#DearAyu: Cinta, Pria dan Wanita

13 komentar

Dear Ayu,

Saya tidak mengerti dengan pasangan saya! sungguh saya tidak mengerti!

Sudah cukup rasanya kesabaran saya, dan saya menyerah. Ia pria yang egois! Saya ingin mengakhiri semuanya dengannya, saya ingin kami berakhir!

Saya sudah tidak mengenalnya ! dan Ia mungkin sudah tidak menginginkan saya lagi.

Cerita yang menginspirasi tulisan ini adalah sebuah kisah nyata, dan sudah mendapatkan persetujuan langsung dari si pemilik cerita untuk dipublikasikan dan dijadikan bahan diskusi bersama.

Sebuah pesan masuk ke kotak masuk aplikasi WhatsApp (WA) milik saya. Pesan tersebut berasal dari seorang sahabat saya yang pada beberapa waktu yang lalu, saya hadiri acara pernikahannya. Reaksi pertama saya tentu saja terkejut, lalu diiringi dengan respon tanda tanya yang sangat banyak di kepala saya. Ada apa? mengapa? kenapa bisa?

Lalu, saya pun mengetik pesan balasan,

“Kalau boleh tahu, ada masalah apa ? “. Saya membalas pesannya seperti gaya saya membalas pesan seperti biasanya.

Lalu, Ia pun memberikan saya balasan yang cukup lama dan panjang. Secara singkat saya dapat menyimpulkan masalahnya seperti ini. Ia baru saja menikah. Ia menikah dengan seorang Pria yang dikenalnya belum lama. Saya tidak terkejut dengan keputusannya, karena saya memang tidak mengenalnya begitu dekat. Menurut beberapa temannya, Ia sangat jatuh cinta dengan pasangannya pada saat hari—hari sebelum menikah dan bahkan ketika hari pernikahannya berlangsung. Ia Bahagia. Ia bahkan dengan sangat bangga mem-posting semua moment bahagianya di media sosial. Tapi, entah mengapa kebahagiaan itu terasa sangat asing ditelinganya pada saat ia menceritakan kisahnya. Ia tidak merasakan adanya chemistry atau kebahagiaan yang Ia rasakan ketika pernikahan mereka berlangsung atau ketika mereka sedang dimabuk asmara. Pada saat ini semuanya berubah, dan Ia merasakan kecewa. Kekecewaannya ternyata terjadi sudah lama, hanya saja Ia pendam dan tidak ingin mengusiknya. Ia memiliki kepercayaan di dalam hati bahwa ‘semuanya baik-baik saja’ dan apa yang Ia rasakan ‘hanyalah ilusi perasaannya saja’. Tapi, semakin hari, keadaannya semakin tidak membaik. Ia semakin kecewa dan Ia mengakui bahwa Ia merasa ‘terluka’ akibat pasangannya. Ia ingin berhenti dan melepaskan segera ikatannya dengan suaminya.

Kalau boleh jujur, pada saat itu saya binggung bagaimana saya harus memberikan respon untuk masalah yang dihadapi oleh sahabat saya ini. Maklum, saya belum pernah memiliki pengalaman menikah.

Ketika saya masih duduk di bangku pendidikan ilmu keperawatan, saya memang belajar mengenai konsep keluarga. Saya tahu teorinya mengapa sebuah keluarga terbentuk. Saya tahu teorinya bagaimana harus menjaga sebuah keluarga agar tetap sehat jiwa anggota keluarganya, dan produktif. Saya tahu, tapi teorinya saja.

Baca juga:

  1. Jatuh pada Cinta
  2. Apakah kamu yakin bahwa kamu sedang “Jatuh Cinta” ?
  3. Tiga Fakta Ilmiah tentang CINTA

Untuk membantu sahabat saya ini, saya mencoba untuk memberikannya pandangan atau pendapat dari saya. Saya katakan dengan jelas padanya bahwa saya mengambil pendapat saya ini dari buku-buku yang pernah saya baca, dan beberapa kasus yang pernah saya temui. Tidak mesti pasti akan memberikan solusi masalah, ya setidaknya dapat memberikan gambaran tentang “ada apa” dan “mengapa”. Saya berharap dengan apa yang saya lakukan, sahabat saya dapat memiliki gambaran “bagaimana” menyelesaikan masalahnya.

Berikut adalah beberapa informasi yang saya bagikan dan diskusikan dengannya:

Pria dan wanita itu berbeda. 

Inti dari percakapan saya dan sahabat saya melalui media online tersebut adalah ini, “Pria dan wanita itu berbeda”. Tidak hanya perbedaan paling mendasar yaitu jenis kelamin, tapi lebih dari itu. Perbedaan ini menyentuh sampai titik, mencintai orang lain.

Saya mendasari diskusi saya pada saat itu dengan merujuk pada buku milik Barbara dan Allan Pease berjudul “Why Men Want Sex and Woman Need Love”. Buku ini secara jelas, sederhana dan gamblang mengungkapkan betapa berbedanya pria dan wanita, terutama dalam melihat situasi untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya di dunia.

81acgyfgp8l
Barbara dan Allan Pease dengan karyanya yang berjudul “Why Men Want Sex and Woman Need Love”

Meskipun baik pria dan wanita memiliki perbedaan dalam memandang soal mempertahankan kelangsungan hidupnya di dunia, tapi keduanya adalah makluk hidup atau spesies yang sama-sama memiliki tingkat kebingungan yang sama ketika mencari pasangan dan membangun hidup bersama (mating). Secara personal saya sangat kaget dengan temuan ini. Tapi, kalau dipikir lebih jauh, temuan ini ada (dan banyak) benarnya. Salah satu alasan mengapa baik pria dan wanita mengalami kesulitan yang sama adalah ini, keduanya tidak saling memahami bagaimana otak keduanya bekerja atau hormonal keduanya bekerja. Setidaknya dmeikian menurut Barbada dan Allan Pease.

Secara biologis, pria dan wanita memiliki perbedaan aktivasi otak ketika melihat orang yang dicintainya. Fisher dan Brown, dua orang peneliti pernah melakukan penelitian dengan cara memindai dan menganalisa lebih dari 3000 orang yang mengatakan bahwa mereka sedang berada dalam keadaan “sangat jatuh cinta” atau madly in love dengan pasangannya.

Hasil pemindaian otak mereka menunjukkan pria dan wanita memiliki perbedaan aktivasi otak ketika diperlihatkan foto orang yang mereka cintai. Seorang wanita akan menunjukkan aktivasi kerja otak pada tiga area penting. Tiga area ini adalah 1) The Caudate Nucleus, 2) The Septum, dan 3) The Posterior Parietal Cortex. The caudate nucleus adalah area yang banyak diasosiasikan sebagai tempat memori, emosi, dan perhatian. The septum adalah area yang banyak disebut sebagai “the pleasure center”, pusat rasa nyaman bagi manusia. The posterior parietal cortex merupakan bagian otak yang bekerja untuk memproduksi mental images (hasilnya adalah kegiatan berkhayal) dan memory recall. Sedangkan pada pria, ketika gambar kekasihnya ditunjukkan, Ia akan menunjukkan aktivasi area otak mamalia yang disebut sebagai visual cortex dan visual processing areas. Dua area ini sangat bertanggung jawab terhadap munculnya sexual arousal pada individu. Penelitian yang dilakukan oleh Fisher dan Brown ini juga didukung oleh banyak temuan lanjutan dari peneliti-peneliti yang lain.

Temuan Fisher dan Brown yang dijelaskan sebelumnya, menunjukkan setidaknya beberapa hal penting. Pertama, istilah jatuh cinta pada pria dan wanita itu menunjukkan pengertian dan arti yang berbeda. Kedua, ketika jatuh cinta, wanita lebih ribet dan lebih kompleks dibandingkan dengan pria. Ketiga, ketika seorang pria jatuh cinta, Ia akan jatuh cinta dengan sangat sederhana, dan keempat, ketika wanita jatuh cinta, Ia akan menggunakan kemampuan untuk ‘flash back’ adegan-adegan dari kisah-kisah cinta masa lampaunya, sedangkan ketika pria jatuh cinta, Ia akan menggunakan visual-nya dengan lebih dominan. Poin keempat ini juga dapat mengandung arti bahwa, wanita, ketika Ia jatuh cinta, maka Ia akan jatuh cinta untuk menemukan hubungan yang akan bertahan lama, sedangkan ketika seorang pria jatuh cinta, Ia akan cenderung mencari kesan ‘jatuh cinta yang singkat dan sementara’, superfisial.

Poin keempat ini juga mengandung arti yang lain bagi saya. Saya dan teman-teman di sini mungkin sangat familiar dengan kalimat seperti ini, “Berbahagialah wanita yang menjadi yang terakhir bagi pria-nya”, dan “Sial-lah seorang wanita yang menjadi, yang pertama bagi pria-nya”. Kedua istilah ini mengisyaratkan pengertian yang sama, ketika pria jatuh cinta pertama kalinya pada seorang wanita (dalam artian cinta pada pandangan pertama), itu adalah bentuk ketertarikan yang sifatnya sementara dan tidak akan bertahan lama. Sedangkan akan berlaku sebaliknya bagi seorang wanita. Ketika seorang wanita benar jatuh cinta, Ia akan jatuh cinta dengan penuh kesetiaan. Ia mempertahankan jalinan cinta dan hubungan yang dibangun untuk waktu yang lebih lama.

2f69a437edc2a0bc7a4322c8c01d5f571536642493590278489.jpg
Is this true ?

(Entahlah, ketika menuliskan tulisan ini, saya kurang begitu yakin dengan kebenarannya. Tapi, Barbara dan Allan Pease meneguhkan dan menguatkan hipotesis ini dalam bukunya).

Semuanya sudah ada dan terjadi dari sono-nya. Yeap, ini adalah jawaban atas pertanyaan, “Mengapa Pria dan Wanita berbeda dalam hal cinta, jatuh cinta dan mencintai?”. Ini mungkin adalah informasi penting yang harus diketahui baik oleh pria dan wanita. Seorang pria dan seorang wanita, jatuh cinta hanya karena satu alasan saja, “mempertahankan kehidupan sebagai manusia di muka bumi” atau “Survival”.

Sejak jaman dahula kala atau sejak jaman nenek moyang dulu, keinginan untuk mencintai sudah tertanam dalam DNA kita masing-masing. Tidak ada seorang pun yang luput dari “jebakan biologis” ini. Jika jatuh cinta iu adalah kutuk, maka terkutuklah semua umat manusia.

So, kenyataan-kenyataan ini menunjukkan bahwa ketika kamu jatuh cinta, jangan sekali-kali menyalahkan dirimu sendiri, atau orang lain (apalagi orang yang menjadi objek rasa cintamu). Bukan, semua proses ini bukan salah siapa-siapa. Jatuh cinta itu hanyalah keadaan alami, bagian dari upaya alam semesta melestarikan kehidupan di muka bumi ini. Pada saat seperti ini, saya ingin sekali mengatakan bahwa, adalah kesempatan yang tepat untuk mengatakan bahwa “Cinta itu adalah anugerah”, ya anugerah dari alam semesta untuk kelangsungan kehidupan manusia di dunia.

Jangan mengambil keputusan terlalu dini. Kisah sahabat saya ini secara tidak langsung juga menginsyaratkan tentang hubungan singkat yang Ia jalin dengan kekasihnya sebelum Ia memutuskan untuk menikah. Menurut banyak sahabat-sahabat yang ada di sekitarnya, “Ia terkesan terburu-buru dalam memutuskan untuk menikah”. Tapi, permasalahan ini memang tidak begitu heboh dibicarakan karena orang-orang di sekitarnya melihat lebih banyak ekspresi bahagia darinya.

Beberapa waktu kemudian, semuanya berubah. Kebahagiaan itu bersifat sangat sementara dan tergerus oleh waktu. Buktinya adalah pesan yang disampaikan oleh sahabat saya di atas. Dalam waktu yang singkat dari upacara pernikahannya, Ia harus mengatakan hal yang sangat menusuk hati seperti itu.

Mereka yang sedang jatuh cinta, dengan masa usia jatuh cinta masih dalam waktu kurang lebih satu bulan, dapat dikatakan masih berada dalam keadaan “lust” (Jatuh cinta yang sangat tergila-gila). Ini adalah masa ketertarikan sementara dan sangat menjebak. Banyak orang yang jatuh pada jebakan cinta ‘lust’ ini. Mereka yang merasa, “Ah…dia pasti adalah jodohku” dan memutuskan untuk segera membuat keputusan yang sangat sulit untuk dibatalkan.

Baca juga: Apakah kamu yakin bahwa kamu sedang “Jatuh Cinta” ?

Secara biologis, mereka yang sedang dalam keadaan cinta ‘lust’ memiliki kadar serotonin yang rendah. Kadar serotonin yang rendah ini sama dengan kadar serotonin yang dimiliki oleh orang-orang yang mengalami masalah kecemasan berlebihan yang dikenal sebagai “Obsessive compulsive Disorder (OCD)”. Mereka yang memiliki kadar serotonin yang rendah akan menunjukkan sifat obsesif yang berlebihan terhadap orang yang mereka jadikan objek rasa cinta. Sikap obsesif ini seperti perhatian yang kadang sangat berlebihan, memperhatikan dengan sangat (hampir sama seperti stalker) dan sangat mudah terluka kalau apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan dan harapannya. Persis sama seperti apa yang dialami oleh sahabat saya ini, bukan ?.

Informasi mengenai serotonin ini memberi pesan yang sangat penting bagi kita sekalian yang ingin memutuskan menikah dengan orang yang kita cintai. Jangan memutuskan untuk segera menikah ketika masih berada dalam keadaan jatuh cinta yang tergila-gila. Barbara dan Parse dalam bukunya memberi saran untuk menunggu sampai setidaknya dua tahun sebelum memutuskan untuk menikahi orang yang kita kasihi. Setelah dua tahun, tubuh menjadi sangat terbiasa dengan serotonin yang dihasilkan setiap kali kita bertemu dengan orang yang kita cintai, dan keputusan yang kita hasilkan kemungkinan besar tidak akan membuat kita menyesal di kemudian hari.

Demikian sedikit hal yang bisa saya bagikan terkait dengan permasalahan yang dihadapi oleh sahabat saya. Semoga apa yang dialami oleh sahabat saya, dapat memberi pelajaran bagi kita sekalian. Pada akhirnya, yang diharapkan baik dari pria dan wanita adalah pengertian dan pemahaman. Kita harus paham dan kita pun harus mengerti orang lain sebelum kita mengharapkan dan menuntut orang lain untuk mengerti dan paham dengan apapun yang terjadi pada kita.

Mengenai sahabat saya, tenang saja. Setelah melewati banyak pertimbangan dan diskusi, Ia memutuskan untuk kembali pada suaminya. Mereka masih hidup satu atap saat ini dan sepertinya kembali berbahagia seperti sebelum masalah ini terjadi (Syukur kepada Tuhan).

Semoga tulisan ini bermanfaat, as always salam dari saya.

13 comments on “#DearAyu: Cinta, Pria dan Wanita”

  1. Waaa asyik sekali bahasannya. Laki-laki dan perempuan memang pastinya beda secara sistem kerja biologis dan mentalnya. Saya suka mengamati perbedaan itu, rasanya lebih bisa sedikit paham kenapa kadang laki2 begini kok perempuan begitu. Untuk buku Why Men Want Sex Woman Need Love-nya Barbara dan Allan Pease saya belum baca. Kalau Mbak Ayu udah baca Female Brain-nya Laouan Brizendine belum? Disana dijelaskan kenapa perilaku wanita dan laki2 berbeda, khususnya dlm hal seks dan dlm menjalin relasi. 😃😃😃😃 Buku itu juga ada versi Male Brain-nya juga, tapi saya belum baca.

    Makasih sudah membahas. Penting banget untuk diketahui ini supaya gak kejebak cinta tanpa logis. (Saya merasa istilah cinta tak butuh logika itu perilaku tak bertanggung jawab dan bukan alasan utk gak mikirin detil masa depan yang atas nama cinta itu) 😛😛😃

    Disukai oleh 2 orang

  2. Halo, Mbak.

    Wah, saya senang sekali bisa membaca balasan seperti ini.
    Nah, saya belum pernah membaca Female Brain-nya Laouan Brizendine. Mungkin bisa saya masukkan sebagai bagian dari daftar bacaan ke depan ya.

    Betul Mbak, saya berharap agar kita sekalian tidak terjebak dengan cinta tanpa logika itu lo, dan menyadari bahwa semua respon yang ditimbulkan oleh tubuh kita itu ada rasionalisasinya. Harapannya, mencegah galau berlebihan hahahaha. Apaan coba!

    Semangat untuk kita semua ya!

    Disukai oleh 1 orang

  3. Jatuh cinta kadang-kadang membuat kita “suka” dalam kondisi tak ada logika, seperti yang dikatakan Agnez Mo 🙂

    Cinta ini kadang kadang tak ada logika
    Berisi s’mua hasrat dalam hati
    Ku hanya ingin dapat memiliki
    Dirimu hanya untuk sesaat

    Semoga kita tetap dapat menggunakan logika saat jatuh cinta ya, mbak… Hehehe

    Disukai oleh 1 orang

  4. Ia, Pak hehehehe.
    Setidaknya, harus menggunakan logika ketika memutuskan untuk meresmikan jalinan cinta. Harus ini, karena ini ada hubungannya dengan menjalin hubungan keluarga sampai maut memisahkan.

    Terima kasih sudah berkunjung.

    Suka

  5. Ya, saya setuju. Pria dan Wanita itu berbeda, saya membaca bukunya Pak Quraish Shihab yang berjudul Perempuan. Ditemukan berbagai aneka perbedaan. Satu contoh saja, kondisi fisik mempengaruhi kecenderungan akan perbedaan itu, seperti fisik laki-laki yang mayoritas lebih kuat memiliki kecenderungan untuk melindungi dan agresif sedang perempuan menjadi cenderung ingin dilindungi dan disayangi. Yang membuat dua pasangan harmonis adalah saling melengkapi, seandainya kecenderungan pria adalah melindungi tetapi perempuannya tidak cenderung untuk disayangi di sini akan timbul crash. Sehingga kadang perlu bagi laki-laki untuk merayu istrinya, dan istrinya tersipu-sipu. Bisa jadi jika sisi ini hilang, maka keharmonisan berkurang. Tetapi poin tulisan Mbak bukan tentang ini ya, saya hanya sekedar menambahi he he he. Apa yang disampaikan, Mbak Ayu, sudah sangat jelas. Tetapi yang ingin saya garis bawahi, perbedaan itu harus didudukkan pada tempat yang semestinya, tidak bisa menganggap sama. Sehingga peran budaya dan kearifan lokal menjadi vital, di sinilah kita tidak boleh menabrak kecenderungan itu.

    “Ketika pria jatuh cinta pertama kalinya pada seorang wanita (dalam artian cinta pada pandangan pertama), itu adalah bentuk ketertarikan yang sifatnya sementara dan tidak akan bertahan lama. Sedangkan akan berlaku sebaliknya bagi seorang wanita. Ketika seorang wanita benar jatuh cinta, Ia akan jatuh cinta dengan penuh kesetiaan. Ia mempertahankan jalinan cinta dan hubungan yang dibangun untuk waktu yang lebih lama.” Saya kurang setuju dengan pendapat ini sebab, lagi-lagi pendapat Pak Quraish Shihab yang saya jadikan panduan bahwa, “Hati itu punya kelompok. Yang berkenalan hatinya akan langsung klop. Yang tidak akan berjauhan.” Dan itu banyak terbukti oleh cinta orang-orang dahulu, bisa jadi seketika ketika melihat pada pandangan pertama dan hubungnnya langgeng.

    Salam, 🙂 🙂

    Suka

  6. Kak Andy, saya selalu senang dan antusias membaca komentar dari Kak Andy. Luar biasa buenggggtttt!!

    Ia,betul. Saya mengambil bahan tulisan ini dari buku yang disusun oleh orang yang datang dengan budaya dan latar belakang yang berbeda dengan budaya kita. Saya harap pembaca pun memahami mengenai sudut pandang ini.

    Ia Kak, saran yang sangat bagus ini. Saya baru tersadar juga kalau selama ini saya terlalu banyak mengambil informasi dari penulis dan buku yang disusun dari latar belakang dan budaya yang berbeda dengan milik kita. Agaknya ini juga menjadi alasan mengapa beberapa intervensi tidak berjalan dan tidak bisa di gunakan.

    Saya senang, Kak Andy memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapat yang ditulis di sini, saya pun bisa belajar mengenai pendapat dari Pak Quraish yang juga merupakan pendapat Kakak.

    Pada akhirnya, memang hal-hal soal topik yang dibicarakan ini, tidak bisa dipastikan ketepatannya. Masih banyak celah yang bisa didiskusikan dan diperdebatkan.

    Salam juga dari saya, Kak.

    Suka

  7. Padahal aku lebih suka menahan agar tidak banyak berkomentar, aku seringkali bersedih ketika mendapati diriku berkomentar tentang banyak hal.

    Mengambil informasi dari penulis dengan latar belakang budaya yang berbeda tidak ada salahnya, Mbak Ayu. Dan itu tidak apa-apa, justru itu bisa menambah wawasan kita. Aku cuma menyinggung saja, dan agar apple to apple aku juga menggunakan referensi dari sebuah buku. Hanya itu saja. Tidak untuk pro dan kontra.

    Tak ada yang pasti. Tapi jika kebenaran mutlak menemukan kita, kita akan tahu dan kita tidak pernah akan bisa menolaknya… mari terus mencari dan membudayakan diri untuk berpikir dengan nalar yang sehat.

    Salam.

    Disukai oleh 1 orang

  8. Bagi saya, tidak apa-apa Kak Andy. Saya malah senang ketika ada orang yang memberi saya banyak komentar dan masukan. Itu bisa memberi makna bahwa tulisan yang saya terbitkan dibaca dan sekaligus menjadi bahan pemikiran untuk pembaca tersebut. Saya malah sangat berharap agar Kak Andy tetap dan terus menerus memberikan saya masukan mengenai apapun yang saya tulis. Kita semua belajar, dan itu yang saya rasa penting.

    Ia, Kak Andy. Saya malah senang sebenarnya. Kita bisa belajar banyak dan saya bisa menyadari banyak hal yang terlewat. Bagi saya pribadi, perbedaan pendapat justru memberi pelajaran yang luar biasa.

    Saya suka kata-kata ini Kak, “…Jika kebenaran mutlak menemukan kita, kita akan tahu dan kita tidak pernah akan bisa menolaknya..”.

    Saya setuju, Kak. Mari membudayakan berpikir dan bernalar dengan sehat!

    Salam untukmu Kak Andy.

    Suka

  9. Hai, Ayu. Nice post.

    Menjalani kehidupan berumah tangga pasti akan berbeda saat sedang lajang.

    Sebelum nikah, banyak orang yang mabuk kepayang karena cinta. Ia membayangkan banyak hal indah sesuai dengan imajinasi dan harapannya. Namun misalnya jika kenyataan tidak sesuai harapan maka dia bisa kecewa.

    Semoga temanmu itu bisa terus langgeng rumah tangganya. Semoga Ayu juga bisa segera menyusul. Hehe..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s