hubungan, pasti akan ada konfik, tapi konflik ini jika bisa dikelola dengan baik, akan memberikan peluang untuk belajar yang sangat besar dan bermanfaat.

Catharsis. Ini merupakan keadaan dimana Klien sudah bisa lepas dan bebas, merasakan kenyamanan pikiran seperti beban yang berat sudah bisa lepas.

Existential factors. Ini mungkin adalah factor yang paling ‘tinggi’, yang juga sangat filosofis mengenai aktivitas dalam kelompok yang menjalankan terapi. Faktor ini menjelaskan bahwa individu meskipun harus menjalani terapi kelompok, pada akhirnya akan mengalami terminasi dengan kelompok dan kembali pada dirinya sendiri. Individu harus mencari arti hidupnya dengan cara belajar dari pengalaman yang Ia rasakan, termasuk pengalaman untuk bersentuhan dengan individu lain dalam kelompok.

Nah, sekarang tahu kan kalau Ilmu keperawatan itu sangat dan sangat dalam dan luar biasa djelimet. Ya, kalau mereka yang dengan senang hati menjalankan perannya sebagai perawat, pasti tidak akan merasakan demikian, karena mereka jatuh cinta dan menikmati waktu-waktu keseharian mereka dengan ilmu keperawatan ini.

Jika ada yang ingin teman-teman tanyakan, atau diskusikan atau ada yang mau sharing, silahkan di kolom komentar yang sudah disediakan. Siapa tahu ada yang pernah ikut serta dalam kelompok terapi ini, biasanya ada juga lo terapi kelompok untuk keluarga.

Semoga bermanfaat.

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: