(Bedah Buku) Serba-serbi Pengelolaan Jurnal: Belajar mengenai pengelolaan Jurnal dari Relawan Jurnal Indonesia (RJI)

9 komentar

photogrid_15444157935601949511596784056078.jpg

Oleh, Maria Frani Ayu Andari Dias

Selain Ilmu Keperawatan Jiwa, hal lain yang menjadi kesibukan saya saat ini adalah membantu mengelola penerbitan Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI) milik STIKES Suaka Insan Banjarmasin. JKSI ini sudah menggunakan Open Journal System (OJS) selain penerbitan produknya dalam bentuk handout/print. JKSI terbit setiap dua kali dalam setahun, dan sesuai dengan namanya, Jurnal ini adalah Jurnal yang memuat hanya topik mengenai Ilmu Keperawatan, praktik ilmu keperawatan dan tidak ketinggalan spesialisasinya.

Setahun yang lalu, saya pernah ikut terlibat dalam aktivitas produksi Jurnal Keperawatan ini. Nah untuk tahun ini, saya kembali ikut melibatkan diri dalam aktivitas ini dan sangat bersemangat untuk ikut dalam upaya ‘reformation’ pelaksanaan proses produksi JKSI.

Ketertarikan saya akan dunia penelitian dan publikasinya, pada awalnya hanya karena ‘tidak banyak orang yang tertarik’ pada bidang dan bagian ini. Setiap kali diberikan tugas dan pekerjaan, banyak orang menghindar dan menolak ketika diberikan tugas yang ada hubungannya dengan penelitian (dan juga mengurus publikasinya). Alasannya sederhana, karena yang namanya aktivitas meneliti itu ‘ribet’ dan sangat tidak nyaman, apalagi bagi mereka yang tidak benar-benar berniat untuk mengerjakannya.

Saya, hanya ‘tidak bisa menolak’ dan ‘tidak tahu bagaimana caranya menolak’ ketika diberikan tugas untuk menyukseskan proyek tertentu, apalagi yang ada kaitannya dengan penelitian. Dari yang hanya sekedar ‘membantu’, saya akhirnya menjadi sangat tertarik, penasaran dan sangat ingin belajar banyak dari aktivitas penelitian dalam bidang keperawatan.

Sebagai sedikit informasi, tidak seperti ilmu sciences lainnya seperti kimia, fisika dan biologi, penelitian keperawatan banyak digolongkan sebagai penelitian bidang ilmu sosial. Subjek penelitiannya adalah ‘manusia’ yang juga meliputi bagaimana Ia bereaksi, berinteraksi, berperilaku dan memberikan respon. Entah kenapa dan mengapa, saya sangat tertarik mengenai hal-hal seperti ini ini.

Okay, kembali lagi ke masalah mengenai pengelolaan Jurnal.

Selain karena didorong oleh masalah keterpaksaan, alias harus. Saya harus menggunakan semua sumber yang saya miliki untuk menyukseskan proyek yang diberikan kepada saya. Saya pastinya harus belajar banyak dan sangat banyak dari sumber manapun. Selain dengan modal bertanya dengan orang-orang yang memang sudah punya pengalaman, saya juga tidak ketinggalan mencari di Internet, pastinya!.

Sahabat saya, Dania Relina Sitompul yang merupakan ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKES Suaka Insan, yang juga merupakan senior saya, (Saya memanggilnya Kak Dania), meminjamkan sebuah buku yang sangat menarik untuk dijadikan bahan bacaan selama saya bekerja mengelola jurnal ini. Buku ini adalah buku terbitan dari Relawan Jurnal Indonesia (RJI) yang menurut kabar, banyak membantu institusi yang kesulitan dalam mengelola penerbitan jurnal institusinya. Buku ini berjudul, Serba-serbi Pengelolaan Jurnal.

Informasi seputar RJI dapat dilihat pada Website resmi RJI atau secara singkat profil RJI dari Prezi disini.

Saya baru mendengar kabar mengenai RJI ini dari Kak Dania, karena beberapa waktu yang lewat, Ia pernah ikut acara yang ada hubungannya dengan pekerjaan mengenai peningkatan kapasitas dan kualitas jurnal. Menerima buku yang juga mengupas mengenai pengelolaan Jurnal, saya tentu saja tidak tinggal diam. Saya kupas satu persatu, pelan-pelan memang, sambil menyeimbangkan hidup saya kesana dan kesini.

Nah, berikut adalah poin-poin penting yang berhasil saya kumpulkan dari Buku Serba-Serbi Pengelolaan Jurnal.

photogrid_15444160786403878559874217339205.jpg

Saya memang sengaja mengumpulkan poin-poin penting ini dan membuat tulisan mengenai hal ini, saya punya alasan seperti ini, “Kelak, entah kapan, ketika saya ingin melihat kembali apa yang sudah saya lakukan, saya tinggal membuka website ini dan mencari disana, kembali “.

Okay, maafkan saya, saya terlalu banyak berbicara sendiri dan melakukan pembelaan diri hanya untuk mencari alasan. Tanpa perlu basa-basi lagi, ini adalah beberapa catatan penting yang berhasil saya kumpulkan, saya rangkum, untuk kepentingan pembelajaran lanjutan tentunya.

Mengelola jurnal itu penuh tantangan. Okay, dari halaman pertama sampai halaman terakhir buku. Tema tulisan yang paling dominan adalah mengenai ‘tantangan mengelola jurnal’, tidak tanggung-tanggung, tantangan yang dimaksud adalah sulit, susah, capek dan masih banyak asosiasi kata yang lainnya.

Hal positif yang bisa saya ambil dari penemuan ini adalah kenyataan bahwa “Saya tidak sendiri”. Ya, saya tidak sendiri menghadapi masalah seperti ini !. Orang lain, yang tidak saya kenal, nun jauh disana, juga mengalami hal yang serupa dan sama dengan apa yang saya alami. Saya mengalami kesusahan, kebuntuan dan mereka pun sama. Masalah ini sepertinya universal. Pemecahan masalah inipun, harapannya adalah kurang lebih sama juga.

Dukungan yang minim, itu sudah biasa. Beberapa waktu setelah saya berkata ‘ya’ untuk membantu Tim jurnal di tempat saya bekerja, saya menemukan kendala dari beberapa orang. Seseorang (yang adalah senior saya juga) jelas mengatakan di depan saya, “ Kalau memang sulit, ya tidak usah diterbitkan”. Woooo…tahu respon saya ?. Kaget, of course! How come ?.

Jika ada orang yang berpikir demikian, lalu saya harus bagaimana ?. Entah keberanian tolol seperti apa yang ada didalam pikiran saya, sehingga saya menyatukan kekuatan dan ingin membuktikan bahwa “Saya mampu mewujudkan hal yang tidak mungkin dan menyusahkan ini”. Saya tidak mau tahu dari mana jawaban pesimis tersebut berasal, tapi saya ingat betul hari itu, saya berkata dan berjanji pada diri sendiri, “Saya tidak akan menyerah begitu saja!, Saya akan berjuang ! You can break my heart in two, but when it heals, it beats for you !”. Saya memang pekerja yang tolol ! (Batin saya).

photogrid_15427241888725254427110600414444.jpg

Masalah yang sama, ternyata terjadi pada institusi dan pengelola jurnal yang lainnya. Ada yang sama sekali tidak mendapatkan bantuan dan dukungan. Pekerjaan mengelola jurnal ini bisa dibilang ‘dipandang sebelah mata’, sangat sebelah mata. Lalu, apa yang orang lain lakukan. Melalui buku ini, saya belajar bahwa para pengelola jurnal itu, tidak menyerah. Mereka sabar dan menunggu waktu yang tepat, sambil mengasah kemampuan dan mengembangkan apapun yang bisa mereka lakukan. Mereka bekerja keras!. Saya ?. Ya, saya pun terinspirasi untuk melakukan hal yang sama, saya akan bekerja keras untuk mewujudkan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin (Ciusss…Menulis ini sambil mengerutkan wajah tanda serius!). Dukungan yang minum, hum..saya percaya bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha. Titik ngak pakai koma-koma.

(Setelah membaca kembali mengenai hal ini, saya mundur ke belakang dan menarik diri dari meja kerja saya, saya memang sangat emosional ketika menuliskan mengenal hal ini, waktu itu. Saya tidak bisa menahan diri ketika kejadian seperti ini terjadi pada saya dan terutama pada mereka yang masih berjuang sampai hari ini).

Aturan-aturan yang harus diikuti. Buku Serba-Serbi Pengelolaan Jurnal milik Relawan Jurnal Indonesia ini memuat beberapa kisah mengenai aturan-aturan yang perlu diperhatikan untuk mencapai tahap Jurnal terakreditasi dan mencapai index sitasi yang diakui. Meskipun tidak secara langsung dijabarkan, tapi langkah-langkah untuk melahirkan jurnal yang berkualitas dijabarkan dengan cukup memuaskan disini. Bimbingan sangat dibutuhkan tentunya dan Relawan Jurnal Indonesia (RJI) sangat-sangat membantu.

Masih banyak misteri yang harus dikuak. Serius, semakin jauh saya membaca buku ini, semakin banyak keingintahuan saya. Saya banyak tidak tahunya! dan saya tidak ingin hal seperti ini berlalu begitu saja. Ada begitu banyak peer yang harus saya kerjakan dan cari jawabannya pada masa yang akan datang. Semoga Tuhan masih memberikan saya waktu untuk bekerja dan berkarya kedepannya. Glory to God the Highest!

Demikianlah, beberapa hal menarik yang bisa saya bagikan terkait dengan pengalaman belajar dan sedikit ilmu dari Buku yang berjudul “Serba-serbi Pengelolaan Jurnal” terbitan Relawan Jurnal Indonesia.

Saya harap, siapapun yang membaca buku ini, bisa mengambil hal baik dan positif darinya.

Silahkan tuliskan saran, masukan dan hal-hal baik lainnya yang berhubungan dengan pengelolaan jurnal yang baik dan mungkin seputar penelitian dan aktivitasnya di kolom komentar dibawah ini. Sharing is caring, anyway.

Terima kasih sebelumnya,

Salam dari saya.

Bagi mereka yang berniat untuk mengenal lebih jauh mengenai RJI dan buah-buah karya mereka, silahkan cek alamat dibawah ini.

Relawan Jurnal Indonesia_Alamat

Iklan

9 comments on “(Bedah Buku) Serba-serbi Pengelolaan Jurnal: Belajar mengenai pengelolaan Jurnal dari Relawan Jurnal Indonesia (RJI)”

  1. Dulu ketika masih kuliah, saya termasuk orang yang paling suka mengoleksi Jurnal. Sudah tak terhitung lagi jurnal berbahasa Inggris saya koleksi. Kemudian pernah terlintas untuk menerbitkan jurnal. Tetapi saat itu saya sibuk naik gunung dan sibuk dengan akademik sendiri jadi impian untuk dapat berkolaborasi dan membuat jurnal terlupakan sudah. Dan baru teringat setelah lulus kuliah dan saat mencari pekerjaan. Dan hubungan saya dengan jurnal berakhir begitu saja. Seandainya saya ingin melakukan penelitian dan menerbitkan jurnal tanpa ada orang yang memberi proyek, apa yang harus saya lakukan? Apa saya harus membuat proyek sendiri? Mengajukan proposal dan balik kampus menemui dosen lama. Dan terkadang yang membebani saya, saya harus mencari nafkah. Apakah jurnal ini juga bisa memberikan penghasilan? Oke katakanlah saya ingin membuat jurnal semata-mata hanya karena saya merasa suka saja, pasti saya juga harus mengorbankan banyak hal kalau tidak bisa dibilang segalanya. Apa yang harus saya lakukan?

    Disukai oleh 2 orang

  2. Terima kasih atas sharingnya, Pak.

    Berikut adalah beberapa hal yang bisa saya bagikan kepada Bapak terkait jurnal dan publikasinya. Tentu saja jawaban ini berasal dari pengalaman saya selama ini yang pastinya tidak seberapa. 1) Jika Bapak memiliki ide dan niatan untuk melakukan penelitian atau pengabdian masyarakat dengan tema atau topik tertentu, silahkan saja. Itu tentu saja adalah hak Bapak sebagai seorang yang ‘tahu dan mau’. Tahu dalam artian, Bapak tahu prosedur pemecahan masalah dengan jalur yang seharusnya (Sistematis dan logis, seperti yang diharapkan); Mau dalam artian ada niat untuk menyelesaikan sampai akhir, mengikuti prosesnya dengan sabar sampai membuahkan hasil. 2) Masalah yang kerap kali dialami oleh para peneliti adalah ‘dana’ untuk menyukseskan ide dan niatan mereka. Nah, sumber dana ini bisa dicari dengan mengajukan proposal ke tempat-tempat yang potensial. Negara kita, menyediakan sumber dana penelitian yang lumayan melalui kementerian riset dan teknologi miliknya. Untuk mendapatkan dana disini, tentu saja harus mengikuti prosedur-prosedur tertentu yang sudah ditetapkan oleh pihak kementerian. 3) Untuk membuat proyek penelitian dengan kualitas yang baik, kita memang tidak bisa bekerja sendiri, kita perlu orang-orang hebat lainnya yang bisa memberi kita masukan/opini yang bisa membangun dan melancarkan proses penelitian milik kita. Nah, orang-orang hebat seperti ini, kebanyakan akan kita temukan di lembaga pendidikan, seperti dosen dengan keilmuan tertentu. Para dosen ini, memiliki kewajiban memang untuk meneliti dan melakukan pengabdian masyarakat sesuai dengan bidang keahliannya. Kalau Bapak ada ide penelitian atau proyek, saya sarankan untuk membicarakannya dengan pihak yang Bapak anggap kompeten dan sesuai kualifikasi, entah itu dari Kampus asal Bapak sebelumnya atau mungkin Bapak punya kenalan yang kebetulan adalah pihak akademisi. 4) Bagi mereka yang berprofesi sebagai dosen pengajar, mempublikasikan artikel penelitiannya di Jurnal tertentu, pasti akan memberikan keuntungan. Ada poin yang mereka dapatkan per publikasi, poin-poin ini, dikumpulkan untuk bekal kenaikan pangkat jabatan. Untuk kegiatan penelitian sendiri, keuntungan secara materi bisa saja didapatkan, tapi memang tidak ‘banyak’, begitu sharing dari teman saya. Teman saya mengatakan ‘harus pintar-pintar menyusun rencana penelitian’, kalau memang mau mendapatkan keuntungan material yang diharapkan. Meskipun demikian, yang namanya kegiatan ilmiah seperti peneltian ini, peneliti tulen akan mengatakan bahwa ‘manfaat dari penelitian’ yang mereka kerjakanlah yang paling penting dari keuntungan material dalam jumlah berapapun. 5) Manajemen waktu yang baik adalah kunci untuk bisa sukses menjalankan berbagai peran kita di masyarakat. Saya belajar dari beberapa orang teman saya yang aktif dalam kegiatan penelitian, praktik dst. Mereka sangat pintar memanfaatkan waktu yang mereka miliki tanpa harus mengorbankan hal paling penting dalam hidup mereka, seperti keluarga. Demikianlah sharing dari saya, Pak. Semoga membantu.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Terima kasih responnya yang sangat baik. Pertama, saya masih sangat muda. Panggilan bapak rasanya thousand years too old 😂.

    Selanjutnya ah benar. Hal yang terpenting adalah pengabdian dan manfaat keilmuan. Nah di sinilah saya kadang kehilangan arah; manfaat penelitian dan keilmuan. Karena kadang ide yang hadir tidak semerta-merta hadir dalam hati dan perasaan bahwa ide dan penelitian ini akan ada manfaatnya. Yah kadang berpikir, yah melakukan penelitian gini, siapa sih yang mau memaanfaatkan? Ini untuk apa ya? Di luar sana ada teori dan hasil penelitian yang lebih bagus, jadi mengapa orang-orang akan memaanfaatkan penelitian ini. Maafkan pemikiran yang masih mentah dan terlalu pragmatis ini. Jadi rasanya kok saya tidak bisa memandang kebijaksanaan ilmuwan yang saya kagumi sendiri seperti Plato, Ibnu Sina, Aristoteles. Mereka melakukan penelitian karena dorongan hati untuk menemukan kebenaran. Oh maafkan jadi curhat.

    Terima Kasih, Mbak Ayu Frani atas sharing ilmu yang keren ini, jarang-jarang ada topik beginian di luar sana. Semoga bermanfaat.

    Disukai oleh 2 orang

  4. Oh, Mohon maaf kalau saya sebut ‘Bapak’. Bagaimana kalau, Kakak ?. Kata, ‘Kakak’ akan lebih ringan untuk disebut.

    Tidak apa-apa, kita adalah pelajar, manusia yang akan terus belajar. Salah adalah makanan, untuk bisa terus belajar dan belajar. Setidakya saya memilih untuk berpikir demikian.

    Terima kasi atas apresiasinya, Kak. Saya menulisnya dengan harapan, semoga bisa bermanfaat dan menginspriasi siapapun diluar sana.

    Semangat juga untukmu, Kak. Semangat untuk bisa berbagi kebaikan dan inspirasi.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s