“Dari Mana Manusia Berasal?”: The Forbidden Fruit (Selesai)


Tidak terasa, sudah selesailah rangkaian tulisan saya mengenai “Dari Mana Manusia berasal?”, yang pada dasarnya adalah catatan penting mengenai ide-ide yang dikeluarkan oleh Harari dalam bukunya yang berjudul “Sapiens”. Secara pribadi, saya merasa seperti mengonsumsi ‘buah terlarang (The Forbidden Fruit)” ketika berhasil menyelesaikan buku ini. Saya merasa seperti mengetahui, menyadari dan merenungkan sesuatu yang tidak seharusnya saya ketahui.

Apakah ada yang seperti ini sebelumnya ?

Ketika saya menulis seri tulisan ini, saya menyimpan hasrat besar di dalam hati. Saya sangat ingin mengenal manusia, dan saya ingin mempelajarinya hingga sifat paling kuno dari dirinya. Manusia yang diceritakan dalam sejarah, tidak berbeda dengan manusia pada saat ini. Lebih penting lagi, sifat-sifat kuno itu masih bertahan dan ada jelas pada masing-masing individu manusia hingga saat ini.

Apakah setelah membaca seri buku ini, saya menjadi sangat memahami manusia?

Tidak juga. Saya malah menyisakan banyak pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang membuat saya ingin mengonsumsi banyak seri buku yang serupa. Saya memiliki gambaran yang cukup, dan saya gunakan gambaran dan dasar ini sebagai pijakan untuk upaya pencarian pengetahuan yang lainnya.

Apakah saya menjadi bijaksana setelah membaca buku ini?

Tidak. Saya merasa kebijaksanaan itu bukanlah sebuah status yang harus diletakkan kepada seseorang. Kebijaksaan itu adalah proses, dan pembuktiannya ditunjukkan setiap hari, setiap saat. Kebijaksaan itu adalah proses belajar, belajar dari mother nature-Sang Pencipta yang merupakan sumber utama pelajaran tentang kebijaksanaan. Setidaknya demikian definisi saya tentang kebijaksanaan pada titik ini.

Mendalami isi buku ini juga membuat saya berpikir tentang keadilan untuk melihat suatu masalah. Banyak kasus-kasus yang diangkat Harari dalam bukunya yang membuat saya harus berpikir dalam dua sisi, baik dan buruk. Jujur saja, jika ada hubungannya dengan moral, diskusi filosofis, sulit rasanya memberikan keputusan benar-salah. Tidak ada yang benar-benar, benar; dan tidak ada yang benar-benar, salah. Semuanya adalah ‘tergantung’. Tergantung pada keadaan, dan tergantung pada banyak faktor, termasuk nilai atau prioritas apa yang dipegang oleh individu si pembuat keputusan/penilaian.

Projek menulis ini adalah projek awal tahun yang sungguh sangat saya nikmati. Saya tidak merasa tertekan untuk segera menyelesaikan atau segera membuat catatan atau rangkuman tulisan. Saya menikmati kegiatan membaca, membuat catatan kecil, lalu membuat catatan panjang di blog ini. Semua prosesnya saya kerjakan dengan senang hati dan tentu saja dengan hati yang gembira. Dalam hati, saya ingin sekali agar tulisan ini kelak dapat saya baca kembali dan renungkan. Mungkin saja, pada masa dan waktu yang berbeda, saya akan memiliki perspektif dan pemahaman yang berbeda pula. Entahlah, biar waktu yang menjawabnya kelak.

Kegiatan membaca tulisan Harari ini pun membuat saya merenungkan kembali konsep ‘sains dan agama/ajaran atau aliran spiritual’. Harari secara berulang-ulang menyeret pembaca untuk melihat kembali konteks penting ini. Berkat tulisannya, saya pun menyimpulkan bahwa sains dan agama (spiritualitas) adalah dua konsep yang bisa berjalan secara bersama-sama. Sains akan membuat manusia berkembang sampai pada titik yang tidak dapat diprediksi, dan agama/jalan spiritualitas akan membantu manusia untuk tetap berpijak pada kemanusiaannya. Dua kombinasi yang akan mengantarkan manusia pada titik keberadaban yang bermartabat.

Saya pun menyimpan sedikit keegoisan dalam hati untuk melakukan diskusi, dialog dengan teman-teman pembaca sekalian mengenai ide-ide kontroversial milik Harari ini. Saya tahu, sudah banyak orang yang membaca buku Harari, melakukan perdebatan sana dan sini, dan sudah banyak yang mencatatnya. Tapi, bagi saya isu yang diangkat oleh Harari adalah isu-isu yang akan menjadi perdebatan terus menerus sepanjang tahun-tahun selanjutnya. “Kita masih belum menemukan jawaban yang pasti”, inilah alasan mengapa perdebatan, dialog akan terus terjadi pada tahun-tahun kedepan.

Baca juga seri tulisan “Dari Mana Manusia Berasal?” untuk tulisan pertama, kedua, ketiga dan keempat.

Tidak lupa, saya pun menitipkan pesan bagi para pembaca sekalian (dan para penikmat tulisan ini) agar menggunakan akal sehat, berpikir kritis untuk dapat mencerna berbagai informasi yang dipaparkan dalam tulisan ini. Memutuskan untuk menggunakan akal sehat dalam mencerna setiap informasi yang tersaji akan sangat membantu kita menentukan sikap yang baik, dan semoga hikmat dan kebijaksanaan dari Yang Maha Kuasa selalu menaungi kita.

Sampai jumpa pada tulisan-tulisan lainnya, dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman pembaca sekalian.

Salam tulus dari saya.

Ditulis oleh

Hi !, Ayu is here! I am a passionate nurse who enjoys reading and writing in her spare time. Hit me on Mariafrani10@gmail.com

2 respons untuk ‘“Dari Mana Manusia Berasal?”: The Forbidden Fruit (Selesai)

  1. Luar biasa energi menulisnya, mbak Ayu. Semoga menular ke diriku.
    Menyelesaikan tulisan berseri bukan hal yang gampang, kecuali disertai passion dan mood yang lebih dari cukup.
    👍😁

    Btw, diskusi dan pertanyaan manusia tentang keberadaan dirinya dan asal muasalnya memang akan terus berlangsung sepanjang hidup manusia. Apalagi jika menyangkut tentang teori2 asal muasal. Tetapi ada dua jawaban yang menurutku bisa dipakai untuk menjawabnya. Yaitu jawaban dari sisi keimanan atau spiritual, yang ke dua jawaban dari sisi ilmu pengetahuan.

    Jika dari sisi keimanan atau spiritual, dengannya aku bisa mendamaikan diri dengan apa yang sudah tersurat dalam firman Tuhan. Tetapi tidak bisa disandingkan dengan argumentasi ilmu pengetahuan. Misalnya terhadap teori evolusi Darwin. Atau apakah sebelum Nabi Adam sudah ada makhluk jenis manusia? Argumentasi keimanan tidak perlu susah payah mematahkannya. Biarlah itu menjadi ranah perdebatan ilmu pengetahuan. Kelak jika ada teori baru, teori yang lama secara otomatnis akan terbantahkan.

    Di dalam keyakinan agama yang aku anut, memang tidak dipaparkan siapa manusia pertama. Termasuk Adam, tidak ada redaksi di mana Adam adalah makhluk manusia yang pertama kali menghuni bumi. Sementara buku-buku sejarah pun dengan bebas memaparkannya sejak dari pendidikan dasar. Ilmu pengetahuan menjadi dinamis, dan dari sisi ini akan selalu ada jawaban baru yang spertinya tidak akan mampu memuaskan hasrat rasa ingin tahu manusia sepanjang masa.

    Kiranya dua sisi pandang ini akan tetap bisa berjalan sepanjang tidak saling menegasikan. Itulah keistimewaan manusia yang dikaruniai kehendak dan akal pikiran yang menjadi ciri kesempurnaannya.

    Disukai oleh 2 orang

  2. Terima kasih, Mas.
    Setelah seri tulisan ini selesai, saya sebenarnya hampir tidak percaya kalau saya ternyata bisa menyelesaikan tulisan berseri seperti ini. Maklum, ditengah kesibukan yang lain, saya harus benar-benar menggunakan waktu dengan baik untuk membaca, menuliskan ide, editing dan macam-macam. Tapi, pada akhrinya, berhasil. Ke depan, saya mungkin akan melakukan tulisan berseri seperti ini lagi.

    Wah, benar sekali pendapat ini, Mas. Sejauh ini kita memang membagi ke dalam dua bagian seperti ini, penjelasan dari sisi agama dan penjelasan dari sisi sains. Kedua penjelasan ini memang terkadang saling bertentangan, tapi masih bisa saling melengkapi dan berdamai. Itu yang penting, mesikipun berbeda dan bertolak belakang, tapi masih berdampingan untuk memperkaya Manusia.

    Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar, Mas. Salam dari saya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s