Membicarakan tentang Sexual care dan Seksualitas


Sebenarnya, saya sangat ingin menulis judul tulisan ini dengan kalimat “Seberapa nyamankah Perawat Indonesia mendiskusikan dan memberikan asuhan keperawatan seksualitas?”. Tapi tentu saja, kalimat ini terlalu panjang untuk dijadikan judul.

Seksualitas, entah apapun definisinya, dalam pikiran kita tiada lain dan tiada bukan mengartikannya sebagai sesuatu yang berhubungan dengan organ reproduksi pada pria dan wanita. Membicarakan tentang seksualitas mungkin adalah hal yang menarik (dan sangat menarik malah) bila dilakukan secara sembunyi-sembunyi (atau diam-diam saja). Tapi, pada saat ini, membicarakan mengenai seksualitas akan sangat menjadi hal yang “memalukan” dan tidak layak untuk dibicakan jika berada di depan umum. Banyak sekali norma dan aturan-aturan tidak tertulis yang membatasi kita untuk secara terbuka dan jujur membicarakan mengenai seksualitas. Padahal, seksualitas adalah topik yang membicarakan mengenai dorongan alami, dan sangat ancient yang terdapat dalam diri seorang manusia. Kita bahkan berhutang pada energi sexual untuk tetap mempertahankan keberlangsungan spesies kita sampai pada saat ini.

Ketika saya masih menjadi seorang mahasiswi, topik mengenai seksualitas ini adalah salah satu topik yang dibicarakan di ruang kelas bersama teman-teman mahasiswa dan juga dosen. Saya bahkan masih sangat ingat ada salah seorang sahabat saya yang dengan berani membicarakan mengenai “posisi berhubungan seksual” dihadapan puluhan mahasiswa/I yang pikiran dan tingkah lakunya lugu-lugu. Bisa dibayangkan betapa serunya diskusi yang terjadi hanya karena satu kata ini. Banyak mungkin yang malu-malu, tapi ada juga beberapa yang sangat antusias, entah karena benar-benar ingin tahu atau memang hanya sekedar ‘mengejek’ atau memanas-manasi ruang kelas.

Sejak belajar mengenai topik ini, saya merasa bahkan para mahasiswa/I Pendidikan keperawatan sungguh sudah tidak virgin lagi pikirannya. Setidaknya mereka pasti sudah berhubungan badan melalui pikiran mereka masing-masing.

Okay, lanjut.

Sejak saya masih mahasiswi, bahkan sampai saat ini, saya selalu mempertanyakan mengapa kolom pengkajian seksual dalam lembar assessment perawat (Lembar kertas yang berisi pertanyaan mengenai kondisi Kesehatan pasien; data yang dikumpulkan melalui lembar ini nantinya akan dijadikan dasar untuk menyusun rencana perawatan pasien) sering dikosongkan. Bukannya sering, tapi tidak pernah diisi. Saya pun termasuk orang yang tidak pernah mengisi kotak pengkajian seksualitas. Kadang, saya lewatkan begitu saja dengan alasan “tidak mungkin ada masalah”.

Example of questions to ask during the assessment
Contoh pertanyaan yang diajukan oleh Perawat kepada Pasien dalam Pengkajian Keperawatan Seksual (Sexual-reproductive patter). Sumber. Assess Note, Gordon 2008.

Saya salah! Tidak selayaknya saya memberikan penilaian demikian. Untuk alasan pribadi, dan edukasi juga, saya kemudian memutuskan untuk menulis mengenai topik ini. Besar harapan saya kita sekalian sadar (terutama teman-teman perawat) bahwa ada masalah dalam pengisian lembar assessment kita, dan kemudian berpikir bagaimana harus menyelesaikan masalah ini kedepannya nanti.

Selain sederet alasan yang saya sebutkan diatas, perjumpaan saya dengan novel romance karya Anna Todd, After, membuat saya menyadari bahwa selama ini saya perlu belajar mengenai sexual care dan seksualitas untuk pasien-pasien saya dengan masalah mental-emosional. Saya berterima kasih atas kekuatan novel yang ditulis dengan sangat apik ini, sehingga saya bisa membuka keinginan saya untuk belajar banyak hal lain diluar dari hanya sekedar kisah cinta yang not-so normal tersebut.

Selain itu, adalah niat saya pribadi untuk mendorong diskusi terbuka antara saya dan para pembaca sekalian. Saya harap, tulisan ini dapat mendorong kita sekalian untuk memperhatikan dan mengambil tindakan yang perlu untuk melihat kembali pemberian asuhan keperawatan seksual bagi diri sendiri dan orang lain.

Pelajaran yang bisa dipelajari dari novel Anna Todd dapat dibaca di sini: After Series karya Anna Todd: Toxic Relationship yang berujung pada pemulihan dan penemuan diri sendiri.

Seberapa nyaman…?

Penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti dengan judul “I do not feel condident and uncomfortable discussing patients’ sexuality concerns”: A Thematic Analysis of Indonesian Nurses’ Experiences in Discussing Sexuality with patients menjadi salah satu sumber informasi menarik untuk saya pribadi.

Penelitian ini melaporkan hal-hal yang sangat menarik tentang pemberian asuhan keperawatan seksualitas kepada pasien. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa sexual care (Asuhan keperawatan seksual) adalah salah satu asuhan keperawatan yang memang merupakan bagian dari tanggung jawab perawat. Perawat sadar bahwa asuhan keperawatan ini adalah bagian penting yang tidak dapat diabaikan dalam pemberian asuhan keperawatan yang holistic dan comprehensive. Sayangnya, pemberian asuhan keperawatan ini terkendala banyak dari pihak perawat sendiri. Perawat merasakan banyak penghalang ketika mendiskusikan bahkan memikirkan tentang sexual care dengan pasiennya. Perasaan seperti “discomfort”, “embarrassment” dan bahkan “not confident enough” adalah beberapa poin penting yang dimunculkan perawat sebagai alasan mengapa sexual care begitu sangat sulit untuk diwujudkan. Sebagai tambahan, perawat bahkan melakukan penilaian sepihak kepada pasien terkait dengan asuhan ini, mereka menilai bahwa kebanyakan pasien menunjukkan “lack of interest” terhadap hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas selama masa perawatannya bersama perawat. Penelitian ini merekomdasikan dengan sangat pentingnya pendidikan dan pelatihan yang cukup terkait sexual care kepada perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan.

Sebelum penelitian ini diterbitkan, ada banyak penelitian yang memang sudah dilakukan untuk melihat bagaimana sexual care diberikan dengan nyaman oleh Perawat. Penelitian yang disebutkan diatas adalah salah satu contoh nyata mengapa sexual care (dan sebagai tambahan psychosexual care) begitu sangat penting untuk dipelajari akhir-akhir ini.

Penelitian ini memberikan gambaran yang cukup bagi para perawat untuk melihat mengapa sexual care harus benar-benar dipelajari dan diterapkan dalam praktik asuhan keperawatan sehari-hari.

Pengaruh norma dan keadaan saat ini

Memang, masalah sexual care atau seksulitas ini sangat tidak bisa dipisahkan dengan masalah normal, kebudayaan yang mengikat suatu individu dengan komunitasnya. Membicarakan masalah topik ini masih terbilang “tabu” dan sangat tidak lazim. Tapi, pada masa-masa sekarang ini, ketika teknologi sudah semakin giat mempengaruhi hidup manusia, topik ini sama sekali bukanlah topik yang tidak nyaman dibicarakan lagi. Sudah banyak akun-akun di media sosial yang membicarakan dengan bebas (no filter) terkait dengan sexualitas dan related-topic. Sebut saja, Andrea Gunawan dan Inez Kristanti. Akun keduanya dibanjiri oleh mereka yang ingin belajar tentang topik ini secara lebih friendly dan menarik.

Tidak hanya soal “making love”

Belajar mengenai sexual care sama sekali tidak hanya atau sebatas ‘making love’ saja. Asumsi ini sungguh salah dan sangat tidak tepat. Belajar mengenai sexual care artinya belajar secara komprehensif segala hal yang berhubungan dengan sexual-related theories and practice.

Sexual care itu belajar mengenai bagaimana menjaga bagian intim untuk tetap dalam keadaan sehat dan terawat, menghindari juga bagian ini dari sakit dan penyakit akibat intervensi apapun yang diberikan untuk bagian ini. Sexual care juga belajar mengenai penyakit-penyakit yang kemungkinan timbul dan bagaimana cara mencegah, merawat dan mengobatinya. Sexual care juga belajar bagaimana secara psikologis, bagian intim ini dapat secara timbal balik mempengaruhi keadaan mental-emosional seorang individu. Bagaimana, banyak sekali bukan?

Melihat hal ini, saya harap kita bisa mencapai kesimpulan bahwa memahami mengenai sexual care itu tidak hanya sebatas “making love” saja.

Sexual care untuk pasien dengan masalah gangguan mental-emosional

Dalam praktiknya, perawat kesehatan jiwa sering mendapatkan keluhan dari pasien yang memiliki masalah dalam secara disiplin menghabiskan pil (atau obat) yang diresepkan pada mereka. Salah satu keluhan yang sangat sering didengar adalah,”mengurangi niatan untuk melakukan hubungan suami-istri”. Keluhan seperti ini kadang membuat perawat binggung harus menjawab seperti apa. Tanpa mempertimbangkan apa yang dimaksud oleh pasien, perawat akan langsung mengharuskan pasien mengambil langkah untuk mengonsumsi obat secara teratur demi kesehatan dan keselamatan. Harus!

Tapi, apaakah perawat pernah setidaknya memahami mengapa sampai masalah yang disebutkan oleh pasien begitu sangat penting baginya?. Saya sering menghadapi masalah seperti ini, dan sama seperti para perawat umumnya, saya tidak mempertimbangkan keinginan pasien dan mendorong untuk melakukan arahan untuk mengonsumsi obat yang sudah diresepkan. Atau kembali sakit. Apakah saya bersikap adil dalam praktik saya? No. Saya rasa tidak.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan ketika berhadapan dengan masalah pasien seperti ini?

Saya sendiri menganjurkan untuk memberikan ‘pilihan kepada pasien’ dengan sebelumnya memberikan pengertian melalui pemberian informasi dan edukasi yang baik kepada pasien. Saya jelaskan terlebih dahulu mengenai keadaan, kondisi dan masalah yang saat ini tengah dihadapi oleh pasien, selanjutnya memberikan penjelasan mengenai pengobatan yang diperlukan untuk mengatasi masalah. Pada saat yang bersamaan, saya memberikan pertimbangan kepada pasien untuk menentukan mana yang menjadi prioritas dalam hidupnya, dan bagi kesehatannya saat ini, sambil mencari cara untuk meminimalkan kerugian yang dialami oleh pasien.

Sejauh ini, apa yang saya lakukan lumayan bisa bekerja dengan baik bagi pasien. Memang, tidak semua nasihat yang saya berikan dipertimbangkan dengan baik dan dilakukan sesuai kesepakatan. Saya kerap berhadapan dengan masalah pasien yang harus ‘kembali’ ke tempat perawatan hanya karena tidak mengonsumsi obat yang sudah dianjurkan dengan alasan seperti di atas, “tidak sanggup”.

Bagaimana dapat mengatasi masalah?

Hal yang sangat saya kejar, dan berusaha untuk upayakan adalah cara untuk mengatasi masalah yang sudah dipaparkan sebelumnya di atas. Ini sungguh sangat penting dan harus dipelajari dengan baik memang.

Masalah pertama adalah bagaimana menjadikan sexual care penting bagi banyak orang yang terlibat secara aktif-pasif dengannya. Ini sendiri sudah menjadi masalah yang sangat besar, terutama karena dinding ‘taboo’ yang sangat tebal di lingkungan kita pribadi dan terlebih lagi di lingkungan masyarakat.

(Saya rasa, masalah sexual ini bukanlah hal yang taboo untuk diri sendiri. Saya rasa, kita masing-masing memiliki ketertarikan tersembunyi mengenai topik ini. Salah satu buktinya adalah beberapa waktu yang lalu, saya mencoba membuka KakaoPage yang berisi banyak cerita bergambar. Hal yang sangat mencengangkan saya, meskipun cerita bergambar tersebut berbahasa Indonesia, ada banyak cerita yang digolongkan sebagai cerita ‘tidak layak’ yang terpampang dan siap dibaca di sana. Saya bahkan merasa takjub karena beberapa cerita yang tergolong dalam group ini, menjadi cerita yang paling banyak mendapatkan ‘like’ dan komentar dari pembaca. Setelah saya lihat komentar-komentar yang ditulis oleh pembaca, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa hal-hal yang berbau ‘sexual’ bukan hal yang benar-benar taboo. Masyarakat golongan muda saat ini, sangat-sangat familiar dengan hal-hal seperti ini. Kissing bukan sesuatu yang memalukan untuk dikonsumsi sebagai hiburan. Untuk alasan ini, saya rasa pendidikan sex harus benar-benar diajarkan dengan sangat baik dan terkontrol).

Pencarian informasi yang saya lakukan berujung pada model yang paling banyak ditawarkan dan juga digunakan untuk menjalankan dan mewujudkan pentingnya sexual care. Model tersebut dikenal sebagai model PLISS-IT. Ini tentu saja adalah akronim dari, Permission, Limited Information, Specific Suggestion dan Intensive Therapy.

Model ini mulai dengan menyakinkan bahwa lingkungan tempat untuk mempraktikkan sexual care ini bisa menerima praktik yang akan diberikan atau ditawarkan nanti. Bagaimana kita bisa memberikan praktik sexual care kalau lingkungan tempat praktik saja tidak mendukung. Misalkan tidak ada lembar pengkajian perawat, tidak ada kompetensi/kemampuan perawat untuk melakukan pengkajian ini dan masih banyak lagi. So, model ini menawarkan untuk memulai proses perubahan dengan menyakinkan bahwa sexual care akan dapat diterima di lingkungan terlebih dahulu. Basic saja dulu.

Untuk mendalami mengenai model PLISS-IT, bisa dibaca langsung di buku milik Hazel dan Isabel White, The Chalengge of Sexuality in Health Care, atau dapat mengunjungi Whole Health:Change the conversation untuk topik The PLISSIT Model Clinical Tool untuk berkenalan secara sekilas tentang model ini.

Untuk melihat lebih jauh efektifitas model PLISSIT, bisa secalin membaca salah satu penelitiannya pada artikel yang berjudul, Effectiveness of a PLISSIT model intervention in patients with type 2 diabetes mellitus in primary care: Design oa cluster-randomised controlled trial.

 …

Akhirnya,..

Membicarakan mengenai seksualitas dan asuhan keperawatan seksual bagi profesi Kesehatan tertentu adalah topik yang sangat luas, panjang dan pasti membutuhkan waktu. Saya hanya menulis sekedar pengantar dalam tulisan ini, lebih jauh, saya sarankan teman-teman sekalian memenuhi rasa ingin tahu ini dengan banyak membaca dan mendiskusikan hal ini dengan pihak-pihak terpercaya.

Pemberian asuhan keperawatan seksual oleh perawat masih menjadi tantangan besar untuk saat ini. Belajar dan memperdalam mengenai topik ini sangat dianjurkan kepada mereka yang memang ingin memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan pasien. Selain itu, perhatian terhadap Pendidikan seksual bagi setiap individu adalah hal yang wajib untuk dipikirkan dengan baik saat ini, terutama untuk mereka yang baru beranjak dari masa anak-anak menuju masa remaja dan dewasa.

Rekomendasi referensi untuk dibaca:

Untuk melihat lebih jauh mengenai topik sexual care, saya menganjurkan teman-teman perawat, dan juga para pembaca yang Budiman sekalian untuk menengok sedikit beberapa bahan bacaaan. Berikut adalah beberapa buku bacaan menarik tersebut:

  1. The Vagina Bible, Jen Gunter. Buku ini menyajikan informasi yang akan cukup membantu melihat Kesehatan seksual dari sudut pandang wanita, yang memang paling sering ‘tidak dianggap’ dalam bidang kedokteran. Buku ini meyakinkan pembaca bahwa masalah seksulitas itu bukan hanya masalah ‘making love’ saja, tapi lebih pada itu seperti menjaga kebersihan diri, perhatian pada penyakit-penyakit menular yang dapat saja muncul akibat hubungan seksual yang tidak sehat dan aman dan masih banyak lagi.
  2. The Challenge of Sexuality in Health Care, Edited by Hazel and Isabel White. Buku ini memberikan informasi yang sangat dibutuhkan oleh perawat dalam memebrikan asuhan keperawatan seksual kepada pasien berdasarkan pertumbuhan dan perkembangannya, bahkan sampai pada keadaan sehat dan sakitnya. Buku ini nampaknya wajib dimiliki oleh perawat yang berniat untuk mempelajari mengenai sexual care secara lebih intensif. Buku ini sangat saya rekomendasikan ada pada daftar bacaan teman-teman perawat sekalian.
  3. Health Care Without Shame, Charles Moser. Buku ini memberikan informasi yang sangat penting bagaimana dapat bersikap dengan baik dalam menghadapi kasus sexuality pasien yang sangat beragam dan bermacam-macam. Salah satu contohnya adalah berhadapan dengan kasus sexuality pada pasangan homosexual, gay atau lesbian. Buku yang hanya berisi 132 halaman (termasuk cover) ini wajib dimiliki oleh teman-teman perawat sekalian yang ingin belajar bagaimana memberikan sexual care yang baik pada pasien dengan berbagai keadaannya.

10 pemikiran pada “Membicarakan tentang Sexual care dan Seksualitas

  1. Inez

    Menarik sekali tulisan ini! menurut aku pribadi dan sesuai pengalaman, pembicaraan tentang seksualitas adalah sesuatu yang menyenangkan. Karena, rata-rata aku temui setiap topik pembelajaran di sangkutin dengan hal itu yang tadinya ngantuk malah jadi sesuatu intermezo yang menarik. Ini menandakan, pada dasarnya kita sadar kalau ini kebutuhan, tapi karena budaya maka hal ini kita tekan. Kalau didalam pendidikan keperawatan, materi ini punya pembahasan khusus dalam mata kuliah psikososial dan budaya dalam keperawatan. Kalau baca buku Fundamental of Nursing tentang seksualitas, oh bener disana menuliskan hal ini sebagai kebutuhan. Kalau kita mikirnya dalam ranah yang tepat, semua akan enak dan menyenangkan dibahas. Makanya psikologi sendiri menyebutkan organ utama/ pusat seksualitas sendiri adalah “Otak” bukanlah Vagina dan Penis. Jadi, nampaknya kita perlu menanamkan midset yang baik dulu barulah kita bisa membahas seksualitas dengan nyaman tanpa memikirkan taboo nya. Inilah tantangan yang sebenarnya.
    Bahasan kamu dalam sekali Mar, aku dapat banyak informasi disini. Thanks for Sharing yaaa!!

    Disukai oleh 1 orang

  2. Hi, Kak Inez.

    Terima kasih banyak sudah mampir dan meninggalkan komentar. Yeap, we are in the same page, here. Topik mengenai seksualitas dan sexual care benar-benar menarik untuk dikupas satu-satu. Ada niat untuk membuat buku untuk topik ini ? haaa

    Topik seperti ini memang sudah menjadi topik yang seharusnya dibahas terbuka di ruang kelas, terutama di sekolah keperawatan. Beruntung mereka yang sekolah di sekolah ini memang.

    Semangat untuk sharing juga, Kak. Salam dari sini.

    Suka

  3. Wow.. akhirnya ada yang berani menulis ttg hal ini jg! Saya nggak akan berkomentar mengenai seksualitas dlm kaitannya dgn ilmu kesehatan, keperawatan and so on krn bukan kapasitas keilmuan saya. Tp secara umum saya bs bilang bahwa bahasan2 mengenai seksualitas kadang masih dianggap tabu di masyarakat kita (biasanya dgn dalih tdk sesuai dgn budaya ketimuran yg menjunjung tinggi sopan-santun, moral dan etika). Padahal sex education itu penting utk dikenalkan pertama kali dari orangtua kpd anak2nya, tentu cara mengenalkannya disesuaikan dgn usia dan tingkat pengetahuan mereka. Daripada anak akhirnya cari tahu sendiri dgn cara menonton film porno, misalnya. Mencegah lebih baik daripada mengobati.
    Anyway, thanks for sharing. Ditunggu tulisan2 menarik berikutnya.

    Disukai oleh 1 orang

  4. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan pesan, Mbak Luna.

    Tulisan ini memang sudah jadi target terbit untuk tahun ini bagi saya, Mbak. Saya masih tarik ulur untuk menerbitkan, tapi akhirnya saya putuskan terbitkan saja, dengan alasan ‘edukasi’. Semoga bisa bermanfaat untuk melihat permasalahan tentang sex education dengan baik.

    Betul, sangat setuju dengan pendapat tentang sex education yang terbimbing. Dewasa ini, hal seperti ini sangat penting.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Bang Ical, terima kasih sudah memilih saya sebagai penerima award blog terkece versi Bang Ical. Wooooaaaa, kejutan apa pula ini?
    Okay, award plus tantangan untuk menjawab pertanyaannya diterima!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s