Surat untuk Dirimu Sendiri

2 komentar

Dear diri sendiri,

Ini adalah beberapa hal yang harus saya sampaikan padamu. Ini demi kebaikan kita bersama, tentunya.

Mohon untuk diperhatikan, jangan hanya dibaca sambil lalu. Ambil waktu sejenak untuk beristirahat dari kesibukan kita, lalu bacalah ini.

Saya menulisnya dengan sepenuh hati dan dengan penuh pertimbangan.

Bimbang, ragu dan cara kita mengatasinya

Bimbang, ragu dan cemas mungkin adalah trio masalah dan pembuat masalah yang terus menerus membuat kita sakit kepala. Tapi, tidak mengapa, karena sepanjang perjalanan kita di dunia ini, ketiga masalah tersebut adalah peluang untuk banyak belajar.

Ketika kita berhadapan dengan mereka, senjata paling ampuh adalah ‘pengetahuan’. Kita menggunakan kekuatan keingintahuan kita untuk mencari sedetail mungkin informasi yang berkaitan dengan masalah atau apapun yang kita hadapi. Pengalaman hidup kita membuktikan bahwa, sambil memperkaya diri kita dengan informasi, kita mengikis habis kebimbangan, keraguan dan bahkan rasa cemas dan tidak percaya dirinya kita.

Kita juga sering merasa bimbang dengan masa depan yang serba tidak pasti. Kebimbangan ini memberi energi negative pada diri kita dan kita pastinya akan menuai perasaan yang sangat tidak nyaman dengan hal ini. Tapi, jangan takut. Kebimbangan ini adalah kesempatan, kesempatan untuk belajar percaya pada kekuatan dan penyelenggaraan Tuhan atas hidup kita.
Ambillah waktu sejenak, dan biarkan perasaan bimbang dan mungkin takut ini mengalir dalam pikiranmu. Jangan ditahan, biarkan kita merasakan perasaan ini, alirannya dan kekuatannya. Lalu, perhatian bagaimana perasaan ini melaju meninggalkan kita. Ia mungkin akan berhenti dan tertahan sebentar pada relung pikiranmu, tapi Ia tidak akan betah berlama-lama di sana. Usahamu untuk melihat lebih jauh perasaan ini, akan membuatnya berjalan menjauhimu.

Perihal mengambil berani resiko

Teman-teman kita mengenal kita sebagai orang ‘gila’ yang sangat berani mengambil resiko. Tapi, hal yang mungkin tidak mereka ketahui adalah bahwa kita adalah, orang paling penakut dari antara semua.

Keberanian kita untuk mengambil keputusan terjadi hanya karena kita ingin lari dari rasa takut yang tidak bisa lepas dari pikiran kita. Keputusan ini, nampak bagi orang lain sebagai wujud keberanian yang entahlah saya tidak dapat berkata apa-apa untuk menjelaskannya.

Tapi, sungguh kawan, ketika kita berada dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan, keberanian kita untuk mengambil keputusan dan dengan sangat bertanggung jawab menjalani konsekwensinya adalah sesuatu yang sangat patut kita banggakan bersama.

Kita harus bangga dengan hal ini.

Ketika lelah, istirahatlah.

Ya, ketika kau merasakan lelah, istirahatlah.

Pekerjaan akan terus ada dan tidak akan pernah habis, tidak akan pernah benar selesai. Kau harus bisa belajar bagaimana mengatur waktu untuk beristirahat. Kesehatan badan dan kesehatan mentalmu sangatlah penting, jadi jangan abaikan hal ini. Dirimu akan berterima kasih nanti.

Jika kau ingin bekerja, bekerjalah! Dan jika kau ingin beristirahat, beristirahatlah.

Jangan jadikan pekerjaan sebagai beban, atau kau berniat untuk menjadikan pekerjaan sebagai hukuman. Tidak!

Jika kau percaya mengenai hal ini, maka kasihan, karena kita tidak pernah bisa merasakan bagaimana memaksimalkan potensi kehidupan kita. Padahal, ada banyak hal di dunia ini yang sangat dan sangat luar biasa!

Kau mungkin memiliki hubungan yang putus-sambung dengan penciptaMu, tapi kau selalu menemukan jalan untuk kembali. Itulah tanda kebesaranNya.

Mungkin, kita bisa mengatakan bahwa cara kita untuk lebih dekat dengan pecipta kita adalah dengan meragukannya, dengan cara inilah kita mengenalnya lebih dekat dan merasakan kehadirannya dalam hidup kita dan memahami jalan yang terbentang di hadapan kita yang memang ada karena seturut kehendakNya.

Kemana pun kita pergi, kita akan selalu kembali padaNya. Sudah merupakan nature kita untuk merangkak kembali padaNya, meskipun kita berlari menjauhiNya.

Kita adalah bagian dariNya dan Ia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kita. Ia memberi kita hidup, alasan untuk hidup dan alasan untuk bertahan sampai akhir. Kita tanpa kehadiratNya hanyalah sebuah kesia-siaan.

Tapi, jangan menjadikan keadaan ini sebagai alasan bahwa kau boleh berlari kapan saja kau mau, karena Ia memberi kita sedikit hukuman atas apa yang kita lakukan. Ia Maha Adil dan karena cintaNya itulah, Ia ingin agar kita bertumbuh dalam cinta dan kasihNya yang adil.

Biarlah jalan dan proses ini membentuk kita

Kau tahu bagaimana para pengerajin tembikar membentuk tembikar dari bahan yang sangat sederhana, “seonggok tanah” ?.

Ya, demikian pulalah kita di tangan pencipta kita. Ia membentuk kita untuk menjadi sesuatu, dan kita harus percaya padaNya.

Apakah kau pernah mendengar kisah tentang seonggok tanah yang tidak ingin dibentuk oleh pengerajin tembikar ?

Ia tidak bisa menjadi apa-apa, hanya akan terus menjadi seonggok tanah yang tidak memiliki bentuk. Hampir tidak bernilah.

Untuk menjadi sesuatu, kau harus merelakan dirimu diubah, dibentuk. Turunkan dinding-dinding keangkuhanmu dan biarlah kekuatan pengubah itu mengubah kita menjadi sesuatu.

Jangan takut, biarlah pencipta kita berkreasi sesuai dengan kehendakNya, karena pada akhirnya kejutan yang akan diberikan oleh pencipta kita adalah kejutan yang benar-benar kita butuhkan. Ia lebih mengenal kita dibandingkan kita mengenal diri kita sendiri.

Jangan melawan, tapi jalani saja sampai akhir.

Jika kegagalan yang menemukan kita di jalan sana, terima Ia sebagai bagian dari proses perjalanan ini. Rayakanlah, seperti bagaimana kita merayakan kemenangan. Tidak ada perbedaan antara kegagalan dan kemenangan, hal yang akan kita terima adalah nikmatnya pelajaran. Bahkan, jika kau melihat lagi kedalam, kegagalan adalah sumber dari pembelajaran yang sangat kaya.

Bersemangatlah!

Cepatlah memaafkan.

Selain karena sifat sensitive sangat terlalu, kita juga adalah orang yang tidak cepat memaafkan. Ini tentu saja tidak baik, Kawan.

Cepatlah memaafkan dan relakan saja rasa sakit yang kau rasakan. Tidak baik menyimpan luka dan dendam terlalu lama. Pada akhirnya nanti, kau sendiri yang akan menderita dan itu sama sekali tidak baik. Sangat tidak menguntungkan tentunya.

Relakan saja, relakan apa yang terjadi dan biarlah semuanya terjadi.

Segera ambil pelajaran yang ada di baliknya, dan lepaskan.

Bebaskan dirimu sendiri dan berjalanlah lagi terus.

Mungkin, ini adalah hal-hal yang perlu kita renungkan kembali secara bersama-sama. Ketika kita berjalan dan berhadapan dengan masalah-masalah seperti ini, lihat kembali catatan-catatan ini.

Lalu, segera berbenah diri dan back on track. Kita memiliki banyak hal yang harus kita kerjakan, jadi bersemangatlah.

Jangan biarkan diri kita jatuh dan terlarut tanpa tujuan dalam waktu yang lama. Kasihan.

Salam dari dirimu yang paling dekat, paling prihatin, paling memahami dan paling mencintamu,

Dirimu sendiri.

 

Yuk Ikut tantangan menulis tanpa batas waktu dari Ade Tawalapi. No rules, just write and share!

Saya sudah menyelesaikan satu tema surat dengan judul, Surat untuk Sahabat. Ini adalah surat kedua saya.

Tawalife-tantangan berkirim surat

2 comments on “Surat untuk Dirimu Sendiri”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s