After Series karya Anna Todd: Toxic relationship yang berujung pada pemulihan dan penemuan diri sendiri


Saya bukanlah seorang ‘fans’ untuk kisah-kisah dari novel romantic. Saya menemukan beberapa tahun yang lalu bahwa kisah cinta yang ditulis dalam novel-novel adalah kisah cinta yang hanya menyumbangkan harapan palsu pada orang-orang yang sedang mencari cinta melalui tangan para penulis novel. Saya jelas bukan fans. Tapi, sejak kejadian wabah penyebaran virus corona ini, dan kesempatan untuk menikmati waktu luang di luar rumah tidak memungkinkan, saya akhinya memutuskan untuk setidaknya mempertimbangkan untuk melihat kembali apa yang disajikan oleh novel-novel dengan tema romansa.

Mudah sekali menemukan novel-novel romansa saat ini. Saya bahkan sempat berpikir bahwa novel itu adalah istilah yang diberikan untuk cerita yang bertemakan romansa. Terlalu banyak novel romansa di pasaran. Sedikit sulit untuk menemukan novel mana yang cocok untuk melakukan tindakan distraksi terhadap kejadian dunia saat ini.

Akhirnya, setelah secara tidak sengaja menemukan trailer TV series di Netflix yang berjudul “After”, saya akhirnya memutuskan untuk mencari buku yang menjadi inspirasi dari series ini. Tidak lama untuk menemukan bahkan TV series After adalah TV series yang diangkat dari novel yang diterbitkan oleh Anna Todd dengan judul yang sama. Terdorong oleh rasa penasaran dan rasa bosan yang mendalam, akhirnya saya memutuskan untuk membaca seluruh novel terbitan After karya Anna Todd.

Novel karya Anna Todd yang merupakan bagian dari After Series adalah 1) Before, 2)After, 3) After We Collide, 4) After We Fell dan 5) After Every Happy. Buku ini juga bisa dibaca langsung melalui akun WattPad milik Anna Todd.

wp-15860531596112575791162315017068.jpg
After Series Novel karya Anna Todd

Saya membutuhkan waktu selama lima hari untuk menyelesaikan keseluruhan novel. Selesai melahap novel-novel ini, rasanya saya tidak bisa untuk tidak membagikan banyak hal yang saya temukan dari novel series ini. Tulisan ini saya tujukan untuk membagikan pelajaran-pelajaran yang saya temukan setelah selesai membaca novel-novel ini.

Peringatan!

Sebelum memutuskan untuk membaca novel ini, saya perlu mengingatkan bahwa novel series After, karya Anna Todd adalah novel series yang sebaiknya dibaca oleh mereka dengan usia 18 tahun keatas. Semoga paham maksud saya.

Lalu, kisah cinta yang diperkenalkan dalam novel Anna Todd ini, bukanlah kisah cinta yang bagus untuk dijadikan role model. Namun, kisah cinta ini sangat dianjurkan untuk dijadikan pelajaran bagi pasangan-pasangan di luar sana, dan juga bagi mereka yang bekerja sebagai therapist untuk hubungan keluarga atau pasangan.

The devil who falls in love with an angel atau the lion who falls in love with a lamb.

Beberapa kisah cinta yang saya baca selalu mengangkat konflik yang terjadi antara dua insan yang ‘berbeda’. Entah itu berbeda kepribadiannya, atau status social ekonominya atau macam-macam. Para penulis novel sepertinya menemukan kepuasan untuk menulis cerita yang timbul dari konflik yang muncul akibat benturan-benturan antara dua insan yang memiliki perbedaan antara langit dan bumi.

Anna Todd, sang penulis menceritakan kisah cinta yang terjadi antara dua insan yang mengikuti hukum yang sama. Hardin Scott, seorang pemuda yang sangat-sangat bermasalah dan Theresia Young, seorang pemudi yang bisa dibilang lurus jalan hidupnya. Meskipun novel ini adalah novel yang dibukukan dari kisah-kisah yang sebelumnya diterbitkan di Wattpad, dan merupakan kisah fan girl yang juga terinspirasi dari group band One Direction beberapa tahun yang lalu, tetapi ada yang berbeda. Kisah cinta dalam novel ini menyajikan sesuatu yang ‘berbeda’ dari kisah cinta pada umumnya. Untuk alasan ‘berbeda’ inilah mengapa saya begitu sangat tertarik untuk membaca habis novel series ini.

Kisah cinta antara Hardin dan Theresia mengingatkan saya pada kisah cinta yang terjadi antara Anikin Skywalker dan Padme dalam serial Star Wars, Edward Cullen dan Isabella Swan dalam serial Twilight dan mungkin seperti kisah cinta Christian Grey dan Anna dalam serial Fifty Shades of Grey. Kisah cinta seperti ini selalu dijual dengan iming-iming ‘mengatasi perbedaan atas nama cinta’, dan banyak sekali orang-orang yang merelakan dirinya untuk jatuh hati pada kisah-kisah seperti ini.

Hardin Scott adalah seorang pemuda asal inggris, dan tinggal serta belajar di salah satu universitas di Amerika. Ia memiliki masalah perilaku yang sangat parah jeleknya, manajemen emosi yang buruk tapi Ia memiliki kecintaan yang mendalam terhadap novel-novel romansa klasik. Theresia atau Tessa Young sendiri adalah murid teladan yang selalu mendapatkan nilai sempurna untuk setiap mata kuliah yang diambilnya, dan sangat-sangat perfect sebagai model murid teladan. Keduanya secara tidak sengaja bertemu dan sejak pertemuan itu, kisah mereka dimulai.

wp-15860554330077707939503185115945.jpg
Hardin Scott dari After Series the Movie

Tidak melulu soal perjalanan cinta yang bertaburan bunga-bunga

Sejauh ini, novel ini mungkin adalah satu-satunya novel romansa yang membuat saya sangat frustasi ketika membacanya. Kebanyakan dalam novel bertema romansa, ketika dua insan bertemu, penulis akan mengarahkan pembaca pada imajinasi akan ‘kebahagiaan’, pembaca akan tersenyum menatap buku bacaannya. Tapi, hukum seperti ini tidak terjadi pada kisah cinta antara Hardin dan Tessa.

Kebahagiaan hanya sedikit sekali porsinya, tergantikan oleh keadaan penuh rasa frustasi dan sakit hati. Hubungan antara kedua tokoh utama adalah hubungan yang toxic dan sangat tidak sehat. Tapi, kisah seperti inilah yang membuat novel ini begitu menarik. Kisah cinta yang kelam, tapi juga indah bagi pembaca. Saya sendiri harus benar-benar sabar untuk membaca bagian-bagian cerita dimana pertengkaran demi pertengkaran harus dilalui oleh kedua tokoh.

Melalui pertengkaran-pertengkaran, kesalahan pahaman yang sudah tidak terhitung banyaknya, dan juga perdebatan-perdebatan yang entah sudah sampai mana, kedua tokoh menemukan cara untuk tetap ‘bersama’. Ini sungguh sangat menarik untuk dipelajari.

Sebagai seorang Perawat kesehatan jiwa, beberapa kali saya mendapatkan kasus pada pasien yang sakit karena hasil dari toxic relationship yang dimilikinya. Entah itu terjadi karena kedua orang tuanya atau karena pasangannya. Setelah membaca novel ini, saya bisa memahami lebih mendalam apa yang sebenarnya terjadi. Saya bisa memahami mengapa mereka dengan ‘adiksi’ atau mereka dengan masalah ‘self-loathing’ selalu bertemu dengan jalan buntu atau berjalan seumpama di lingkaran tanpa putus. Mereka seakan tidak bisa keluar dari lingkaran setan yang jika dilihat lebih mendalam dibuat oleh diri mereka sendiri sebagai efek dari rasa sakit dan trauma yang mereka rasakan.

Kisah cinta yang terjalin antara Hardin dan Tessa terjadi seperti “lingkaran setan” yang penuh dengan efek tidak sehat. Seorang Hardin yang banyak kali menggambarkan dirinya sebagai orang yang ‘rusak’, jatuh cinta dengan orang sebaik Tessa, dan sebaliknya. Tessa, karena cintanya, menerima semua akibat yang terjadi karena menerima hubungan yang tidak sehat yang Ia jalin bersama Hardin. Dalam novel, Hardin diceritakan seperti ‘merusak’ Tessa, menjadikan dirinya sebagai seorang pemudi yang tidak sama seperti dirinya sebelumnya, dan Tessa dengan kebaikan hatinya berusaha untuk memperbaiki Hardin. Sangat tidak seimbang rasanya melihat pertukaran yang keduanya lakukan. Tessa memberikan dirinya sampai Ia tidak memiliki apapun padanya, sedangkan Hardin tidak bisa diperbaiki. Ironis bukan?

Komunikasi itu sangat-sangatlah penting

Hardin dan Tessa melalui kisah mereka menunjukkan bahwa dalam hubungan (hubungan apapun) komunikasi itu adalah unsur yang sangat-sangat penting. Pasangan harus bisa menjalani hubungan dengan didasarkan oleh hukum komunikasi dua arah dan saling memahami.

Hardin dan Tessa karena perbedaan yang keduanya miliki, melahirkan masalah utama terutama dalam berkomunikasi. Dalam hubungan keduanya yang diceritakan dalam novel, keduanya terus berusaha untuk menemukan cara berkomunikasi dan mengkomunikasikan apa yang mereka pikirkan/rasakan. Hardin dan Tessa banyak kali jatuh ke jurang “kesalahpahaman” yang berefek pada kecurigaan, kecemburuan dan kebencian. Kisah ini sangat menarik, karena keduanya tidak menyerah untuk menemukan cara agar dapat saling memahami dan tentu saja untuk dapat berkomunikasi dengan baik.

Banyak hal yang mereka korbankan untuk dapat berkomunikasi dengan baik. Jatuh, sakit hati sudah pasti dirasakan oleh keduanya sebagai akibat dari banyaknya kesalahpahaman yang terjadi. Tapi, kembali, keduanya tidak menyerah. Kebanyakan pasangan jarang bisa bertahan lama dalam menjalin suatu hubungan karena kendali kesulitan berkomunikasi. Kadang, saya berpikir bahwa ini adalah akibat dari menjalin hubungan percintaan hanya dengan bermodalkan ‘perasaan’ tanpa sedikitpun menggunakan akal sehat. Tapi, tidak apa-apa. Kita bisa mulai belajar untuk saling menghargai dan mencintai dengan tulus dari sana, so jangan mengganggap bahwa masalah ‘komunikasi’ adalah hambatan untuk bisa bersama.

Hardin dan Tessa memulai hubungan mereka dengan dasar ‘lush’, dan mereka tertarik satu sama lain karena ketertarikan fisik yang kuat. Tidak lama bagi Tessa, yang merupakan perempuan, melihat hubungan mereka tidak hanya dibatasi oleh ketertarikan secara fisik semata. Biasanya memang, perempuan lebih cepat dalam menyampaikan kepada pasangannya mengenai apa yang ia rasakan dan lebih dalam menyadari akan perasaan ‘cinta’ yang muncul dari dalam diri mereka. Ketertarikan fisik, tidak akan bertahan lama bagi seorang perempuan, Ia mencari ketertarikan secara emosional dan lebih dari itu stability dan insurance. Sedangkan pada pria, perasaan mendalam yang secara emosional ini cukup sulit untuk diungkapkan, apalagi melalui kata-kata langsung. Pria biasanya menyembunyikan sampai waktu yang tepat. Hardin, dalam novel ini memiliki caranya sendiri, Ia ‘menuliskan’ apa yang Ia rasakan terhadap Tessa dalam journal-nya dan juga kemudian dalam Manuskrip nya.

Menarik, bukan ?

Baca juga: Apakah kamu yakin bahwa kamu sedang #jatuh cinta?

Lingkungan sosial (termasuk lingkungan keluarga dan pertemanan) sangat mempengaruhi kewarasan pikiran dan perilaku.

Teori  yang menyatakan bahwa diri kita adalah produk dari interaksi yang terjalin dari lingkungan social di sekitar kita adalah benar adanya. Dalam novel After, Hardin Scott adalah seorang pemuda yang rusak, rusak karena lingkungan disekelilingnya yang juga rusak dan tergolong ‘insane’. Ia mengalami trauma sejak masa kecilnya. Ayahnya adalah seorang pemabuk yang hanya meninggalkan banyak luka dalam masa kecilnya, sedangkan Ibunya hanya memiliki sedikit waktu untuk merawatnya karena sibuk bekerja. Belum lagi, trauma karena melihat Ibunya diperkosa oleh segerombolan orang yang tidak bertanggung jawab membuatnya mengalami mimpi buruk sampai usianya 20 tahunan. Ia tumbuh dengan kemarahan yang mendalam terhadap orang tuanya, terutama ayahnya. Ia lalu melampiaskan kemarahan dan rasa frustasinya dengan melakukan tindakan-tindakan kriminal yang tidak bertanggung jawab. Ia sendiri mengakui bahwa ia tumbuh menjadi seseorang yang ‘rusak’, dan tidak henti-hentinya merusak dirinya sendiri. Ia merusak dirinya dengan ikut menjadi pemabuk, smoking pod (Marihuana), dan suka bermain perempuan. Sungguh-sungguh jalan hidup yang tidak mudah.

Hardin adalah seorang anak yang baik dan biasa-biasa saja sebelum pengalaman yang penuh trauma terjadi padanya. Ia tidak memiliki role model yang baik untuk bisa menghadapi masalah dengan cara yang baik dan sehat. Ia malah memilih jalan yang tidak sehat, Ia menghapus kesempatan untuk ‘memaafkan’ segala pengalaman buruk dan orang-orang yang sudah menyebabkan luka padanya, dan tindakannya ini membuatnya malah merusak dirinya sendiri, menjauhkan dirinya dari jalan penyembuhan.

Hardin berteman dengan orang-orang yang tergolong ‘tidak bisa diatur’ dan nakal. Ia berteman dengan anak-anak yang suka mabuk-mabukan, mengadakan pesta dan para pencandu. Ia menenggelamkan dirinya pada lingkungan seperti ini dengan harapan menemukan kedamaiannya sendiri sambil membalaskan orang-orang yang Ia anggap bertanggung jawab atas apa yang terjadi.

Sampai waktu ketika Ia bertemu Tessa.

Melihat betapa complicated-nya Hardin, adalah sebuah tantangan untuk dapat menjalin hubungan dengan Hardin. Tessa secara tidak sengaja menuntut Hardin untuk berubah menjadi anak baik-baik dan ini tentu saja ini adalah tuntutan yang tidak mudah. Ketertarikan Hardin pada Tessa cukup membantunya keluar sementara dari jeratan lingkungan sosialnya yang tidak sehat, sempat membuatnya sadar akan tidak sehatnya lingkungan pertemanannya. Tapi, ketertarikan atau perasaannya pada Tessa belum cukup untuk dapat membuatnya menjadi seseorang yang diakui masyarakat sebagai orang baik-baik.

Novel ini menceritakan betapa besarnya usaha yang harus dilakukan oleh Tessa untuk menarik hardin dari lingkungan sosialnya yang terbilang tidak sehat. Belum lagi, pengaruh buruk yang diberikan oleh lingkungan sosial Hardin ikut mempengaruhi Tessa juga pada akhirnya. Tessa yang tidak terbiasa minum alkohol menjadi seseorang yang menyukai nikmatnya mengonsumsi akhohol.

Lingkungan sosial yang buruk juga menyumbangkan banyak konflik dalam hubungan antara Hardin dan Tessa. Beberapa sahabat Hardin melampiaskan rasa tidak suka mereka kepada Tessa yang bahkan tidak tahu apa-apa. Tessa dijadikan sasaran rasa marah, cemburu dan balas dendam. Ini adalah hal hubungan persahabatan yang sangat-sangat tidak mendukung, baik untuk Hardin dan Tessa. Tapi meskipun demikian, lingkungan sosial dapat bekerja sebaliknya. Lingkungan sosial dapat bekerja sebagai buffer yang baik ketika dapat dipergunakan dengan baik pula.

Dukungan dari lingkungan social untuk dapat melakukan hal baik adalah juga penting dalam menemukan pemulihan.

Mulai dari diri sendiri

Saya sependapat dengan sahabat—sahabat saya mengenai “mencintai diri sendiri” sebelum mencintai orang lain terlebih dahulu. Kita harus jatuh cinta sewajarnya pada diri sendiri terlebih dahulu sebelum siap jatuh cinta pada orang lain. Kita harus menemukan diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum kita ingin membantu orang lain menemukan dirinya.

Hardin dan Tessa adalah pelajaran bagi pentingnya upaya untuk mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Hardin adalah orang yang sangat membenci dirinya sendiri. Ia membenci dirinya sendiri karena apa yang terjadi padanya. Ia berpikir bahwa dengan merusak dirinya sendiri, Ia membuat orang lain menjauh darinya dan itu artinya masalah yang harus Ia hadapi pun akan sedikit. Ini benar-benar adalah sebuah contoh dari kesalahan berpikir. Tapi, itulah yang terjadi. Dilain pihak, Tessa adalah orang yang mencintai dirinya, tapi Ia tidak menemukan dirinya atau tidak yakin dengan siapa dirinya. Wajar saja hal seperti ini terjadi pada para dewasa awal (Tessa dalam novel diceritakan masih berusia 18-19 tahun). Tessa, dalam ketidakyakinan ini berusaha menolong orang yang Ia cintai, hasilnya adalah Ia kehilangan dirinya setiap kali Ia membantu Hardin menemukan miliknya.

Hardin dan Tessa cukup memberi bukti bahwa menemukan diri sendiri dan mencintai diri sendiri sewajarnya terlebih dahulu adalah langkah awal yang baik sebelum keluar dari diri sendiri untuk mencintai orang lain. Klasik.

Selanjutnya, mengenai diri sendiri. Hardin adalah seorang pemuda dengan keadaan mental-emosional yang sangat labil. Pada awalnya Ia berpikir bahwa dengan bersama Tessa, Ia dapat keluar dari masalahnya. Setiap kali ada masalah, Ia lari dan melampiaskannya pada Tessa. Tanpa Ia sadari, Tessa lambat laun mencapai titik ‘cukup’ dan tidak sanggup lagi. Hardin berangsur-angsur menjadi baik, tapi Ia membuat Tessa menanggung semua akibat dari proses pemulihan dirinya. Tessa yang menjadi sangat frustasi, malah membuat Hardin kembali pada masalah awalnya, melarikan diri dari masalah pada minum-minuman keras dan merusak barang. Lingkaran setan terbentuk, dan sulit sekali keluar dan merusak lingkaran ini. Semua hal ini untungnya dapat berakhir ketika Hardin menyadari bahwa Ia tidak dapat hanya bergantung pada Tessa saja. Ia harus melakukannya sendiri, Ia harus berjuang untuk pemulihan dirinya sendiri, dan Ia pun berhasil pada akhirnya.

Saya jadi ingat dengan prinsip perawatan dan pemulihan untuk pasien dengan infeksi Covid-19. Sejauh ini, tidak ada obat yang mampu membunuh total virus yang sangat berbahaya ini. Petugas kesehatan berpegang pada prinsip ‘pemulihan diri sendiri’ dan percaya pada kekuatan dalam diri pasien untuk sembuh. Kita bergantung pada kemampuan imun tubuh dari pasien. Itu saja.

Semua perawatan dan pengobatan ditujukan agar individu (atau pasien) dapat mengalahkan penyakit ini sendiri, dari dalam dirinya sendiri. Itu sedikit rahasianya.

Sama seperti prinsip perawatan dan pemulihan ini, demikian pula penyakit yang menyebabkan masalah mental emosional. Therapist, baik dokter atau perawat dan yang lainnya, bertugas untuk membuka pintu untuk pemulihan. Pasien atau Individu yang sakitlah yang harus berjalan melalui pintu tersebut dan menemukan kesembuhannya sendiri. Mengapa demikian ? Banyak penjelasan mengapa, tapi satu yang saya percayai adalah bahwa sebagai manusia, dirinya sendirilah yang paling tahu apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Kekuatan dan potensi pemulihan diri itu terletak bukan diluar, tapi di dalam diri individu. Memang, kadang mereka yang sakit tidak menyadari hal ini, dan pada saat inilah pertolongan begitu sangat dibutuhkan, dan untuk menolong inilah mengapa para petugas kesehatan ada dan bekerja.

Hardin, adalah contoh yang ideal untuk kasus pemulihan diri ini. Ia harus menyadari betul-betul bahwa Ia membutuhkan pertolongan, dan selanjutnya bekerja keras untuk mencari dan berjalan menuju kesembuhan. Ia tidak bisa melakukannya sendiri, Ia membutuhkan Tessa, Ia membutuhkan keluarganya dan membutuhkan petugas kesehatan yang dengan baik hati membantunya menemukan terang dalam dirinya. Prosesnya memang tidak mudah, tapi ketika Ia sudah mencapai titik pemulihannya, Ia menyadari bahwa tidak ada yang sia-sia dari proses perjalanannya ini. Adalah sebuah rahasia ilahi pertemuannya dengan Tessa. Keajaiban malah.

Ketika kita memutuskan untuk mencintai seseorang

Terakhir, ketika kita memutuskan untuk jatuh cinta pada seseorang atau tidak dibatasi pada hanya seseorang saja, bisa juga sesuatu, dan orang tersebut juga memiliki perasaan yang sama, tolong jangan disia-siakan. Perjuangkan!

Hardin dan Tessa mengajarkan para pejuang cinta sekalian bahwa cinta itu (kembali) harus diperjuangkan! Tapi juga jangan dipaksakan. Mencintai seseorang itu, bukan berarti memberikan semua yang kita miliki lalu meninggalkan ruang kosong dalam diri kita sendiri. Hubungan saling mencintai itu bersifat ‘equal’, seimbang antara memberi dan menerima. Tidak boleh ada yang memberikan terlalu banyak atau menerima terlalu banyak, keduanya harus seimbang.

Lalu, jangan memaksakan perubahan pada pasangan sebagai syarat. Hardin dan Tessa sama-sama saling mencintai, tapi keduanya memaksanakan cinta mereka kepada pasangannya. Hardin ingin agar Tessa menjadi kekasih yang seperti yang diinginkannya, demikian pula Tessa. Cinta keduanya dijadikan alasan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Keduanya melalui perjalanan yang panjang untuk menyadari bahwa tidak ada yang dapat merubah diri mereka sendiri selain diri mereka sendiri. Ketika hubungan keduanya sudah mulai tidak sehat, perlu keberanian yang tidak sedikit untuk menarik garis pembatas dan menghindari diri sendiri dari stressor yang berlebihan dan membuat keduanya semakin kehilangan diri mereka masing-masing. Keduanya menunjukkan bahwa menjaga jarak dengan pasangan juga merupakan upaya yang baik untuk mendekatkan diri dengan pasangan. Does it make sense?

wp-15860541422561996784395398674507.jpg

Demikian teman-teman dan para pembaca yang budiman. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik dari novel series “After” karya Anna Todd ini. Saya berharap agar apapun yang saya tulis di sini dapat bermanfaat sebagai bahan permenungan dan pembelajaran.

Tidak ada kisah cinta yang sempurna, mengutip pendapat sahabat saya, “Kalau ingin mencari kisah cinta yang sempurna, cari saja di Drama Korea”, dan seperti yang kita ketahui bersama, kisah cinta di drama korea bersifat fiktif belaka. Hardin dan Tessa adalah juga tokoh fiktif yang diciptakan oleh imajinasi Anna Todd, tapi kisah cinta keduanya menggambarkan banyak kisah cinta real di luar sana. Penuh tantangan, penuh rasa sakit dan perjuangan. Kita bisa belajar dari kisah cinta seperti ini. Kita bahkan akan banyak belajar dari sesuatu yang tidak sempurna dan penuh rasa sakit.

Menarik bukan ? Yuk belajar!

Salam hangat dari saya as always.

9 pemikiran pada “After Series karya Anna Todd: Toxic relationship yang berujung pada pemulihan dan penemuan diri sendiri

  1. Satu kalimat untuk novelnya — Pergaulan yang buruk akan merusak kebiasaan yang baik”.

    Typical novel romansa ya, banyak bumbu-bumbu dan lika-likunya biar seru. Menye-menye kalau kata mas Anang 😀

    Terlepas dari kisah cinta dalam novel yang dibahas, saya justru tertarik dengan bahasan prinsip perawatan dan pemulihan untuk pasien dengan infeksi Covid-19 lho, seriously. Prinsip yang menganut ‘pemulihan diri sendiri’ dan percaya pada kekuatan dalam diri pasien untuk sembuh ini sungguh asyik.

    Jika implementasinya dalam kehidupan sehari-hari, we can’t heal (or love, or take care, etc) other people before we heal our self. Intinya dari diri kita sendiri dulu yes 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  2. Terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar, Kak.

    Yes, Kak. Mulai dari diri sendiri. Sangat setuju dengan poin ini.
    Beberapa orang yang saya temui memiliki perspektif yang berbeda soal kesembuhan. Mereka datang ke tempat perawatan dengan motivasi agar orang lain dapat menyembuhkan mereka secara total. Tapi kadang. kita pun harus menyadari bahwa kesembuhan atau pemulihan yang berasal dari luar hanyalah pendorong agar kesembuhan dari dalam diri sendiri aktif. Does it make sense ? hahaha

    Disukai oleh 1 orang

  3. Ceritanya sangat menarik, Kak. Tapi itu dia, karena novelnya untuk 18 tahun keatas itu lo haaa saya tidak rekomendasikan untuk mereka yang masih 18 tahun ke bawah.

    Selamat membaca, Kak.

    Suka

  4. Ping-balik: Mengalahkan Rasa Bosan Selama Masa Karantina – Maria Frani Ayu

  5. Ping-balik: Membicarakan tentang Sexual care dan Seksualitas – Maria Frani Ayu

  6. He…Pelan-pelan saja, Kak.
    Cari bukunya, dan baca persatu-satu kalimat. Saya dulu juga begitu. Keinginan saya untuk membaca buku dalam bahasa Inggris sangat kuat, terutama karena saya juga iri dengan teman-teman yang bisa membaca buku dalam bahasa asing.
    Mula-mula sangat menyusahkan, saya tidak paham sama sekali, dan beberapa kali harus buka Google Translate. Tapi, lama kelamaan terbiasa, bahkan sekarang saya lebih suka membaca buku dalam bahasa Asing untuk mencari gambaran dan perspektif yang berbeda dari suatu topik/masalah.
    Semuanya perlu pembiasaan saja, Kak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s