Seminar Report: Embracing Advanced Practice Nursing

4 komentar

Pengantar

Praktik Keperawatan spesialis (lanjutan). Mungkin adalah kalimat baru bagi sebagian orang, tapi ada juga yang mungkin sangat familiar dengan kalimat ini. Saya sendiri berkenalan dengan istilah ini beberapa tahun yang lalu berkat kebaikan hati sahabat saya. Mereka mengatakan bahwa ada pendidikan keperawatan spesialisasi dan ada juga spesialisasi lanjutan. Pendidikan keperawatan spesialisasi sendiri pada saat ini, hanya ada di Univeristas Indonesia (Kalau ada informasi lain dan berbeda, mohon untuk mengoreksi saya). Setidaknya demikian informasi yang saya peroleh.

Pendidikan spesialisasi yang ditawarkan oleh Universitas Indonesia untuk Fakultas Ilmu Keperawatannya adalah spesialis Keperawatan 1) Komunitas, 2) Maternitas, 3) Medikal Bedah, 4) Jiwa dan yang terakhir adalah 5) Anak. Syarat untuk mengikuti pendidikan ini adalah calon peserta didik harus sudah menyelesaikan program pendidikan Magister Keperawatan dimana mahasiswa melakukan registrasi administrasi dan akademik sesuai ketentuan registrasi Universitas Indonesia. Mereka yang lulus dari program spesialis ini nanti akan mendapatkan gelar akademik dan gelar profesi Ners Spesialis (Sp.) sesuai dengan peminatan spesialisasi. Selain spesialis, ada juga pendidikan profesi jenjang kedua atau dikenal sebagai Ners Spesialis 1. Jadi, selain program magister dan magister spesialis, ada juga pendidikan profesi jenjang kedua (Ners Spesialis I). Alamakkk…pendidikan keperawatan kok ribet amat.

Tapi memang demikian, pendidikan seperti ini memungkinkan perawat dapat belajar detail dan lebih dalam agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat guna dan tepat sasaran.

Saat ini, sudah banyak perawat-perawat Indonesia yang mendapatkan gelar Akademik dan Gelar profesi Ners Spesialis dan syukurnya sudah tersebar hampir diseluruh Indonesia. Banjarmasin, tempat saya bekerja, sudah ada lebih dari tiga orang yang memiliki gelar Ners Spesialis ini. Tapi memang sayangnya, kebanyakan dari mereka bekerja di Pendidikan (Sekolah) dan jarang ditemukan yang bekerja di lahan seperti di rumah sakit atau klinik.

Nah, bagimana dengan yang di luar negeri? Kita perlu dan patut untuk membandingkannya dengan pendidikan di luar negeri, karena perawat ini adalah profesi yang sangat mendunia. Kalau di luar negeri, ada juga pengaturan mengenai ners spesialis dan spesialis satu dst, tapi tentu saja dengan penyebutan yang berbeda atau term yang disesuikan dengan Bahasa yang mereka gunakan. Untuk mengenal mengenai praktik keperawatan lanjutan ini lah, mengapa saya sedikit berusaha keras untuk mencari informasi mengenai praktik keperawatan lanjutan. Kebetulan, saya memiliki sahabat yang baik hati, yang membantu saya untuk mendapatkan informasi yang saya inginkan dan juga bersedia untuk saya ajak berdiskusi.

Tulisan ini didedikasikan untuk sedikit mengupas mengenai pendidikan spesialis yang ada di luar negeri, terutama di Amerika Serikat (dan Filipina) yang merupakan negara yang menyelenggarakan seminar yang sangat menarik ini.

 

Summary hasil Seminar

Berikut adalah beberapa poin penting yang berhasil saya rangkum sebagai catatan pembelajaran untuk kita sekalian berdasarkan topik yang dibawakan oleh speakers. Catatan ini adalah juga merupakan hasil diskusi antara saya dan sahabat saya, terlebih atas kebaikan hati sahabat saya yang bersedia menyiarkan secara live seminar yang berlangsung (Meskipun harus secara diam-diam, so proud and thankful for you sister).

So, credit for this report is not only for me, but also my dear friend.

From novice to expert: Blesila J. Tsung, RN-BC, BSN

Topik ini dibawakan oleh seorang perawat specialist yang mengabdikan diri di unit bedah jantung. Ia sekarang sudah retired dari pekerjaannya sebagai seorang perawat, dan menikmati masa-masa tuanya dengan berbagi ilmu dan pengalamannya selama menjadi perawat bedah di Amerika Serikat. Saya begitu terkesan dengan speaker ini karena Ia bukan hanya seorang Perawat yang bertugas untuk memberikan asuhan keperawatan (to care), tapi Ia juga adalah educator yang handal dan seorang innovator yang sangat luar biasa.

Selama Ia aktif menjadi seorang perawat bedah jantung, Ia berhasil mematenkan lebih dari 6 buah inovasi yang berhasil Ia ciptakan untuk membantu Klien dengan masalah bedah jantung recover dari prosedur bedah yang Ia jalani. Bagi saya ini adalah hal yang sangat luar biasa karena sangat jarang ditemukan, perawat yang menyandang gelar sebagai innovator.

Okay, berikut adalah beberapa catatan saya mengenai materi yang Ia sampaikan.

  1. Your story matters. Poin ini mungkin adalah kesimpulan dari keseluruhan presentasi yang diberikan oleh speaker pertama. Mam Blesila memulai presentasinya dengan bercerita mengenai perjalanan karirnya, mulai dari sama-sekali tidak tahu, sampai pada saat ini. Saya sangat senang ketika Ia bercerita bahwa bahkan setelah Ia lulus dari pendidikan keperawatan, Ia masih belum begitu yakin kemana arah dan perjalanan karirnya. Ia mengatakan bahwa, “Just Keep Going!”. Kita tidak tahu kemana pilihan yang kita buat sekarang akan memberikan hasil atau efek apa di depan sana, tapi just keep going dan jangan menyerah dengan keadaan. Nanti, akan tiba saatnya kita akan mengerti bahwa tidak ada satu pun yang sia-sia dari proses perjalanan ini. Sungguh tidak ada yang sia-sia. Selanjutnya, tiada yang salah, keliru atau tidak pantas jika berbicara mengenai pengalaman perjalanan hidup kita, setiap peristiwa memiliki arti dan merupakan tangga yang akan membantu kita untuk mencapai hidup kita di masa depan. Menyepelekan pengalaman hidup kita sendiri, tentu bukan pilihan dan tindakan yang bijak.
  2. Interprofessional practice. Sejak saya lulus dari sekolah tinggi ilmu keperawatan dan mendapatkan surat tanda registrasi sebagai perawat, saya mengakui bahwa fungsi kolaborasi adalah hal yang sangat penting dalam praktik sehari-hari. Saya tidak bekerja seorang diri, saya bekerja bersama orang lain, dengan profesi lain dan poin ini adalah sangat penting. Sayangnya memang, ketika saya masih menempuh pendidikan perawat, tidak banyak pengalaman kolaborasi yang saya peroleh dengan profesi kesehatan lainnya. Saya sungguh menyayangkan hal ini, mengingat betapa pentingnya fungsi ini dalam area praktik.
  3. Misi to care, to educate, to discover. Semboyan yang dipakai oleh speaker pertama ini begitu sangat penting. Semboyan ini menjadi energi yang menginspirasinya untuk melakukan banyak hal untuk pekerjaan dan juga terutama untuk pasien sebagai komunitas. Semboyan, to discover membuat Ia mampu melakukan penemuan-penemuan penting untuk membantu meningkatkan kualitas pemberian asuhan keperawatan dan juga membuatnya efektif serta efisien bagi klien dan keluarganya.
  4. Evidence based practice. Pembicara pertama ini adalah contoh nyata seorang perawat yang mempraktikkan Evidence Based Practice dalam pelayanan keperawatan di bidang spesialisasinya. Saya sangat terkesan!. Dalam ceritanya, Ia menunjukkan proses-proses praktik keperawatan yang selalu mengedepankan fakta dan bukti, tidak hanya sekedar asumsi. Jika ada asumsi, Ia akan bergerak untuk membawa orang-orang disekitarnya untuk mencari fakta, membuktikan dan akhirnya menemukan pemecahan masalah. Karena praktik keperawatan yang dijalaninya ini, Ia berhasil menemukan beberapa protocol yang khusus dipergunakan dalam praktik keperawatan di ruang bedah jantung. Ini benar-benar suatu pencapaian yang luar biasa!.
  5. Reflective practice and education. Dari seorang pembicara seperti Perawat ini, saya belajar pentingnya belajar reflektif. Dalam artian, merenungkan apa yang sudah dikerjakan, lay it on the table dan belajar dari setiap tindakan dan pemikiran yang sudah dilakukan sebelumnya untuk dapat memberikan praktik yang baik pada masa yang akan datang. Saya menyadari bahwa ini adalah salah satu cara belajar orang dewasa, dan ini adalah cara belajar yang membuat orang cepat mengingat dan memperbaiki kesalahan. Sebagai seorang manusia, kita pasti sangat familiar dengan istilah “Belajar dari kesalahan”, belajar reflektif ini persis bekerja seperti ini.
  6. Satu lagi yang sangat luar biasa dari pembicara pertama ini adalah kisahnya mengenai system yang Ia dan teman-temannya bangun untuk memberikan asuhan keperawatan yang ideal. Sistem yang mereka bangun memungkinkan adanya sharing knowledge dan experiences dan itu membuat mereka bisa bertumbuh menjadi orang-orang yang hebat dalam lingkungan spesialisasinya. Tidak hanya sebagai seorang perawat, tetapi juga untuk profesi-profesi kesehatan lainnya.

Pembicara pertama dalam seminar ini sungguh meninggalkan kesan yang luar biasa untuk saya pribadi. Saya langsung saja menempatkan beliau sebagai salah satu role model dalam praktik keperawatan lanjutan. Saya senang bisa mendengarkan kuliah beliau.

Advance Practice Nurse (APN): Jovie De Leon-Luck, DNP, AG-ACNP, FNP, CNS, APP

Pembicara kedua untuk seminar ini meninggalkan kesan, “WOW” sejak kalimat pertama yang dilontarkan dari mulutnya. Saya sangat terkesan!

Pada usianya yang bisa dibilang sudah tidak muda lagi, Ia begitu sangat bersemangat dan sangat energik. Sulit menemukan orang seperti ini!. Belum lagi, kalau dilihat dari nama dan gelarnya yang sangat dan sangat panjang, saya bisa bayangkan betapa sangat produktifnya perawat yang satu ini.

Sebagai seorang Perawat yang menempuh pendidikan awal di Filipina, lalu memutuskan untuk berkarir di Amerika Serikat, Jovie bukanlah orang yang langsung saja menemukan jalannya. Ia harus berjuang untuk mencari apa yang sebenarnya Ia inginkan dalam hidup, menjadi Perawat seperti apa yang Ia inginkan.

Pembicara kedua membawa topik mengenai Advance Practice Nurse (APN) atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai, Praktik Keperawatan Lanjutan. Praktik keperawatan ini adalah praktik keperawatan yang sejak jaman sekolah dulu menimbulkan banyak tanya tanya besar dalam pikiran saya. Ya, pada waktu itu, praktik keperawatan yang saya pelajari masih bersifat sangat umum, spesifikasi masih jarang. Berbeda dengan pada saat ini, praktik keperawatan yang terspesialisasi sangat menjamur, sangat banyak. Mendengar pembicaraan mengenai APN langsung, tentu saja sangat menarik perhatian saya, apalagi APN ini adalah praktik keperawatan yang mula-mula lahir di Amerika Serikat sana.

Berbicara mengenai APN, kita juga pasti akan membahas mengenai ANP (Advance Nurse Practice). Kedua istilah ini sungguh sangat sering digunakan secara tidak tepat. Banyak kali kita berbicara mengenai ANP tapi ternyata yang kita maksud adalah APN. Nah, pada kesempatan ini pembicara kedua berusaha untuk meluruskan pemahaman ini dan memberik sedikit informasi mengenai perbedaan keduanya.

  1. Perbedaan antara APN dan ANP. ANP (Advance Nurse Practice) adalah praktik keperawatan yang dicirikan dengan perjalanan from novice to expert. Praktik keperawatan yang dijalankan oleh pembicara pertama memberikan contoh yang sangat jelas mengenai hal ini. APN (Advance practice nurse) adalah praktik keperawatan yang secara sah dan legal di akui oleh negara atau negara bagian, dan harus lulus sebagai graduate nursing students terlebih dahulu sebelum mendapatkan tambahan kompetensi sebagai APN. Sama seperti gelar RN, seorang APN juga akan memiliki gelar tambahan di belakang namanya, Ia akan mempunyai tambahan gelar sebagai contoh yang digunakan oleh pembicara kedua pada saat ini. APN di Amerika serikat ada empat, 1) Nurse Midwife, 2) Nurse Anaesthesia, 3) Clinical Nurse Specialist dan 4) NP (Nurse Practitioner).
  1. Untuk mewujudkan adanya APN, kita tidak bisa melepaskan fungsi dari organisasi profesi. Sungguh, organisasi profesi adalah satu-satunya media yang bisa mewujudkan mimpi APN menjadi nyata. Orang-ornag yang bekerja di dalam organisasi profesi adalah mereka yang harus bisa merumuskan pentingnya APN dan menyediakan wadah perlindungan bagi perawat-perawat didalamnya. Berdasarkan cerita dari Pembicara dua ini, saya melihat dengan sungguh bagaimana kerja keras sebuah organisasi untuk mewujudkan praktik keperawatan professional yang baik bagi banyak orang.
  2. Perawat sebagai partner kerja profesi lain. Hal berkesan lainnya yang saya temukan dari pembicara kedua adalah keteguhan hatinya yang tidak mau direndahkan dari profesi kesehatan lainnya. Ia bangga dan sangat menjunjung tinggi kehormatan profesinya. Ia tidak mau dianggap lebih rendah pekerjaannya jika dibandingkan dengan profesi kesehatan lain. Ia bekerja dengan sangat jelas, dan memiliki pengetahuan mengenai dasar hukum yang juga sangat detail. Jangan coba-coba mendebatnya mengenai hal ini. Tidak akan ada yang tahan. Ia adalah perawat yang sudah sudah berpraktik hampir diseluruh masa-masa produktifnya, bahkan sampai pada saat ini.
  3. Diagnosa yang diberikan oleh APN. Seorang APN juga menegakkan diangnosa. Sayangnya, diagnosa yang mereka tegakkan berdasarkan keluhan pasien bukan diagnosa keperawatan, tapi lebih banyak pada diagnosa penyakit. Persis seperti seorang dokter, dan bahkan hampir tidak ada bedanya dari dokter. Tapi, meskipun demikian, ketika ditanya siapa mereka, mereka akan menjawab bahwa mereka adalah perawat. Cukup membingungkan bagi saya, sungguh.

Untuk menambah sedikit pengetahuan kita tentang dampak positif mengenai praktik APN, silahkan untuk membaca tulisan dari Lisbeth Fagerstrom dengan judul The Impact of Advanced Practice Nursing in Healthcare: recipe for developing countries.

Relevance of Advanced Practice Nursing in the Philippines: Josefina A.Tuazon, DrPH,RN

Topik terakhir ini yang dibawakan oleh Prof. Tuazon adalah topik yang berusaha Ia bawa se-practical mungkin, demikian seperti yang Ia katakan. Tidak seperti Amerika Serikat, keperawatan di Filipina juga masih belum mengenal secara mendetail tentang Advance Practice Nurse. Belum ada peraturan yang solid dan mendekati seperti yang dimiliki oleh Amerika Serikat, meskipun kalau boleh jujur, organisasi keperawatan di Filipina memang masih lebih baik dari di Indonesia. Ini hanya penilaian saya pribadi, terutama karena saya juga pernah ikut serta dalam kegiatan organisasi mereka.

Untuk membaca lebih jauh mengenai gambaran dari Advance Practice Nursing di Filipina. Saya anjurkan teman-teman untuk membaca tulisan tentang Advanced Practice Nursing in The Philippines: Are We There Yet milik Maria Carmela L. Domocmat, RN,MSN.

Okay, lanjut.

Hal menarik yang bisa saya catat dari materi yang diberikan oleh pembicara ketiga adalah mengenai pertanyaan-pertanyaan yang Ia lontarkan sebagai bahan untuk berpikir bersama. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah,

  1. Bagaimana kita dapat menyiapkan dengan baik perawat-perawat kita untuk mendapatkan APN?
  2. Model praktik keperawatan seperti apakah yang paling cocok dengan keadaan di daerah/ tempat saat ini ? Apakah Clinical Nurse Specialist ataukah Nurse practitioner.
  3. Siapakah yang akan membayar jasa atau keterampilan perawat-perawat spesialis ini ?.
  4. Apakah undang-undang keperawatan pada saat ini sudah melindugi perawat-perawat dengan spesialisasi seperti ini ?
  5. Bagaimana kita dapat memperoleh pengakuan tentang apa yang kita kerjakan sebagai seorang APN?

Ketika mengikuti seminar rangkaian pembicaraan yang dibawa oleh pembicara, pertanyaan saya adalah, “Bagaimana dengan perawat-perawat di Indonesia?”, “Apakah pada saat ini kita sudah bergerak dan berjalan kearah pelayanan keperawatan professional seperti ini juga?, atau kita berjalan pada jalan yang berbeda?”.

Pencarian online saya, terhenti para tulisan menarik milik Firman Telaumbanua dengan judul “Prospek Perawat di Masa Depan, Bagaimana menyikapi ?”. Melalui tulisan ini, saya setidaknya bisa mendapatkan gambaran kasar mengenai perkembangan praktik keperawatan di Indonesia. Ada beberapa bagian tulisan yang mengejutkan saya, dan membuat saya ingin belajar lebih banyak mengenai hal ini.

Selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan oleh Pembicara ketiga, adalah pertanyaan yang benar-benar membuat saya berpikir tentang apa yang harus saya dan kita lakukan kedepannya nanti. Seminar ini, harapannya tidak hanya berakhir pada seminar saja, tapi harapannya memiliki tindak lanjut yang jelas dan nyata ke depan. Nanti, mau melakukan apa ?.

Sarjana keperawatan profesi yang ada saat ini saja, banyak yang harus berakhir dengan menjadi tenaga sukarela, artinya pekerja yang bekerja tapi bayarannya adalah berupa ucapan terima kasih atas sukarela. Mereka bekerja setidaknya agar ilmu pengetahuan dan keterampilan mereka tidak hilang dan tumpul karena lama tidak digunakan. Miris, kan ?. Lalu, siapakah yang akan peduli dengan nasip mereka ?. Saya rasa, saya tidak perlu tunjuk orang, saya tunjuk diri sendiri, saya!.

Hasil dari seminar ini bagi saya masih berupa sebuah tanda tanya yang besar. Dalam artian bahwa, saat ini saya masih belum banyak menguasai mengenai masalah topik spesialisasi ini. Sangat disayangkan. Tapi, saya begitu sangat antusias untuk belajar lebih banyal lagi untuk memuaskan rasa ingin tahu.

Saya juga berharap, agar ada yang membaca tulisan ini dan bersedia memberi saya banyak informasi yang saya inginkan dan yang saya harapkan.

Sebagai informasi tambahan, jika teman-teman ini mengenal lebih jauh mengenai, Advance Practice Nurse, silahkan untuk meng-klik sites berikut,

  1. Advance Practice Nursing Fact Sheet.
  2. Advance Practice Registered Nurse

Catatan di balik layar:

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis mengenai laporan hasil mengikuti seminar. Terakhir, saya menulis mengenai Garis Besar Konferensi Keperawatan Jiwa Nasional Tahun 2018 dan itu sudah beberapa bulan yang lalu. Meskipun saya tidak ikut serta dalam Konferensi tersebut, saya cukup beruntung untuk mendapatkan bahan konferensi yang bisa saya gunakan untuk berdiskusi dengan teman-teman sejawat Perawat.

Kali ini, saya pun memutuskan untuk berbagi buah tangan yang berhasil saya kumpulkan atas kebaikan hati sahabat saya juga. Saya berterima kasih karena atas kebaikan hatinya, saya bisa mendapatkan pengetahuan tambahan dan berdiskusi lebih lanjut mengenai topik seminar yang dibahas dalam seminar.

Tulisan saya kali ini pun sebenarnya terinspirasi dari tulisan Kak Desfortin yang berjudul “Pilih Mana, Blog Niche atau Gado-gado?”.Tulisan ini berhasil membuat saya merenungkan nasip dan masa depan blog yang saya miliki. Saya kembali teringat dengan semangat awal dari pendirian blog ini, “Berbagi mengenai informasi kesehatan dan keperawatan, terutama keperawatan jiwa”. So, Here I am setelah melewati waktu dan masa-masa permenungan. Saya lalu memutuskan untuk lebih banyak fokus untuk menulis mengenai dunia yang sangat saya cintai. Saya menyadari bahwa beberapa waktu ini, saya nampaknya unfocused. Saya akui, sedang merasakan rasa bosan yang amat sangat. Mencoba hal-hal baru adalah cara saya untuk mengurangi rasa tidak nyaman ini. Saya anggap cara ini berhasil.

Saya sedikit merasa tertekan ketika saya menulis tulisan ini. Saya sedang dilanda masalah dan tekanan yang saya hasilkan dari masalah ini cukup berat. Cukuplah membuat saya harus mengambil waktu istirahat yang lumayan untuk memulihkan diri. Masalah yang saya dapatkan, tiada lain dan tiada bukan adalah karena pekerjaan. Saya memang selalu memaksakan diri ketika saya berhadapan dengan pekerjaan. Tanggung jawab saya akan pekerjaan lebih besar dibandingkan dengan tanggung jawab saya akan kesehatan dan kehidupan saya sendiri. Sedikit ironis karena saya adalah seorang Perawat yang pekerjaannya merawat, tapi saya tidak bisa merawat diri saya sendiri.

Tapi, menjadi perawat, apalagi menjadi perawat jiwa memberi saya keuntungan untuk menyadari dan memahami lebih cepat apa yang sedang terjadi dalam pikiran dan perasaan saya. Kesadaran ini membantu saya untuk segera mencari solusi atas masalah yang saya hadapi. Untungnya juga, karena saya bekerja dan hidup dengan mempelajari ilmu perihal masalah-masalah ini, maka saya mendapatkan keuntungan untuk dapat memberikan terapi terbaik bagi diri saya sendiri. Ya, setelah menyadari bahwa saya mengalami masalah, saya lalu mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Saya usahakan apapun yang bisa saya lakukan, mulai dari mengambil waktu untuk jalan-jalan, atau mengobrol dengan saudara atau sahabat saya. Hasil dari usaha ini adalah kesadaran bahwa saya sudah menjadi lebih tenang kembali dan saya siap untuk melanjutkan pekerjaan saya.

Menulis, sudah merupakan kebiasaan saya untuk mengurangi beban yang ada akibat stress yang saya alami. Seperti pada tulisan ini, pada kenyataannya saya menuliskan catatan di balik layar terlebih dahulu sebelum saya memutuskan untuk menulis mengenai seminar report. Saya harus memastikan pikiran dan perasaan saya damai dan jernih, sebelum saya menulis sesuatu yang penting. Saya selalu berusaha untuk menjaga agar pikiran dan perasaan saya tidak mengganggu pekerjaan saya, termasuk kegemaran saya untuk menulis di blog ini.

Saya sangat egois, bukan?. Teman-teman saya banyak mengatakan mengenai hal ini pada saya. Bukannya saya tidak peduli dengan label seperti ini, tapi saya hanyalah orang yang keras kepala. Sangat keras kepala dengan pendirian saya.

Baiklah, saya rasa cukup ini saja yang bisa saya bagikan. Semoga menginspirasi dan membantu teman-teman pembaca sekalian somehow.

Semoga bermanfaat bagi kita sekalian.

Salam dari saya.

Iklan

4 comments on “Seminar Report: Embracing Advanced Practice Nursing”

  1. Terima kasih banyak, Kak. Ayu mencoba menulisnya sedetail mungkin, sekalian sebagai catatan belajar pribadi juga.

    Betul, Kak. Jangan lupa bahagia dan bersyukur untuk setiap aksi, karya dan kerja yang sudah pernah dilakukan. Betul setuju !

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s