Waktu untuk Melihat Kembali ke Belakang


Beberapa waktu ini, banyak sekali hal yang saya kerjakan, tapi saya hanya memiliki sedikit waktu untuk beristirahat dan merenungkan semua hal yang saya kerjakan. Menulis sebenarnya adalah cara saya untuk merenungkan atau merefleksikan apa yang sudah saya kerjakan sebelumnya, tapi beberapa waktu ini saya tidak memiliki waktu berharga tersebut. Alhasih, saya merasakan tekanan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya, dan saya jatuh kesekian kalinya dalam keadaan sakit dan tidak berdaya.

Dalam keadaan sakit dan tidak berdaya tersebut, saya memiliki cukup waktu untuk merenungkan banyak hal! Beberapa hal yang saya renungkan, saya catat dan bagikan di sini.

Manajemen Energi

Saya berusaha untuk menggunakan waktu yang saya miliki dengan sebaik mungkin. Waktu adalah komoditi yang sangat berharga, dan saya tidak ingin membuang-buang waktu untuk hal-hal yang percuma atau tidak menghasilkan sesuatu. Saya berusaha untuk bekerja seefektif dan se-efisien mungkin, tapi saya mulai merasakan kurangnya waktu yang saya miliki. Saya tahu, ini adalah hal yang berbahaya, karena ketika saya mulai tidak bisa mensyukuri keberadaan waktu atau mulai merasakan bahwa waktu 24 jam perhari itu tidak cukup, saya sudah mulai terlalu sibuk dan saya semakin membuka lebar kemungkinan untuk jatuh sakit (lagi).

Saya belajar dari pengalaman terdahulu dan menerima kenyataan bahwa tubuh saya tidak semakin muda, tapi semakin tua. Saya tidak seperti dulu yang sanggup bekerja lembur sampai malam-malam. Saat ini, tubuh saya mudah sekali merasa lelah dan saya tidak bisa melakukan apapun ketika tubuh saya merengek minta istirahat total. Beberapa waktu ini, saya harus menerima kenyataan bahwa tubuh saya meminta jatah istirahat lebih banyak dari yang biasanya, dan ini sangatlah mengganggu sebenarnya. Banyak waktu yang ‘terbuang’ dan saya semakin menjadi gila karena banyak sekali tumpukan pekerjaan yang tidak bisa saya selesaikan tepat waktu! Ini semakin menyiksa! Karena hal ini, saya kemudian belajar untuk mengatur energi, bukan lagi mengatur waktu (Manajemen energi, dibandingkan manajemen waktu).

Tulisan dari Ingrid Fetell Lee tentang “How to find your bearings in a crisis” menjadi pembuka mata yang lebar tentang pentingnya “resiliency’ dalam masa-masa seperti ini. Bukan hanya soal manajemen koping saja, tapi juga menguatkan akar atau yang dikenal sebagai daya resiliensi.

Tulisan untuk Inggrid ini membawa saya pada pikiran yang lain, dan merenungkan apa yang dituliskan di sana. Saya menyadari bahwa selama ini, saya tidak mempraktikkan ‘being gentle’ dengan diri saya sendiri. Saya selalu keras dengan diri saya sendiri, dan memaksa diri saya untuk melakukan yang terbaik dan yang terkeras yang bisa dilakukan oleh seorang manusia. Saya bekerja dua kali lipat lebih keras dibandingkan teman-teman saya di ruangan, dan memang hal ini dilatarbelakangi oleh perasaan ‘guilty’ yang mendalam. Saya tidak sadar, kalau hal ini malah membuat semuanya menjadi tidak baik untuk diri saya sendiri.

Saya kemudian menyerah, dan saya memilih untuk mengistirahatkan tubuh saya seseuai dengan keinginan.

Menimba kekuatan baru

Kekuatan saya adalah pada aktivitas menulis yang secara rutin saya kerjakan. Menulis adalah waktu berharga, semacam waktu untuk menimba energi setelah bekerja secara full seharian dan tiada henti. Menulis itu semacam meditasi, dan saya menemukan lebih banyak diri saya di sana, dan Tuhan. Terdengar sangat klise, tapi itulah yang selama ini terjadi.

Tulisan dari January Nelson tentang “7 tipis for aspiring writers who aren’t sure where to start”, kembali menyadarkan saya akan apa yang harus saya lakukan dan lihat kembali. Poin penting yang saya temukan adalah ‘membaca’, ya, membaca untuk melihat sesuatu yang berbeda.

Selain menulis, jatuh cinta adalah juga aktivitas yang saya tekuni beberapa waktu ini. Saya menajdi sangat terinspirasi akhir-akhir ini karena kegiatan jatuh cinta dan menjatuhkan diri pada cinta dan ketertarikan akan sesuatu. Akhir-akhir ini, entah bagaimana dan kenapa, saya melihat kekuatan yang ditimbulkan oleh moment ‘jatuh cinta’ sebagai kekuatan yang luar biasa besarnya! Energi yang ditimbulkan dari perasaan jatuh cinta, never fail to amaze me in so many ways!

Menyadari makna dari “hold on for a little longer’.

Sampai saat ini, saya masih belum serratus persen memahami yang dimaksud dengan “hold on for a little longer” atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai, bertahan sedikit lagi.

Entah kapan, dan entah sejak kapan saya sudah tidak memiliki semangat untuk berjuang atau memperjuangkan sesuatu untuk orang lain atau bahkan untuk diri saya sendiri. Saya menerima, dan saya membiarkan yang terjadi pada saya, terjadi. Saya tidak ingin ambil pusing. Awalnya saya berpikir demikian, tapi kemudian saya dipertemukan dengan banyak kejadian yang membuat saya harus me-reset ulang kepercayaan saya ini. Saya tidak bisa seperti ini.

Tulisan dari Holly Riordan tentang “When everything feels pointless, keep going”, kembali menyadarkan saya untuk melihat kembali kehidupan sebagai sebuah bentuk perjuangan yang menyenangkan dan tidak memiliki akhir yang pasti. Poin “tidak memiliki akhir yang pasti’ ini sangatlah penting, karena hampir setiap hari saya selalu memastikan apa yang saya kerjakan selalu memiliki akhir yang penting, bermakna dan jelas. Saya lupa, terlalu banyak factor X di sekitar saya, yang dapat saja berkontribusi terhadap pembentukkan keadaan yang berbeda dan lain bahkan bisa jadi berada di luar prediksi saya.

Waktu untuk belajar kembali

Saya memang seorang perawat, tapi banyak sekali hal yang tidak saya pahami tentang ilmu keperawatan. Ini adalah salah satu hal yang saya sadari ketika saya diminta untuk mengajar beberapa orang Mahasiswa/I keperawatan di sebuah sekolah perawat.

Saya tidak tahu, kemanakah saya selama ini, sampai-sampai saya banyak ‘tidak tahunya’ dengan ilmu keperawatan saya sendiri. Lucu memang, tapi kenyataannya demikian.

Karena alasan ini, saya pun akhirnya belajar kembali hal-hal yang berhubungan dengan ilmu keperawatan. Saya pun membuat catatan-catatan penting dalam bentuk power point presentasi, yang dapat digunakan untuk bahan belajar saya sendiri dan juga orang lain. Semua catatan presentasi ini saya bagikan secara gratis di akun Zenodo Saya, Maria Frani Ayu.

Rasa rendah diri muncul ketika saya menyiapkan banyak catatan tentang beberapa informasi keperawatan yang saya kumpulkan. Rasanya bagaimana begitu. Tapi, saya melihat hal ini sebagai sesuatu yang baik. Saya melihat adanya jalan dan kesempatan untuk kembali bersemangat untuk menatap masa depan, melihat sesuatu yang tidak nampak sebelumnya.

Saya pun belajar bagaimana tidak idealnya mengajar satu kelas yang lebih dari 20 orang mahasiswa/I. Akan lebih baik jika mengajar, terutama mengajar untuk mahasiswa/I keperawatan itu dilakukan 1:20 orang. Satu dosen untuk dua puluh orang Mahasiswa atau 25 orang mahasiswa saja. Ini akan lebih baik, terutama untuk mengajar tentang mata kuliah ilmu keperawatan yang sangat-sangat berbeda dengan ilmu-ilmu social lainnya.

Saya sendiri, harus secara eksplisit memantau pencapaian tiap-tiap orang atau tiap-tiap Mahasiswa, dan ini adalah pekerjaan yang berat, berat banget malah!

Menghargai kerja keras orang lain

Saya bukan penggemar Blackpink sebelumnya, tapi saat ini cukup menyukai mereka dan lagu-lagu yang mereka lahirkan. Mereka bukan hanya wanita-wanita cantik, tapi juga wanita-wanita pekerja keras yang juga menggunakan otaknya dengan sangat luar biasa. Album mereka yang berjudul “The Album” entah bagaimana sangat-sangat menarik perhatian saya.

Lagu-lagu mereka berhasil membuat saya menyadari betapa pentingnya kerja keras dengan berpegang pada tujuan yang jelas dan juga menjadi diri sendiri. Saya menjadi sangat terinspirasi setiap kali mendengarkan lagu mereka.

Image wanita yang lemah dan tidak berdaya memang kerap disematkan pada mereka, tapi image yang diciptakan oleh rumah produksi mereka tidak sama seperti mereka yang sesungguhnya. Pribadi mereka yang sesungguhnya itu yang lebih menarik, dan menjadi sangat menarik.

Meskipun saya berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan di tempat tidur saat ini, pikiran saya masih berjalan untuk memikirkan hal-hal seperti ini. Sangat mengejutkan, tapi saya cukup puas dan menikmati waktu-waktu ketika saya menulis tulisan-tulisan ini.

Semoga teman-teman yang membaca tulisan ini dapat menemukan kelegaan dan kebahagiaan.

Salam dari saya.

6 pemikiran pada “Waktu untuk Melihat Kembali ke Belakang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s