Perawat Pendidik dan Kegiatan Riset (Bagian I)

15 komentar

Sudah sangat lama sekali rasanya saya mengalami dilemma dan memiliki pertanyaan yang sampai saat ini belum bisa secara puas saya jawab. Pertanyaan tersebut saya uraikan sebagai berikut:

“Mengapa seorang perawat pendidik perlu melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu ?”.

Saya tahu, bagi yang membaca ini akan memberi komentar seperti ini, “Ah, itu gampang saja!” lalu memberikan jawaban-jawaban lainnya. Tapi, saya tidak hanya berhenti sampai di sini saja. Saya melanjutkan pertanyaan ini dengan,

“Seberapa besar peran perawat pendidik dalam perkembangan riset dan ilmu keperawatan di Indonesia ?”

“Seberapa besar konstibusi perawat pendidik terhadap masyarakat dan kesehatan di masyarakat ?”

“Seberapa besar kolaborasi yang dilakukan oleh perawat pendidik terhadap perbaikan dan peningkatan kesehatan masyarakat ?”

“Bagaimana seharusnya perawat pendidik dapat bekerja untuk memberikan perubahan yang significant terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan juga memajukan kesehatan masyarakat di lingkungannya?”

See, satu pertanyaan saja dapat membuat saya berpikir kelewat banyak seperti ini. Saya resah, cemas dan takut setengah mati karena hal seperti ini. Maklum, saya masih sangat mempertimbangkan untuk masuk dan menggabungkan diri menjadi seorang perawat pendidik yang seratus persen waktunya dihibahkan untuk kegiatan memajukan pendidikan keperawatan.

Lalu, karir sebagai seorang perawat pendidik di Indonesia ini bagaimana prospeknya ?.

Tulisan ini saya kerjakan sebagai bentuk dan upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul karena keresahan dan ketidaktahuan saya sendiri. Akhir-akhir ini saya merasa sangat terganggu dengan pikiran saya sendiri, saya berharap usaha menulis ini dapat membantu saya berada dalam keadaan damai dengan pikiran saya sendiri. Wish me luck!

Mengerjakan riset

Sebagai seorang perawat, saya sangat lekat dengan praktik pemberian asuhan keperawatan yang banyak dilakukan dengan melibatkan kerja tangan (fisik). Profesi keperawatan itu sendiri juga sangat dekat konotasinya dengan melayani dengan tulus, menggunakan hati dan beberapa pengertian yang lainnya. Baru ketika beberapa tahun yang lalu, saya menyadari bahwa perawat pun mendasari praktiknya dengan menggunakan riset (Ilmiah dan sistematik). Perawat pun harus belajar untuk mendalami soal riset dan perangkat-perangkatnya. Kegiatan penelitian adalah kegiatan yang tidak bisa dihindari oleh seorang perawat, dan perawat harus dan wajib menggunakan riset sebagai dasar dalam kegiatan praktik yang Ia lakukan.

Ya, pengetahuan soal riset hanya sampai pada tahap itu saja. Tidak lebih, asumsi saya.

Lebih lanjut, saya mulai memahami bahwa seorang perawat pun perlu memahami tentang indexing databases seperti SINTA, DOAJ, Google Scholar, SCOPUS dan Web of Science. Kalau bukan karena kontak yang saya lakukan dengan Relawan Jurnal Indonesia (RJI), mungkin sampai saat ini pun saya belum paham dan belum mengerti soal ini.

Penelitian yang dilakukan oleh lebih dari 100 orang peneliti Indonesia mengenai pemahaman dosen tentang indexing databases dengan judul “Lecturers’ Understanding on Indexing Databases of SINTA, DOAJ, Google Scholar, SCOPUS, and WEB of Science: A Study of Indonesians” memberi saya gambaran yang cukup mengenai pengetahuan serta pemahaman para peneliti di Indonesia mengenai kegiatan indexing (Selain itu, saya pun menyadari bahwa sebuah artikel hasil penelitian bisa saja dikerjakan lebih dari tiga orang peneliti, bahkan bisa sampai tiga ratus lebih peneliti). Penelitian ini baru saja diterbitkan pada tahun 2018 yang lalu, dan masih sangat fresh.

Dalam penelitian yang dikerjakan oleh lebih dari 100 orang peneliti ini, para dosen yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia, sebanyak 66.5% mengenal dan paham mengenai indeksisasi SINTA, DOAJ, Scopus, Web of Science dan Google Scholar. Selanjutnya sebanyak 76% dari para dosen ini tidak pernah menerbitkan artikel hasil penelitiannya di jurnal-jurnal yang terakreditasi Scopus.

Mengapa hal ini penting?. Gambarannya seperti ini, kalau dosen-dosennya saja tidak paham, apalagi mahasiswanya. So, harus paham, no choice!

Mengapa seorang peneliti/dosen perlu memperhatikan mengenai indeksisasi ?. Saya pernah menuliskan sedikit mengenai jawaban dari pertanyaan ini di tulisan saya yang berjudul “Berkenalan dengan DOAJ dan Sebuah Undangan”.

Sebagai seorang Perawat yang hobbynya menulis di Blog, tidak sulit memahami mengenai Indeksisasi sebuah artikel penelitian. Indeksisasi artikel ini sama seperti SEO tulisan pada blog. Penjelasan mengenai cara kerja dan mekanisme indeksisasi vs SEO hampir sama. Saya bahkan pernah menulis mengenai “Indeksasi Jurnal Internasional: “Bisnis Indeksasi Jurnal, Peluang bisnis yang lebih menguntungkan dari Bisnis Minyak!”.

Ada yang tertarik berbisnis indeksisasi ?

Output riset, sudah sejauh mana menyentuh masyarakat ?

Ketika saya masih menjadi mahasiswi sarjana, dosen saya selalu menekankan soal penelitian yang kami lakukan dan yang akan kami kerjakan kelak. Dosen-dosen saya selalu mengingatkan soal, “Sampai pada tahap apa penelitian dapat berdampak bagi responden dan bagi masyarakat secara luas”. Beberapa tahun kemudian saya menyadari bahwa ternyata, e ternyata penelitian itu sungguh harus menyentuh level kebermanfaatan yang maksimal untuk banyak orang.

Artikel penelitian yang berjudul “Penerapan open science di Indonesia agar riset lebih terbuka, mudah diakses, dan meningkatkan dampak saintifik” yang ditulis oleh Bapak Dasapta Erwin Irawan dan kawan-kawan, menyadarkan saya bahwa sebagai seorang blogger, saya memegang peranan penting dalam kegiatan penyebaran hasil penelitian. Dalam artikel ini, terdapat satu section khusus yang menjabarkan mengenai peranan media sosial untuk mempromosikan karya ilmiah (Para blogger patut berbangga dengan recognition ini).

Mengenai open science, saya sudah beberapa kali menulis mengenai perjumpaan saya dengan kegiatan open science. Beberapa diantaranya adalah 1) Perkembangan Penerapan Sains Terbuka di Indonesia: Refleksi Saya, dan 2) Materi Apik, Menarik dan Menggugah dari Erik Kunto: Perkembangan dan Penerapa Sains Terbuka di Indonesia. Silahkan berkunjung dan memberi komentar di sana.

Berkat paparan yang secara tidak sengaja saya peroleh mengenai Open science inilah mengapa saya secara sadar menginisiasi kegiatan penelitian yang selanjutnya saya buka kepada umum/khalayak umum, dengan harapan mendapatkan respon demi kebaikan proses kegiatan penelitian dan manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak orang nanti.

Memutuskan untuk membuka kepada umum proses penelitian ini membuat saya menyadari banyak hal, salah satunya adalah mengenai keikutsertaan para partisipan. Saya secara tidak sadar mengupayakan yang terbaik agar kegiatan penelitian saya ini bermanfaat dan mampu menarik minat banyak orang, terutama dari lingkungan tempat saya bekerja, seperti di sekolah keperawatan, rumah sakit/klinik perawatan.

Nah, sampai sini, apakah ada gambaran tulisan ini mau dibawa ke mana?

Pendidikan tinggi di Indonesia itu, seperti apa ?

Ketika saya menulis mengenai penelitian, saya pun harus membicarakan mengenai gambaran pelaksanaan pendidikan tinggi di Indonesia (secara umum). Pendidikan dan kegiatan riset itu berjalan saling beringan, sangat sulit rasanya memisahkan kedua komponen penting ini. Kalau bisa diumpamakan, pendidikan dan kegiatan penelitian itu seperti sepasang alis di wajah saya. Keduanya tidak persis sama, but like sisters.

Sambil berselancar di dunia maya, saya menemukan sebuah sumber informasi yang sangat menarik dengan judul “Beyond access: Making Indonesia’s Education system work” yang disusun oleh Andrew Rosser dan diterbitkan pada Februari 2018 yang lalu. Dalam tulisan Rosser ini, saya menemukan gambaran yang sangat lengkap dan menyeluruh mengenai pendidikan (termasuk pendidikan tinggi) di Indonesia serta fokus yang perlu dan patut menjadi perhatian semua orang.

Saya tahu, ada baiknya saya berjalan-jalan ke situs Departemen pendidikan atau kementerian riset, tapi here I am, lebih suka melihat keadaan suatu masalah dari perspektif yang berbeda lainnya.

Berbicara mengenai melihat perspektif yang berbeda, beberapa waktu yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan salah seorang sahabat yang merupakan blogger juga. Hasil dari diskusi tersebut adalah, saya menyadari bahwa selama ini saya cenderung melihat masalah, bahkan menemukan solusi masalah dengan lebih mengedepankan bagaimana “pihak asing “ menilai suatu masalah. Dalam artian, sumber-sumber bacaan dan juga rujukan yang biasanya saya gunakan untuk menyatakan pendapat adalah sumber-sumber berbahasa Inggris yang ditulis dan digunakan lebih banyak oleh orang-orang di luar negeri. Tindakan saya ini sebenarnya bukan tidak beralasan. Sejak saya mulai menulis di Blog, saya ingin sekali memastikan bahwa saya bisa menyumbangkan sesuatu yang baik bagi literasi dan dunia baca-tulis milik Indonesia dengan mengambil perspektif yang berbeda. Literasi dan sumber bahan bacaan dari dalam negeri sendiri itu cukup, tapi kadang kala sama sekali tidak cukup dan tidak memuaskan. Hal ini membuat saya harus dan mau tidak mau mengambil bahan dan sumber dari luar negeri. Hitung-hitung saya ingin menambahkan kekayaan terhadap sumber-sumber yang berbeda untuk kekayaan literatur orang Indonesia.

Okay, lanjut. Hasil permenungan saya akhirnya saya putuskan untuk segera menuliskan di sini. Beberapa poin penting yang berhasil saya gali adalah sebagai berikut:

Tantangan pendidikan Indonesia saat ini adalah bukan pada peningkatan akses pendidikan, tapi lebih pada peningkatan kualitas pendidikan. Rosser memang tidak hanya memfokuskan kajiannya pada ‘hanya’ perguruan tinggi saja, tapi pada sekolah-sekolah yang memang memiliki ijin berdiri di Indonesia, mulai dari sekolah dasar sampai sekolah tinggi (Perguruan tinggi). Menurutnya, akses pendidikan di Indonesia sudah cukup memadai, sekolah-sekolah sudah banyak berdiri di pelosok dan banyak rakyat Indonesia sudah memperoleh pendidikan yang dibutuhkan. Tapi, permasalahannya sekarang harus dirubah, Indonesia harus melakukan setting ulang, setting yang baru terhadap pemberian pendidikan kepada anak didiknya. Ternyata kemudahan akses pendidikan itu, tidak sebanding dengn kualitas pendidikan yang ditawarkan oleh pemerintah/pihak pendidik.

Peningkatan kualitas pendidikan ini bisa diusahakan dengan perencanaan yang matang, dan kerjasama dengan banyak pihak juga. Jaringan internet yang sudah menyebar dengan cukup merata ke banyak tempat saat ini, baiknya menjadi salah satu potensi untuk mengupayakan peningkatan pendidikan di Indonesia.

(Saya sangat antusias sebenarnya membaca bahan kajian ini, menarik sekali bagi saya dan saya menjadi sangat bersemangat untuk melihat apa yang bisa dilakukan ke depan).

Selanjutnya, meskipun pendidikan di Indonesia pada saat ini sudah dikerjakan berdasarkan sistem yang saling terintegrasi, dan berupaya untuk ‘sama’ dengan daerah-daerah lainnya, tetap saja banyak ketimpangan yang terjadi di mana-mana. Sebagai contoh adalah pendidikan keperawatan di Indonesia. Salah satu tolak ukur pendidikan keperawatan di Indonesia adalah angka kelulusan uji kompetensi perawat. Angka kelulusan uji kompetensi ini bervariasi, dan condong menurun untuk wilayah-wilayah di luar pulau Jawa. Fakta ini tidak hanya terjadi pada pendidikan di luar pendidikan keperawatan, terjadi juga pada pendidikan non-keperawatan lainnya. Jangan tanyakan mengapa, jawabannya puanjang pasti!.

Lulusan yang dihasilkan, masih jauh dari harapan stakeholder. Kembali, soal kualitas. Kualitas yang kali ini dilihat adalah kualitas lulusan (output) dari proses pendidikan. Banyak lulusan yang ternyata sangat tidak sesuai dengan tenaga kerja yang diharapkan oleh tempat bekerja (stakeholder). Ini merupakan kenyataan yang sangat menyakitkan, terutama karena output dari sebuah proses pendidikan itu adalah terciptanya insan yang siap untuk berpikir menyelesaikan masalah, dan selanjutnya menjadi pekerja yang dapat diandalkan.

Berbicara mengenai kualitas lulusan, beberapa waktu yang lalu saya melakukan kontak dan diskusi dengan salah satu sahabat saya yang bekerja di bidang seleksi dan penerimaan tenaga kerja baru di sebuah klinik perawatan. Ia menceritakan kepada saya, ketika proses seleksi dilakukan, terutama ketika proses wawancara dan test praktik dilakukan, betapa kecewanya sahabat saya ini karena si pelamar memberikan jawaban yang sangat mengecewakan. Si pelamar, yang merupakan seorang perawat (baru lulus) tidak tahu bagaimana mengencerkan obat dan bahkan tidak tahu bagaimana memasang infus. Saya shock mendengar ceritanya!. Dua keterampilan yang ditanyakan oleh sahabat saya ini adalah keterampilan dasar yang dimiliki oleh seorang lulusan perawat. Seorang perawat, entah itu perawat dengan gelar d3 atau gelar s1 harus bisa memasang infus dan mengencerkan obat (dalam bentuk vial). Harus! Dalam kompetensi pencapaian, kompetensi ini wajib untuk dikuasai. Kisah ini menjadi salah satu gambaran mengenai kualitas kelulusan sebuah sekolah. So, its actually a serious problem!

Investasi dalam bidang pendidikan, tidak memadai. Saya rasa berita soal tidak banyaknya (sedikit) investasi dalam bidang pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah sudah menjadi berita yang sangat tidak asing lagi. Sudah banyak yang tahu dan paham dengan keadaan ini. Kurangnya investasi dan perhatian ini menyebabkan kualitas pun harus dikorbankan dari sebuah pelaksanaan pendidikan. Ironis memang.

Dampak dari tidak memadainya investasi ini salah satunya adalah gaji pengajar (Guru atau dosen) yang sama sekali tidak memadai. Gaji yang tidak memadai ini seperti lingkaran setan yang pada akhirnya bekerja menggerogoti kualitas pendidikan yang diberikan. Semuanya terhubung dan semuanya memberikan dampak/efek.

Investasi mengenai pendidikan juga ada hubungannya dengan sekolah swasta. Sekolah swasta memperoleh dana operasional pendidikannya yang berasal dari mahasiswa/I atau siswa/I miliknya. Dana dari siswa ini selanjutnya diolah untuk memperoleh keuntungan dan untuk menjalankan kegiatan sekolah. Terkadang, sekolah swasta banyak tidak mendapatkan dukungan dalam bentuk dana dari pemerintah. Keadaan ini tentu saja sangat memprihatinkan.

Masalah pendidikan pun juga dipengaruhi oleh iklim politik di suatu tempat/negara atau wilayah. Saya rasa, banyak yang setuju bahwa pada saat ini penyelenggaraan pendidikan juga dipengaruhi oleh aktivitas politik dan sosial tempat di mana sekolah ini berasal. Rosser menegaskan bahwa untuk dapat memperlancar program pendidikan, masyarakat Indonesia pun harus bisa ikut campur dan mempengaruhi pergerakan dan kegiatan politik di mana sekolah ini berada. Jika politik diasumsikan dengan sesuatu yang tidak baik, maka campur tangan pihak pendidikan dan politik akan menjadi kombinasi yang juga sangat tidak baik.

Dalam tulisannya, Rosser memberikan saran yang secara tidak langsung mengatakan seperti ini, “Pemerintah Australia yang ingin berkonstibusi dalam perkembangan pendidikan di Indonesia, harus juga ikut serta dalam pergerakan politik di Negara ini”. I mean, whattt ???. Pikirkan saja sendiri teman-teman.

Pendidikan harus berlandaskan dan diarahkan kearah outcome (Outcomes based education). Saya mungkin bukan orang menyukai prinsip yang berhubungan dengan “Berhubungan dengan hasil”. Saya memiliki pengalaman dan juga pergulatan yang luar biasa untuk merubah keyakinan dan kepercayaan saya mengenai hasil. Saya lebih memilih, “berorientasi pada proses, dan hasil adalah bonus”. Saya percaya bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha (proses). Hasil memang penting, tapi bagi saya lebih penting untuk memilih jalan untuk secara hati-hati menjalani proses. Anyone can relate?

Rosser dalam tulisannya menekankan pentingnya pendidikan yang berorientasi pada hasil dan ini adalah hal yang penting. Kita tidak dapat memungkiri bahwa untuk menilai sebuah proses atau perencanaan serta implementasi, kita membutuhkan apa yang namanya “outcome”.

Bersambung ke bagian II.

15 comments on “Perawat Pendidik dan Kegiatan Riset (Bagian I)”

  1. Bagus, justru sekarang kita harus dituntut untuk mengembangkan riset, baik itu di bidang keperatawatan dll. Tentunya mba ayu juga harus terus berinovasi

    Disukai oleh 1 orang

  2. Sangat inspiratif sekali mbak Ayu.
    Bagi saya yang menjadi kendala untuk seorang peneliti adalah dana. Ada beberapa lembaga riset yang dapat memberikan proposal dana hibah, tapi persaingan untuk mendapatkannya juga cukup sulit.
    Apakah kegiatan riset mbak Ayu juga menggunakan cara seperti ini? Adakah tips agar kegiatan riset lebih mudah diterima di masyarakat, mengingat dampak sebuah riset adalah sebuah “perubahan”.

    Ditunggu kelanjutan tulisannya mbak 😊

    Disukai oleh 1 orang

  3. Hi, Bang Ical.
    Setelah membaca pesan Bang Ical, saya baru sadar kalau saya belum menjelaskan tentang perawat pendidik di blog ini.

    Perawat pendidik adalah salah satu pengembangan karir perawat umum. Perawat umum (Perawat yang banyak ditemukan berpraktik di rumah sakit, puskesmas dan tempat praktik lainnya) memiliki kesempatan untuk menjadi perawat pendidik, perawat peneliti, perawat manager, Setidaknya tiga hal ini yang cukup familiar. Pengembangan karir perawat ini tidak terikat pada spesialisasi tertentu. Sebagai contoh, Perawat kesehatan jiwa (Perawat yang bekerja di rumah sakit jiwa, dan merawat khusus pasien dengan masalah kesehatan jiwa), memiliki kesempatan yang sama dengan perawat maternitas (Perawat yang bekerja khusus untuk merawat kesehatan Ibu dan Bayi. Perawat maternitas tidak sama dengan Bidan) untuk menjadi perawat pendidik.
    Oh ya, perawat pendidik itu banyak dikenal sebagai perawat yang bekerja khusus di bidang pendidikan. Perawat ini adalah mereka yang membaktikan diri untuk mengajar di sekolah keperawatan, menjadi dosen. Untuk menjadi perawat pendidik, perawat harus memiliki pengalaman mendalam sebagai perawat klinis (yang sudah bekerja di lahan praktik, dan memiliki pengalaman praktik yang cukup).

    Kalau ingin mengenal sedikit mengenai pengembangan profesi perawat ini, bisa berkunjung ke blog ini, https://senyumperawat.com/2017/12/apa-bedanya-perawat-klinis-perawat-manajer-perawat-pendidik-dan-perawat-peneliti-riset.html.

    Semoga penjelasan ini membantu ya. Terima kasih sudah berkunjung, Bang Ical.

    Disukai oleh 1 orang

  4. Teirma kasih, Mbak Dian. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar.
    Sejauh ini, riset yang pernah saya lakukan kebanyakan menggunakan dana pribadi dan hibah internal yang jumlahnya cukup (tidak lebih, tidak juga kurang). Untuk riset yang saya lakukan saat ini, dananya adalah dari sebuah yayasan yang baik hati. Kebetulan saya bekerja di bawah naungan yayasan ini, jadi saya memiliki kesempatan untuk mengambil project ini.

    Pertanyaan yang sangat menarik, Mbak. Jawaban singkat untuk pertanyaan mengenai ‘tips’ agar kegiatan riset lebih mudah diterima di masyarakat adalah dengan ‘melibatkan masyarakat tersebut dalam kegiatan riset’ yang kita lakukan. Melibatkan masyarakat dalam kegiatan riset ini dapat berarti banyak hal. Ada yang mulai dari penyusunan proposal, pengumpulan data, bahkan ketika melakukan analisa data penelitian. Salah satu hal yang mungkin adalah dengan membuka informasi mengenai kegiatan penelitian ini kepada masyarakat atau mereka yang terlibat dalam penelitian. Nah, kalau di negara kita, dan kebanyakan di praktikkan hanya sampai pada ‘membagikan hasil’ penelitian kepada masyarakat yang menjadi partisipan sebelumnya (Sekarang sudah mulai trend membuka data penelitian kepada publik, ada fenomena yang disebut sebagai open science atau sains terbuka).

    Untuk membuat riset lebih mudah diterima di masyarakat, ada juga yang menyarankan untuk merencanakan diseminasi riset dengan sangat baik-baik ketika menyusun proposal penelitian. Guru-guru saya sangat menekankan soal diseminasi riset ini, karena kalau diseminasi tidak jelas, maka akan sangat mempengaruhi penyebaran hasil penelitian ketika penelitian sudah selesai.

    Demikian, Mbak. Semoga penjelasan ini bisa memberi sedikit pencerahan ya, Mbak. Semoga membantu juga.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Terima kasih penjelasannya mbak Ayu..
    Beruntung bisa kerjasama dengan yayasan yang mendukung riset penelitian.

    Iya juga yah, masyarakat sekarang rasa ingin tahunya cukup tinggi. Walaupun masih ada yang merasa ‘tabu’ dengan yang namanya riset.

    Semangat mbak Ayu, tulisan seperti ini sangat bermanfaat. 😊

    Disukai oleh 1 orang

  6. Terima kasih juga Mbak Dian.

    Ia, betul sekali, Mbak. Sebagai petugas kesehatan, saya menyadari dengan sungguh bahwa kita harus meningkatkan kompetensi kita dengan lebih keras lagi, mengingat dinamika masyarakat yang semakin cerdas dalam berpikir tentang kesehatan.

    Semangat juga untuk Mbak Dian.

    Disukai oleh 1 orang

  7. Betul, Kak.
    Untuk ilmu kesehatan sendiri, sampai saat ini masih berfokus pada pengembangan obat (dan terapi).
    Harus banyak-banyak menyebarkan isu tentang budaya ya!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s