Materi Apik, Menarik dan Menggugah dari Erik Kunto : Perkembangan dan Penerapan Sains Terbuka di Indonesia

3 komentar

Open science, konsep pemikiran yang berhubungan dengan keterbukaan informasi, bebas dan mudah bagi banyak orang. Prinsipnya, orang yang bisa belajar dan mengakses informasi dengan bebas, demikian juga dengan pengelolaannya. Ide mengenai open science ini, dipaparkan secara eksplisit oleh Eric Kunto Aribowo dalam pelatihan tutor RJI ke-tiga di Malang, 26 Juli 2019.

Baca juga tulisan yang berjudul:

 

Pak Erik Kunto
Erik Kunto Aribowo. Dokumentasi Relawan Jurnal Indonesia (RJI), Juli 2019.

 

Eric Kunto Aribowo adalah seorang Ambassador untuk Center of open Science Indonesia. Ini merupakan komunitas yang mengadvokasi gerakan open access di Indonesia dan mengkaji berbagai kemajuan dari gerakan open access di dunia dan Indonesia secara lebih specifik.

Sebelum lebih jauh melangkah, mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan open access. Apa itu Open Access (OA)?. Open access atau Akses terbuka dalam terjemahan kasar Inggris-Indonesia adalah sebuah praktik dan juga system. Lebih specifik, open science dapat diartikan sebagai,

Open science is the practice of science in such a way that others can collaborate and constribute, where research data, lab notes and other research process are freely available, under terms that unable reuse, redistribution and reproduction of the research and its underlying data and methods (Foster).

Poin-poin penting dalam presentasi

Pak Eric Kunto Ariwibowo (Selanjutnya akan saya sebut sebagai Eric Kunto) dalam presentasinya memaparkan beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam perkembangan open access di Indonesia.

Beberapa yang berhasil saya rangkum dan saya refleksikan tersedia dalam tulisan ini.

Pertama, “keterbukaan” publikasi, terutama yang berkaitan dengan penelitian di Indonesia masih sangat minim. Masyarakat ilmiah masih sangat terdoktrin dengan kepercayaan bahwa hasil peneltiannya harus ter-publish pada jurnal bereputasi (dengan index seperti scopus) meskipun penelitian itu tidak bisa diakses oleh masyarakat.

Kedua, Eric Kunto membawa angin segar bagi mereka yang tidak terlalu terpaku dan tidak terlalu kaku dengan publikasi di jurnal dengan index scopus. Tapi, Eric Kunto juga membawa pedang yang menusuk bagi mereka yang mendewakan indeks scopus. Ide ini sangat menarik untuk didalami lebih lanjut sehingga saya memutuskan untuk menuliskannya di sini.

Sebelum lebih lanjut menggali mengenai open access, Eric Kunto membawa peserta seminar untuk mengulik sedikit informasi yang berkaitan dengan publikasi di Indonesia. Tahun lalu, Kemenristekdikti mempublikasikan berita mengenai publikasi ilmiah di Indonesia. Pada tahun 2018, tercatat 16.528 publikasi dari Indonesia bersertifikat internasional. Jumlah ini hanya berbeda sedikit dengan Malaysia yang memiliki jumlah publikasi sebanyak 17.211. Jumlah ini menempatkan Malaysia sebagai negara yang memiliki jumlah publikasi terbanyak e-asia tenggara. Berdasarkan data ini, pemerintah berkomitmen untuk menjadikan Indonesia sebagai negara di Asia Tenggara dengan jumlah publikasi yang bersertifikat. Usaha yang sudah dilakukan pemerintah adalah dengan menekankan pendanaan penelitian dengan menerapkan pertanggungjawaban penelitian berbasis hasil bukan lagi hitungan anggaran. Lebih lanjut, Bapak Muhammad Nasir menekankan bahwa penelitian perlu mendapat tempat di masyarakat luas. Penelitian seharusnya dapat digunakan oleh masyarakat dan mampu meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat.

Pernyataan Menristekdikti yang menekankan mengenai penelitian yang harus ‘mendapat tempat di masyarakat luas’, menjadi informasi kunci yang mengarah pada open access informasi, termasuk dalam pelaporan hasil penelitian.

Ketiga, Pendangan lainnya yang menarik adalah paparan mengenai dosa yang terkandung dalam pemujaan terhadap indeksisasi Scopus. Erik Kunto memaparkan data mengenai total jumlah karya Indonesia yang terindeks oleh scopus tapi tidak bisa dibuka untuk umum dalam artian tidak dapat diakses secara free oleh banyak kalangan (berlangganan). Fakta ini tentu saja sangat merugikan banyak kalangan, terutama oleh masyarakat. Terutama jika penelitian yang dilakukan tersebut dananya bersumber dari masyarakat.

Pelajari lebih lanjut atau baca sekilas mengenai Scopus dengan meng-klik link mengenai Learn about Scopus dan fact sheet mengenai scopus dan layanannya.

Erik Kunto juga memaparkan bahwa Indonesia sebenarnya menjadi potensi besar untuk investasi open access information dan juga jurnal. Hal ini tidak lepas dari jumlah penduduk di Indonesia yang sangat banyak dan juga masyarakat ilmiah yang juga berbanding lurus dengan jumlah penduduk. Indonesia juga berpotensi sangat besar untuk memiliki banyak jurnal open access, karena data juga menunjukkan bahwa publikasi penelitian di Indonesia masih dipatok dengan biaya publikasi yang sangat-sangat murah (Data menunjukkan bahwa ada 1.100 jurnal yang tidak memungut biaya penerbitan atau gratis). Berlimpahnya naskah publikasi dan juga menjamurnya jurnal-jurnal di Indonesia, selain memberi dampak positif juga akan memberikan dampak negative, persis seperti mata uang dua sisi. Hal yang saya pribadi takutkan adalah, berlimpahnya jurnal ini tidak berbanding lurus dengan kualitas jurnal dan takut ‘tidak ada yang membaca’. Akan sangat buang-buang tenaga dan sumber daya pastinya. (Tapi tentu saja tidak ada yang sia-sia).

Keempat, menginformasikan hasil penelitian, gunakan cara-cara yang sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Jadilah anak gaul dalam proses penyampaian informasi, terutama dalam hal penyampaian hasil penelitian, gunakan media-media social yang memang bisa mendukung. Erik Kunto bahkan mendorong agar melaporkan hasil penelitian dengan menggunakan gambar, youtube, podcast. Ini akan menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dipelajari.

Mengenai hal keempat ini, saya bisa relate dengan sangat, karena saya termasuk orang yang suka mengeksplor cara belajar yang modern. Beberapa penelitian saya dalam bidang pemberian pembelajaran adalah mengenai pengunaan media-media unik seperti Google Classroom, Line bahkan menggunakan Media Audio-Visual untuk mengajarkan intervensi/terapi.

Kelima, Berkenalan dengan platform untuk berbagi mengenai riset dan publikasinya. Beberapa platform yang diperkenalkan oleh Erik Kunto adalah OSF yang merupakan konten yang free, bersifat open platform dan sangat membantu dalam melakukan kolaborasi dengan siapapun yang memang berminat. Saya sendiri mengenal platform lain seperti research gate yang sudah banyak membantu saya dalam pencarian bahan literature review dalam beberapa waktu.

Pembicara bahkan membagikan beberapa link belajar yang sangat menarik dan menjadi salah satu dalam daftar bacaan saya. Beberapa diantaranya adalah Open Science Traning Handbook dan Open Science Knowledge Base.

Yeap, demikianlah lima hal penting yang bisa saya catat dari presentasi yang apik, menarik dan menggugah milik Pak Erik Kunto. Saya belajar, dan saya harap mereka yang membaca tulisan ini pun bisa belajar, sama seperti saya.

Informasi mengenai topik ini lebih lengkapnya dapat dilihat pada link berikut https://www.erickunto.com/blog/perkembangan-penerapan-sains-terbuka-di-indonesia/.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Erik Kunto yang sudah membagikan materinya secara free kepada public. Saya belajar banyak dari materi presentasi Beliau. Go, check blog professional Beliau. Saya senang berlama-lama nongkrong membaca karya dan juga materi ajar yang Beliau bagikan.

3 comments on “Materi Apik, Menarik dan Menggugah dari Erik Kunto : Perkembangan dan Penerapan Sains Terbuka di Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s