Belajar tentang Inti Hidup dan Jalan Pembebasan dari Zen


Belajar mengenai Zen 

Seingat saya, saya baru saja menemukan Rumahfilsafat.com tidak lebih dari dua tahun yang lalu. Saya begitu terbius dengan isi tulisan dari website ini. Saya ingat betul waktu itu, ketika saya tidak bisa berhenti mencari tulisan yang lebih lama dan tidak bisa berhenti untuk membaca setiap tulisan yang ada disini. Sebagai orang awam yang tidak banyak mengenal mengenai Filsafat, tulisan-tulisan yang disajikan dalam website ini begitu sederhana sangat mudah untuk dipahami. Saya menjadi ketagihan dengan setiap tulisan yang terbit dan menanti-nanti tulisan-tulisan berikutnya.

 Tidak lama juga rasanya ketika saya tahu bahwa penulis utama dalam web ini yang juga adalah seorang peneliti, penulis aktif dan juga seorang Dosen, Reza A.A. Wattimena,menerbitkan dua buah buku yang berbicara mengenai topik yang sangat menarik bagi saya. Dua buku yang diterbitkan ini berbicara mengenai Zen dan praktik sederhananya dalam kehidupan sehari-hari. Membaca sedikit mengenai Zen dari beberapa tulisan Reza A.A.Wattimena membuat saya pribadi ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai topik ini. Saya tidak bisa menahan rasa keingintahuan saya akan jalan zen dan manfaatnya bagi hidup. Keingintahuan saya semakin besar ketika saya tahu bahwa zen dapat membantu membebaskan seseorang yang terjeratd alam keadaan depresi berat, dan lagi mampu membantu individu untuk menemukan inti/dasar dari hidupnya sebagai manusia. Sebuah topik yang terbilang ‘umum’ tapi juga ‘tabu’, ‘sensitif’ dan masih banyak lagi label untuk topik seperti ini.

Buah dari rasa ingin tahu ini adalah tindakan saya memesan dua buah buku karya Reza A.A. Wattimena yang secara khusus mengupas mengenai zen dan aplikasi sederhananya dalam kehidupan sehari-hari. Buku pertama diberi judul dengarkanlah: Pandangan hidup timur, Zen dan jalan pembebasan. Sedangkan buku kedua diberi judul mencari ke dalam : Zen dan Hidup yang Meditatif. Kedua buku ini berhasil saya lahap pada akhir pekan lalu dengan menyisakan begitu banyak pekerjaan rumah dan tanda tanya bagi saya pribadi.

Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam mengambil pelajaran dari buku yang dibacanya. Saya pun demikian. Tanpa berniat untuk merusak keingintahuan dan juga penilian teman-teman sekalian, saya ingin membagikan sedikit hal yang menjadi pesan penting dan juga pekerjaan rumah yang harus saya usahakan selesaikan. Beberapa hal yang menjadi perhatian saya adalah sebagai berikut.

Pertama, Zen dapat diartikan sebagai meditasi, upaya untuk memahami diri sendiri dan mendapatkan pencerahan dan kejernihan batin. Zen bukanlah agama atau aliran kepercayaan. Zen membawa orang untuk menyadari bahwa alam semesta adalah dia dan dia adalah alam semesta.

Kedua, Zen mengajarkan bahwa untuk dapat lepas dari penderitaan,seseorang harus bisa membedakan antara kenyataan dan ilusi. Ilusi adalah segalahal yang dibentuk oleh konsep, seperti harta, waktu, tubuh dan seterusnya.Melepaskan diri dari ilusi ini adalah cara untuk bisa lepas dari penderitaan.Melepaskan diri bisa juga diartikan sebagai tidak melekat padanya atau tidak tergantungpadanya. Zen bahkan mengajarkan untuk bisa lepas dari ke’akuan’ diri atau diri sendiri. Jati diri, keberadaan diri adalah pengaruh dari banyak hal seperti kesepakatan sosial. Kita percaya bahwa benda itu bernama ‘ikan’ karena kita memang sepakat bersama-sama menamai hewan yang bisa bernafas didalam air dengan sebutan ikan.

Lebih lanjut, zen bahkan bersoal mengenai ingatan. Ingatan disini dinilai sebagai ilusi, sesuatu yang tidak objektif dan bersifat bisa berubah. Kita tidak dianjurkan untuk mempercayai ingatan yang kita miliki.

Ketiga, zen mengajak orang untuk pergi ke tempat sebelum konsep berada, sebelum Bahasa dan akal budi ada. Ketempat dimana hanya ada kejernihan dan kedamaian. Tempat dimana segala hal adalah satu dan sama. Akal budi hanya dibutuhkan ketika memang Ia dibutuhkan, karena akal budi bukanlah merupakan inti dari diri manusia. akal budi tidak mampu mencapai ruang kosong yang merupakan asal dari alam semesta. Iman pun tidak mampu mencapai titik ini, dengan alasan, iman masih terjerat oleh konsep dan Bahasa yang dilihat sebagai suatu kebenaran mutlak.

Keempat, Zen melihat Tuhan sebagai segala sesuatu, sebagai sesuatuyang tidak bernama, dan juga bukan apa-apa, “Ia berada di luar sekaligus‘sebelum’ Bahasa dan konsep’ ada”. Zen mengajak orang untuk menyadari sesuatuyang sejatinya tanpa nama ini dan mengatakan bahwa kesadaran akan hal ini dapatmengubah hidup seseorang.

Zen yang mendasari konsepnya dari pandangan hidup timur memandang agama sebagai konsep yang dibentuk oleh manusia. Entah itu berarti bahwa manusia memilih untuk mempercayai bahwa ada kekuatan yang menciptakan segala sesuatu dan merupakan asal dari segala sesuatu yang disebut sebagai Tuhan atau mempercayai seperangkat alat, aturan moral,peraturan yang berasal dari entitas yang disebut sebagai Tuhan.

Sesungguhnya, setiap kali saya membaca kembali tulisan-tulisan didalam buku ini, saya terus menerus menumbuhkan konsep pemikiran baru didalam pikiran saya. Saya menjadi sangat bersemangat untuk menggali lebih dalam dan lebih dalam, merefleksikan kembali segala sesuatu, mengambil apapun yang ada disekeliling saya dan menyusun ulang setiap konsep pemikiran yang saya miliki.

Bagaimana, binggung ?, Penasaran ?.

Saya akan sangat berterima kasih jika itu yang terjadi pada teman-teman sekalian ketika membaca tulisan ini, karena dengan demikian, saya dapat menyarankan teman-teman untuk membeli dan langsung mengupas buku yang sangat saya rekomendasikan ini.

Kalau teman-teman sudah membaca dan mengupas isinya, jangan lupa kabari saya, saya akan dengan senang hati meluangkan waktu untuk bersama-sama membahas mengenai topik menarik ini.

Semoga tulisan ini menggugah teman-teman sekalian dan bermanfaat.

Salam dari saya.

Kedua buku yang saya maksudkan dapat diperoleh di

Penerbit Karaniya
JL.Mangga I Blok F 15
Duri Kepa, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11510
Telepon: +6221 568 7957
WhatsApp: +62 813 1531 5699

 

Iklan

8 respons untuk ‘Belajar tentang Inti Hidup dan Jalan Pembebasan dari Zen

  1. Ia, Kak. Ayu snagat tertarik dengan bidang ilmu Filsafat sejak pertama kali diperkenalkan di bangku perguruan tinggi, semester satu waktu itu. Filsafatnya memang filsafat manusia yang khusus menguliti soal keberadaan manusia dan ego. Sejak saat itu jadi suka mengonsumsi buku-buku dan tulisan yang berbau filsafat. Ayu mendapatkan kekayaan pemikiran dan lebih penting lagi adalah lebih bijaksana dalam melihat sebuah masalah. Nah, untuk buku ini, seperti yang kakak katakan, Zen yang dituliskan dalam buku ini adalah Zen yang beraliran Budhaisme. Zen yang tumbuh dan lahir dari ajaran Budha. Sangat menarik untuk dipelajari. Terima kasih juga kak sudah memberi komentar. Salam.

    Suka

  2. Waw, Ayu lagi terinspirasi filsafat ni ya. Rasio mmang hebat, ia memang perlu diisi. Ketika tak terpuaskan, ia mencari cara pemuasan. Tp sy yakin, dr yg kita yakini ttg suatu hal pun msh bnyak hal yg perlu kita ketahui lagi. Itu sebab, seumur hidup kita hrs trus bljar. Bljar bnyak hal, entah dari yg mainstream ataupun dari out of the box. Sy jg bljar bgtu ya. Trmsuk ttg teologi pun, sy hampir pljari smua teologi, wlau pd akhirnya sy ttp berpegang pada reforned theology, yg menurutku menjawab baik dari segi filsafat kosmos maupun keimanan. Tp intinya sy ingin trus bljar, dr mereka yg berbeda pandangan sekalipun. Entah itu dari Gerakan Zaman Baru, taoisme, confusionisme, panteisme, atheisme dan berbgai isme lainnya hingga spiritualitas tanpa Tuhan.

    Oya, ini bkn zen budisme ya? Dari sepintas ulasanmu, terbesit konsep budisme sih.

    Trmksh utk share-nya ya, Ayu.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Mungkin, Kak.
    Saya kurang bisa menjelaskan hubungannya, tapi kalau dilihat dari definisinya, Zen itu berarti meditasi. Yoga juga, terkenal dengan gerak-meditatif-nya. Baik zen dan yoga sama-sama mendasarkan praktinya dengan meditasi.

    Suka

  4. Ia kak, saya membenarkan bahwa buku ini berat untuk dibaca.
    Saya harus berulang-ulang membacanya, hanya untuk bisa memahami maksud dan tujuan penulis. Meskipun bahasanya tampak sederhana, tapi setelah dibaca, entah mengapa terasa berat di kepala.
    Emang harus banyak baca saya, kak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s