Kesadaran akan kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri: Seminar Report dan Diskusi

2 komentar

Jika tahun lalu, dunia memfokuskan diri pada masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja, pada tahun ini peringatan kesehatan jiwa sedunia ditekankan pada kesadaran akan pentingnya kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri. Tema perayaan kesehatan jiwa ini begitu sangat dalam dan berarti.

Seperti yang sudah saya jelaskan pada postingan saya sebelumnya, Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) wilayah kerja Kalimantan Selatan mengangkat tema yang masih berbicara seputar perhatian pada kesehatan anak dan remaja.

Baca juga: Detaksi Dini dan Pencegahan Perilaku Bunuh Diri di Kalangan Anak dan Remaja Anak dan Remaja: Sebuah DIskusi Ala-Ala.

Saya merasa perlu untuk membagikan hasil seminar yang baru saja terjadi beberapa hari yang lalu, sekaligus beberapa issue penting untuk dijadikan bahan diskusi dan permenungan bersama.

Baca Juga: Garis Besar Konferensi Keperawatan Jiwa Nasional Tahun 2018.

Ringkasan hasil seminar

WhatsApp Image 2019-10-04 at 10.43.23 PM
Gambar 1. Pembicara Seminar

 

Memimpin dengan cara yang GILA!

Terdapat empat orang pembicara dalam seminar ini. Masing-masing pembicara hanya diberikan tiga puluh menit untuk menyampaikan materinya. Saya tahu, hanya tiga puluh menit dan saya sangat mengharapkan lebih.

Pembicara pertama adalah dr. IBG Dharma Putra, MKM. Beliau adalah direktur rumah sakit jiwa sambang lihum. Saya sudah lama terkesan dengan gaya kepemimpinan beliau. Sudah menjadi bukti bahwa rumah sakit jiwa sambang lihum jaya berkibar di bawah kepemimpinan beliau, dan saya sudah lama menyimpan keinginan untuk belajar dari beliau.

Pembicara pertama membagikan beberapa cara untuk dapat me-management rumah sakit jiwa agar dapat berhadapan dengan tantangan yang berada di depan mata. Fokus dari paradigma ini adalah paradigma pemecahan masalah ala Jokowi.

Saya sangat kaget mendengar mengenai paradigma ini. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar.

Paradigma Pemecahan masalah Ala Jokowi RSJ SAmLI.JPG
Gambar 2. Paradigma Pemecahan Masalah Ala Jokowi yang diterapkan oleh Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum (Credit to dr. IBG. Dharma Putra, MKM)

Selepas acara seminar, saya berkesempatan untuk sedikit berbincang dengan beliau dan melakukan foto bersama. Saya katakan bahwa saya sangat terkesan dengan cara penyampaian beliau, terutama bagaimana Ia memimpin rumah sakit jiwa sampai saat ini. Beliau lalu berkata,

“Ah, saya hanya memimpin dengan cara orang gila, gila-gilaan saja” sambil bercanda-canda.

Bagi saya ini adalah jawaban yang sangat luar biasa!.

Saya sedikit paham dengan permasalahan yang kerap menyelimuti fasilitas pelayanan kesehatan jiwa, seperti klinik dan rumah sakit. Saya pun memahami bahwa cara biasa tidak pernah bisa berhasil menjadikan rumah sakit jiwa maju, berkembang dengan pesat dalam waktu yang relative singkat. Tidak ada cara lain selain cara yang berada diluar kebiasaan, cara tersebut adalah cara GILA!. Manajemen yang berlandaskan kegilaan adalah manajemen yang terbukti berhasil merevolusi cara lama dan merubahkan menjadi cara baru yang lebih bisa beradaptasi dengan keadaan pada saat ini.

Cara gila yang dimaksud adalah ketika pemimpin, dan orang-orang yang dipimpin berani untuk mengambil resiko dan tanggung jawab secara bersamaan demi suatu kemajuan.

Banyak orang yang tidak berani mengambil keputusan ketika pekerjaan sudah berada di depan mata. Banyak orang yang tidak berani mengambil resiko dan menjadi pengecut, dan selanjutnya membiarkan keadaan menjadi begitu-begitu saja. Hasilnya, sama sekali tidak ada perkembangan.

Manajemen gila ini, terbukti berhasil!

Mempelajari mengenai kunci kesuksesan manajeman rumah sakit ini memberi saya banyak ide untuk proyek-proyek saya yang akan datang.

photogrid_15707539707936581340343548187113.jpg
Gambar 3. Foto Bersama Pak Dharma, dan Sahabat Saya Lanawati.

Deteksi dini perilaku bunuh diri

Bunuh diri bukanlah diagnosis. Bunuh diri adalah perilaku dan tindakan. Meskipun dalam keperawatan ada mengenal mengenai diagnosa resiko bunuh diri, tapi diagnosa ini menekankan kata “Resiko” pada awal kalimatnya.

Materi kedua ini dibawakan oleh seorang dokter, yang menjadi ketua ikatan dokter (Psikiatri) seluruh Indonesia. Beliau adalah orang yang sangat dihormati dan kepribadian beliau ketika membawa acara ini juga sangat menarik. Beliau adalah orang yang mampu beradaptasi dengan pembicara, terbukti dengan penyederhanaan kata-kata ketika Beliau mempresentasikan materinya.

Inti dari materi yang dibawa oleh pembicara kedua adalah KEWASPADAAN dan PERHATIAN kepada siapapun yang ada disekitar kita. Seorang petugas kesehatan harus peka dengan keadaan yang ada disekelilingnya, tidak boleh gegabah dan selalu was-was. Petugas kesehatan pun harus mampu melakukan observasi dengan cepat, tangkas dan mendalam, tidak boleh lengah dengan tanda dan gejala dalam bentuk apapun. Petugas kesehatan harus menanamkan sikap ingin tahu secara mendalam, dan tidak buru-buru dalam memberikan kesimpulan hasil pengamatannya. Setiap fakta yang terlihat, harus terus menerus di cek dan di re-check sampai menemukan kepastian.

Sikap seperti yang sudah dijelaskan ini, akan sangat membantu petugas kesehatan, terutama perawat untuk melakukan pencegahan terhadap perilaku bunuh diri.

Selanjutnya, sikap yang tidak kalah penting lainnya adalah, sikap selalu siap sedia untuk memberikan waktu bagi orang lain untuk dapat bercerita dan mengungkapkan masalahnya secara personal. Petugas kesehatan harus bisa bersikap professional, konsisten dan dapat dipercaya dalam menjalankan tugasnya kepada masyarakat.

Memberikan sedikit waktu bagi orang lain untuk bercerita dan mengungkapkan masalahnya akan sangat memberikan perubahan yang berarti bagi orang yang membutuhkan bantuan tersebut. Tindakan sederhana ini mencegah seseorang mencederai diri dan melakukan hal-hal tidak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Perawat dan perannya dalam pencegahan perilaku bunuh diri

Berbicara mengenai gangguan jiwa dan masalah mental emosional, kita akan diharapkan pada ‘rentang’ adaptif dan maladaptive. Seseorang yang mengalami masalah maladaptive adalah mereka yang tidak mampu menjadi adaptif terhadap masalah dan keadaan yang dialaminya. Mereka pula adalah mengalami kegagalan dalam proses adaptasinya.

Selanjutnya, seorang yang melakukan atau mempratikkan tindakan bunuh diri sebelumnya akan melakukan tindakan mencederai diri terlebih dahulu. Tindakan mencederai diri tidak memiliki niatan untuk mengakhiri hidup, meskipun ada niatan seperti ini, mungkin tidak langsung.

Saya jadi ingat dengan salah satu tindakan mencederai diri yang terkenal, mungkin teman-teman sangat mengenal tindakan mencederai diri berbalut seni yang disebut sebagai “Tattoo”.

Silahkan baca tulisan milik Tracy Alderman Ph.D tentang Tattoos and Piercings: Self-Injury ?

Beberapa waktu yang lalu, saya begitu sangat terpesona dan tertarik dengan seni untuk menghias tubuh yang diberi nama Tattooing. Tindakan tato, memerlukan tindakan mencederai diri (permukaan kulit) dan ini akan terasa sangat sakit sekali. Dalam salah satu tontonan, saya melihat bahwa ada beberapa orang yang ‘tidak merasakan’ rasa sakit ini secara berlebihan. Entah karena ambang rasa nyerinya yang sudah sangat berbeda atau memang karena niatan mencederai dirinya yang sudah sangat bulat. (Mereka yang mengalami depresi berat diketahui kehilangan rasa sakit fisik, bahkan mengundang rasa sakit agar dapat merasakan adanya kehidupan dalam hidup mereka).

Jika melihat statistik yang dipaparkan dalam presentasi pembicara ketiga, saya merasa sangat ketakutan. Angka statistik ini bukannya cenderung menurun, tapi malah meningkat setiap tahunnya. Semakin maju dunia, maka semakin meningkat pula lah angka kejadian bunuh diri ini. Lalu, tidak bisa ditentukan hanya satu faktor saja ‘penyebab bunuh diri ini”, ada begitu banyak faktor!

Merenungkan materi yang diberikan ini memberi saya satu pemahaman akan resiko terbesar dari masalah perilaku bunuh diri. Ada beberapa kalimat yang tertanam dalam pikiran saya,

“Kehilangan, kekosongan dan tidak merasakan apa-apa (Numb)”

Ketiga hal ini entah mengapa mengalir dan keluar dari pikiran saya menjadi akar dan penyebab dari peirlaku bunuh diri yang banyak terjadi pada beberapa orang yang kisahnya pernah diceritakan.

Perilaku bunuh diri pun tidak muncul sekejab. Ada proses panjang dan lama yang mendorong terbentuknya perilaku ini. Bahkan perilaku ini terbentuk sejak anak lahir dan mendapatkan asuhan dari orang tua dan orang terdekatnya (mungkin saja sudah sejak seseorang terbentuk dalam Rahim Ibunya).

Bekerja untuk mencegah bunuh diri tidak bisa dilakukan sendiri atau seorang diri. Masing-masing orang menyimpan dan mengemban tanggung jawab yang sama, untuk mencegah tindakan bunuh diri, mencegah kehilangan satu nyawa dari muka bumi ini. Bekerja sama ini tidak hanya bekerja asal-asalan, tapi secara bersama-sama, terintegrasi, satu visi dan satu tujuan.

Materi yang diberikan oleh pembicara ketiga sangat lengkap dan dalam, ditambah juga dengan dukungan penelitian-penelitian terkini. Tapi, entah mengapa dan bagaimana, saya merasa ada yang kurang dari presentasi yang dibawakan ini. Ada yang rasanya tidak pas, kurang dan hilang dari penjelasan beliau. Sampai saat ini saya masih mencari apa itu.

Asuhan keperawatan resiko bunuh diri pada anak dan remaja

Pembicara terakhir ini mengingatkan saya pada sosok dan model seorang “perawat kesehatan jiwa” ideal yang dibentuk oleh nilai-nilai ke-Indonesiaan miliknya.

Presenter terakhir pada seminar ini menakankan pada peningkatan daya adaptasi dalam berhadapan dengan masalah-masalah dalam hidup yang dapat dan berpotensi menyebabkan masalah kejiwaan. Saya sangat tertarik dengan poin ‘pengembangan diri’ untuk mencapai hidup yang optimal dan maksimal.

Selain itu, pembahasan mengenai penyebab perilaku bunuh diri tidak terpaku hanya pada masalah psikologis saja, tapi juga menyentuh masalah biologik seperti ‘menurunnya serotonin’ pada individu. Keadaan biologic ini akan menjadi bahan diskusi yang menarik jika dihubungkan dengan terapi pemberian medikasi (obat). Selain itu, materi yang dibawakan juga menyentuh tiga aspek penting dalam perilaku bunuh diri. Ketiganya adalalah ancaman, percobaan dan completed suicide. Masing-masing tanda dan gejala ini memiliki asuhan keperawatannya yang spesifik, dan seperti ciri khas dari asuhan keperawatan jiwa pada umumnya, asuhan keperawatan kepada pasien selalu diiringi dengan asuhan keperawatan yang ditujukan kepada keluarga pula.

KESAN

Saya juga ingin berbagi sedikit kesan (dan Pesan) yang saya dapatkan setelah mengikuti kegiatan seminar ini. Beberapa diantara kesan ini bersifat sangat pribadi, tapi saya ijinkan untuk dibagikan di sini, dengan harapan agar bisa dijadikan sebagai bahan belajar yang baik.

Dukungan dari Gubernur yang sangat luar biasa!

Saya melihat dan merasakan dukungan yang sangat luar biasa dari pihak pemerintah, terutama dari Gubernur Kalimantan Selatan, H. Sahbirin Noor atau yang lebih dikenal sebagai Paman Birin.

Ini baru pertama kalinya saya bertemu dengan Gubernur Kalimantan Selatan dan saya sangat antusias untuk bertemu dengan beliau. Saya bisa merasakan aura masyarakat banjar yang sangat kental dari Beliau. Tidak heran, beliau begitu sangat disayangi dan diidolakan oleh rakyatnya.

Video peliputan acara Seminar yang diselenggarakan oleh IPKJI Kalimantan Selatan dapat ditonton di Kompas TV Banjarmasin.

Jumlah peserta yang banyak dan terkesan sangat tidak terorganisir

Jumlah peserta seminar, luar biasa!. Gedung diklat Rumah Sakit Jiwa sambang lihum penuh dan sesak dengan peserta seminar. Mereka begitu sangat antusias untuk mengikuti rangkaian kegiatan dan acara pada saat itu. Sayangnya memang, peserta ini tidak di atur dengan baik, tidak dibimbing untuk dapat mengikuti kegiatan seminar dengan tertib.

Meskipun rata-rata peserta adalah mahasiswa, bukan berarti mereka bisa dilepas begitu saja. Mereka pun membutuhkan pendisiplinan, apalagi untuk acara yang tergolong resmi tersebut.

Saya menyarankan, kalau ada seminar seperti ini, pembimbing dari masing-masing sekolah harus ada di barisan tempat duduk para mahasiswa. Tugasnya adalah untuk mengontrol para mahasiswa ini. Setidaknya mendorong dan menginspirasi mereka untuk mengikuti seminar sampai selesai. Syukur kalau bisa mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan tanya jawab. Ini pasti akan menjadi seminar yang penuh dengan energi dan antusiasme!.

Laporan ketua panitia yang “tidak ada”

Ketika seminar berlangsung, tidak ada waktu “Laporan dari ketua panitia”. Saya tidak tahu apakah ‘semestinya’ ada atau tidak, tapi bagi saya laporan dari ketua panitia ini sangat penting. Penting karena ketua panitia akan melaporkan proses yang mereka jalani (meskipun sekilas) untuk dapat mewujudkan seminar/kegiatan yang saat ini dihadiri oleh peserta seminar.

Ketua panitia juga harus melaporkan mengenai ‘penyebaran peserta’ yang ikut serta dalam seminar yang mereka langsungkan. Hal ini sangat penting, karena penyebaran peserta yang ‘banyak’ dan mencapai titik yang jauh-jauh, menunjukkan semakin baik dan menariknya seminar yang diusung oleh panitia ini.

Lalu, yang terpenting lagi adalah bahwa peserta dapat belajar dari proses yang sudah mereka jalani. Proses belajar ini akan sangat penting untuk kegiatan seminar-seminar lain kedepannya. Peserta seminar dapat dan harus belajar dari proses/keberhasilan melangsungkan seminar ini.

Kesimpulan yang dibacakan Notulen.

Saya harus meminta maaf terlebih dahulu kepada saudari Notulen yang pada saat acara membacakan kesimpulan panel. Saya merasa bahwa kesimpulan yang dibacakan malah tidak seperti kesimpulan.

Saya memberikan penilaian demikian karena saya pun pernah menjadi notulen dalam sebuah acara seminar beberapa tahun yang lalu di Manila, Filipina. Pada saat itu, seminar dihadiri oleh dokter, perawat dan beberapa praktisi kesehatan jiwa. (Ijinkan saya sombong sedikit), pada saat itu, saya mendapatkan standing ovation setelah membacakan kesimpulan seminar. Meskipun kemudian saya sadar bahwa grammar saya aduhai (banyak salah).

View this post on Instagram

Psychosocial care (PS) adalah hal yang sangat penting. PS tidak hanya diperuntukkan bagi perawat jiwa saja, tapi semua perawat dan juga semua petugas kesehatan. Kita dapat menemukan PS disemua spesialisasi keperawatan dan area pelayanan kesehatan seperti area kegawat-daruratan, critical care, bahkan pada keperawatan medikal bedah. PS berbicara mengenai bagaimana dapat menyeimbangkan pelayanan bagi dan antara masalah emosional dan fisik. Pelayanan PS dapat berwujud pelayanan pribadi atau individual, couple, keluarga atau group dan juga pelayanan komunitas. PS dimulai dari diri pelayan kesehatan itu sendiri (terutama perawat), yg selanjutnya menyebar menuju orang lain diluar diri dan lingkungan. Ketika kita memberikan PS, kita perlu mencamkan untuk selalu melibatkan pasien dengan bertanya "perspektif" pasien terhadap masalah yg Ia alami, kita perlu meluaskan sensitifitas kita terhadap masalah, mempertimbangkan latar belakang sosial budaya yang dimiliki pasien, tanda-tanda psikososial distress dan tanda-tanda kebutuhan akan terapi psikososial yang sangat jelas ditemukan dalam rupa; grief, loss of security, altered role performance, disturbed self-image ect. Petugas kesehatan harus selalu ingat bahwa Therapeutic communication dan therapeutic use of self adalah senjata ampuh yang harus selalu diasah dan dipergunakan sesuai dengan porsinya dalam terapi. Semua hal yang disampaikan diatas adalah sangat penting bagi petugas kesehatan dan juga pasien dalam upaya keduanya untuk mencapai apa yang disebut sebagai optimal quality of life. Saya, Maria Frani Ayu Andari Dias, Terima kasih. Synthesis ini disampaikan pada seminar "Provision of Psychosocial Care in Non-Psychiatric Setting", Philippine General Hospital-Manila, November, 27. 2017. Dihadapan kurang lebih 47 peserta seminar yang terdiri dari petugas kesehatan seperti Dokter; Perawat yang datang dari berbagai spesialisasi seperti keperawatan jiwa, Adult health, Operating room(OR); Clinical instructur dari UPCN dan universitas sekitar Manila, tenaga pembantu perawatan dan mahasiswa/i dari level undergraduate and Graduate nursing students. Translated from English. #belajarkeperawatanjiwa

A post shared by Maria Frani Ayu (@ayufrani) on

Seingat saya, kesimpulan seminar tersebut tidak banyak dan tidak memakan waktu yang lama. Saya hanya membutuhkan setengah kertas A4 untuk mengonsep kesimpulan dari seminar.

Tidak adanya evaluasi kegiatan seminar

Hampir satu minggu setelah kegiatan seminar ini dilaksanakan, saya tidak mendengar akan ada kegiatan evaluasi seminar. Tidak ada form yang disebarkan dan tidak ada pembicaaan mengenai evaluasi kegiatan.

Saya menyarankan, kedepan panitia bisa mempersiapkan lembar evaluasi/evaluation form untuk setiap kegiatan seminar yang dilaksanakan. Hasil evaluasi ini akan menjadi sangat menarik untuk dipelajari, dan menjadi bekal untuk merencanakan kegiatan seminar lainnya ke depan. Seminar, harapannya bukan digunakan hanya untuk mendapatkan sertifikat saja.

Baca juga: Organisasi Keperawatan Jiwa Daerah Go Publik

Baiklah, demikian beberapa isu dan kabar berita yang bisa saya bagikan. Semoga bisa menjadi pelajaran dan masukan untuk kita sekalian.Terutama, doa saya adalah semoga bermanfaat.

Salam.

2 comments on “Kesadaran akan kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri: Seminar Report dan Diskusi”

  1. Nampaknya Kita sehati soal kesan terhadap seminar tersebut, Mar. Dan, sepertinya Kita sudah banyak sharing terkait ini hehe. Masih menunggu undangan evaluasi kegiatan, atau memang hanya akan berakhir begitu saja, seperti dugaan Kita sebelumnya. Hehe
    Ah, Dan terima kasih sudah memuat foto itu 😁😁

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s