Uji Kompetensi Ners Indonesia (UKNI): Persiapan yang matang, kunci kelulusan !

5 komentar

Mahasiswa/I Program Studi Ilmu Keperawatan pasti sangat familiar dengan yang namanya Uji Kompetensi Ners Indonesia (UKNI). Uji kompetensi ini seperti ujian kelulusan yang sangat melekat erat dalam ingatan dan juga menjadi momok yang sangat menakutkan untuk siswa/I SMP dan SMA yang berniat untuk lulus. Ujian kompetensi ini menjadi semakin menakutkan lagi karena ada standard kelulusan yang harus dicapai, kalau tidak mencapai standart kelulusan ini, maka Mahasiswa/i yang bersangkutan akan mendapatkan satu kalimat pernyataan “Tidak kompeten”.

Bayangkan saja, menempuh pendidikan keperawatan yang sangat tidak mudah dan sangat tidak murah, lalu harus membayar masa-masa berat dan sulit ini hanya dengan satu kalimat ini, “Kompeten” atau “Tidak kompeten”.

Tidak heran, minat untuk menjadi perawat semakin tahun semakin menurun. Ya, saya menuliskannya dengan benar, minat siswa/siswi SMA untuk mendaftarkan diri menjadi seorang perawat menurun. Tulisan dari Indonesian Nursing Traniners/Syaifoel Hardy yang berjudul “Minat Jurusan Keperawatan Menurun: Untung dan Rugi” cukup memberikan jawaban ‘mengapa’.

Okay, lanjut.

Saya sendiri, memiliki pengalaman yang sangat berkesan mengenai penyelenggaraan UKNI yang pertama kali di Indonesia. Saya lulus dari pendidikan perawat pada tahun 2013, pada tahun yang sama uji kompetensi perawat mulai digelar. Saya dan sahabat-sahabat saya waktu itu adalah orang yang beruntung untuk merasakan untuk yang pertama kalinya ujian kompetensi ini dilakukan di wilayah Kalimantan Selatan. Untung saja, saya berhasil lolos dan akhirnya bisa mengurus surat tanda registrasi (STR) sebagai tenaga kesehatan, Perawat.

Persyaratan Peserta Ujian

Ujian Kompetensi ini memang sangat berbeda dengan ujian negara untuk kelulusan seperti waktu SD, SMP dan SMA. Ada beberap syarat tertentu yang harus dipenuhi. Persyaratan peserta ujian dapat dilihat pada link Registrasi Online Uji Kompetensi Ners yang sudah disiapkan dengan cukup baik oleh pihak Dirjen Pendidikan Tinggi.

Persyaratan Uji Kompetensi peserta

Salah satu syarat untuk mengikuti ujian ini adalah ‘membayar biaya ujian’ dengan jumlah tertentu. Ya, untuk dapat menempuh ujian ini harus ada beban biaya yang ditanggungkan kepada peserta. Besar biaya ini berlaku secara nasional, dari Sabang sampai Merauke. Besar biaya pembayaran ini sudah ditentukan dari pusat (dari sono-nya), mengapa bisa sebesar ini, hummm..Saya pun tidak banyak tahu. Saya memprediksi bahwa sudah ada kalkulasi sana-sini untuk menghasilkan jumlah nominal demikian.

Belajar mengenai Kelulusan dan Kegagalan Uji Kompetensi Ners

Namanya juga ujian, ada dua kemungkinan yang pasti akan ditemui sebagai hasil akhir. Pertama adalah lulus dan yang kedua adalah tidak lulus. Dalam Bahasa UKNI, kompeten dan tidak kompeten.

Saya yakin, akan lebih banyak peserta ujian yang mengharapkan untuk mendapatkan predikat KOMPETEN dibandingkan yang tidak. Nah, untuk bisa memahami mengenai kelulusan ini, penting sekali bagi kita sekalian untuk memahami mengenai setidaknya faktor-faktor atau unsur-unsur apa saja yang bisa mempengaruhi kelulusan UKNI di negara Indonesia kita tercinta ini.

Belajar dari Daerah/Provinsi.

Setiap daerah di Indonesia, sangatlah unik. Masing-masing daerah memiliki karakteristik tertentu yang akan sangat mempengaruhi keberhasilan suatu kelompok bahkan individu.

Salah satu penelitian menarik yang saya temukan, yang ada kaitannya dengan daerah atau provinsi ini adalah penelitian dengan judul “Faktor yang berhubungan dengan kelulusan Uji kompetensi Ners Indonesia (UKNI) di regional Sulawesi” hasil penelitian dari Ayu Hartina, Takdir Tahir, Nurhaya Nurdin, Midawati Djafar. Dalam penelitian mereka, mereka menekankan bahwa kesiapan ujian, kegiatan try out UKNI, prestasi Akademik dan peran institusi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan para Mahasiswa/I untuk menempuh UKNI. Penelitian ini juga menekankan bahwa faktor persiapan adalah faktor yang sangat penting dalam menentukan kelulusan dari UKNI.

Persiapan

Saya sudah menegaskan sebelumnya bahwa persiapan itu sangatlah penting. Persiapan yang dimaksud di sini adalah persiapan secara kognitif untuk menghadapi ujian yang akan datang. Persiapan yang disebutkan dalam penelitian Ayu Hartina dan kawan-kawan adalah persiapan dengan melatih diri menjawab soal-soal prediksi ujian. Selain itu, peranan blue print juga tidak kalah penting. Blue print bertindak sebagai panduan untuk mempelajari soal-soal apa saja yang kemungkinan keluar dalam ujian atau materi-materi apa saja yang menjadi fokus untuk dipelajari secara intensif dan eksplisit.

Pada tahun 2017 yang lalu, Bapak M. Askar, S.Kep,Ns.,M.Kes pernah membagikan mengenai “Blue Print Uji Kompetensi Perawat Indonesia” di blog Bimbingan Uji Kompetensi. Tulisan Beliau dan tautan yang diberikan di sini akan sangat penting untuk dipelajari dan dipahami oleh peserta ujian. Silahkan berkunjung ke blog Beliau untuk melihat apa yang saya maksud.

Pada saat ini, tidak bisa dipungkiri sudah banyak menjamur buku-buku dan sumber-sumber belajar yang relevant untuk belajar dan mempersiapkan diri secara kognitif untuk menghadapi UKNI. Pemerintah bekerja sama dengan berbagai unsur terkait pun sudah menerbitkan secara gratis PEDOMAN PERSIAPAN UJI KOMPETENSI NASIONAL Program Studi Ners yang sangat direkomendasikan untuk dijadikan bahan belajar dasar untuk mempersiapkan diri.

(Secara personal, saya sangat mendukung teman-teman peserta dan calon peserta UKNI untuk banyak mempersiapkan UKNI dengan membaca Pedoman persiapan UKNI yang di susun oleh RISTEKDIKTI ini).

Saya rasa, kalau berbicara mengenai persiapan, kita juga tidak boleh melupakan persiapan secara psikologis dan emosional. Penelitian yang berjudul “Hambatan lulusan Ners dalam menghadapi Uji Kompetensi Ners Indonesia” karya Siti Kholifah dan Wiwik Kusumawati menerangkan dengan cukup unsur psikologis yang dapat menghambat kelulusan dari UKNI di Universitas tempat mereka melaksanakan penelitian. Dalam penelitian keduanya, yang dilakukan secara kualitatif terhadap 10 partisipan, mereka menemukan bahwa kecemasan, keragu-raguan (yang ada hubungannya dengan kemampuan untuk menjawab), fokus untuk belajar merupakan sedikit hambatan yang dirasakan atau dialami oleh para peserta ujian yang tidak lulus ujian.

Masih mengenai persiapan, dalam Penelitian Siti Kholifah dan Wiwik Kusumawati, banyak kali ditemukan kasus peserta UKNI harus menjalani UKNI pada saat Ia masih menyandang status sebagai Mahasiswa/I pendidikan profesi, Ners. Keadaan seperti ini sangat tidak menguntungkan peserta UKNI, karena kebanyakan dari mereka merasa tidak mampu untuk membagi waktu dengan baik dan berkonsentrasi mempersiapkan UKNI. Belum lagi, praktik pendidikan profesi yang masih dalam rentang belum memuaskan dan belum optimal menjadikan mereka pun tidak optimal mempersiapkan diri untuk menghadapi UKNI.

Dalam menjelani masa-masa persiapan, ada hal penting yang tidak boleh kita abaikan, kita menyebutnya sebagai rasa bosan dan jenuh. Ketika rasa bosan dan jenuh ini melanda, kita menjadi sangat tidak tertarik untuk berhadapan dengan apapun yang seharusnya menjadi pusat dari perhatian dan juga kerja kita dalam waktu yang cukup. Salah satu yang mungkin sering kita dengar adalah keluhan terdistraksi oleh handphone dan fitur-fitur di dalamnya. Ketika bosan dan jenuh melanda, kita lalu mengambil handphone, membuka Apps yang ada didalamnya lalu larut dalam permainan distraksi ini, pada akhirnya, lupa tujuan awal, belajar dan mempersiapkan diri untuk mengikuti UKNI.

 Tulisan Nir Eyal mengenai “Want to be less distracted? Try this: Find the fun in tedious tasks” baru-baru ini sungguh sangat menarik untuk dibaca. Nir Eyal menyarankan untuk mencari dan menemukan something fun dari apa yang menjadi rutinitas dan tugas kita pada saat itu. Misalkan pada saat ini kita sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi UKNI dengan mempelajari soal-soal latihan, nah pada saat ini pula kita harus mencari dan menemukan something fun yang akan berfungsi sebagai motivasi internal yang baik untuk terus melaksanakan kegiatan belajar ini. Sebagai contoh, kita menikmati proses belajar latihan soal UKNI karena kita bisa mengetahui banyak hal yang tidak kita pahami sebelumnya, keterbukaan pikiran dan penambahan pengetahuan menjadi something fun untuk kita pribadi.

Kalau kita belum bisa menemukan something fun dalam aktivitas yang kita jalankan, Nir Eyal pun merekomendasikan untuk melihat unsur terpenting dalam kegiatan belajar yang kita kenal sebagai curiosity atau keingintahuan. Rasa ingin tahu adalah unsur paling dasar dalam kegiatan belajar. Rasa ingin tahu ini mendorong dan menggerakkan individu untuk belajar dan menyelesaikan pelajarannya dan mendalami serta mengembangkan apa yang Ia pelajari. Salah satu Tokoh Indonesia yang sangat terkenal dengan rasa keingintahuannya yang besar adalah bapak Baharuddin Jusuf Habibie. Dalam salah satu wawancaranya, Ia menyebutkan bahwa Ia memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar, rasa keingintahuan ini mengerakkan Ia untuk tidak pernah berhenti untuk belajar dan melahap banyak buku bacaan. Belajar dari Bapak Baharuddin Jusuf Habibie ini, alangkah baiknya jika peserta seminar pun bisa menerapkan dan menjiwai rasa ingin tahu ini.

Undangan

Semakin ke sini, saya semakin menyadari bahwa Uji Kompetensi untuk calon perawat itu sangat penting. Sangat malah !. Alasannya sederhana, karena ketika calon perawat sudah lulus, Ia akan merawat makhluk yang disebut sebagai ‘Manusia’ pada keadaannya yang sangat tidak berdaya. Nah, kalau Perawat tidak kompeten, bisa dibayangkan kerugian apa yang bisa ditimbulkan, nyawa taruhannya.

Baca juga: Antara Uji Kompetensi Perawat dan Tidak

Untuk alasan sederhana dan vital ini, saya menjadi orang yang sangat pro dengan pelaksanaan uji kompetensi perawat.

Namanya juga ujian, maka persiapan yang baik dan matang adalah hal yang sangat penting. Persiapan yang baik berarti membuka peluang untuk sukses menjadi semakin besar pula. Nah, untuk kepentingan ini, saya pun mendukung Almamater saya untuk melaksanakan kegiatan seminar dan workshop untuk mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi UKNI.

Informasi mengenai seminar ini dapat diperoleh langsung melalui selebaran yang diedarkan ini (dan silahkan di unduh untuk kepentingan yang baik).

WhatsApp Image 2019-09-09 at 10.53.59 AM

Saya mendorong siapa saja yang berniat untuk belajar dan mempersiapkan dirinya dengan baik untuk mengambil kesempatan yang sangat terbatas ini, untuk belajar bersama tentunya.

Yuk Buruan!

Iklan

5 comments on “Uji Kompetensi Ners Indonesia (UKNI): Persiapan yang matang, kunci kelulusan !”

  1. Hi, Mbak. Ia, sangat tidak mudah menjadi seorang perawat. Tapi, segala usaha dan upaya itu menjadi tidak sia-sia ketika sudah bisa membantu dan meringankan beban mereka yang membutuhkan.

    Terima kasih sudah mampir, Kak.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Hi, Kak. Wah, itu dia ujian OSCE ya, semua petugas kesehatan pasti sangat familiar dengan ujian yang satu ini hahahaha.

    Ia, semua profesi kesehatan sudah harus mengikuti ujian kompetensi ya. Wah, Apoteker sudah sampai ujian praktik ya, kece!. Untuk profesi keperawatan, sampai saat ini baru sampai uji kognitif, untuk motorik masih belum. Sudah ada wacana untuk membentuk ujian praktik juga pada tahun-tahun yang akan datang, kalau terjadi yaaa…selamat dah! hahaha.

    Terima kasih sudah berkunjung, Kak.

    Suka

  3. salam sukses selalu dan salam kenal, peraturan MTKI sejak 2013 sudah diterapkan salam kenal saya dri jurusan kebidanan. kalo tau tentang seminar-seminar khusus kebidanan info dong say, dm ig ya @anjayaniayu

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s