Apa yang bisa kita lakukan untuk merayakan #haribumi ?

13 komentar

 

Beberapa waktu yang lalu dunia merayakan #haribumi atau #earthday. Moment ini digunakan dengan sangat baik untuk ikut memajang hashtag #haribumi atau #earthday dan mendorong banyak orang untuk peduli dengan keselamatan planet bumi yang merupakan rumah bagi banyak manusia.

Bagi saya pribadi, ini mungkin adalah kesempatan pertama saya untuk menyadari pentingnya ikut serta dalam kampanye #haribumi dan juga ikut melibatkan diri dalam upaya-upaya untuk melindungi dan merawat bumi. Saya mengikuti saran dari banyak orang yang meminta saya untuk lebih banyak membaca dan mengkaji informasi-informasi yang terkait dengan kampanye kebaikan ini.

Upaya ini tentu saja datang dari keingintahuan saya mengenai “Apa yang bisa saya lakukan untuk merayakan #haribumi ?”, “Mengapa saya perlu ikut serta dalam kampanye ini ?”.

Nah, sambil iseng disela-sela pekerjaan saya memutuskan untuk mencari sedikit informasi untuk menjawab keingintahuan saya dan membagikan hasil temuan saya terebut di sini. Harapannya, Semoga kita tidak hanya asal pasang hashtag di social media dan berlagak sok keren (terutama saya), padahal kenyataannya kita sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya ingin diperjuangkan dari moment berharga ini. Jangan sampai demikian!

Apa yang bisa kita lakukan ? 

Perbanyak mencari informasi

Saran pertama yang diberikan oleh sahabat saya ketika saya bertanya mengenai “Apa yang harusnya saya lakukan” adalah ajuran untuk mencari informasi yang saya butuhkan. Akses informasi yang sudah sangat luar biasa seperti pada saat ini harus bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Saya mengikuti anjuran ini tentu aja dan membuat catatan hasil pengumpulan informasi tersebut di dalam blog ini.

Teman-teman juga bisa membaca mengenai aksi yang bisa kita lakukan di website resmi https://www.earthday.org. Saya menemukan banyak informasi berharga disana.

Berkomitmen untuk ikut terlibat dalam aksi-aksi pro lingkungan hidup dan menjaga bumi.

Setelah membaca, memahami plus merenungkan apa yang terjadi pada bumi kita, saya sangat mengharapkan agar dalam hati kita sekalian tumbuh rasa peduli dan keinginan untuk beraksi memecahkan masalah. Aksi yang dimaksud dapat berupa keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan social yang pro-lingkungan hidup dan bermisi untuk menjaga serta melestarikan bumi.

Bekomitmen ini harus jelas. Jelas dalam artian harus terukur dan terencana. Nah, mencontoh banyak orang yang sudah giat bekerja untuk menjaga bumi ini, menetapkan target untuk mengurangi emosi karbon personal adalah salah satu langkah yang dianjurkan. Kita bahkan secara personal menghitung jejak emisi karbon kita sendiri.

Cara untuk mengurangi jejak emisi karbon adalah dengan cara,

“Consider offsetting carbon emissions by investing in clean and renewable energy projects around the world that support local communities, drive sustainable development, and protect our planet”.

Selanjutnya, beberapa langkah-langkah kecil yang bisa saya anjurkan adalah sebagai berikut:

Hidup sederhana, menggunakan barang sesuai kebutuhan saja.

Sejak awal tahun lalu, saya memutuskan untuk hidup lebih sederhana. Sederhana dalam artian hidup cukup sesuai dengan kebutuhan. Keputusan ini saya ambil karena terinspirasi dari beberapa sahabat saya yang sudah bergerak terlebih dahulu untuk melakukan aksi yang sama.

Keputusan saya untuk hidup sederhana ini saya wujudkan dalam beberapa hal-hal kecil seperti tidak membeli pakaian (yang tidak saya butuhkan) dan berbelanja barang-barang hanya sesuai dengan kebutuhan saya bukan keinginan saya. Saya juga mulai mensortir barang-barang mana yang benar-benar saya perlukan dan barang-barang mana yang tidak. Barang yang saya perlukan juga, saya usahakan untuk tidak terlalu makan tempat atau terlalu ‘wah’. Barang-barang yang sudah tidak saya pergunakan lagi, saya sumbangkan atau saya hibahkan pada siapa yang membutuhkan.

Saya juga belajar hidup sederhana dengan belajar pengendalian diri. Pengendalian diri yang saya maksud adalah pengendalian diri untuk tidak berbelanja barang sesuai dengan keinginan saya semata. Saya juga belajar untuk bersikap biasa saja ketika melihat diskon beterbangan kemana kaki saya melangkah. Sulit! Serius sangat sulit. Apalagi kalau seperti saya yang hidupnya tepat di pusat kota, dengan berbagai tawaran yang sangat menggiurkan.

Bersikap bijaksana dalam penggunaan air, makanan, listrik dan sumber daya lainnya.

Air, meskipun dikatakan bahwa Air adalah sumber daya alam yang tidak terbatas, tetap saja saya memutuskan untuk bersikap bijaksana dalam penggunaannya. Saya memilih untuk bersikap tidak boros dalam menggunakan air dan mengupayakan untuk memanfaatkan sumber daya air alami dengan lebih baik (menampung dan menggunakan air hujan). Ya, meskipun pada saat ini saya tidak memiliki akses untuk menampung air hujan, setidaknya saya bisa beraksi sedikit dengan meminta pengelola asrama tempat saya tinggal untuk menampung dan menggunakan air hujan dalam kehidupan asrama kami sehari-hari.

Makanan. Saya sangat terkejut ketika menyadari bahwa ternyata Indonesia menduduki perigkat lima besar sebagai negara yang suka membuang-buang makanan. Entah dengan kriteria apakah survey penggolongan seperti ini dilakukan tapi peringkat ini tentu saja tidak memberi saya rasa bangga sama sekali. Terutama jika kita mengingat bahwa banyak sekali orang-orang yang menahan lapar, kelaparan bahkan harus makan tanah hanya untuk menyanggah hidup. Ah, sangat tidak adil rasanya.

Untuk itulah, saya bertekat untuk makan dan menghabiskan makanan yang saya ambil dengan bijak. Saya menghabiskan porsi makan yang sudah saya ambil atau saya beli, lalu menggelola sisa makanan yang saya hasilkan dengan sangat baik. Untungnya di asrama tempat saya tinggal, ada pengelolaan makanan sisa. Jadi, makanan yang tidak habis dimakan atau sempat basi, dikelola untuk memberi makan ternak dan ada juga beberapa yang digunakan untuk pupuk.

Listrik. Listrik adalah kebutuhan dasar! Setara jenisnya seperti air dan makanan. Pemadaman listrik yang biasa terjadi di beberapa tempat di Indonesia otomatis menghentikan sementara aktivitas dan kerja banyak orang. Bagaimana tidak, hampir seluruh kita bekerja dengan bergantung pada energi listrik untuk menggerakkan perangkat-perangkat seperti Komputer, handphone dan perangkat kita yang lainnya. Tanpa listrik, hampir dipastikan kita tidak bisa bekerja.

Melihat fakta dan kenyataan ini, kita seharusnya sadar dan berupaya bagaimana bisa mencari cara untuk memperpanjang usia listrik untuk kehidupan kita. Masalah listrik ini sudah menjadi masalah yang tinggal tanpa pemecahan masalahnya untuk saya sendiri. Saya pernah bermimpi ketika SMA untuk bisa menemukan sumber tenaga listrik alama yang bisa membantu permasalahan mati listik di tempat tinggal saya. Sampai saat ini, saya berpendapat bahwa listrik tenaga surya, tenaga air atau tenaga angin adalah sumber listrik yang paling mumpuni. Saya masih melanjutkan mimpi saya untuk memperoleh, menggunakan listrik dari tenaga yang ramah lingkungan ini. Saya sangat berharap bisa mewujudkannya dalam beberapa waktu yang akan datang.

Untuk saat ini, usaha yang bisa saya lakukan secara pribadi untuk menghemat listrik adalah dengan bijaksana menggunakannya. Kalau saya tidak memerlukannya, saya akan segera mematikannya. Untung saja saya sudah sangat terbiasa tidur dengan lampu dimatikan, jadi sudah lumayan menghemat listrik.

Kipas angin atau Air Conditioner. Kalau bisa memilih, saya hanya ingin angin alami dari pepohonan, dari hutan, pas seperti angin yang sering berhembus di kampung halaman saya. Sayangnya, sangat sulit untuk menemukan hal tersebut di tempat saya tinggal pada saat ini, di kota. Sejuknya lingkungan diperoleh dengan cara menekan tombol pendingan ruangan seperti A-con atau dengan menggunakan kipas angin. Bisa saja tidak menggunakan dua alat elektronik ini, tapi yakin saja bahwa pakaian akan basah kuyup semua karena kepanasan.

Kadang, saya juga mendapatkan kesadaran seperti ini, panasnya udara yang dirasakan ketika musim panas tiba, ketika kita berada di tempat yang sama sekali tidak ada alat elektronik untuk menyejukkan ruangan, pada saat itulah kita bisa merasakan dengan sesungguhnya derita planet ini. Planet ini sedang sekarat dan Ia membutuhkan dengan sangat pertolongan dari kita. Menyadari hal seperti ini semakin membuat saya bersemangat untuk menggunakan listrik secara lebih bijaksana lagi. Semoga tidak hanya saya saja, tapi juga orang lain.

Menggunakan kendaraan transportasi dengan bijaksana.

Saya bersyukur karena saya memiliki kebiasaan untuk jalan kaki ke tempat kerja atau kemana saya kehendaki. Kalau boleh memilih, saya akan dengan senang hati memilih berjalan kaki atau menggunakan kendaraan ramah lingkungan seperti sepeda dayung atau becak (jika memungkinkan).

Sejak saya SMP, saya sudah biasa menggunakan sepeda dayung untuk pergi ke sekolah. Meskipun jarak dari rumah ke sekolah bisa memakan waktu satu jam, saya tidak merasa berat untuk menjalaninya. Pada masa-masa saya dulu, saya malah sangat menikmati kesempatan untuk menggunakan sepeda ini. Saya menikmati masa-masa kepanasan dan kehujanan dengan sepeda dayung ini. Sungguh sangat menyenangkan! Dan saya sangat bersyukur karena saya diajarkan nilai-nilai penting kesederhanaan pada masa-masa awal kehidupan saya.

Kebiasaan mendayung sepeda, dan berjalan kaki saya pelihara sampai saat ini. Saya sering pergi ke tempat kerja dengan hanya berjalan kaki, nyaman rasanya. Saya juga bisa menggunakan kesempatan berjalan kaki ini untuk memikirkan apa yang akan saya lakukan nanti. Kalau dipikir, saya seperti mempraktikkan meditasi sederhana dengan berjalan kaki atau mendayung sepeda ini, karena saya bisa merasakan efek nyaman dan tenang setelah melakukannya.

Saya berusaha untuk menghindari menggunakan sepeda motor, selain karena saya memiliki riwayat anemia dan tekanan darah rendah (yang bisa menyebabkan saya jatuh tiba-tiba), saya juga sangat berusaha agar saya bisa mengurangi gas karbon yang saya gunakan dari sepeda motor. Kalau keadaan memang sangat tidak memungkinkan, saya pasti akan menggunakan sepeda motor pastinya. Apalagi harus berangkat ke suatu tempat dalam waktu yang cepat.

Semoga saya masih bisa mempertahankan sikap baik saya ini untuk waktu yang lama kedepan.

Paperless.

Sudah sejak lama saya sudah membiasakan diri untuk tidak menggunakan kertas sebagai media saya untuk tulis menulis. Saya memilih untuk mengetik atau menggunakan perangkat elektronik dan sangat berusaha untuk menggunakan kertas secara bijaksana.

Saya juga mulai membiasakan diri untuk menggunakan kertas yang merupakan hasil recycled.

Meskipun rumah sakit tempat saya beraktivitas masih menggunakan kertas untuk mencatat perkembangan pasien, saya sangat berharap suatu saat nanti kami bisa menyederhanakan penggunaan kertas ini dan menggunakan media lain yang dapat mengurangi penggunaan kertas.

Saya juga memiliki mimpi untuk memiliki alat untuk daur ulang kertas. Saya berharap saya bisa mewujudkannya kelak. Mesin daur ulang kertas ini akan sangat membantu mengurangi penggunaan kertas secara tidak bijak tadi. Bisa juga menjadi upaya untuk berdagang (Ahh…hentikan pikiran seperti ini). Ini salah satu mimpi saya.

Plastic free.

Ini mungkin adalah hal yang cukup sulit dilakukan, tapi sangat mungkin untuk dilakukan. Saat ini, di area Banjarmasin sudah tidak sediakan plastic untuk membawa belanjaan dari supermarket atau toko seperti Indomaret. Pembali dipaksa untuk membawa plastic atau tempat belanjaannya sendiri dari rumah.

 

 

 

 

 

 

Kebijakan ini tentu sangat pro-lingkungan. Kebijakan yang sangat luar biasa untuk kota seperti Banjarmasin. Tapi, sebagai salah satu warga yang bekerja di wilayah Banjarmasin ini, saya sangat dan sangat bangga dengan kebijakan seperti ini. Saya merasa menjadi bagian dari komunitas yang berusaha untuk mengurangi kerusakan lingkungan akibat sampah.

Mendukung perindustrian yang menggunakan bahan baku alami.

Saya sangat beruntung karena di besarkan di lingkungan penduduk yang sangat menghargai dan menghormati alam. Ibu saya, memberikan saya teladan yang sangat saya perlukan.

Hal-hal kecil yang kami praktikkan di rumah begitu sangat menyentuh saya. Penggunaan tas belanja dari bahan baku alam sudah menjadi kebiasaan kami di rumah. Kalau tidak ada tas alami seperti ini, Ibu saya pasti akan mencari tas belanja dari bahan daur ulang seperti tas dari limbah tempat pasta gigi.

Kebiasaan kecil di rumah ini membuat saya menyadari pentingnya pro-lingkungan hidup dan melanjutkan praktik yang sangat baik ini.

 

 

 

 

View this post on Instagram

Planting and Harvesting 🌾 . . What a beautiful process ? Thank you so much oh Lord for such flourishing land and also blessing that we received 🙏 . . Tanah Kalimantan dimana saya dan keluarga saya tinggal adalah tanah yang subur dan luar biasa menghasilkan. Selain kaya akan hutannya yang masih alami, tanah ini juga berkonstribusi terhadap kelangsungan hidup manusia dengan menyediakan hasil kebun berupa karet, juga hasil bercocok tanam seperti ubi-ubian dan juga padi . . Cara bercocok tanam keluarga dan saudara-saudari saya di kampung memang kebanyakan masih tradisional, tapi hal ini dilakukan untuk menjaga agar keseimbangan alam tetap aman dan harmonis dengan manusia dan makhluk yang tinggal didalamnya . . Tiada yang lebih indah selain ucapan syukur untuk kemurahan Tuhan dan tentu saja alam Kalimantan yang luar biasa ini . . Semoga petani-petani kita selalu sejahtera hidupnya ! 🙏 #petani #Indonesia #KalimantanTengah #Ampah #dayak #padi #panen #tanam #cocoktanam #tamiyanglayang #barombot #kalimatan #dayakmaanyan #budaya #menanam #padipadian #sawah #ladang #petanitradisional #tradisional #ricefield #indonesia #tanahair #bumi #tanahdayak

A post shared by Maria Frani Ayu (@ayufrani) on

Perbanyakan makan sayur alami, yang ditanam sendiri dengan menggunakan pupuk alami.

Saya hal penting lagi yang saya pelajari dari orang tua saya adalah kebiasaan mereka untuk mengajarkan kami mengenai bercocok tanam. Ayah saya adalah orang yang sangat luar biasa dalam hal bercocok tanam. Kami di rumah memiliki kebiasaan bangga dengan mengonsumsi makanan hasil dari kebun sendiri dan hasil olahan sendiri. Jika ingin makan sayur, tinggal petik di kebun hasil tanam sendiri.

Kebiasaan ini menjadi bagian penting dalam diri saya juga. Saya menjadi lebih menyukai makanan dari tumbuh-tumbuhan jika dibandingkan dengan makanan yang berasal dari hewani. Saya juga sangat bersemangat untuk mengolah bahan makanan yang datang dari hasil bercocok tanam sendiri.

Adalah mimpi saya untuk memiliki kebun kecil untuk bercocok tanam sendiri. Seperti Bahasa Ayah saya, memiliki kebun sendiri, mengolah sampai memberikan hasil sendiri adalah upaya yang sangat membanggakan.

 

 

 

 

 

Mencintai hutan.

Tinggal dan besar di tanah Kalimantan membuat saya sangat menghargai hutan. Hutan benar-benar adalah Ibu dan sumber kehidupan. Saya tidak akan bisa menjadi seperti sekarang kalau bukan karena hutan tempat tinggal saya.

Saya hidup dan dibesarkan dalam pelukan penuh kasih dari hutan di Kalimantan. Saya seharusnya berterima kasih dengan menjaga dan melestarikannya. Ia bukan ?.

Tapi, kenyataannya saya masih belum mampu melakukan aksi yang saya harapkan. Pada saat ini, kebakaran hutan, eksploitasi hutan di bumi Kalimantan masih sering terjadi. Kerusakan terjadi dimana-mana dan saya hanya bisa menyaksikan sampai saat ini. Sungguh sangat menyedihkan! Saya berharap agar saya dapat melakukan sesuatu yang lebih baik kelak.

 

 

 

Ikut serta dalam organisasi-organisasi yang memiliki visi yang sama atau menginisiasi bergeraknya organisasi dalam visi untuk menyelamatkan planet bumi.

Sebagai anak yang cukup pendiam dan tidak suka jalan-jalan sewaktu SMA dan berlanjut sampai kuliah, adalah mimpi saya untuk ikut serta dalam aktivitas berorganisasi dengan visi yang sejalan dengan visa saya pribadi. Sayangnya memang, saya lebih memilih untu sibuk berdiam diri di perpustakaan dan membatasi aktivitas harian yang saya miliki.

 

 

View this post on Instagram

#Belajar, kegiatan yg memerlukan banyak energi!. Mempelajari konsep & keterampilan baru sekaligus membuka jalur neuron baru didalam otak. #Belajar jga membutuhkan keseimbangan antara istirahat dan input data kedalam mesin penyimpan dan pemograman alami hasil ciptaan Tuhan yg disebut, Otak. #Istirahat adalah waktu yg sangat penting bagi otak, karana pda saat inilah, setiap informasi yg masuk dapat dikoding dan disimpan di kamar2 penyimpanan informasi. Kdang kita menemui keadaan dimana otak kelelahan karena kerja keras memproses informasi. Implikasi dri keadaan ini adalah bosan, tdk ada #inspirasi dan rasa kelelahan yg susah hilang. Mengobati keadaan #lelah seperti ini dpat dilakukan dgn mendekatkan diri dgn keindahan #lingkungan dan #alam. Warna #hijau yg muncul dari tumbuh2an memberi tambahan #energi #positif, melegakan rasa #lelah dan membawa tambahan energi untk proses penyimpanan informasi. @stikessuakainsan_offical dengan konsep lingkungan hijaunya, memberikan ruang terbuka untk mendamaikan pikiran dan menstabilkan gelombang otak yg tidk teratur karena kerja yg berat. Lingkungan hijau ini sudh lama digagas, bukan hanya untk kepentingan estetik bangunan sekolah. Tpi lebih untuk keseimbangan jiwa dan badan. Koneksi antara manusia dan ciptaan Tuhan lainnya, yg juga koneksi manusia dengan Tuhannya. #stikes #stikessuakainsan #sekolahperawat #banjarmasin #kalimantantengah #perawat #perawatindonesia #mahasiswakeperawatan #mahasiswakeperawatan #gedungsekolahkeperawatan #keperawatan #sekolahtinggi

A post shared by Maria Frani Ayu (@ayufrani) on

Pada saat ini sudah sangat banyak organisasi-organisasi yang bergerak dalam bidang penyelamatan lingkungan hidup dan planet bumi. Tinggal keinginan kita sekalian untuk ikut serta dalam kegiatan ini dan berpartisipasi aktif didalamnya. Organisasi-organisasi ini bahkan sangat banyak dan mudah untuk ditemukan di social media. Beberapa organisai yang menjadi rekomendasi saya adalah earthday.org , Selamatkanbumi.com, WWF Indonesia, Dietkantongplastik.info dan masih banyak organisasi-organisasi yang bisa kita ikuti.

Demikianlah hal-hal sederhana yang bisa saya bagikan untuk teman-teman sekalian. Semoga bisa menjadi inspirasi untuk kita sekalian.

Saya percaya bahwa teman-teman pembaca sekalian pasti memiliki caranya sendiri untuk menjaga bumi kita ini. Silahkan membagikannya pada kolom komentar, kita akan bisa saling memperkaya nantinya.

Keep writing!

Semangat menulis! dan salam hangat dari saya selalu.

Sebagai bonus, sempatkan diri untuk menyimak Video menarik mengenai Bumi milik Lil Dicky.

 

Iklan

13 comments on “Apa yang bisa kita lakukan untuk merayakan #haribumi ?”

  1. Terima kasih sharing dan informasinya, Mbak Frani 🙂

    Yuk semangat, bawa goodie bag, matikan lampu dan air bila tidak dipakai, dan menghabiskan makanan sendiri 😀

    Suka

  2. Ini juga adalah salah satu tawaran yang pernah Ayu baca, Kak.

    Teknologi, sebaiknya tidak banyak digunakan dan orang-orang kembali hidup dengan alam. Mendekatkan diri dengan alam secara total dan menghindari sebanyak mungkin kontak dengan teknologi apapun, bahkan tidak untuk televisi.

    Tapi, ini adalah solusi yang sangat mustahil rasanya dilakukan pada jaman ini. Ia ngak, kak ?

    Suka

  3. Terima kasih, Luna.

    Aminn….Demikian pula-lah harapan saya. Semoga kita bisa menjaga dan melindungi bumi kita yang merupakan rumah kita bersama.

    Suka

  4. Ia, Kak.

    Hayo rayakan! Tidak perlu wah-wah, rayakan saja dengan melakukan hal-hal kecil dan sederhana. Mulai ikut diet plastik, menanam pohon, atau yang paling sederhana, menyebarkan informasi penting perihal ‘bagaimana bisa menyelamatkan bumi’. Kalau mau lebih besar lagi, mungkin dengan meng-edukasi orang-orang disekitar kita. Akan sangat asik kalau begini, bukan ?.

    Semangat utnuk menyelamatkan bumi!

    Suka

  5. Terima kasih banyak Phebie..
    Benar, ada banyak PR yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan bumi. Kita harus bergandengan tangan dalam satu visi dan misi untuk mencapai tujuan.

    Kasihan, karena planet ini satu-satunya planet yang bisa kita tinggali.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s