Doa Pagiku, mungkin bukan Doa Pagimu

8 komentar

Oleh Dares (Bukan nama sebenarnya). 

Setiap awal pagi, di rumah kedua ku, dilantunkan doa dengan kepercayaan seluruh penghuninya. Doa indah dengan renungan yang baik, yang dibacakan dengan suara tertata indah, lengkap dengan senyuman palsu seluruh penghuninya.

Kadang terucap doa dan keinginan yan bergema seperti ini:

Ya Allah, berilah kami kemampuan baru untuk menghayati iman dan mengamalkan kasih (In Omnibus Caritas) sepanjang hari ini.

Bimbinglah kami sepanjang hari ini; arahkanlah pikiran dan budi kami, jangan sampai akal merancang pikiran benci dan dendam, tindakan marah dan cemburu, keinginan jahat dan mementingkan diri sendiri.

Jagalah lidah dan bibirku, kami, jangan sampai terucap kata yang menyakitkan hati, kata yang kejam menusuk rasa, kata yang tidak benar, kata yang menghina.

Tuntunlah tingkah laku dan perbuatan kami, supaya sepanjang hari ini saya dan kami bekerja sebaik baiknya, tidak pernah jemu menolong sesama, selalu ramah dan tahu terima kasih, menghayati iman dan mengamalkannya dengan sekuat tenaga, tenaga kami

Inilah doa yang ingin terucap setiap hari, ketika bersama berkumpul untuk menyambut hari. Tapi, yang terucap dalam jumlah tahun demi tahun, hanyalah sebatas ini,

Allah, Bapa kami, pencipta manusia dan alam semesta, kami bersyukur kepadaMu, bahwa dengan bekerja kami boleh ambil bagian dalam  karyaMu untuk mendidik dan menyejahterakan uamat manusia. Amin”.

………

Tugas Tridharma mendidik Mahasiswa, tugas seorang mahaguru tidak wajib 100% dilakukan. Bahkan kadang, dianggap wajar berlalu tidak dikerjakan, dan digantikan penugasan lain.

Selembar kertas untuk bisa ditukar dengan makanan dan semua keinginan duniawi kadang terlihat wajib dan menjadi kewajiban, selain hak.

Untuk bisa menjadi lebih baik dan banyak teman, kadang harus berpura-pura. Pura-pura senang, pura-pura baik.

………

Senyuman ular itu jahat!

Mereka semua tersenyum saat selesai berdoa dan memulai aktifitas. Lalu, selepas doa, mereka kembali seperti aslinya.

Semuanyanya sibuk, sibuk hanya dengan dirinya sendiri.

Sibuk!

Sibuk menyelematkan diri, entah apa yang dikejar.

Si kertas multi guna yang berubah menjadi jimat jahat, penyihir semua boneka!

Ular akan terus mengejarnya, dan mematuk semua penghalangnya!

Racun!

Catatan Saya:

Saya menerima naskah tulisan ini beberapa waktu yang lalu dari seorang sahabat. Ketika menerimanya, saya bisa langsung terhubungan dengan apa yang Ia rasakan ketika menulis tulisan ini. Jujur saya sangat prihatin.

Lebih lanjut, ketika saya membaca tulisan ini. Saya begitu sangat tersentuh dengan doa yang Ia tulis. Saya bisa melihat betapa indahnya hubungan spiritual yang Ia jalin dengan Tuhannya, dan itu juga secara langsung menunjukkan kepada saya betapa tulus dan lembut hatinya.

Ia mungkin sedang berada dalam keadaan terluka, dan sedih karena pengaruh luka yang Ia rasakan. Tapi, Ia berusaha untuk sabar dan tabah menerima rasa sakit yang Ia alami. Ia pun Manusia, dan dengan keterbatasannya Manusia, Ia pun mengeluh.

Saya berterima kasih padanya, pada sahabat saya ini. Saya berterima kasih karena kesediaannya untuk terbuka dan jujur dengan perasaannya. Saya berterima kasih karena Ia sudah sangat kuat dan berani menanggung beban yang diletakkan pada pundaknya. Saya juga berterima kasih atas keberaniannya untuk membagikan apa yang Ia rasakan pada dunia.

Saya berdoa di dalam hati, Semoga kedamaian menyelimuti hatinya pada saat ini.

Bless her.

Berbicara mengenai tulisan ini, ada tiga bagian yang terpisah pada tulisan ini. Sekilas nampak tidak terhubung, tapi kalau di cerna lebih dalam lagi, ketika bagian tulisan ini saling terhubung dengan sebuah kisah yang lengkap. Kisah tersebut menurut saya sangat ironis dan menyakitkan hati.

Penulis memulai dengan melakukan pengaduan kepada Tuhan atas apa yang Ia alami. Indahnya, Ia pun tidak hanya memikirkan mengenai dirinya sendiri, tapi Ia memikirkan orang lain sembari meletakkan dirinya pada tempat tertentu pula.

Pada bagian kedua, Ia mulai membuka diri dan menyatakan dengan gamblang alasan doa yang Ia ucapkan. Bagian kedua tulisan ini menyokong bagian pertama. Ada kisah yang terajut di sana dengan ikut serta menonjolkan tokoh cerita.

Pada bagian ketiga, penulis semakin terfokus. “Ular” yang Ia gambarkan pada tulisan ini jelas menunjukkan karakter, seorang tokoh (dan mungkin juga beberapa tokoh) yang menjadi objek pembicaraannya dan menjadi inspirasi di balik tulisan ini.

Yeap, demikian sedikit ulasan dan catatan dari saya. Apakah pembaca setuju ?, atau pembaca memiliki pendapat sendiri.

Yuk berdiskusi.

Iklan

8 comments on “Doa Pagiku, mungkin bukan Doa Pagimu”

  1. Walaupun doa ini dilantunkan oleh orang yg berbeda keyakinan dgn saya, tp ketika saya baca tulisan ini smpai hbs, saya bs merasakan sprtinya ada sesuatu yg “menyakitkan” disini. Aplg dijelaskan bhw stlh mengucap doa itu, semua kembali seperti biasa. Sibuk dgn diri sndr. kl persepsi saya, orang bs terlihat khusyuk ketika berdoa tp kita tdk prnh tau dlm hatinya sprti apa. Kl dlm agama saya, orang bs saja terlihat khusyuk ketika sholat, orang bs saja terlihat gemar bersedekah, tapi kita nggak tau dlm hatinya apa bnr dia melakukan ini semua hny karena Allah (lilahi ta’ala) atau cuma pengen keliatan baik di mata orang lain. Krn apa yg tersembunyi dlm hati kita yg tau cuma kita sndr dan Tuhan.

    Disukai oleh 2 orang

  2. Wah, terima kasih banyak Mbak Luna. Ini benar-benar pendapat yang sangat indah dan menarik.

    Ya, saya sangat setuju. Ada hal yang sangat menyakitkan di sini. Saya juga sangat tertarik dengan pendapat Mbak mengenai, apa yang dikerjakan dan apa yang menjadi niat di dalam hati. Mungkin bahasanya adalah ‘kemunafikan’, ya ?.

    Sekali lagi, terima kasih sudah mampir, Mbak.

    Disukai oleh 2 orang

  3. yep, bisa dibilang ‘munafik’ juga sih orang2 kyk gtu. soalnya apa yg dia ucapkan dan tampilkan dg perbuatan beda bnget sm apa yg ada di hatinya. omongannya, perilakunya mgkn emg ‘keliatan’ baik sih, tapi hatinya menyimpan niat jahat. ya, sama aja bohong kan?

    Disukai oleh 2 orang

  4. Ia, kalau dilihat dari gambaran yang diceritakan oleh Mbak Luna, kita tidak ragu untuk menyebut bahwa orang-orang seperti ‘ini’, adalah orang yang munafik.
    Kasihan.
    Saya hanya bisa berdoa bagi mereka, semoga energi positif menyelimuti mereka terus menerus.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Dan aku tahu dia siapa 😊
    Sudah Dua Kali ku dengar ia melantunkan doa itu, berbahagialah orang yang meletakan harinya bersama Tuhan 😇😊

    Disukai oleh 1 orang

  6. Halo, Lan.
    Ia, besar kemungkinan dirimu tahu. Yeap, dan mungkin Lana bisa membantu juga untuk meringankan bebannya.

    Terima kasih sudah mampir, Lan. Kapan menulis di Blog lagi ?

    Disukai oleh 1 orang

  7. ya selama saya bisa membantu, tentunya Mar.

    iya akhirnya, bisa mampir kembali, dalam waktu dekat akan menulis kembali, sekarang lagi membenahi konten didalamnya 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s