Surat untuk Sahabat

7 komentar

Dear Sahabat,

Tanpa perlu memberimu kabar, saya rasa kau sudah tahu dengan sangat baik apa yang terjadi pada sahabatmu ini. Kau mengenal saya lebih baik, lebih baik dari bagaimana saya mengenai diri saya sendiri. Kau tahu, banyak masalah yang masih berbentuk mentah tanpa penyelesaian pada diri sahabatmu ini.

Saya ingin sekali berbagi denganmu, sama seperti hari-hari sebelumnya, sama seperti masa-masa sebelum kita terpisah jauh seperti saat ini.

Selama beberapa hari ini, saya berlimpahkan masalah. Tapi, masalah inilah yang membuat saya belajar banyak hal. Pelajaran yang sangat ingin saya bagikan padamu, dengan harapan kau pun belajar dari kesalahan dan sial yang menimpa sahabatmu ini. Saya tahu, kau pasti akan sangat senang membaca surat ini. Bukan karena kau ingin mengolok kesialan yang menimpa sahabatmu, tapi karena kau adalah orang yang paling bersemangat untuk belajar. Apalagi belajar tentang kehidupan.

Saya dan Kecemasan

Sejak dulu, diantara kelompok geng kita, saya adalah orang yang paling mudah mengalami efek negative dari stress yang berlebihan. Kau sering berkata,

Kau adalah orang yang sangat sensitive terhadap perubahan energi disekitarmu”.

Saya masih sangat ingat dengan kalimat ini dan saya percaya dengan penilaianmu saat itu. Untuk itulah saya  memilih keperawatan jiwa sebagai bagian penting dari karir saya sebagai perawat. Saya merasa, jalan ini adalah jalan yang akan menuntun saya pada visi dan misi hidup saya.

Saat ini, sahabatmu ini sedang (sangat) dalam keadaan sangat kelelahan. Lelah fisik dan juga lelah mental serta emosional. Mengerikan sekali rasanya. Saya merasakan ada banyak beban tidak nampak di pundak ini dan rasanya saya sangat tidak sanggup menghadapi segala masalah ini.

Kau tahu bahwa saya memiliki banyak sekali pemikiran, bukan ?. saya berpikir mengenai masalah sampai sedetail mungkin, tapi itu juga yang banyak menyelamatkan hidup saya, karena saya dapat memperhitungkan segala consequences yang terjadi dan dapat menghindari semua masalah yang kemungkinan terjadi karena kesalahan pengambilan keputusan. Kau tahu betul mengenai hal ini.

Akhir-akhir ini, karena alasan inilah saya berada di kursi panas hampir setiap waktu. Saya mengalami cemas berkepanjangan dan cemas hampir setiap waktu.

Saya berusaha untuk kuat, berdiri dan tegak berlari, tapi saya tahu bahwa saya sedang membohongi diri sendiri. Tidak seharusnya saya menjadi seperti ini , bukan ?.

Pernah suatu waktu, saya berbelanja ke pusat perbelanjaan, saya hampir pingsan kala itu, ketika saya tidak bisa menemukan uang receh dari dalam tas!. Bisa kau bayangkan ?. saya hampir pingsan!

Saat itu, saya berpikir bahwa saya benar-benar tidak dalam keadaan baik. Saya harus segera memeriksakan diri! Saya seharusnya mendengarkan saranmu kala itu, untuk segera memeriksakan diri dan menjalani terapi yang dibutuhkan. Tapi, saya menahannya, saya menolaknya dengan halus. Hanya dengan alasan, saya mampu untuk menagahannya, saya bisa mencegah keadaan ini menjadi memburuk.

Ya, Tuhan itu memang baik. Tuhan mengirimkan saya banyak orang-orang yang membuat saya sadar bahwa, saya dijaga, saya dikuatkan dalam perjalanan ini.

Suatu hari, saya bertemu dengan seorang sepuh, dalam pembicaraan kami, Ia berpesan,

“Kontrol reaksimu terhadap stressor yang kau hadapi..”.

Saya seperti tersadar dari tidur panjang, dan saya sadar. Saya sadar bahwa saya harusnya melakukan apa yang disarankan oleh sepuh ini, ini adalah kuncinya. Saya harus belajar untuk mengontrol reaksi saya terhadap masalah yang saya hadapi. Saya belajar dan saya berusaha.

Sedikit ironi, bukan ?. Saya kerap memberikan intervensi ini kepada Klien kita, tapi saya juga yang tidak melakukannya.

Saya kerap berpikir, bahwa ketika kita merawat Klien kita, kita sebenarnya juga sedang merawat diri kita sendiri. Luka kita mungkin lebih besar dari luka klien-klien kita. Mungkin yang membuat kita terlihat kuat adalah bahwa kita pandai untuk menutupi apa yang sedang terjadi pada kita. Kita mencuri kesempatan untuk sembuh dengan menyembuhkan orang lain.

Energi perasaan yang berceceran.

Ada segudang perasaan yang tidak dapat saya bagi dan hanya bisa saya sembunyikan pada saat ini, waktu ini. Saya ingin sekali membaginya dan membuat diri ini nyaman, tapi sampai saat inipun saya tidak pernah se-nyaman itu. Saya tidak pernah bisa merasakan nyaman dan saya memang memutuskan untuk tidak merasakan perasaan nyaman itu. Kau pernah begitu merasa aneh, dengan pilihan hidup saya yang rumit ini, tapi kau orang baik pertama yang bisa mengerti pemikiran aneh temanmu ini. Terima kasih untuk itu.

Kau tahu benar mengenai hal ini, kau tahu bahwa diantara kita, saya adalah orang yang penuh rahasia. Saya menggunakan banyak topeng untuk berinteraksi dengan teman-teman kita dan kau tahu bahwa saya selalu menyembunyikan pribadi saya yang sebenarnya. Kau orang yang berhasil menemukan wajah asli saya, dan saya menaruh hormat padamu untuk itu. Saya merasa, sejak saat itu, saya tidak pernah menang melawanmu. Kau selalu tahu bagaimana melepas topeng yang saya kenakan dan membuat saya belajar untuk jujur dengan perasaan saya sendiri.

Sahabat, kau tahu betul bahwa topeng-topeng ini ada karena saya tidak pandai mengontrol perasaan-perasaan yang saya miliki. Saya tidak bisa jujur dengan apapun yang saya rasakan. Saya menolak dan mengatakan hal berbeda dari apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya tahu, saya masih saja kejam dengan diri saya sendiri.

Kau juga sangat tahu bahwa perasaan cinta bukan perasaan terkuat dalam diri sahabatmu ini, yang saya miliki adalah perasaan kerinduan yang sudah menyelinap seperti ninja sampai ke sel-sel darah ini. Itulah gambaran kekuatan yang saya miliki. Perasaan yang saya temukan ketika banyak menghabiskan waktu bersamamu. Ah, mungkin saja saya salah dan saat ini saya hanya berusaha untuk membenarkan diri saya sendiri.

Hidup minimalis

Sejak awal tahun lalu, saya memutuskan untuk hidup minimalis dan menjadi sangat sederhana. Terutama menyangkut penggunaan pakaian.  Saya memutuskan untuk tidak lagi membeli pakaian, dan memilih untuk melakukan recycling. Saya memilih untuk lebih memaksimalkan penggunaan pakaian yang benar-benar saya butuhkan setiap hari.

Saya terpengaruh pada bagaimana Maria Kondo menjalani hidupnya yang sederhana dan menjadi lebih bersyukur setiap harinya, terutama dengan apa yang saya miliki. Saya juga terinspirasi dengan orang-orang yang saya temui setiap harinya. Saya ingin membuka hati terhadap rasa welas asih dan kemanusiaan. Saya ingin menjadi peduli dan saya tidak ingin menjadi cuek seperti saya biasanya.

Saya temukan kesulitan, pastinya. Saya mengalami kesulitan karena pakaian saya terkadang terasa seperti ‘itu-itu’ saja. Boring!

Teman-teman di tempat saya bekerja kerap mengomentari,

“Bukankah ini baju yang kau gunakan empat tahun yang lalu ?. Masih bisa kau pakai ?”.

Saya tahu, saya tidak seharusnya tersinggung dengan perkataan ini. Ini bisa jadi adalah pujian yang ingin mengatakan bahwa badan saya tidak berubah sejak empat tahun yang lalu. Badan saya begini-begini saja, tidak ada peningkatan berat badan atau proporsi tubuh yang membuat kebanyakan pakaian saya dulu tidak bisa saya gunakan.

Hanya saja sahabat-sahabat kita sangat peduli dengan apa yang terjadi dalam hidup kita. Kadang, sedikit menyebalkan, meskipun kadang saya sangat merindukan komentar-komentar tanda kepedulian mereka.

Apakah saya aneh ?, Saya lebih tepatnya tidak konsisten, bukan ?.

Tapi, saya ingat apa yang biasanya kau katakan pada saya, jika masalahnya adalah seperti ini,

Kau tidak aneh, hanya berbeda dari orang kebanyakan. Kau unik dan kau seharusnya bangga dengan itu. Ketika dunia kita hanya mengenal hitam dan putih, kau memilih untuk menjadi merah”.

Saya tidak bisa berkomentar banyak ketika komentar ini kau layangkan, hanya bisa berkata, Terima kasih.

Terima kasih banyak karena sudah sangat mengerti.

Sahabat, untuk saat ini, hanya inilah yang bisa saya bagikan padamu. Saya harap kau tidak bosan membaca surat yang saya kirimkan padamu. Kapan kau ada waktu untuk membalasnya. Apakah kau sudah sangat nyaman berada di atas sana, sehingga kau melupakan kami yang ada di bawah sini.

Mampirlah sesekali, meskipun itu hanya dalam mimpi. Mampirlah dan balaslah surat-surat yang secara teratur saya kirimkan padamu. Saya menunggu dengan penuh kerinduan disini, balasan-balasan untuk setiap lembar surat yang saya kirimkan padamu.

Berilah pendapatmu dari atas sana, bagaimana kami menjalani hidup kami sampai saat ini ?. Apakah sudah sesuai dengan yang seharusnya ?.

Meskipun tidak sesuai, saya tahu bahwa kau tidak pernah mau memberikan komentar sarkastismu. Kau hanya akan berkata bahwa kami akan menemukannya, kelak.

Sahabat, dalam malam-malam sepi yang saya jalani, saya berdoa Semoga kau juga merindukan kami seperti kami merindukanmu disini. Baik-baik di sana, siapkan tempat terbaik untuk kedatangan kami kelak. Kau harus mengingat bahwa tempat nongkrong kita harus menjadi bagian terbesar dari rumah tempat kita tinggal, kita akan menghabiskan banyak waktu kita disana.

Salam penuh kerinduan,

Sahabatmu.

Catatan di balik layar:

Tulisan ini dikerjakan dan diselesaikan secara sengaja untuk mengikuti tantangan menulis dari Mbak Ade Tawalapi. Mbak Ade comes up with this great idea to write a letter for a special one.

Saya memutuskan untuk ikut kegiatan menulis ini yang memang tidak memiliki batas waktu dan tidak harus terikat dengan tema yang sengaja di pilih. Dalam dialog kecil kami, Mbak Ade mengatakan,

Alhamdulillah kalau sesuai temanya. Nggak ada ketentuan lain, kok. Yang penting bahagia setelah nulis suratnya..”

Meskipun saya harus melakukan banyak perbaikan dalam proses penulisan surat ini, dan sedikit menahan diri untuk tidak melakukan publikasi, tapi akhirnya saya memutuskan untuk memasukkannya ke kolom publish. Saya tidak ingin jauh-jauh memikirkan efek dari menekan tombol ‘publish’.

So, bagi teman-teman yang memiliki keinginan untuk mengikuti tantangan ini, sangat dipersilahkan. Tidak perlu juga untuk dijadikan beban, menulis itu harusnya membuat kita bahagia dan orang lain yang membacanya menjadi bahagia. Ia tidak ?.

Tawalife-tantangan berkirim surat

Iklan

7 comments on “Surat untuk Sahabat”

  1. Sedang dalam proses, Kak.

    Yang sangat dibutuhkan oleh Maria saat ini adalah, kesabaran. Kesabaran untuk menjalani proses ini sampai selesai dan tuntas.

    Mohon doa, kak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s