Bincang-bincang tentang Covid-19


Ketika kasus mengenai penyebaran virus Covid-19 (awalnya disebut sebagai Corona) menjadi perbincangan hangat dunia, algoritma Youtube menunjukkan pada saya presentasi Bill Gates kepada audience di Tedtalk.com. Presentasi yang berjalan kurang lebih 15 menit itu berjudul, “The next outbreak?We’are not ready”.

Sampai saat ini, masih terekam kuat dalam pikiran saya apa yang dikatakan oleh Bill Gates dalam presentasinya. Ia mengatakan,

“We are not ready for the next epidemic!”

Apa yang dikatakan oleh Bill Gates ini seperti sebuah ramalan yang persis dan tepat terjadi. Kenyataan menunjukkan lima tahun kemudian, virus Covid-19 menyerang manusia dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit, belum lagi kepanikan yang melelahkan.

Rangkuman permasalahan yang diutarakan oleh Bill Gates, terletak pada menit pertama presentasinya. Ia mengatakan,

We didn’t have a group of epidemiologists ready to go, who would have gone, seen what the disease was, seen how far it had spread. The case reports came in on paper. It was very delayed before they were put online and they were extremely inaccurate. We didn’t have a medical team ready to go. We didn’t have a way of preparing people. Now, Médecins Sans Frontières did a great job orchestrating volunteers. But even so, we were far slower than we should have been getting the thousands of workers into these countries. And a large epidemic would require us to have hundreds of thousands of workers. There was no one there to look at treatment approaches. No one to look at the diagnostics. No one to figure out what tools should be used.”

Pada saat ini, berita-berita yang ditayangkan di media informasi memaparkan hal yang sudah dipaparkan oleh Bill Gates sebelumnya. Tidak hanya itu, masalah penyebaran virus yang tidak terkendali ini bahkan memunculkan masalah baru, stigma.

Saya mendorong teman-teman sekalian untuk membaca lebih jauh mengenai Social Stigma aassociated with COVID-19, agar dapat melihat lebih jauh dampak dari virus ini terhadap masyarakat dan kehidupan social.

Kilas balik, ketika saya duduk di bangku Pendidikan keperawatan. Saya tidak menaruh perhatian khusus pada virus, imunitas dan imunisasi. Saya lebih tertarik belajar mengenai kanker dibandingkan belajar soal virus. Tapi untungnya, sampai saat ini saya masih sangat fascinated dengan kemampuan antibody yang dimiliki oleh manusia untuk berhadapan dengan benda asing seperti bakteri dan virus.

Salah satu kemampuan yang dimiliki oleh tubuh kita adalah kemampuan untuk belajar dari kesalahan/rasa sakit dan selanjutnya menciptakan solusi untuk menghadapi masalah. Hal ini terjadi sampai pada tingkat sel. Ketika virus atau benda asing datang, tubuh akan menghadapinya, jika Ia kalah, maka tubuh akan cepat belajar agar dapat menyesuaikan diri. Tidak ada kamus ‘kalah berperang’ dalam tubuh kita. Ia pasti akan menemukan cara, cara untuk dapat menghadapi virus/benda asing dan keluar dengan kemampuan untuk menghadapi sampai akhirnya menang.

Pada saat ini, entah mengapa curiosity ini muncul kembali, terutama untuk melihat lebih mendalam mengenai kasus paling menggegerkan pada awal tahun 2020 ini.

Melalui kanal terpercaya seperti WHO (World Health Organization), kita dapat melihat bahwa Coronavirus disease (COVID-19) atau dikenal juga dengan sebutan 2019-nCov atau 2019 Novel Coronavirus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus. Virus ini tidak ditemukan pada manusia sebelumnya tapi kemudian berevolusi dan dapat hidup, tumbuh, serta menyebar pada manusia dan selanjutnya menyebar melalui manusia ke manusia.

Virus ini menyebabkan masalah pernapasan pada manusia (seperti flu) dengan tanda-tanda seperti batuk, demam, dan pada beberapa kasus khusus adalah pneumonia. Saat ini, WHO menyatakan bahwa virus ini dapat menyebar dari kontak yang dilakukan antar manusia satu dan manusia yang lainnya. Kontak dapat terjadi ketika seseorang batuk atau bersin, atau melalui droplets yang keluar dari air liur, atau cairan yang keluar dari dalam hidung (mungkin lebih familiar dengan sebutan ingus). Kesimpulannya, penyebarannya persis terjadi seperti flu (influenza).

Silakan tonton video ini untuk mengenal lebih jauh mengenai virus ini,

https://www.youtube.com/watch?v=mOV1aBVYKGA

Panik adalah reaksi pertama yang banyak muncul dari masyarakat, terutama dari media social. Penyebaran informasi yang super cepat pada saat ini membuat respon panik menjadi semakin ke sana-kemari. Jika kita gali lebih jauh, respon panik ini terjadi tidak lain dan tidak bukan karena kita memiliki keterbatasan pengetahuan akan apa yang terjadi. Kita tidak tahu bagaimana dapat melawan virus ini, sedangkan tanpa kita sadari, kita sudah terinfeksi. Pada saat ini, saya sendiri hanya menaruh kepercayaan pada kemampuan tubuh saya untuk bertahan menghadapi badai virus yang luar biasa ini.

Situasi saat ini

Update tearkhir melalui siaran pers 11 Maret 2020, WHO director-General menyampaikan kabar bahwa sampai detik ini, sudah ditemukan lebih dari 118.000 kasus pada 114 negara. Sudah tercatat 4.291 orang meninggal karena kasus ini. Belum lagi, kepanikan yang melanda dunia kita pada saat ini. Hal yang bias kita harapkan ke depan nampaknya sangat pesimis, angka-angka ini akan mengalami peningkatan, dan kita belum mencapai titik terang untuk menemukan ‘obat’ yang dapat menghadapi virus ini. Kejadian yang melanda dunia pada saat ini, dideklarasikan oleh WHO sebagai kejadian PANDEMIK.

Pandemik bukanlah sebuah kata yang sederhana. Pandemik adalah kata yang berarti bahwa penyakit atau keadaan yang terjadi pada saat ini sudah terjadi globally atau seluruh dunia. Pandemik merujuk pada ‘a worldwide spread of a new disease’. Pandemik adalah kata yang paling cocok disematkan pada kasus novel coronavirus ini.

Pidato WHO Director-General ini seperti pidato yang disampaikan dalam film-film fiksi Hollywood. Sungguh seperti mimpi akhirnya saya pun mendengarkan dengan mode tidak percaya. Akhirnya, kita pun sampai pada titik ini.

Meskipun sudah mendeklarasikan mengenai pandemik, WHO tidak langsung lepas tangan. Melalui siaran pers disampaikan bahwa WHO tetap melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya semaksimal mungkin. Mereka akan tetap melaporkan secara resmi apa yang terjadi pada publik dan tetap mengusahakan apa yang baiknya dilakukan.

Pada saat ini, WHO membuka kanal penting untuk mengetahui lebih jauh mengenai perkembangan penyebaran virus ini. Semuanya dapat diakses melalui linik Global research on coronavirus disease (Covid-19). jika berminat untuk melihat perkembangan research and development dalam melawan penyebaran virus ini, dapat dilihat langsung pada coronavirus disease (Covid-2019) R&D.  Saya pun mendorong siapapun untuk secara aktif mencari informasi terpercaya, terutama dari news update dari WHO. Ini akan sangat membantu melihat permasalahan global ini secara menyeluruh.

Apa yang bisa dilakukan

Dalam pidatonya, WHO directors-genaral menyampaikan setidaknya empat hal penting yang harus dilakukan.

Pertama, prepare and be ready. Kedua, detect, protect and treat. Ketiga, reduce transmission. Keempat, innovate and learn.

Semua ini adalah peperangan bagi masing-maisng individu. Bukan peperangan satu atau dua orang saja, ini adalah peperangan semua orang, setiap individu. Kita semua terlibat dalam peperangan ini.

Prepare and be ready. Pada saat ini, tidak ada pilihan selain mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang terburuk. Apapun itu.

Bagi mereka yang bekerja di perkantoran, silakan untuk mempersiapkan lingkungan kerjanya dengan getting your workplace ready for Covid-19.

Detect, protect and treat. Protect atau melindungi tidak hanya melindungi diri sendiri (tubuh) dari paparan virus. Tapi juga melindungi orang lain disekitar terhadap dampak penyebaran virus ini, salah satunya adalah dari “stigma”.

Mengenai kasus stigma, WHO mendorong banyak orang untuk mempraktikkan cara berkomunikasi yang baik dan beretika dalam membicarakan atau menyebarkan informasi seputar covid-19 ini. Perlu diingat bahwa, pada saat ini kita tidak sedang melawan manusia atau sesama kita, tapi virus yang hidup dan tumbuh di dalam tubuh manusia tanpa disadari.

Protect juga meliputi perlindungan terhadap saluran pernapasan sendiri, langkah yang paling terkenal untuk ini adalah menggunakan masker. Saya menganjurkan teman-teman untuk membaca dan mendalami lebih jauh tentang Advice on the use of masks in the community, during home care and in healthcare settings in the context of the novel coronavirus (2019-nCoV) outbreak.

Patut diketahui bahwa, menggunakan masker saja sama sekali tidak dapat menangkal penyebaran virus. Tindakan menggunakan masker harus diikuti dengan tindakan untuk mencuci tangan dan tindakan-tindakan yang lain. Masker saja, tidak bisa menjamin seseorang akan luput dari penyebaran virus.

Lalu, jika merasa ada yang tidak beres, segeralah mencari pertolongan. Jika setelah mempertimbangakn secara hati-hati, pasien dan keluarga ingin mendapatkan perawatan di rumah. WHO dalam hal ini sudah mengeluarkan guidelines yang bisa digunakan untuk merawat pasien di rumah, silakan kunjungi Home care for patients with suspected novel coronavirus (nCov) infection presenting with mild symptoms and management of contacts.

Reduce transmission. Ini merupakan langkah preventable yang harus diambil semua orang. Memang, langkah ini tergolong bagaimana begitu, tapi ini sungguh sangat penting. Masing-masing orang diharapkan menjaga kontak social dengan orang lain, kalau bisa membatasinya dengan hanya melakukan kontak secara online saja. Terutama bagi mereka yang tinggal di daerah atau wilayah yang masuk ke dalam red zones (misalkan di Indonesia adalah Jakarta dan sekitarnya, karena pada saat ini laporan menunjukkan bahwa banyak individu yang terdiagnosa memiliki covid-19 berada di wilayah ini).

Teman-teman juga dianjurkan untuk mengindari mass gathering atau tempat-tempat yang merupakan tujuan massa. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa mass gathering adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk menyebarkan virus. Untuk saat ini, sudah terdapat beberapa sekolah dan tempat-tempat umum yang secara sengaja mengumumkan ‘ditutup sementara’ tempat mereka beraktivitas untuk menghentikan dan menurunkan angka transmisi virus antara manusia.

Saya pun menganjurkan hal yang sama, sebaiknya berdiam di dalam rumah saja. Sama seperti ketika kita terkena flu (Demam Influenza). Tidak perlu ke luar rumah atau datang ke tempat-tempat keramaian kalau memang tidak perlu. Selamatkan diri dengan mengisolasikan diri, menjauhkan diri dari kontak dengan orang lain secara fisik. Ini tentu saja tidak berlangsung selamanya, ini hanya sementara, sampai situasi ini mereda dan berangsur-angsur membaik.

Innovate and learn. Ini adalah himbauan terakhir, tapi juga adalah yang tersulit (mungkin). Pada saat ini, kita semua masih terus berjuang untuk dapat mengalahkan virus ini. Belum ada kata ‘menyerah’ dan ‘kalah’.

Mengenai poin innovate, baru-baru ini terdapat kabar yang cukup menggembirakan dan patut dijadikan contoh. Kabar ini datang dari team inovasi produk kesehatan dari University of the Philippines. Team inventor ini berhasil menciptakan Test Kit dengan harga murah dan akurat untuk dapat mendeteksi keberadaan Covid-19 dalam tubuh manusia. Tentu saja, alat test ini tidak dapat digunakan sembarang orang. Orang-orang tertentu, medical professional yang sudah terlatih adalah mereka yang dapat menggunakan test kit ini. Tapi, keadaan ini tidak dapat menurunkan betapa pencapaian ini sungguh berharga pada masa-masa seperti ini. Bayangkan kita dapat melakukan test pada banyak orang, dan menolong banyak yang membutuhkan.

Sebagai seorang Perawat

Sejak masa Pendidikan, saya diajarkan untuk melakukan ‘proteksi’ terhadap diri sendiri, sebelum saya melindungi orang lain. Saya, sebagai petugas kesehatan harus dalam keadaan 100% fit, sebelum saya bekerja dan melayani mereka yang sakit. Jika saya ragu, saya harus memastikan bahwa saya aman terlebih dahulu. Jika saya sakit, saya harus berani mengatakan para pimpinan tim untuk mencari pengganti untuk menggantikan saya memberikan pelayanan. Saya pun selanjutnya harus segera mencari pertolongan. Intinya adalah saya harus sehat terlebih dahulu. Jika saya belum aman, dan saya menolong orang lain, ini namanya misi bunuh diri. Tolol dan sama sekali tidak heroik. Itu yang saya ingat, saya pelajari di masa-masa pendidikan saya. Sampai saat ini prinsip ini masih saya pegang terus.

Ketika membaca berita mengenai protes yang dilayangkan oleh para perawat di US, saya merasa, wajar. Apa yang dituntut oleh para perawat ini adalah perlindungan, mereka harus selamat terlebih dahulu sebelum mereka bisa menyelamatkan orang lain. Menjadi perawat memang adalah sebuah tugas mulia, tapi bukan tugas untuk membunuh diri sendiri.

Tapi kembali, bekerja sebagai perawat adalah bekerja untuk kemanusiaan. Sejak awal, saya sudah diajarkan untuk bersikap tidak egois dengan keinginan dan kehendak sendiri dan selalu mendahulukan kepentingan pasien saya. Keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi, dan pasien adalah perhatian nomor satu dalam diri setiap perawat.

Untuk para perawat, dan petugas kesehatan pada umumnya. Silakan menerapkan langkah perlindungan semaksimal mungkin seperti yang sudah dianjurkan. Silakan pula menengok Infection prevention and control during health care when novel coronavirus (nCoV) infection is suspected yang dikeluarkan oleh WHO. Prevention and control ini sungguh akan sangat berguna, dan tentu saja modifikasi sesuai dengan kemampuan dan kapasitas tempat bekerja.

Saya hanya bisa berpesan kepada teman-teman perawat, kuatkan hati, siapkan tubuh, mari melayani dengan tabah dalam denyut pengabdian kepada negeri. Pada saat-saat seperti ini, tenaga kita sungguh sangat diperlukan. Semoga kita mendapatkan kesehatan, kekuatan dan ketegaran untuk menjalani semua proses ini sampai akhir.

Mari berjuang bersama!

Sampai saat ini, tidak ada saran yang lebih pas diberikan selain Wash Your Hand! Cuci tanganmu sesering mungkin. Cuci tangan!.

unnamed

Cuci tangan terbukti efektif mengurangi penyebaran virus dan bakteri. Ini merupakan tindakan paling dasar yang bisa dilakukan oleh individu dalam upaya untuk mencegah penyabaran virus. Lalu, yang terakhir jangan lupa untuk terus update informasi dari sumber yang terpercaya, dan jangan lupakan prinsip critical thinking untuk menyaring informasi.

Semoga tulisan ini bermanfaat, salam dari saya dan semoga kita sekalian selalu diberkahi kebaikan dan kesehatan.

21 pemikiran pada “Bincang-bincang tentang Covid-19

  1. Sangat bermanfaat mbak Ayu, semoga kita semua terhindar dari Covid-19.

    Saya melihat masyarakat yang mulai tanggap dengan gerakan hidup sehat di beberapa fasilitas umum, contohnya saja penyediaan handsanitizer di pintu masuk beberapa tempat. Tapi yang saya sayangkan adalah kelangkaan masker dan handsanitizer. Bahkan ada yang menjual dengan harga yang tidak masuk akal. Sedih rasanya.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ini bermanfaat sekali. Banyak informasi simpang-siur, dan kadang masyarakat bingung mau percaya yang mana.

    Setuju sama Mbak Dian. Saya juga sedih banyak yang ngambil kesempatan dalam kesempitan. Bahkan kemarin, sempat lihat seorang teman yang mau ngasih masker cuma-cuma, tapi yang mau ngambil justru kepingin jual kembali.

    Selama seminggu saya dirawat di RS yang jadi rujukan penanganan virus. Di sana terasa bener kalau pihak pelayanan kesehatan di sana dalam kondisi waspada, tetapi mereka tetap bisa melakukan aktivitasnya dengan baik. Selalu kagum sama tenaga kesehatan.

    Omong-omong, saya setuju sama kalimat ini,

    “Jika saya belum aman, dan saya menolong orang lain, ini Namanya misi bunuh diri. Tolol dan sama sekali tidak heroic.”

    Semoga Kak Ayu sehat selalu.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Terima kasih, Mbak Dian. Amin, semoga kita semua selalu sehat dan terhindari dari wabah ini.

    Betul sekali, tidak hanya di Indonesia saja, bahkan di luar negeri pun demikian. Ini adalah bentuk dari perilaku panik, bisa juga coping mechanism dalam menghadapi situasi seperti ini.
    Mengenai kalangkaan masker, saya harap kita bisa kreatif dan membuat sendiri masker di rumah (terutama bagi ibu-ibu di rumah untuk perlindungan keluarga). Ini bisa saja di akali. Nah soal hand sanitizer, ini yang agak sulit. Tapi, bisa diganti dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.

    Semoga kita selalu sehat ya, Mbak.

    Suka

  4. Terima kasih juga kak sudah mampir dan memberikan komentar. Semoga kita selalu diberikan anugerah kesehatan dan kedamaian dalam menghadapi wabah ini. Amin.

    Suka

  5. Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar, Mbak.

    Ia, saya juga merasa sangat prihatin dengan sikap egois kita manusia dalam masa-masa seperti ini. Pada beberapa rumah sakit, bahkan mengalami kekurangan stok masker karena sudah tidak ada lagi persediaan masker di distributor. Padahal tahu sendiri, rumah sakit tempat pelayanan kesehatan adalah yang pada saat ini sangat membutuhkan perangkat perlindungan diri ini.

    Ia, kalimat yang saya tulis itu adalah prinsip pertolongan pertama. Kita harus menjadi sadar dan menyakinkan diri bahkan kita aman dan selamat sebelum mengamankan dan menyelamatkan orang lain.

    Untuk saat ini, kalau memungkinkan berdiam di rumah, mengisolasikan diri adalah cara yang baik untuk mengamankan diri sendiri agar tidak merugikan orang lain.

    Semoga kita selalu sehat dan semoga kita bisa melewati wabah ini dengan baik.

    Saya mengerjakan tulisan ini dengan cepat-cepat, baru menyadari kalau banyak typo di sana-sini haaaa

    Suka

  6. Sedikit pertanyaan untuk pengamat study kasus ini. Pertama saya ingin ketahui terlebi dahulu kronologi virus dalam negeri. Kedua adalah apakah memang menteri kesehatan serta badan lain menemukan bukti adanya virus ini, ataukah isu ini adalah strategi petinggi kita agar menutupi kasus yg terlebi dahulu

    Disukai oleh 1 orang

  7. Halo, Kak Irfan Nasution.
    Terima kasih sudah mampir dan memberikan tanggapan.

    Pertama, soal “Kronologi virus dalam negeri”. Saya anggap bahwa kronologi yang dimaksud di sini adalah proses penyebaran virus (merujuk pada Virus Corona (COVID-19)) yang saat ini sedang menjadi wabah di negera kita. Seperti yang sudah saya tuliskan, penyebaran virus corona pada saat ini disepakati hampir sama seperti virus flu pada umumnya, yaitu melalui droplet. Virus ini sangat mudah menular dari manusia satu ke manusia yang lainnya. Lalu, bagaimana bisa masuk ke negera kita?. Seperti yang banyak ditulis dan dilaporkan oleh media, virus ini bisa masuk ke suatu negara dibawa oleh manusia (penduduk negara) yang melakukan perjalanan dan kontak dengan sumber virus ini berasal. Jalur transportasi udara terutama menjadi perhatian besar sebagai pintu masuk mengapa virus ini bisa menyebar ke negera kita.

    Kedua, masalah virus ini adalah nyata adanya. Virus memang tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang, kita perlu alat khusus untuk melihat virus ini (Mikroskop tidak mampu melihat adanya virus, kita perlu mikroskop elektron setidaknya). Tapi, keberadaan virus ini dalam tubuh manusia dapat diketahui dengan jelas melalui tanda dan gejala yang ditunjukkan tubuh sebagai respon perlawanan atas keberadaan virus ini dalam tubuh. Seperti demam, sakit kepala, nyeri sendiri, batuk kering dan bersin dan masih banyak lagi tanda dan gejala lainnya. Sebagai seorang petugas kesehatan, saya tidak berpikir bahwa kasus/wabah virus ini adalah kasus untuk menutupi kasus yang “terlebih dahulu” seperti yang Kakak sampaikan (Saya jujur saja tidak tahu kasus ‘terlebih dahulu’ ini maksudnya apa heee). Fokus saya saat ini, dan juga teman-teman petugas kesehatan lainnya saat ini adalah bagaimana agar dapat melawan virus ini, membuatnya tidak ‘berdaya’ untuk merusak tubuh manusia yang menjadi ‘host’nya. Intinya, pasien yang memiliki virus ini dapat sehat seperti semula dan terhindari dari komplikasi yang tidak diinginkan. Itu kenyataan yang saya dan teman-teman saya hadapi saat ini, kak.

    Itu saja jawaban dari saya, Kak. Semoga bisa membantu ya.

    Suka

  8. Ping-balik: WKWK 5 – Corona, Nunu dan Guru – Ikatan Kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s