Refleksi: Hawa dan Maria


Hawa, atau yang juga dikenal sebagai ‘EVE’ adalah tokoh yang sangat terkenal dalam tiga agama samawi. Eve, atau yang juga berarti the mother of all the living adalah salah satu tokoh pertama yang muncul dan diceritakan dalam kitab suci, terutama ketika membicarakan tentang kisah penciptaan dan kisah tentang dosa pertama. Membicarakan mengenai kisah penciptaan, tidak akan lengkap rasanya tanpa membicarakan tentang Hawa dan pasangannya, Adam. Keduanya dikenal sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Sang Pencipta menurut kitab suci.

Tulisan ini ditujukan untuk menggali tentang hawa dalam kitab suci perjanjian lama, dan hawa yang baru, atau yang dikenal sebagai Maria (Mary) dalam kitab suci perjanjian baru. Tulisan ini juga adalah bagian dari selebrasi perayaan “Solemnity of the Immaculate Conception of the Blessed Virgin Mary”.

Tulisan ini adalah tulisan yang bersifat sangat personal. Dalam artian, apapun yang tertulis di sini lahir dari pemahaman, kesadaran dan juga pengetahuan yang dimiliki oleh penulis.

Percakapan antara Tuhan dan Manusia : Manusia yang Ngeles!

Dalam kisahnya, Tuhan mencari dan memanggil manusia di taman Eden. Kalimat yang diucapkan Tuhan adalah, “Where are you?”. Pertanyaan seperti ini, dalam bayangan saya, akan dijawab dengan jawaban seperti ini, “I am here” (Saya ada di sini) atau jawaban yang suitable lainnya. Tapi, dalam kisahnya, jawaban manusia tidak demikian. Jawaban yang atas pertanyaan ini panjang, dan menyimpan banyak hal menarik untuk dipelajari.

Kalimat pertama yang keluar dari mulut manusia ketika membicarakan mengenai hal ini adalah seperti ini, “I heard you in the garden”. Manusia mengakui bahwa Ia mendengar panggilan atau seruan yang mencari dirinya. Kalimat awal ini juga menunjukkan pengakuan bahwa Ia sebelumnya tidak menjawab panggilan. Ia secara sengaja tidak menjawab panggilan, dan hal ini juga menunjukkan sifat mulai berolah dari manusia pada Tuannya (Sikap membangkang manusia).

Kalimat kedua, yang keluar dari mulut manusia adalah “I was afraid”. Kalimat ini menunjukkan emosi yang muncul dan lahir dari manusia. Rasa takut, adalah hal pertama yang dirasakan manusia ketika ia merasa sudah melakukan kecurangan, kejahatan atau sudah melakukan yang tidak seharusnya. Perasaan takut ini juga adalah yang mendorong manusia untuk tidak mendengarkan atau pura-pura tidak mendengarkan ketika ada yang memanggilnya.

Kalimat ketiga adalah ini, “I was naked” yang selanjutnya diikuti dengan, “I hid myself”. Kalimat ketika menunjukkan munculnya ‘kesadaran’. Manusia sadar akan keadaan di sekelilingnya, dan juga keadaannya. Kesadaran itu membuatnya melakukan aksi, “menyembunyikan’ dirinya sendiri dari orang yang mencarinya.

Mengenai ‘kesadaran’ atau ‘tahu’ bahwa sesuatu terjadi, dalam refleksi saya, saya melihatnya seperti ini, “Apakah kesadaran adalah sesuatu yang menyiksa manusia selama ini?”. Kita tidak akan merasa bersalah, kalau kita tidak sadar. Kita tidak akan merasa tersiksa dengan perasaan kita kalau kita tidak terlebih dahulu sadar dengan apa yang terjadi. Kesadaran itu, seperti cambuk yang memberi rasa sakit dan juga seumpama gerbang untuk merasakan hal lainnya, seperti penderitaan. Jika saja, manusia waktu itu tidak sadar akan keadaannya, ia mungkin tidak akan merasa malu, dan ia pun tidak akan merasa bersalah. Kesadaran ini, nampak cukup berbahaya dan perlu diwaspadai karena ini.

Percakapan antara manusia dan Tuhan ini, menunjukkan sifat manusia yang memang suka memberi alasan ketika Ia kedapatan bersalah atau mengalami masalah. Sifat seperti ini sangat mudah untuk ditemukan pada saat kita kedapatan melakukan kesalahan, atau yang paling jelas adalah pada anak kecil. Kita berusaha untuk menjelaskan, dan berusaha untuk meringankan beban rasa bersalah yang cukup menyiksa itu.

Pria melemparkan kesalahan pada wanita, dan wanita mempersalahkan Ular

Percakapan atau yang lebih tepatnya adalah proses penyelidikan yang dilakukan oleh Tuhan pada kedua manusia, memberi pelajaran dan bahan renungan yang sangat menarik untuk digali.

Ketika Tuhan berbicara pada manusia Pria, ia pun menjawab dan melemparkan kesalahan pada manusia wanita yang diciptakan oleh Tuhan. Sebagai manusia pria, ia bukannya mengambil tanggung jawab atas apa yang ia lakukan (mengambil buah dari tangan manusia wanita, dan memakannya). Tapi, ia melemparkan jawabannya pada manusia wanita. Cerita ini menunjukkan kepada saya bahwa, pria itu sedang melemparkan tanggung jawabnya pada orang lain. Tidak bertanggung jawab adalah kesan yang saya dapatkan ketika membaca cerita ini.

Lalu, bagaimana dengan si wanita?. Ia pun tidak mengakui dengan mengatakan, “Ya, saya yang mengambil buah itu”. Tapi, sama seperti manusia pria, ia pun melemparkan kesalahan pada sosok lain, si ular. Kisah ini pun berhenti dengan Tuhan yang menjatuhkan hukuman baik kepada manusia dan si ular.

Cerita mengenai interogasi yang dilakukan oleh Tuhan kepada manusia ini sangatlah menarik. Selain menyisipkan pelajaran tentang sifat manusia pria dan wanita, juga menunjukkan bahwa manusia pada umumnya adalah manusia yang tidak ingin disalahkan dan tidak ingin mengambil tanggung jawab atas apa yang ia lakukan.

Memang, si Ular adalah tokoh lain dalam cerita ini. Ular, bukanlah manusia (Ular, bahkan dalam beberapa cerita disebut sebagai naga, sebelum Tuhan mematahkan kakinya dan membuatnya berjalan dengan perutnya). Ular diceritakan sebagai ‘binatang’, tapi ia nampaknya memiliki kesadaran yang lebih tinggi dari manusia dan berhasil membujuk manusia untuk melakukan apa yang ia inginkan. Ya, pada beberapa cerita, ular ini adalah jelmaan dari iblis. Tapi, saya memang tidak akan membicarakan mengenai hal ini di sini. Panjang!

Manusia, dalam interogasinya menunjukkan bahwa si Ular-lah yang bersalah dan menjadi sumber masalah yang membuat semua malapetaka ini terjadi.

I know, banyak sekali konflik yang terjadi ketika kita membicarakan mengenai kisah penciptaan dalam kitab suci dan membandingkannya dengan ilmu pengetahuan yang kita pahami sekarang. Tenang, diskusi dan perdebatan seperi ini sudah terjadi puluhan tahun, bahkan sebelum saya dan kamu lahir. Moral of the story atau pelajaran yang bisa diambil dari banyaknya perdebatan ini adalah bahwa begitu banyak kemungkinan yang belum ditemukan kepastian jawabannya, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak dan belum terjawab. Menemukan banyak jawaban, mungkin bisa membuat kita binggung, tapi juga kaya. Saya memilih mengambil sikap yang positif yaitu melimpahi pikiran saya dengan banyak jawaban, dan menempatkan pada posisinya di mana jawaban itu seharusnya diletakkan.

Maria, dan sifatnya yang Kritis, Logis dan Analitis

“I am the Lord’s servant, may your word to me be fulfilled”, ini adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Mary (Maria) dalam percakapannya dengan Malaikat Gabriel.

Dalam injil, Maria bukanlah orang yang dengan mudah menerima perintah dari orang lain. Ia juga bukan orang yang menelan ‘bulat-bulat’ tugas yang diberikan padanya. Ia adalah orang yang kritis, dan menggunakan otaknya dengan sangat baik. Ketika Malaikat datang dan memberi salam padanya. Maria tidak serta merta menerima salam itu. Ia mempertanyakan arti salam itu, dan bahkan menunjukkan rasa ‘takut’. Sampai Malaikat harus mengatakan, “Do not be afraid” untuk menenangkan hatinya. Ketika malaikat memberikan tugas padanya, ia pun tidak langsung menjawab ‘ya’. Ia bertanya, “How will this be?”, dan selanjutnya membuka kesempatan kepada malaikat untuk menjelaskan sedetil mungkin akan misi yang harus ia ambil. 

Penjelasan malaikat tidak hanya sampai di situ saja. Malaikat mungkin tahu bahwa Maria adalah orang yang menggunakan otaknya dengan sangat baik. Untuk itulah mengapa Ia pun menyebutkan soal rencana akan Elizabeth. Malaikat mungkin berpikir bahwa, Maria membutuhkan bukti, membutuhkan sesuatu yang dapat dilihat dan dijadikannya jaminan. Ketika malaikat menjelaskan mengenai Elizabeth, Maria lalu tidak melanjutkan pertanyaannya lagi.

Meskipun awalnya percakapan antara Maria dan malaikat menunjukan tanda ‘ketidaksetujuan”, tapi pada akhirnya, Maria mengatakan kalimat luar biasa ini, “I am the Lord’s servant, may your word to me be fulfilled”. Kalimat ini menjadi kalimat persetujuan, dan juga kalimat yang akhirnya menutup perjumpaan Maria dengan Malaikat.

Maria, jika ia adalah manusia yang hidup pada masa ini. Maka Ia dapat digambarkan sebagai sosok terpelajar, yang memiliki segudang ilmu dalam dirinya. Orang seperti ini biasanya memiliki sifat kritis, logis dan analitis. Orang-orang seperti ini biasanya akan mengkalkulasikan langkah-langkah yang mereka ambil, dan selalu hati-hati dalam mengambil keputusan.

Tapi, meskipun Maria adalah orang yang kritis, logis dan analitis, Ia tidak menghilangkan sifatnya untuk terus membuka diri pada a new possibility yang penuh ketidakpastian. Ya, tawaran yang diberikan oleh malaikat padanya, adalah tawaran yang tidak mungkin, dan juga sulit untuk diterima. Tapi, Maria mengambil tugas itu dan memutuskan untuk dirinya sendiri.

Solemnity of the Immaculate Conception of the Blessed Virgin Mary”, bagi saya, bukanlah hanya perayaan ‘immaculate conception’ itu saja, tapi juga adalah perayaan atas teladan Maria untuk bernegosiasi dengan baik tanpa meninggalkan sifatnya untuk ‘surrender’ pada a new possibility yang ada di hadapannya.

Mengapa saya menulis tulisan ini?

I know, rasanya sangat tidak biasa melihat bagaimana saya menerbitkan tulisan ini. Rasanya sangat tidak nyambung dengan tema utama dari blog ini. Tapi, sebenarnya, saya menuliskan tulisan ini atas kesadaran bahwa blog ini adalah blog dengan tema tertentu, dan penikmat blog ini juga adalah orang-orang dengan latar belakang bervariasi.

Saya adalah perawat, status ini terus menerus saya ulang dalam setiap terbitan tulisan di sini. Sebagai perawat, saya juga adalah seorang pribadi atau individu dengan system kompleks di dalamnya. Ketika saya merawat pasien dengan masalah gangguan jiwa, saya mempergunakan diri saya sebagai media bagi pasien untuk menemukan jalan pemulihannya. Kadang, tanpa saya sadari dan tidak bisa saya hindari, sebagian dalam diri saya ikut serta terhadap masalah pasien dengan kadar yang tidak biasa atau berlebihan (ini adalah saat ketika saya terlalu bersimpati, dan berlebihan). Alhasil, saya pun merasakan gangguan yang kadang sulit.

Menyadari keadaan yang saya jelaskan di atas, saya pun harus kembali ke asal saya, dan salah satunya adalah pada titik tenang atau titik spiritualitas saya. Ini adalah bagian dari upaya untuk menyadarkan diri, siapa saya, dan bagaimana saya harus berinteraksi dengan orang lain dan terutama dengan pasien saya. Metode ini berhasil bagi saya, setidaknya sampai saat ini.

Pada sekolah-sekolah Pendidikan ilmu keperawatan, metode refleksi ini pun diajarkan dan sangat direkomendasikan. Sifatnya memang personal, tapi kadang hal seperti ini mengajarkan lebih banyak pelajaran dibandingkan kegiatan belajar lainnya. So, tulisan ini juga adalah bagian dari upaya untuk menarik diri saya menuju kearah reflektif. Pada keadaan ini, gelombang otak saya rasanya tenang dan saya pun merasakan damai. Saya menimba kekuatan yang cukup, dan saya siap untuk bekerja serta berkarya lagi.

Beberapa bacaan menarik lainnya:

  1. Stefanus-Ingrid (2018). Mengapa Bunda Maria disebut sebagai Hawa yang Baru?. Katolisitas.org.
  2. Stefanus_Ingrid (2018). Mengapa Bunda Maria disebut sebagai Hawa yang Baru?. Katolisitas.org.
  3. T. Krispurwana Cahyadi SJ (2019). Hawa Baru. Hidupkatolok.com.
  4. Marisela Trihastuti Hendra (2019). Bunda Maria dalam Pandangan gereja Katolik dan Kristen dalam Perspektif Fenomenologi Agama. OSF.IO.
  5. Indri CiciliaRuus (2019). Mengenal Sosok Bunda Maria: Perempuan Pilihan Allah. Kompasiana.  
  6. Berbagi Berkat (2020). Gereja Katolik Mencintai Bunda Maria; Gereja Katolik Mencintai Bunda Maria (Bag. II); Gereja Katolik Mencintai Bunda Maria (Bag. III); Gereja Katolik mencintai Bunda Maria (Bag. IV);

2 pemikiran pada “Refleksi: Hawa dan Maria

  1. “Menemukan banyak jawaban, mungkin bisa membuat kita binggung, tapi juga kaya.”

    Saya malah kemudian timbul pertanyaan, seandainya Tuhan tidak menciptakan Hawa apakah akan timbul perkara ular menggoda manusia (Adam)? Dan apakah akan timbul saling lempar tanggung jawab seperti yang terjadi? Seandainya tidak terjadi peristiwa penggodaan dan saling lempar tanggung jawab, akan menjadi seperti apakah kehidupan manusia saat ini?

    Banyak memang timbul pertanyaan dan akan semakin banyak timbul jawaban atau malah tidak ada jawaban sama sekali hehehe…

    Lanjut tulisannya, mbak Maria.

    Disukai oleh 1 orang

  2. hahaha, bagi saya, semakin banyak pertanyaan, maka akan semakin banyak pula penderitaan dan masalah haaa. No, maksud saya, pertanyaan dan rasa ingin tahu membuat kita bertanya, mulai dari hal-hal kecil dan sederhana, lalu ke hal-hal yang rumit. Pertanyaan satu akan bergerak ke pertanyaan-pertanyaan lainnya, dan “jawaban”, mungkin bukan adalah jaminan suatu kepuasan. Proses ini bagi saya adalah derita hahahaha.

    Terima kasih sudah membaca, senang rasanya mendapatkan komentar ini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s