Upaya Untuk Membangun Jiwa Muda yang Bermental Sehat dan Berpola Pikir Merdeka


Selamat hari kemerdekaan, Indonesia! 

Merdeka! Merdeka! Merdeka! 

Belum lama ini, kita merayakan bersama-sama peringatan hari kemerdekaan negara kita yang ke-75 tahun. Sama seperti banyak orang di luar sana, saya pun akan menanyakan hal yang sama untuk kita semua, 

“Apa yang sudah Anda lakukan untuk mengisi masa-masa kemerdekaan ini?”

Pertanyaan ini sangatlah klasik, karena hampir setiap tahun ditanyakan oleh banyak orang. Jawabannya, entahlah. Kita masing-masing memiliki jawaban atas pertanyaan ini. Tapi jika dilihat dari pertanyaan ini, kita dapat melihat arah pertanyannya. Pertanyaan ini diberikan untuk menanyakan kontribusi kita sebagai warga negara kepada negaranya. Sejak lahir sampai saat ini, apa yang sudah kita lakukan untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan? Bagaimana kita menggunakan waktu berharga yang kita miliki? Apakah mengupayakan kebaikan atau malah sebaliknya? 

Banyak hal yang bisa kita renungkan dalam moment perayaan kemerdekaan ini. Saya serahkan kepada pikiran kita masing-masing untuk memikirkannya. 

(Silakan berkunjung dan membaca tulisan saya mengenai, Memerdekakan Pikiran: Sebuah pengantar)

Setelah saya lulus dari sekolah keperawatan pada tahun 2013 (Saya masih sangat muda menjalani profesi ini), saya memilih karir sebagai seorang perawat kesehatan jiwa, artinya seorang perawat umum yang memiliki minat, dan bekerja untuk mengupayakan terwujudnya kesehatan jiwa (atau mental) bagi orang-orang yang membutuhkan. Pilihan saya ini terjadi karena ketertarikan saya terhadap dunia yang tidak nampak (mental), yang entah bagaimana ketika terganggu dapat membuat dunia nyata merasakan penderitaannya. Meskipun area ini adalah area yang sangat saya nikmati, tapi tetap saja menjalani hari-hari sebagai seorang perawat dan menangani masalah-masalah mental orang lain itu tidaklah mudah. Belum lagi, saya pun harus memastikan bahwa mental saya stabil terlebih dahulu sebelum saya membantu orang lain untuk menjadi lebih baik. Maklum, dalam pelayanan keperawatan jiwa, seorang perawat menggunakan dirinya sendiri sebagai alat atau media untuk memberikan intervensi/terapi kepada pasiennya. Dalam perjalanan saya sebagai perawat, saya menemukan banyak hal yang berharga. Hal berharga ini 

Moment kemerdekaan ini, adalah moment yang sangat tepat untuk membicarakan tentang mental yang sehat dan juga mental yang merdeka. Keduanya adalah hal yang tidak dapat dipisahkan, saling menopang dan saling melengkapi satu dan yang lainnya. 

Ketika mempersiapkan tulisan ini, saya secara tidak sengaja menonton laporan dari CNA Insider mengenai Indonesia’s Spice Kingdom, Majapahit, yang menjadi bagian dari program penyiaran “The Mark of Empire”. Program yang digagas oleh CNA Insider ini adalah bagian dari program untuk melihat jejak-jejak sejarah kerajaan-kerajaan besar di masa lampau, salah satunya adalah kerajaan besar dan terkenal di Indonesia, Majapahit. Meksipun sejarah mengenai sejarah kerajaan Majapahit ini sudah dipelajari di bangku sekolah, tapi memang sangat berbeda jika dipelajari dari sudut pandang orang lain, dalam hal ini adalah orang asing. Melalui siaran ini, saya semakin kagum dan bangga dengan kekayaan sejarah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sebagai bangsa, kita sudah melewati banyak hal, dan segala pengalaman itu adalah kekayaan yang tidak bisa direngut dari kita. Kita patut bangga! Selain pesan tentang kekayaan sejarah, saya juga mengambil pesan mengenai kekuatan untuk menghadapi tantangan, rintangan dan juga cobaan dalam petualangan di dunia ini. pesan ini, sejalan dengan topik tulisan ini. 

Pemuda dan pemudi pada saat ini, terutama pada masa pandemi ini, dihadapkan pada masa-masa yang tidak menentu. Masalah-masalah rasanya datang silih berganti, dan respon-respon yang terjadi karena masalah ini sangat sulit dikontrol dan dibendung. Ini semakin menambah tekanan yang terjadi. Pada masa ini, semakin tinggilah kebutuhan akan keterampilan-keterampilan psikologis dan emosional untuk dapat menghadapi masalah-masalah seperti ini. 

Untuk tujuan ini, saya ingin membagikan beberapa hal penting yang bisa digunakan sebagai bekal untuk menghadapi masa-masa sulit, menguatkan system kesehatan mental dan sekaligus menjadikan pikiran-pikiran kita bebas dan merdeka dari penjajahan-penjajahan pikiran. 

Investasi pada kesehatan fisik yang optimal. 

Kesehatan fisik berhubungan sangat erat dengan kesehatan mental. Jika ingin menjaga dan mengupayakan kesehatan mental, maka jangan lupa dan jangan abaikan kesehatan fisik. Kesehatan fisik dapat dicapai dengan menerapkan pola hidup sehat dan teratur. Upaya untuk menerapkan pola hidup sehat dan teratur, terutama bagi kita para pemuda-pemudi adalah dengan mengusahakan untuk mengonsumsi makanan sehat dan teratur, melakukan aktivitas fisik (olahraga) sesuai dengan porsinya dan juga dilakukan secara teratur, dan istirahat yang cukup. Cukup tiga ini saja dahulu. 

Banyak sekali penelitian yang menunjukkan bahwa sebagai pemuda-pemudi, masalah-masalah fisik pada tubuh kita sering terjadi karena kita tidak dapat menyeimbangkan ketiga hal ini dalam hidup kita. Untuk alasan inilah mengapa sangat penting untuk menaruh perhatian pada ketiga hal ini, makanan, olahraga dan tidur. 

 (Baca juga: Healthy Sleep: Tidur dan Istirahat yang tergolong sehat, seperti apakah itu ?

Temukan titik “Teduh” dalam dirimu

Ketika badai dalam hidup melanda, sangat pentinglah bagi kita untuk menemukan titik teduh bagi diri kita. Kita memerlukan tempat untuk menenagkan diri, menarik diri sebentar dan mulai menghadapi masalah yang ada di depan. Ketenangan adalah kunci, kunci untuk dapat sukses menghadapi masalah dan tantangan. Titik atau keadaan teduh yang saya maksud di sini adalah keadaan yang dapat merangsang terbentuknya perasaan tenang, damai dan mumpuni. 

( Baca juga: Webtoon “Distant Sky”: Belajar Seni Bertahan Hidup dari Situasi yang Super Sulit)

Masing-masing orang memiliki cara masing-masing untuk menenangkan diri atau mengaktifkan titik teduh ini. Ada yang menggunakan kesempatan berdoa setiap hari sebagai titik teduh, ada juga yang menggunakan meditasi, jalan-jalan, Latihan pernapasan, membaca buku dan masih banyak lagi. Entah praktik seperti apa yang kita jalankan, yang paling penting adalah praktik ini mengantarkan kita pada situasi tenang; mampu menenangkan badai yang berkecamuk di dalam pikiran kita. 

Titik teduh ini sangat penting kita miliki, terutama dalam situasi atau suasana gawat. Kita bisa dengan cepat, otomatis mengaktifkan respon ini untuk membantu kita menenangkan diri dan mendapatkan ketenangan. Sekali lagi, ketenangan adalah kunci untuk dapat mengatasi masalah dengan baik.

Jaringan sosial yang baik dan mendukung 

Pada masa-masa pertumbuhan saat ini, memiliki anggota keluarga yang mendukung dan satu frekuensi dengan kita, dan memiliki sahabat-sahabat yang juga memiliki pemahaman yang sama dengan kita adalah sesuatu yang sangat kita perlukan. Lingkungan sosial yang secara lebih spesifik kita kenal sebagai sosial support adalah jejaring sosial yang sangat kita butuhkan ketika kita berhadapan dengan masalah-masalah. Pada dasarnya, kita memang adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk memaksimalkan potensi kita sebagai seorang individu. 

Kita memerlukan lingkungan sosial yang bisa membantu kita, dan juga lingkungan yang bisa membuat kita berlaku hal yang sama, membantu dan berkonstribusi untuk orang lain. Kita tidak dapat hidup sendiri, kita membutuhkan orang lain dan orang lain pun membutuhkan kita. 

Ketika masalah melanda. Orang lain sangat kita butuhkan untuk membantu kita melihat masalah ini dari sisi atau sudut yang berbeda. Kita membutuhkan kepala lain untuk melihat masalah kita dari sudut yang mungkin luput dari perhatian kita, apalagi ketika kita berada dalam keadaan tertekan atau stress, kita kadang mengalami kesulitan untuk dapat melihat masalah dengan tenang. Ketika kita mengalami stress, masalah kecil mungkin saja muncul dua atau tiga kali lipat lebih besar dari yang masalah yang sebenarnya. Untuk alasan inilah kita semakin membutuhkan orang lain. Selain kebutuhan ini, hal yang mungkin sangat penting adalah dukungan. Ya, kita membutuhkan dukungan dari orang lain. 

( Baca juga: Jalinan persahabatan dengan batasan sehat)

Manajemen waktu

Pemuda-pemudi adalah generasi yang paling aktif. Masalah yang paling sering dihadapi pada masa ini adalah kesulitan untuk mengatur waktu. Maklum, semua aktivitas pada masa ini selalu dianggap penting. Belum lagi, kecemasan dan ketakutan tertinggal informasi atau event membuat waktu untuk mengikuti setiap event yang datang adalah penting. 

Untuk masalah ini, saya pun mendorong teman-teman untuk menginvestasikan waktu untuk belajar bagaimana menajeman waktu yang baik dan melihat lebih baik lagi mana yang harus dijadikan prioritas, karena saya yakin bahwa semua event dan tawaran adalah penting. Tapi, penting ini pun ada levelnya. Penting-cukup penting-sangat penting atau sangat-sangat penting. Kita harus belajar bagaimana memilih dan memilih kegiatan-kegiatan dan selanjutnya menginvestasikan waktu berharga kita untuk kegiatan-kegiatan ini. yeap, waktu adalah sumber daya yang tidak terbatas, tapi kalau tidak digunakan dengan baik hanya akan membawa petaka dan masalah. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, maka hargailah dengan baik. Banyak orang yang bersaksi bahwa, mereka yang dapat mengatur dan menggunakan waktunya dengan baik adalah orang yang paling beruntung di dunia. 

Salah satu cara untuk manajemen waktu yang banyak ditawarkan adalah dengan mendata atau mencatat hal-hal yang ingin kita kerjakan (aktivitas) dan mengurutkannya berdasarkan prioritas. Selanjutnya, kerjakan berdasarkan skala prioritas ini. Lakukan hal ini setiap hari. Ada kepuasan tersendiri yang dapat kita rasakan setelah bisa menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang tertuang di daftar pekerjaan. Lalu, jangan lupa untuk mengatur jadwal aktivitas ini dengan menambahkan poin tentang “istirahat”. Ketika membuat daftar pekerjaan atau aktvitas, kita merasa bahwa kita harus melakukan pekerjaan tanpa adanya “jeda”. Hal ini kurang baik. Jadi, sisihkan waktu untuk istirahat atau jeda. Ingat pula bahwa istirahat atau jeda ini jangan terlalu lama, takutnya bisa membuat kita tidak fokus pada pekerjaan dan menjadi malas. Kegiatan istirahat ini penting dan perlu untuk mengisi ulang semangat dan energi kita untuk menyelesaikan sisa-sisa pekerjana atau aktivitas lainnya. 

Stand up for yourself! 

Apakah ada diantara teman-teman yang merasakan tekanan karena tidak bisa mengutarakan apa yang diinginkannya? Atau merasa kesulitan untuk memutuskan sesuatu yang ada hubungannya dengan diri sendiri? Atau, merasa sangat kesulitan untuk mengatakan “tidak” atau menolak keinginan orang lain. Biasanya orang-orang seperti ini, kalau ditanya “Mau apa?”, maka jawaban yang diberikan adalah “terserah”. Entah apa maksudnya. Lalu, orang-orang seperti ini sangat identic dengan label “people pleaser” karena hanya nampak memiliki keinginan untuk menyenangkan orang lain, tanpa memikirkan tentang diri sendiri atau keinginan diri sendiri. 

Untuk orang-orang seperti ini, penting untuk belajar tentang cara “stand for yourself” atau dalam Bahasa orang-orang adalah “assertiveness skills” atau keterampilan asertif. Keterampilan ini dilandasi oleh pemahaman akan hak dasar yang dimiliki oleh individu, terutama yang ada hubungannya dengan dirinya sendiri. Sebagai individu, kita memiliki hak agar pikiran, keinginan dan kebutuhan kita di dengar dan dipertimbangkan oleh orang lain; kita pun berhak mengambil keputusan untuk keputusan yang ada hubungannya dengan diri kita sendiri, hal ini termasuk keputusan untuk berkata “ya” atau “tidak” terhadap persetujuan apapun yang membutuhkan kerjasama dari kita. 

Setelah memahami dan menyadari tentang hak-hak ini, selanjutnya adalah memunculkan keberanian untuk mengutarakan apa yang ada di pikiran kita dengan baik dan tetap sopan. Mengutaran apa yang kita inginkan dengan baik dan sopan adalah ciri khas yang akan membuat kita stand out dari orang-orang lainnya.  

( Baca juga: Perspektif lain dari “Mengelola Rasa Marah”)

Belajar untuk mengambil resiko dan keluar dari zona nyaman. 

Kita tidak akan bisa berkembang kalau tidak keluar dari zona nyaman kita dan mengambil resiko. Salah satu kunci dari perkembangan adalah mau keluar dari zona nyaman dan berani mengambil resiko untuk berkembang. Jangan takut untuk mencoba hal baru. Apalagi jika hal baru tersebut adalah hal positif, baik dan bermanfaat. Pada masa-masa pertumbuhan saat ini, kita harus banyak belajar dan mencoba banyak aktivitas yang membangun. Hanya dengan cara inilah kita dapat menemukan apa yang benar-benar menjadi keahlian kita, dan apa yang benar-benar ingin kita lakukan dalam hidup. Jangan lupa untuk meminta bimbingan dari orang-orang yang memang sudah berpengalaman, bisa orang tua, saudara atau siapapun yang bisa kita percaya. Ini akan sangat membantu. 

Kalau bisa, setiap hari atau setiap minggu buat tantangan untuk diri sendiri. Tantangan ini dibuat untuk meningkatkan kompetensi diri sendiri dan mengembangkan diri. Misalkan, membuat target menyelesaikan satu buku selama satu minggu sekali. Jadi, selama satu minggu kamu membaca, dan terakhir membuat ringkasan atas buku yang kamu baca. 

Kegiatan membaca bagi yang suka membaca itu adalah kegiatan yang tergolong biasa. Tapi, kegiatan ini akan menjadi menarik kalau kamu bisa menaikan sedikit aktivitas membaca ini menjadi aktivitas yang menarik. Misalkan dengan membuat tantangan seperti yang sudah dijelaskan di atas. Kegiatan ini pun tergolong mengambil resiko, karena sudah keluar dari zona nyaman kita dan mengancam manajemen waktu harian kita. Inilah yang dimaksud dengan keluar dari zona nyaman dan mengambil resiko. Ada yang sudah pernah mencoba? 

(Baca juga: Ketika si “Malas” datang berkunjung)

Selanjutnya, percaya pada dirimu sendiri dan kemampuan dalam dirimu. Ketika kau percaya dapat melakukan sesuatu, seluruh system dalam tubuhmu akan menyesuaikan diri untuk mencapai tujuanmu. Jangan berpikir bahwa otakmu tidak akan sanggup, oh tidak! Otak kita ini adalah organ yang elastis dan terus bertumbuh setiap harinya sampai kita mati. Kita memiliki kemampuan dan kapasitas untuk belajar ini setiap hari sampai kita mati. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan belajar ini. 

Jangan takut salah atau membuat kesalahan. Kesalahan dan kegagalan sesungguhnya adalah berkat yang tersembunyi. Kita hanya butuh waktu untuk memahami, menyadari dan menemukan berkat tersembunyi tersebut. 

Lalu, yang tidak kalah penting adalah merayakan kesuksesan. Berikan dirimu sendiri ucapan selamat ketika kamu berhasil mencapai sebuah target atau berhasil menyelesaikan sebuah tantangan. Ini sangat penting untuk mempersiapkan dirimu mencapai tantangan-tantangan lainnya di depan. Ini juga adalah tanda bahwa kau menghargai dirimu sendiri plus segala kerja kerasnya. 

Belajar untuk menyusun dan mengambil keputusan baik untuk masa depanmu. 

Siapa yang dapat menentukan masa depanmu selain dari pada dirimu sendiri. Untuk alasan ini, maka rencanakanlah dengan sebaik-baiknya, karena selain sebagai perencana, kita pun adalah pelaksana langsung dari rencana-rencana kehidupan ini. Dalam merencanakan proyek untuk kehidupan kita, jangan lupa libatkan Tuhan di dalamnya. Perencanaan untuk masa depan itu membuka lebar pintu ketidakmungkinan, hanya Tuhan yang mampu membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Jadi, jangan lupa libatkan Tuhan dalam perencanaan proyek kehidupan kita. 

Sebelum dapat membentuk sebuah rancangan atau tujuan untuk diri kita sendiri. Alangkah baiknya jika kita dapat memikirkan atau merenungkan tentang hal-hal penting ini, yaitu:

  1. Apa yang menjadi hal yang menarik perhatianmu? Atau atau yang menjadi hal atau kegiatan yang sangat kau sukai? 
  2. Apa yang menjadi hal paling penting untukmu? 
  3. Siapakah pahlawan bagimu?. Orang yang kita sebut pahlawan adalah orang-orang yang secara tidak langsung kita tempatkan sebagai role model bagi kita sendiri. Mereka adalah orang-orang yang kita contoh dalam kehidupan ini. Untuk hal itu, maka sangat pentinglah bagi kita untuk mencari dan menemukan role model yang baik untuk kita masing-masing. 
  4. Apa yang kau inginkan orang lain ketahui tentang dirimu?, atau jika kau terkenal, kau ingin terkenal sebagai apa? 
  5. Jika kau bisa melakukan apapun, dan menjadi apapun, maka apa ingin menjadi apakah dirimu? 

Daftar pertanyaan tersebut di atas akan sangat membantu untuk membayangkan apa yang ingin kita lakukan dalam hidup. Entah apapun itu. Setelah kita tahu apa yang benar-benar sangat kita inginkan dalam hidup, dan apa yang menjadi tujuan kita, akan sangat mudah bagi kita untuk menentukan langkah-langkah selanjtunya yaitu langkah-langkah untuk mencapai tujuan ini. 

Dalam menyusun rencana untuk mencapai tujuan hidup, kita harus memahami dua prinsip penting ini. Pertama adalah bahwa kita tidak dapat mencapai satu tujuan besar dengan hanya satu langkah saja, dan yang kedua adalah selalu siapkan plan B, C, D dan seterusnya. Kedua prinsip ini penting untuk dapat mencapai tujuan besar yang kita cita-citakan. Selain dari dua prinsip penting ini, kita pun harus memiliki jiwa bersabar dan percaya pada proses. Tujuan memang penting, tapi hal yang lebih penting dari tujuan adalah proses. Fokus untuk menyempurnakan langkah-langkah untuk mencapai tujuan akan membuat pencapaian tujuan kita semakin berarti dan bermakna. 

Lalu, yang tidak kalah penting adalah menyusun tujuan yang memang bisa dicapai dan diukur sesuai dengan kekuatan atau kemampuan kita. Kita memang bebas bermimpi dan menginginkan sesuatu, tapi kita pun jangan lupa bahwa ada batasan antara mimpi dan cita-cita. Susun tujuan yang memang bisa diukur pencapaiannya, dan memang bisa dicapai. Misalkan kita bermimpi untuk menjadi Suami dari penyanyi Raisa, ini adalah sesuatu yang nyaris tidak mungkin. Jadi, abaikan saja mimpi yang seperti ini. Tapi, akan sangat memungkinkan kalau kita memiliki mimpi untuk menjadi penyanyi yang nanti dan suatu saat dapat berduet dengan Raisa. Apalagi kalau kita memiliki kemampuan dan bakat untuk menyanyi dan memiliki keinginan untuk menjalani karir sebagai penyanyi. 

 ( Baca juga: Harapan, Kegagalan dan Keberhasilan, Ketika kita ingin menyelam lebih ke dalam

Demikian teman-teman sekalian, sedikit dari saya. Tentu saja, ada banyak hal lagi yang sangat ingin saya bagikan kepada teman-teman, terutama yang berhubungan dengan upaya untuk membentuk pribadi yang bermental sehat dan berpola pikir merdeka pada saat ini. Jika ada yang ingin didiskusikan bersama, silakan menghubungi alamat kontak yang sudah tersedia. Saya dengan senang hati menyediakan waktu untuk dapat berdiskusi bersama dan saling belajar. 

Salam hangat dari saya, dan Semoga kita selalu dalam keadaan sehat-walafiat.

Selain link-link tulisan yang sudah saya bagikan diatas, berikut adalah beberapa sumber bacaaan yang mungkin akan sangat membantu untuk lebih memahami tentang topik ini: 

Buku

  1. Earl Hipp (2008). Fighting Invisible Tigers (Stress Management for Teens). Revised and updated third edition. Free spirit publishing: USA. 
  2. Guy Winch (2013). Emotional First Aid (Practical strategies for treating failure, rejection, guild and other everyday psychological injuries). Exisle Publishing Pty Ltd: Australia. Teman-teman bisa membaca ringkasan dan lesson learnt dari buku ini melalui PPT yang saya bagikan gratis di Zenodo dengan judul “Emotional first aid”.
  3. Mark Manson. The subtle art of not giving a F*ck (A counterintuitive approach to living a good life). Harper one: USA. Teman-teman bisa membaca ringkasan dari buku ini melalui blog saya, dengan judul tulisan “Resensi buku: The subtle art of not giving a F*ck”.

Tulisan ini adalah tulisan yang sengaja disiapkan untuk seminar selama dua hari, bersama orang-orang muda di seluruh Indonesia dari Agustus 22-23. 2020.

5 pemikiran pada “Upaya Untuk Membangun Jiwa Muda yang Bermental Sehat dan Berpola Pikir Merdeka

  1. Tulisan yang panjang, runut dan tentu saja menarik; butuh waktu khusus untuk mencerna semua informasi yang ditulis, ciri khas Mbak Maria dalam menuangkan ide dan sharingnya. Salut.

    Kesimpulan saya setelah membaca tulisan ini, apa saja yang menjadi poin-poin bahasan di atas menurut saya memang benar; namun tak semua orang dengan mudah menemukan caranya. Poin-poin di atas akan ditemukan saat orang (pemuda) tersebut telah mengalami masa kesulitannya.

    Saat ia merenungkannya barulah orang (pemuda) itu dapat melihat hal-hal yang telah dilaluinya; Ia berdiri dan melihat sekelilingnya setingkat lebih tinggi dari posisi sebelumnya.

    Sementara saat ia melalui masa sulitnya, cenderung ia berjalan dalam “kebutaannya”. Beruntungnya, manusia adalah makhluk yang tercipta dengan tingkat survival tertinggi, thank God for that, sehingga poin-poin yang Mbak Maria sampaikan dapat mereka temukan.

    Semoga kesimpulan saya salah :D.

    Terima kasih sharingnya, mbak.

    Disukai oleh 2 orang

  2. Pemikiran yang menarik. Semua patut didengar oleh semua anak muda atau yang merasa muda *ehm*ehm*

    Mau menambahkan satu hal saja, pendidikan etika dan moral juga penting banget (kalau mau sekaligus digabungkan dengan kepercayaan masing2). Karena tidak ada gunanya cerdas, pandai, bersemangat, muda tapi etika dan moralnya ambyar. Yang ada alih-alih berguna hanya merugikan masyarakat banyak. Hanya memikirkan keuntungan jangka pendek semata. Sekarang kita sudah banyak melihat contohnya….diberi tanggung jawab selevel negara tapi akhirnya dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri atau golongan…

    Disukai oleh 1 orang

  3. Halo, Mas.

    Saya selalu senang dan merasa sangat beruntung mendapaykan komentar dari Mas. Sangat-sangat bangga rasanya.

    Terima kasih sudah berkunjung, membaca dan meninggalkan pesan. Saya rasa kesimpulan Mas tidak salah. Saya turut membenarkan kesimpulan yang ditulis di atas.

    Sebenarnya, ketika saya membaca kembali tulisan ini untuk yang kesekian kalinya. Saya merasa bahwa bahasa yang saya gunakan terlalu rumit dan tidak sederhana. Belum lagi ide-ide yang saya tuangkan di sini acak dan kelihatan kurang terorganisir wkwkwk. Saya biasa menulis bebas di Blog untuk kalangan siapa saja. Rasanya menulis secara khusus untuk kalangan tertentu masih menjadi hal baru yang harus giat saya pelajari, Mas.

    Terima kasih banyak atas insight-nya Mas. I keep that in mind for sure.

    Suka

  4. Hi, Phebie.

    Saya sungguh-sungguh senang mendapatkan komentar ini. Benar, saya luput menilai mengenai pendidikan etika dan moral. Padahal ini adalah hal yang sangat-sangat krusial, terutama pada masa-masa sekarang ini.
    Terima kasih banyak ya. Luar biasa sekali mendapatkan insight seperti ini.

    Salam untukmu, Phebie.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s