Resensi Puisi “Dia yang Memunggungimu” milik Khrisna Pabichara

5 komentar

 

Dia yang Memunggungimu

Kita berada di pelukan yang sama. Aku memeluk lututku, kamu memeluk bayangnya. Kamu akan tenang meninggalkanku, aku pasti senang menunggalkanmu.

Kita berdiam di rumah yang sama. Aku di masa entahmu, kamu di masa lalunya. Kamu berbahagia dengan melupakanku, aku berbahagia dengan mengingatmu.

Kita tegak di jalan yang sama. Aku memandangi punggungmu, kamu menangisi punggungnya. Kamu mengandalkannya, aku mengandaikanmu.

2015.

Puisi diatas adalah buah karya dari Mas Khrisna Pabichara.

Menyimpulkan bahwa puisi ini bermakna “kasih tak sampai”, terlalu sederhana. Saya tidak akan puas menginterpretasikan puisi ini hanya sampai titik ini saja.

Kalau bukan karena tantangan #katahatiproduction dari #katahati, saya tidak akan mengenal siapa penulis yang bernama Khrisna Pabichara.

Ketidapuasan saya ini mengantarkan saya untuk menyelami arti dan makna puisi ini, meskipun saya bukan perenang dan juga penyelam yang baik, setidaknya saya memiliki cukup pengetahuan tentang lautan dan arus air, sehingga kalaupun saya tersesat, saya tahu cara untuk mencari pertolongan dan mencari jalan pulang.

Ketika membaca puisi ini pertama kali, kedua kali dan bahkan berkali-kali, saya mencoba mengartikan perasaan yang muncul dari dalam diri. Saya mencoba untuk duduk seperti halnya penulis duduk dan berusaha mencari makna yang terkandung dalam puisi ini.

Sebelum lebih lanjut membaca, saya perlu menginformasikan kepada pembaca bahwa seperti tulisan-tulisan saya yang lainnya, saya menggunakan kata ‘saya’ untuk memberi identitas pada diri saya sendiri. Sedangkan, kata ‘aku’ yang akan ditemui dalam tulisan ini adalah kata yang dipilih oleh penulis puisi untuk memberi identitas pada tokoh dalam puisinya.

Saya melahirkan pikiran-pikiran seperti ini ketika saya mencoba untuk menyelami makna dari puisi ini,

Tolak menolak. Ketidaksesuaian harapan. Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Perubahan. Tidak sama, tidak sejalan dan tidak se-visi. Tiga orang yang saling kejar mengejar. Satu orang diam dan tidak berbuat apa-apa, satu orang memagangnya dan hidup dimasa lalu, satu orang berada dibelakang orang kedua dan berusaha menarik orang kedua untuk hidup pada masa saat ini, pada masa sekarang. Cemburu.

Lebih jauh membaca puisi ini, membuat saya membayangkan sebuah ruang rapat dan saya harus beradu pendapat dengan rekan-rekan saya. Saya juga membayangkan keadaan ketika saya harus mendebat kasus pasien dengan dokter serta rekan sejawat. Saya merasakan perbedaan pendapat, dengan alasan yang berbeda-beda. Saya yang berpegang pada pendapat saya dan dia (atau mereka) yang juga berpegang pada pendapat mereka. Saya merasa bahwa pendapat saya adalah benar dan sesuai dengan kasus yang kami hadapi bersama, dan saya menilai bahwa pendapat selain pendapat saya adalah sesuatu yang tidak sesuai. Sulit bagi saya untuk memahami apa, mengapa dan bagaimana bisa terlahir pikiran seperti milik mereka. Saya kemudian mencoba untuk memahami, melemparkan diri saya pada jerat-jerat pemikiran mereka, tapi saya merasa bahwa mereka jauh dari jangkauan saya. Saya memerlukan mereka untuk bekerja dengan saya, saya dan mereka adalah tim. Tapi, yang saya temukan adalah kenyataan bahwa saya bergerak sendiri, mengayuh sepeda ini sendirian. Sepeda yang membawa beban lebih dari satu orang.

Kurang lebih demikianlah bayangan pesta pora perasaan yang hadir dalam pikiran saya ketika saya mencoba untuk menyelami keseluruhan makna puisi ini.

Tapi, saya masih merasa ‘tidak puas’. Pikiran saya terus menuntut, “Apakah hanya sampai di sini saja?”, “Apakah ini saja?”.

Saya memiliki firasat bahwa puisi ini bisa membawa saya pada petualangan yang lebih jauh, yang lebih luas dan lebih dalam. Saya siap untuk pergi ke sana!

Untuk alasan inilah, saya mulai menyelami bait demi bait, kata demi kata dari puisi ini.

Ketika saya membaca puisi ini, saya menemukan pola yang membentuk puisi ini secara utuh. Pola ini sengaja saya tampilkan di sini untuk memudahkan saya memahami dan menginterpretasikan puisi ini sampai habis. Pola yang saya maksudkan ini adalah bagaimana penulis menyajikan cerita.

Setiap kalimat pertama, kedua dan ketiga dari bait puisi ini menunjukkan cerita yang sama. Berpatokan dengan pola ini, saya selanjutnya bisa melanjutkan perjalanan saya untuk menggali lebih dalam makna dari puisi ini.

Kita berada pada pelukan yang sama.

Kita berdiam di rumah yang sama.

Kita tegak di jalan yang sama.

Ada dua orang karakter/tokoh yang ada pada puisi ini. Terutama jika dilihat dari kalimat pertama untuk setiap bait. Penulis ingin menyampaikan bahwa ada dua orang tokoh, tokoh pertama dan tokoh kedua. Keduanya sudah memiliki ikatan, entah ikatan seperti apa yang membuat mereka sudah berdiam di tempat tinggal yang sama bahkan sudah berada dalam pelukan dan jalan yang sama. Dua tokoh ini menyatu dalam satu kesatuan, terikat dan hanya ada mereka.

Aku memeluk lututku, kamu memeluk bayangnya.

Aku di masa entahmu, kamu dimasa lalunya.

Aku memandangi punggungmu, kamu menangisi punggungnya.

Ini adalah saat ketika penulis memperkenalkan tokoh ketiga, orang yang berada di luar tokoh pertama dan kedua. Penulis menyebutnya dengan ‘nya’. Hubungan yang sudah dijalin atas satu rumah, satu pelukan dan satu jalan harus menerima adanya orang lain selain kedua tokoh ini.

Hubungan pasangan memang akan menjadi lebih baik jika tidak mendua, tapi dalam puisi ini konflik timbul dari keadaan mendua hati. Konflik ini nampak sangat jelas.

Aku memeluk lututku,

Memeluk lutut, hanya bisa dilakukan dengan duduk. Duduk sambil memeluk lutut, mungkin erat kaitannya dengan istilah duduk ihtiba’ (Duduk sambil memeluk lutut dengan kedua tangan). Informasi mengenai cara duduk ini, bisa dicari rumahsyo.com.

Cara duduk seperti ini tidak dianjurkan dalam ajaran agama Islam, terutama dalam keadaan menunggu salat dan ketika mendengar khutbah Jumat. Alasannya adalah karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah yang dapat membatalkan wudu (Al-Majmu’ 4: 592). Dalam artian, cara duduk seperti ini bisa membuat kita mudah untuk kehilangan perhatian dan menjadi tidak peduli dengan keadaan sekitar.

Penulis mungkin memilih menggunakan istilah ini untuk menunjukkan bahwa tokoh pertama berada dalam keadaan sudah tidak memedulikan dan sudah tidak menaruh perhatian lagi. Ia mungkin saja sudah menutup mata pada apa yang menjadi masa lalu dari si tokoh kedua dan bersiap untuk menyongsong masa depan bersama tokoh kedua.

…Kamu memeluk bayangnya.

Tapi, meskipun tokoh pertama sudah berusaha untuk menutup mata dan tidak peduli lagi, Ia masih saja memikirkan tokoh kedua. Ia melihat bahwa tokoh kedua saat ini masih memeluk bayangan milik tokoh ketiga. Tokoh kedua tidak mampu dan mungkin tidak ingin melepaskan tokoh ketiga dari hidupnya.

Memeluk bayangan dapat diartikan sebagai keadaan dimana seseorang memilih untuk bergelut dengan sesuatu yang tidak nyata terjadi, bisa jadi adalah masa lalu yang sudah berlalu atau imajinasi.

Secara lengkap, kalimat kedua dari bait pertama ini menunjukkan ‘kekecewaan’. Ketika kenyataan yang kita harapkan tidak terjadi sesuai dengan yang kita harapkan, kekecewaan adalah jawaban atau respon alami yang langsung otomatis kita rasakan. Mungkin, ini juga yang dirasakan oleh tokoh pertama dalam puisi ini.

Aku dimasa entahmu,

Kalimat ini menunjukkan ketidaktahuan yang dirasakan oleh tokoh pertama terhadap apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh tokoh pertama, terutama mengenai perasaan atau di mana letak hatinya. Mungkin bisa dikatakan seperti ini, “Siapakah saya untukmu ?”,Dimanakah kau letakkan perasaanmu untuk saya?”.

…Kamu dimasa lalunya.

Kalimat di atas menunjukkan sebuah kenyataan yang pahit. Tokoh kedua mungkin tidak sadar dengan apa yang dilakukannya terhadap tokoh pertama. Ia mungkin masih sangat terobsesi dengan orang ketiga yang pada saat ini hidup dengan tidak memikirkan tentang orang kedua. Ini adalah kenyataan yang memilukan.

Tokoh pertama berusaha untuk menarik tokoh kedua, tapi tokoh kedua masih terikat kuat dengan tokoh ketiga. Ironisnya, tokoh ketiga tidak menaruh perhatian pada tokoh kedua.

Aku memandangi punggungmu, kamu menangisi punggungnya.

Kembali, penulis ingin menegaskan apa yang terjadi antara ketiga tokoh ini. Hubungan ketiga tokoh ini dapat diilustrasikan sebagai ‘kejar-mengejar’. Ketiganya dapat diilustrasikan sebagai orang-orang yang saling memandangi punggung masing-masing, kecuali orang ketiga yang tetap memandang lurus kedepan.

Punggung adalah bagian belakang dari tubuh seseorang. Memandangi punggung seseorang artinya tidak melihat wajah si pemilik punggung. Tersirat arti komunikasi satu arah yang terjadi antara tokoh pertama dan tokoh kedua. Tokoh pertama secara konstan memberikan sinyal untuk berkomunikasi, tapi tokoh kedua tidak memberikan respon.

Menangisi punggung yang dilakukan oleh tokoh kedua terhadap tokoh ketiga, memiliki arti yang sama dengan perilaku yang dilakukan oleh tokoh pertama kepada tokoh kedua. Bedanya adalah tokoh kedua tidak hanya memandanginya, tapi ‘menangisinya’.

Kata ‘menangis’, memberi makna bahwa ada segumpal emosi yang membuat tokoh kedua merasakan luka dan sakit terhadap tokoh ketiga. Kita akan menangis kalau ada salah satu dari bagian tubuh kita yang membuat kita tidak sanggup menahan sakit. Sakit biasanya timbul karena adanya luka. Entah luka ini adalah luka psikologis atau luka fisik. Meringis sakit dan menangis adalah reaksi yang mengikuti rasa sakit ini.

Kamu akan tenang meninggalkanku, aku pasti senang menunggalkanmu.

Kamu berbahagia dengan melupakanku, aku berbahagia dengan mengingatmu.

Kamu mengandalkannya, aku mengandaikanmu.

Kalimat ketiga dari setiap bait puisi ini, memiliki keadaan atau situasi yang sama. Penulis ingin membandingkan antara dia dan tokoh kedua. Secara keseluruhan, tiga kalimat terakhir dari setiap bait puisi ini menunjukkan harapan dari tokoh pertama dan kenyataan yang harus Ia teguk. Ini juga menunjukkan perasaan tokoh pertama yang tidak terbalaskan oleh tokoh kedua. Perasaan ini tidak terbalas karena adanya tokoh ketiga.

Kamu akan tenang meninggalkanku,…

Biasanya, kita tidak akan pernah tenang ketika meninggalkan orang yang kita cintai, atau yang kita kasihi. Kita selalu memiliki dorongan untuk berada dekat dengannya dan terus bersamanya. Meninggalkan adalah hal yang mungkin paling tidak kita sukai.

Kalimat diatas bisa jadi berarti, tokoh kedua tidak memiliki perasaan apapun yang mengikatnya dengan tokoh pertama. Ia bebas untuk pergi dan ketika Ia pergi, Ia tidak akan menderita karena menahan rindu atau merasa bersalah atas apa yang Ia lakukan.

Kalimat ini juga bisa berarti harapan dari tokoh pertama pada tokoh kedua. Jika tokoh kedua ingin pergi, maka Ia tidak perlu memikirkan mengenai tokoh pertama. Tokoh pertama akan menjadi baik-baik saja.

…,Aku pasti senang menunggalkanmu.

Kalimat ini menunjukkan harapan dan juga janji dari tokoh pertama kepada tokoh kedua. Kata, ‘menunggalkan’ memiliki arti membuat jadi satu atau dalam artian ‘kesetiaan’, bahwa tidak ada orang lain selain dirimu.

Kamu berbahagia dengan melupakanku, aku berbahagia dengan mengingatmu.

Kalimat ini menunjukkan keadaan yang ironis. Nampak sekali bahwa tokoh kedua tidak memiliki perasaan apapun pada tokoh pertama sedangkan tokoh pertama menyimpan banyak kenangan dan harapan langsung untuk tokoh kedua.

Kamu mengandalkannya, aku mengandaikanmu.

Kembali, penulis ingin mengingatkan pembaca mengenai ironi yang dihadapi oleh tokoh pertama. Tokoh kedua sama sekali tidak memedulikan apa yang dirasakan oleh tokoh pertama, Ia sibuk dengan pikiran tentang tokoh ketiga.

…,Aku mengandaikanmu.

Sebuah kalimat penutup yang membuat saya berpikir bahwa, “Apakah mungkin hubungan yang digambarkan dalam puisi ini adalah khayalan dari tokoh pertama?”.

Kalimat akhir biasanya menjadi kalimat penutup dan langsung diasosiasikan dengan kesimpulan dari seluruh cerita. Kalimat ini langsung mengarahkan saya pada pemikiran bahwa, mungkin saja tokoh pertama hanya memimpikan untuk menjalin ikatan dengan tokoh kedua dan Ia menderita karena keinginannya yang tidak mampu Ia sampaikan.

Saya hanya bisa menyimpulkan, kasihan.

Tokoh pertama adalah orang yang menderita dalam puisi ini. Ia menderita karena Ia tidak mau menyerah dengan apa yang Ia rasakan.

Puisi ini nampak sederhana, tapi bekerja seperti petir yang langsung menyambar ingatan saya. Saya terlalu sering berhadapan dengan kasus-kasus penolakan yang berujung kehilangan kesadaran diri, kehilangan jiwa. Puisi ini jelas menjadi pilihan pertama untuk digauli dalam batas waktu yang ditentukan oleh tim pemberi tantangan dari #katahatiproduction.

Setelah selesai membaca dan merenungkan puisi ini, saya tidak bisa menahan rasa hormat dan kekaguman yang luar biasa bagi penulis. Saya begitu terkesima karena sebuah kisah yang pelik, sebuah pemahaman yang sangat dalam dan luas, bisa dipadatkan kedalam beberapa bait puisi (saja). Belum lagi, puisi ini ditulis dalam bahasa yang kaya makna dan juga mudah dipahami.

Penulis menggunakan rumusan berimbang dalam setiap bait puisi ini, membuat pembaca ‘berpikir’. Ini juga merupakan hal yang sangat menarik, karena pembaca tidak segera beranjak untuk membaca kata selanjutnya dari puisi ini, seperti saya, diam ditempat dan langsung merenungkan maknanya. Pembaca harus membaca pelan-pelan, menyerapi setiap katanya dan berpikir untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang dimaksud oleh penulis dengan kata dan kalimat ini?”.

Demikianlah, petualangan saya untuk menyelami puisi karya Mas Khrisna Pabicara. Saya mensyukuri setiap waktu yang saya curahkan untuk menganalisa setiap kata dan kalimat dalam puisi ini. Semoga ini menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan harapan yang sama bagi teman-teman sekalian yang membaca tulisan ini.

Saya masih sangat tidak berpengalaman, tapi saya bersedia untuk belajar lebih jauh lagi.

Catatan dibalik layar:

Resensi puisi. Ini mungkin adalah tantangan yang berat untuk saya pribadi. Saya hanya mengandalkan ingatan samar-samar guru Bahasa Indonesia ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saya hanya sempat menambahkan sedikit ilmu dari jejak-jejak tulisan mengenai resensi puisi yang saya peroleh dari internet, tapi itu juga saya rasa sangat tidak cukup.

Saya merasa sangat tidak percaya diri ketika mencoba menyelami karya ini. Ketidakpercayaan diri saya muncul karena penulis puisi ini adalah orang yang luar biasa dalam dunia sastra dan Bahasa Indonesia. Menggali informasi mengenai penulis membuat saya semakin tidak percaya diri. Sangat tidak percaya diri.

Tapi, saya menyadari bahwa karena betapa ahlinya penulis, Ia mampu meramu karya yang sederhana tapi juga kaya untuk menyentuh hati orang biasa-biasa saja seperti saya. Ini membuat saya harus mengangkat topi untuknya, dengan penuh rasa hormat.

You did great, Sir.

Teman-teman jangan lupa untuk mampir ke Blog Kompasiana milik Beliau. Mungkin seperti saya, teman-teman pasti akan tercengang-cengang dibuatnya.

Saya juga tidak bisa melewatkan kebaikan hati dari pemberi tantangan, dan juga editor tulisan ini, Kak Amel Wilya. Meskipun kami hanya bersua melalui media online, tapi Ia begitu berjasa untuk mengingatkan saya mengenai penggunaan kata ‘di’ yang tepat. Saya pasti akan mengingat pelajaran ini.

Kunjungi tulisan-tulisan Kak Amel Wilya di Blog Kompasiana. Ia banyak menulis isu-isu mengenai penggunaan Bahasa Indonesia sehari-hari dan pentingnya memahami tata bahasa yang baku dalam menulis. Saya belajar banyak dari tulisan-tulisannya. Kamu pasti betah berlama-lama menikmati setiap tulisan hasil produksinya.

Bahasa tulis memang tidak semudah bahasa lisan, teman-teman. Oleh sebab itu, perbanyak belajar. Setuju ?.

Salam.

Iklan

5 comments on “Resensi Puisi “Dia yang Memunggungimu” milik Khrisna Pabichara”

  1. Ikhsan, ini sudah mulai keteteran. Semakin kesini, tantangannya semakin menyita waktu dan perhatian.
    Semoga tetap semangat deh ya.

    Semangattttt

    Suka

  2. Terima kasih, Ikhsan.

    Kalau boleh jujur, sedikit memalukan hahahaha. Tapi, niatnya adalah belajar dan memang nekat mau mencoba. Jadi, deh.

    Ia, Ikhsan. Saya diberitahu oleh salah seorang sahabat juga. Semoga bisa mencerahkan ya.

    Suka

  3. Aku suka bagaimana Mbak Ayu mengerahkan segenap usaha untuk mengulik puisi ini. Aku bahkan terkagum-kagum ketika menemukan pemaknaan yang aku tidak sadari, contohnya seperti simbolisasi duduk memeluk lutut yang tidak dianjurkan dalam Islam. Mencerahkan sekali!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s