Tantangan menjadi seorang minimalis: Menahan keinginan berbelanja

13 komentar

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menuliskan tentang hidup minimalis seperti Menyoal tentang Gaya Hidup Minimalis dan tulisan tentang Marie Kondo dan Fumio Sasaki: Inspirasi Gaya Hidup Minimalis ala Orang Jepang. Sejak saat itu, saya benar-benar berniat untuk menerapkan gaya hidup teratur dan sedikit ala-ala minimalis seperti yang digambarkan dalam tulisan saya tersebut.

Alasan saya sederhana, saya hanya ingin hidup dengan sederhana. Itu saja. Mungkin, saya tidak akan se-minimalis seprti Fumio Sasaki. Saya tidak akan sanggup, tapi setidaknya saya bisa hidup tanpa bergantung pada hal-hal material yang tidak terlalu penting dan menaruh banyak perhatian saya pada hal-hal lain yang lebih penting dan lebih membutuhkan banyak waktu saya. Misalkan hubungan interpersonal dengan keluarga, sahabat dan juga pekerjaan.

Memilih untuk belajar hidup sederhana dan sedikit ala-ala minimalis membawa saya pada tantangan baru. Saya dihadapkan pada godaan untuk membeli sesuatu. Sesuatu ini bisa dalam bentuk apa saja. Bisa sebuah pena, sebuah buku bahkan sampai sebuah sepatu.

Saya ingat, ketika saya masih belum mengenal tentang hidup teratur dan sederhana (Saya lebih nyaman mengatakan hidup teratur dan sederhana ketimbang hidup minimalis),saya begitu nyaman dengan pikiran ‘ingin membeli sesuatu’. Ketika keinginan untuk membeli sesuatu muncul, saya menyiapkan diri, melihat sumber daya (dana) yang ada, lalu lekas membeli sesuatu ini. Tidak ada beban. Saya tidak merasa ada masalah ketika saya membeli barang dan barang ini berjejer dengan barang-barang saya yang lain. Saya merasa tidak masalah dengan (banyaknya) barang yang bertumpuk di tempat tinggal saya.

Namun, setelah saya mengenal konsep hidup teratur dan sederhana, semuanya berubah!. Saya menjadi cukup tertekan ketika muncul keinginan untuk membeli sesuatu. Keinginan ini muncul entah karena memang hanya ‘lapar mata’ atau memang membutuhkan sesuatu ini (meskipun tidak seratus persen membutuhkan). Saya cukup tertekan ketika harus menekan perasaan untuk membelanjakan uang yang saya miliki.

Ada sederet pertimbangan yang keluar dari pikiran saya. pikiran saya seperti sedang menyidang saya sambil ngotot memimta jawaban atas pertanyaan,

“Apakah sesuatu (barang) yang ingin kau beli ini perlu?”,

“Apakah benda ini bisa memberimu kepuasan, kebahagiaan dan kedamaian?”,

“Apakah benda ini bisa membuatmu menghasilkan sesuatu ?”,

“Apakah kau memiliki benda (barang) yang memiliki fungsi yang sama, yang bisa kau gunakan tanpa harus membeli baru ?”.

Pertanyaan-pertanyaan ini membuat saya harus sejenak berperang dengan diri saya sendiri, dan memaksa saya untuk mengulur waktu memberikan keputusan. Meskipun saya harus akui, karena konflik dalam pikiran saya ini, saya akhirnya mengambil keputusan “Tidak membeli” barang yang saya inginkan ini.

Kerap kali, ketika saya melewati toko yang menjual barang yang ingin saya beli ini, saya hanya lewat dan sesekali mampir, tapi tidak membeli. Terus saja demikian. Saya bahkan pernah sangat memimpikan barang ini, saya bahkan sudah memiliki visi saya menggunakan barang ini dengan nyamannya. Tapi apa yang terjadi, saya tetap berpegang teguh pada keputusan saya. Saya tidak membeli.

Saya tahu, saya pasti sangat membuat kesal penjual barang. Saya sudah memegang, menanyakan harga bahkan sudah menawar barang. Tapi, saya malah pergi begitu saja dan tidak jadi membeli.

Merenungkan perilaku saya seperti ini, sungguh menyedihkan. Saya menyiksa diri saya sendiri, hanya karena keinginan saya. Saya bahkan pernah menyalahkan ‘keinginan’ saya ini. Mengapa saya bahkan memiliki keinginan untuk memiliki benda ini. Saya seharusnya tidak memiliki keinginan. Saya bahkan memikirkan sampai kesana.

Saya pernah mendiskusikan mengenai keinginan saya untuk membeli barang dan kuatnya prinsip saya untuk tidak membeli barang tersebut kepada sahabat saya. Sahabat saya hanya berkata, “Mengapa kau tahan menyiksa dirimu sendiri selama ini ?”. Sahabat saya ada benarnya juga. Saya tidak bisa menyalahkan keinginan sahabat saya untuk melihat saya lepas dari derita dan menikmati hidup (Menikmati hasil kerja keras saya sendiri).

Saya juga pernah berpikir, “Apakah saya ini seorang yang tersesat dengan paham hidup teratur dan sederhana (Hidup minimalis) ?”. Upaya untuk menjawab pertanyaan ini saya lewatkan begitu saja dalam pikiran. Lain kali pikir saya, lain kali akan saya jawab.

Demikianlah kawan, curahat hati seorang manusia yang ingin hidup lebih sederhana tapi masih saja berkonflik dengan keinginan dalam dirinya sendiri. Saya merasa ini adalah pelajaran. Sesuatu yang harus saya hadapi dan pelajari untuk kedepannya.

Saya heran, bagaimana orang seperti Fumio Sasaki dan para minimalis di luar sana mampu bertahan dari keinginan untuk memiliki barang lain diluar barang yang mereka miliki. Apa yang mendorong mereka begitu kuat dan teguh menyayangi barang yang ada pada mereka saat ini dan tidak menggantinya dengan barang baru?

Semoga harimu menyenangkan, Kawan.

Iklan

13 comments on “Tantangan menjadi seorang minimalis: Menahan keinginan berbelanja”

  1. Wah, Ia Kak. Saya orangnya mudah bosan, jadi sering gonta ganti tampilan blog. Sesuaikan dengan suasana hati.

    Ia, minimalism itu bukanlah gaya hidup yang menggunakan kata ‘harus’ dan ‘harus’. Ini adalah gaya hidup yang harus terus dimodifikasi oleh mereka yang memilih hidup demikian. Saya pun masih dalam proses, tidak bisa langsung. Menurut saya sih demikian, Kak hehehe.
    Tapi, saya beneran niat mau memilih gaya hidup ini. Lebih tepatnya ingin memilih gaya hidup yang kaya akan unsur ‘penghargaan’ dan menghargai benda-benda yang ada di sekitar/yang dimiliki.

    Suka

  2. wow, tampilan blognya baru nih.

    btw, untuk menerapkan sisi minimalism untuk diriku belum bisa kalau masih banyak kebutuhan ini itu. kalau dah berkecukupan baru bisa. that’s what I think

    Disukai oleh 1 orang

  3. Wah, ini jawaban yang sangat filosofis sekali. Mungkin, Mbak. Selain karena kecintaan pada ruang kosong, mungkin juga adalah besarnya peghargaan mereka pada benda-benda dalam jumlah sedikit yang mereka miliki. Entahlah, siapa yang tahu, Mbak.

    Suka

  4. Saya juga masih dalam tahap pengen dan masih belajar satu persatu, Mbak. Tidak bisa langsung sekaligus ini, berat hahahaha.
    Minimalis ala saya saja nanti jadinya.

    Nah, salah satu tujuan ketertarikan saya pada gaya hidup minimalis ini adalah bagaimana mengontrol nafsu berbelanja. Ah, menarik pokoknya, Mbak.

    Suka

  5. Pengen banget jadi minimalis, tapi aku nya suka laper mata 😭 aku pernah beli sesuatu agak mahal untuk reward karena udah lama menabung, eh ujung2nya beli banyak, mahal dan ga terkendali

    Disukai oleh 1 orang

  6. Wah, ini masukan yang sangat menarik, Mbak Luna.
    oh iya, rasanya saya pernah membaca tulisan Mbak Luna juga mengenai membeli barang yang mahal (dan bermerek) ketika berbelanja. Tidak perlu sering, tapi barang yang dibeli sudah berkualitas bagus.

    Terima kasih, Mbak.

    Disukai oleh 1 orang

  7. Sesekali beli sesuatu yg “agak mahal” bagi diri sndr sbg reward gk mslh sih sbnrnya. Kan cuma sesekali. Kecuali kl keseringan aplg sampai kebutuhan pokok dikalahkan demi memenuhi keinginan beli barang yg sbnrnya gk penting2 amat 😊 trmksh atas sharingnya.

    Disukai oleh 1 orang

  8. Kalau pengin beli lebih baik beli saja mbak, selama tidak berlebihan dan tidak mengganggu anggaran kebutuhan pokok. Sesekali kita juga perlu memberi reward kepada diri sendiri sebagai hasil dari bekerja. Menurutku begitu, mbak Ayu. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s