Pelajaran Penting dari Penanganan Wabah Covid-19 di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina


“Belajar dari kesalahan yang lalu dan mengambil keputusan yang tepat pada saat ini adalah langkah bijaksana yang bisa kita lakukan untuk tetap bertahan dan melanjutkan perjuangan”, demikian kira-kira kalimat yang keluar dari mulut seorang perawat dan juga mentor saya beberapa tahun lalu, ketika saya masih menjadi Mahasiswi magang.

Kalimat yang diutarakan oleh Ners ini sangat tepat untuk situasi dan keadaan yang terjadi pada saat ini. Wabah Covid-19 yang menyerang negara ini dan juga banyak negara-negara lain di dunia menuntut kita untuk belajar dengan cepat dari apa yang sudah terjadi sebelumnya dan dengan segera mengambil keputusan untuk menyelamatkan banyak nyawa.

Tulisan ini saya buat secara sengaja sebagai bentuk pembenaran, “Mengapa kita harus membatasi aktivitas di luar rumah dan tinggal dan diam di rumah saja’ pada masa-masa saat ini. Semoga tulisan ini dapat menjadi sedikit suplemen untuk mengisi kegiatan dan aktivitas di rumah.

Sambil berselancar di Twitter, menggunakan waktu luang yang saya miliki, saya mendapatkan link tulisan yang sangat bagus dan sangat penting untuk dibaca oleh kita sekalian pada saat ini. Tulisan ini bersumber pada sebuah artikel publikasi yang tulis oleh beberapa ilmuan dunia dengan judul Lesson learned from the 2019-nCoV epidemic on prevention of future infectious diseases”. Tulisan ini bisa diakses secara bebas dan terbuka pada link yang sudah saya sertakan di judul tulisan.

Artikel ilmiah ini ditulis dengan sangat sederhana, padat dan jelas menyampaikan apa yang memang perlu disampaikan kepada publik. Tidak cukup bagi saya membaca hanya sekali atau dua, tidak cukup juga rasakan kalau tidak membuat catatan, membahasnya lalu menyebarkannya kepada khalayak ramai, para pembaca yang Budiman.

Melalui artikel ini, saya dan kita sekalian dapat belajar pelajaran penting untuk melakukan pengelolaan kasus dan pencegahan untuk kasus-kasus penyakit infeksius di masa mendatang.

Bukan rahasia umum lagi, penyebaran virus corona sudah mencapai titik yang sangat-sangat mengkhawatirkan. Rasanya baru tiga bulan yang lalu, virus corona diberitakan hanya terjadi di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Tapi, kemudian pada saat ini lebih dari seratus negara harus berperang besar-besaran untuk menyelamatkan penduduknya dari invasi virus ini. Bahkan organisasi kesehatan dunia sudah mengeluarkan pernyataan bahwa wabah ini adalah berstatus pandemik, yang berarti masalah virus ini sudah menjadi masalah dunia secara keseluruhan, bukan hanya beberapa negara saja.

Virus tidak terlihat dengan mata telanjang. Sifat virus ini yang seperti ini, membuat banyak orangmeremehkan keberadaannya. Mengutip kata seorang dokter dalam bincang-bincang di televisi, “Kita cenderung menganggap enteng sesuatu yang tidak kita lihat”. Sikap tidak acuh kita ini selanjutnya menggiring kita pada situasi kritis pada saat ini. Jika dilihat dari statistik, setiap hari ada saja penambahan jumlah orang yang terdiagnosa positif terkena infeksi virus, belum lagi jumlah nyawa yang gugur karena sebab virus ini.

Virus, meskipun adalah makhluk yang tidak kasat mata, mampu mengguncang dunia seperti saat ini. Membuat banyak orang dilanda kepanikan, bahkan mengancam stabilitas dan kelangsungan hidup penduduk di masing-masing negara. Dahsyat!

Beberapa bulan yang lalu, masyarakat kota Wuhan pasti tidak pernah menyangka akan mendapatkan musibah yang luar biasa ini. Penyebaran virus begitu cepat, banyak orang yang jatuh sakit dan banyak pula yang harus berpulang karena virus ini. Mereka yang terlibat langsung menangani penyebaran virus di kota Wuhan waktu itu bekerja dengan sangat keras untuk melakukan banyak peran sekaligus dalam waktu yang singkat. Pelajaran dari kasus-kasus infeksius sebelumnya menjadi fondasi yang sangat baik untuk melakukan perlawanan terhadap virus baru yang sampai saat ini masih memberikan banyak pertanyaan tanpa jawaban. Peperarangan yang dihadapi, bukan hanya peperangan sebagian orang, bukan peperawatan pada dokter, perawat atau ilmuan saja. Ini adalah peperangan semua orang. Semua orang memiliki tanggung jawab dan tugas untuk memukul mundur musuh tidak kasat mata ini (virus).

Pemerintah cina melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan warganya, dan mencegah virus ini menyebar ke tempat lain. Usaha yang dilakukan memang tidak berhasil mencegah penyebaran virus ini ke berbagai negara, tapi usaha yang mereka lakukan paut diajungi jempol. Mereka tidak hanya membuat program asal-asalan untuk menghadapi serangan virus, tapi secara bersama-sama, dengan berpegang pada prinsip menyelamatkan manusia, mereka berhasil merancang sistem yang setidaknya mampu mengurangi jumlah pasien yang terpapar virus dan menjaga mereka yang masih sehat untuk tetap sehat sampai saat ini.

Upaya yang mereka lakukan adalah hal terbaik yang bisa kita pelajari untuk selanjutnya dapat kita contoh dan terapkan di tempat kita saat ini.

Setidaknya ada beberapa hal penting yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat kota Wuhan dan cina secara keseluruhan. Beberapa hal-hal penting tersebut tercatat sebagai berikut:

Tidak menyia-nyiakan pelajaran dari kasus sebelumnya

Saya rasa, para petugas kesehatan akan sangat familiar dengan istilah “Belajar dari pengalaman”. Belajar dari apa yang terjadi sebelumnya sangat penting, terutama ketika kita bekerja dengan manusia. Asas ‘hati-hati’, cermat dan teliti selalu menjadi hal pertama yang muncul sebelum tindakan dilakukan tentu saja.

Hal yang sama dipraktikkan oleh para penanggungjawab kasus Covid-19 di Cina. Mereka menggunakan model penanganan kasus luar biasa yang terjadi sebelumnya. Mereka menggunakan model penanganan untuk kasus wabah seperti penyakit Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang sempat heboh pada beberapa tahun yang lalu, dan juga kasus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada tahun 2012 lalu. Penelitian, praktik dan kerjasama yang pernah dilakukan untuk menangani wabah sebelumnya, digunakan kembali dan disesuaikan dengan kebutuhan pada penanganan kasus yang baru. Ini sungguh langkah yang tepat.

Koordinasi dan kolaborasi yang efektif, efisien dan disiplin dengan berbagai pihak

Ketika saya dan sahabat saya melakukan diskusi mengenai penyebaran kasus virus corona ini, sempat terlontar dari mulut kami kalimat seperti ini,

“Untung kasus pertama pasien dengan covid ini ditemukan di Cina. Saya tidak bisa membayangkan jika kasus ini terjadi pada negara lain, terutama yang belum memiliki pengalaman berhadapan dengan wabah yang berjalan begitu cepat seperti saat ini”.

Pemikiran seperti ini terlahir setelah melihat apa yang terjadi pada dunia akhir-akhir ini. Cina bisa dikatakan berhasil menghadapi wabah penyakit ini. Meskipun tentu saja dengan membayar harga yang sangat mahal untuk menerima dampak yang terjadi akibat virus ini.

Cina menunjukkan pada dunia bahwa mereka melakukan koordinasi dan kolaborasi yang cukup baik antara semua sektor, termasuk sektor pemerintahan dan non-pemerintahan. Terbukti, tidak lama setelah kasus mulai banyak bermunculan, Kota Wuhan segera menerapkan system traffic control untuk mencegah penyebaran virus. Lalu, tidak lama berselang, kita bisa melihat bahwa pemerintah bersama masyarakat secara langsung memberlakukan total lockdown pada keseluruhan kota sampai batas waktu yang tidak diketahui. Selanjutnya, seperti yang banyak diantara kita kagumi, cina membangun rumah sakit khusus untuk perawatan pasien dalam waktu yang sangat-sangat singkat.

Kerjasama dilakukan dengan menerapkan model interaksi. Model ini, secara jelas dapat digambarkan sebagai berikut:

1-s2.0-S1286457920300320-gr3_lrg

Figure1. Interaction in society during the 2019-nCoV Pandemic.

(Source: https://doi.org/10.1016/j.micinf.2020.02.004)

Melihat dari gambar interaksi ini, kita dapat melihat interaksi yang dilakukan oleh komponen-komponen penting seperti penyedia medical care, media, pemerintah dan general public, belum lagi ditambah dengan kolaborasi dan kerjasama dengan dunia internasional dan sebagai tambahan Information Technology sebagai penopang publik dalam menghadapi pandemi. Model ini sungguh bisa ditiru oleh kita semua dalam menghadapi wabah luar biasa ini.

(Silakan berkunjung ke link yang sudah disediakan untuk mempelajari lebih jauh mengenai model ini)

Sangat menghargai waktu

Mereka yang belajar mengenai virus dan mikroorganisme lainnya pasti tahu betapa pentingnya ‘waktu’ untuk menyelesaikan kasus infeksi. Virus bekerja sangat cepat dalam menyerang tubuh manusia, virus tidak mengenal procrastinating atau kegiatan menunda-nunda. Ketika virus sudah masuk ke dalam tubuh manusia, Ia akan secara langsung mencari inang (dalam hal ini adalah sel hidup) lalu bekerja men-sabotase dan selanjutnya menghancurkan sel-sel hidup untuk berkembang biak secara terus menerus, dan tanpa mengenal waktu.

(Sampai titik ini, saya berpikir bahwa virus bukan berasal dari bumi. Virus mungkian adalah makhluk yang dibawa dari luar angkasa sana).

Petugas kesehatan, peneliti dan mereka yang bekerja keras untuk menghambat proses penyebaran dan kegiatan aktif virus dalam tubuh berpacu dengan waktu dalam melakukan pengambilan sample virus, penelitian virus di laboratorium dan menyajikan informasi langsung mengenai virus dan perkembangbiakannya. Semuanya dilakukan dalam waktu yang sangat singkat!

Patuh dan mengikuti instruksi

Hal ini adalah hal yang sangat saya kagumi dalam proses penanganan virus yang dilakukan di Kota Wuhan. Masyarakat patuh pada anjuran pemerintah. Memang, terdapat banyak berita yang menunjukkan bahwa terdapat kelompok-kelompok yang tidak menyukai pemerintah dan melancarkan aksi macam-macam, tapi tetap saja pada akhirnya mereka mengikuti anjuran pemerintah. Masyarakat secara kooperatif mengikuti anjuran untuk tinggal dan diam di rumah, dan tetap mengontrol diri.

Lalu, hal lain yang penting adalah kepatuhan dari masyarakat untuk bergerak dalam satu komando menghadapi wabah yang terjadi. Melalui berita-berita, kita dapat melihat bahwa masyarakat mengikuti arahan dari pemerintah dan pihak yang berwenang dalam menjalani proses menjaga kontak fisik dan lain sebagainya. Mengikuti perintah ini dilihat sebagai bentuk konstribusi dan cara untuk menyelamatkan orang lain/orang di sekitar yang memang sangat berharga bagi masing-masing individu. Kita mungkin tidak bisa berbuat banyak, tapi setidaknya dengan diam di rumah, kita sudah ikut berpartisipasi dalam mengurangi penyebaran virus.

Saya sangat berharap, di Indonesia kita pun bisa belajar dari Cina dan bergerak di bawah satu komando. Sejauh yang saya tahu, Bapak Presiden sendiri yang mengambil alih penanganan penyebaran virus corona ini di Indonesia. Ini merupakan sebuah langkah yang besar, dan bangsa kita tentu saja sedang diuji pada saat ini. Saya rasa sebagai seorang warga negeri, adalah tugas saya untuk patuh demi kebaikan dan keselamatan banyak orang. Sederhana saja yang bisa saya dan teman-teman lakukan, #dirumahsaja adalah salah satunya.

Pelayanan kesehatan yang pantang menyerah

Banyak video dan berita-berita yang menyatakan bahwa Cina ternyata memiliki fasilitas pelayanan kesehatan dan system kesehatan yang cukup membuat iri. Bahkan cina memiliki system pelayanan terhadap orang sakit yang jauh lebih lengkap dan lebih siap untuk menghadapi wabah dibandingkan dengan negara seperti Amerika Serikat. Sepertinya kita akan terus “belajar ke negeri cina” untuk beberapa masa yang akan datang.

Saya pun terkesima dengan penyediaan Personal Protective Equipment (PPE) atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai Alat Pelindung Diri (APD). Kalau dibandingkan dengan di negara kita yang serba kekurangan dan sangat mengancam keselamatan para petugas kesehatan ketersediaannya, cina memiliki PPE dalam jumlah yang cukup untuk bisa membantu memerangi invasi virus. Terdapat beberapa berita yang menunjukkan bahwa para petugas kesehatan di kota Wuhan mengalami krisis ketersediaan PPE, tapi entah bagaimana lalu kekurangan ini dalam waktu singkat dapat ditutupi. PPE siap, petugas kesehatan siap untuk bekerja dengan maksimal.

Belajar dari penyediaan PPE di Wuhan, saya berpikir mengapa Indonesia tidak membuka pabrik PPE untuk negaranya sendiri?. Mengingat Indonesia adalah negara dengan banyaknya penyakit infeksius, salah satu yang terkenal adalah Tuberculosis Diseases (TBC). PPE itu wajib ada dan wajib tersedia setiap kali membutuhkan. Kalau kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, bagaimana kita bisa mengharapkan agar para petugas kesehatan dapat membantu pasien yang sakit untuk menjadi sehat dan sembuh dari sakitnya. Ia, bukan?.

Jika memang petugas kesehatan adalah garda terdepan, ujung tombak untuk menghadapi serangan virus ini, maka sudah selayaknyalah para petugas kesehatan ini dibekali dengan amunisi yang cukup agar dapat bertahan dan menang. Amunisi pertama dan paling dasar yang dibutuhkan saat ini adalah PPE atau APD. Tapi ini pun jumlah ketersediaannya pun sangat mengkhawatirkan pada titik ini.

Sudah dikhawatikan dengan jumlah PPE yang terbatas, para petugas kesehatan pun harus berhadapan dengan masalah keras kepalanya pasien, ada saja yang berbohong pada petugas kesehatan mengenai riwayat sakitnya, dan bahkan ada saja kelompok masyarakat yang melakukan penolakan terhadap petugas kesehatan karena alasan “takut menularkan” penyakit di wilayah tempat tinggalnya. Sedihnya.

Selain memuji keberhasilan cina, banyak media yang melakukan kritik terhadap bagaimana cina menangani kasus ini. Salah satunya adalah keterbukaan informasi. Saya rasa semua yang tahu Cina pasti tahu bahwa Cina adalah negara komunis yang sangat besar di dunia. Sistem pemerintahan mereka membuat pemerintah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika kasus covid-19 ini terjadi, pemerintah cina dikabarkan secara sengaja menutup akses informasi antara cina dan dunia luar. Alasan pada saat itu adalah untuk mengurangi kepanikan masyarakat dunia menghadapi apa yang terjadi. Banyak spekulasi yang bermunculan, salah satunya adalah pendapat yang menyatakan bahwa cina secara sengaja menutupi kasus penyebaran virus dan tidak secara jujur melaporkan jumlah korban dan jumlah mereka yang positif terkena penyakit. Tapi, ya sudahlah, itu urusan mereka. Saya hanya melihat bahwa saat ini dampak penyebaran virus yang sangat infeksius ini sudah melanda negara kita dan efeknya begitu sangat mengkhawatrikan.

Cina memang sangat mengagumkan dalam penanganan wabah virus corona. Mata dunia jelas-jelas tertuju pada mereka selama beberapa waktu ini. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari tindakan dan aksi yang sudah mereka lakukan, dan inilah yang kita perlukan pada saat ini. Disamping kelebihan dan keberhasilan cina dalam menangani wabah, pasti ada saja kekurangan dan keburukannya. Sebagai seorang individu, baiknya memang adalah “mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk”. Itu saja cukup.

Banyak sekali yang ingin saya tuliskan pada saat ini, tapi saya rasa cukup disini saja dulu. Mari kita lanjutkan pada tulisan-tulisan selanjutnya. Jangan lupa, tetap jaga physical distancing kita, tetap #dirumahsaja dan selalu alert dengan instruksi pemerintah.

Semoga tulisan ini bermanfaat, terutama dalam masa-masa community quarantine seperti saat ini, dan tentu saja salam hangat dari saya. Tetap sehat dan semangat menjalani hari. Semoga kita sekalian dianugerahi kesehatan dan keselamatan. Amin.

 

12 pemikiran pada “Pelajaran Penting dari Penanganan Wabah Covid-19 di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina

  1. Benar, kita harus belajar dari mereka yang berhasil kendalikan atau mengurangi sebaran. Tapi ada pendapat bahwa cara Cina agak sulit diterapkan dalam sistem pemerintahan dan kondisi sosial disini. Lebih pas cara Korea…Apakah benar?

    Disukai oleh 1 orang

  2. Kl kita bs lebih disiplin dlm hal social distancing, stay at home kl emg gk perlu2 banget utk keluar, jaga kebersihan, mgkn jml korban bakal lebih terkendali. Lha kadang2 masih aja ada orang2 egois dan bandel yg meremehkan keadaan. Giliran dirinya sendiri yg kena, baru nyesel.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Mudah-mudahan wabah ini bisa menyadarkan manusia bahwa kita bagian dari bumi, bukannya penguasa bumi. Ada atau tidak ada manusia, bumi bakal terus lanjut sampai suatu saat nanti terjadi “big rip” atau entah apa yang bakal mengakhiri semesta.

    Terima kasih untuk tulisannya. Keren sekali dan bermanfaat. 😀

    Disukai oleh 1 orang

  4. Nah, pernah dengar juga soal ini. Bahkan ada beberapa artikel yang menganjurkan untuk mengikuti cara kerja Korea dalam menangani kasus penyebaran virus ini. Korea terbukti berhasil laju penyebaran virus dengan aktif melakukan deteksi (pemeriksaan) dan meng-karantina mereka yang sudah terbukti positif.
    Pada sebuah wawancara di akun Asian Boss (youtube), kita juga bisa lihat kalau Korea memang sudah sangat siap dalam menangani masalah penyebaran virus. Mereka sudah punya sistem yang bagus dan pemimpinnya sangat mendukung sepertinya. Kelihatan sekali kalau yang memimpin misi pemberantasan virus adalah dari kalangan ahli.

    Haduh kok ngomongnya jadi kepanjangan bgini haaaa

    Disukai oleh 1 orang

  5. Nah, itu dia.,,
    Kadang, ketidakpedulian kita inilah yang benar-benar akan memusnahkan spesies kita kelak.
    Takutnya terjadi begini, “Dinosaurus punah karena tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan, Manusia punah karena ketidakpedulian pada sesama” haaa

    Disukai oleh 1 orang

  6. Terima kasih sudah mampir dan memberi komentar, Kak.

    Saya setuju Kak, moment ini benar-benar adalah moment untuk merenung. Salah satunya adalah topik yang Kakak sebutkan ini.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s