The Tokyo Zodiac Murders: Karya Briliant Detektif dari Timur


Selama ini, belum ada buku serial detektif yang dapat menandingi buku yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle seratus tahunan yang lalu. Tokoh fiktif yang dihidupkan oleh imajinasi Sir Arthur Conan Doyle adalah tokoh legendaris Sherlock Holmes, plus sahabatnya Dr. Watson. Serial lain yang mungkin menjadi second choice bagi saya adalah serial detektif wanita, Mrs. Marple, karya Penulis Wanita Hebat dari Prancis, Agatha Christie.

Jika kedua jenis cerita detektif ini berasal dari barat, maka kita akan mencari pembandingnya dari timur. Sebelum cerita mengenai Detective Conan, karya Aoyama Gosho, ada cerita yang sangat-sangat menarik bagi saya, yang entah kenapa baru saya temukan dalam beberapa waktu ini. Cerita yang ditulis oleh Soji Shimada adalah cerita yang menurut saya adalah cerita yang memiliki kisah yang sama hebat dan luar biasanya dengan kisah yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Dyle.

Soji Shimada adalah penulis ulung yang sangat-sangat luar biasa! dengan daya imajinasi yang sangat-sangat hebat pula. Saya sangat terkesan dengan pengetahuannya tentang astrologi, dan tata letak (ruang). Belum lagi gaya bertutur yang khas gaya tutur cerita penulis fiksi ilmiah.

Buku yang ditulis oleh Soji Shimada, memberi saya banyak bahan untuk dipikirkan. Beberapa diantararanya dituliskan sebagai berikut:

Selalu ada alasan dibalik setiap tindakan (bahkan tindakan brutal dan tidak manusiawi).

Saya sangat tertarik membaca serial bertema thriller atau bernuasa pembunuhan sejak saya membaca buku yang berjudul “Parfume”. Buku tersebut mendorong sifat kemanusiaan saya sampai pada batas yang tidak saya bayangkan. Saya merasa jijik, tapi saya pun merasa sangat antusias. Saya menikmati denyut jantung cepat yang dihasilkan dari membaca dan menikmati kisah dalam lembar-lembar bukunya.

Selesai membaca buku yang berjudul “Parfume” tersebut, saya merasa bahwa masing-masing manusia menyimpan sifat binatang dan brutal dalam dirinya. Hanya perlu trigger, dan melemahkan pengendalian diri saja. Maka, jadilah. Atau, dalam istilah masyarakat adalah, mendengarkan, dan mengikuti nafsu iblis.

Kisah-kisah mengenai pembunuhan, selalu menyisakan pertanyaan dalam hati saya. Pertanyaan tersebut seperti, “Mengapa?”, “Mengapa ada orang yang begitu tega dan tidak takut ketika membunuh atau menghilangkan nyawa orang lain (sesamanya manusia)?”

Pemikiran seperti ini lahir karena saya memiliki batasan norma dan moral yang sama seperti kebanyakan masyarakat, yang menganggap bahwa membunuh sesama manusia adalah perbuatan keji, jahat dan sangat tidak manusiawi. Pandangan akan berbeda dengan mereka yang memamg memiliki sifat antisosial atau psikopat. Tidak ada rasa keadilan dalam diri mereka, dan rasa keadilan dan kasihan terhadap korban ini tidak tumbuh dalam diri mereka sejak kecil.

Kisah yang ditulis oleh Soji Shimada ini berbeda. Ia menuliskan bahwa pembunuhan keji dilakukan karena seorang individu (pelaku) sudah terdorong sampai titik batasnya. Terutama titik kesabaran dan titik dimana Ia mampu mentoleransi tindakan tidak adil yang dialaminya. Hal ini yang terjadi dalam hidup pelaku utama pembunuhan yang terjadi dalam kasus ini.

Tidak ada riwayat keluarga darah pembunuh atau pelaku kejahatan. Sosok pembunuh dalam kasus ini malahan adalah sosok yang lemah, sangat terkesan dengan sifat ketidakberdayaannya dan sangat jauh dari sosok seorang pembunuh. Tapi, kisah dalam buku ini berakhir dengan ending yang sangat menakjubkan dan tidak terduga. Orang yang tidak diduga-duga ini, adalah pelakunya dan kelemahan serta ketidakberdayaannya adalah salah satu senjata untuk mengelabui pihak penegak hukum.

Hal lain yang dituliskan di sini adalah bahwa pembunuhan itu terjadi juga karena kebiasaan. Pembunuhan pertama dilakukan dengan penuh kecemasan, dan tentu saja messy. Pembunuhan kedua dan selanjutnya pembunuhan-pembunuhan lainnya, just like a piece of cake. Kebiasaan adalah salah satu faktor pendukung yang sangat mumpuni.

Lelucon soal Sherlock Holmes.

Soji Shimida mungkin adalah juga seorang penggemar tulisan tangan Sir Arthur Conan Dyle. Ia adalah pemuja yang juga adalah seorang kritikus. Dalam cerita ini, ada bagian ketika tokoh utama dalam novel ini membuat lelucon tentang Sherlock Holmes dan bagaimana sangat tidak masuk akalnya tokoh ini. Bagian ini adalah salah satu bagian terbaik bagi saya dalam kisah ini.

Hanya Soji Shimida yang dapat membuat lelucon sangat bebas seperti ini, dan tentu saja ini adalah hal yang tidak saya duga akan saya temukan dalam buku ini.

Kebudayaan Jepang: Bertanggung jawab hingga mengakhiri hidup.

Kebudayaan Jepang adalah sesuatu yang luar biasa untuk dipelajari. Bukan hanya soal manga, yang memang sangat terkenal berasal dari Jepang, tapi kebudayaan-kebudayaan lainnya.

Buku ini mengajarkan tentang budaya Jepang yang sangat menghargai tugas dan tanggung jawab yang diberikan pada mereka (individu), bagaimana rasa tanggung jawab itu diteruskan sampai akhir hidup mereka. Rasa tanggung jawab ini kemudian diwujudkan dalam bentuk yang sangat ekstrem, yaitu menghukum diri sendiri (menganggap apa yang dialami pasca melakukan aksi sebagai bagian dari hukuman/karma jahat). Kegiatan menghukum diri sendiri ini bahkan bisa mencapai titik ini, titik membunuh diri sendiri. Membaca buku ini, meninggalkan sifat keheranan yang luar biasa. Bunuh diri dalam buku ini dianggap sebagai sesuatu tindakan yang terhormat dan sangat dihargai.

Selain mengenai kebudayaan Jepang, buku ini juga memaparkan tentang kebudayaan lain yang ikut mempengaruhi kebudayaan Jepang, seperti kebudayaan dari Prancis. Kebudayaan ini diceritakan dalam bentuk seni lukisan, seni memahat dan membuat manekin. Pengetahuan-pengetahuan ini akan sangat menarik untuk diselami, dan buku ini memberi cukup gambaran pengetahuan di dalamnya.

Buku ini, sebenarnya sudah lama menjadi pekerjaan rumah saya. Saya seharusnya sudah bisa menghabiskan buku ini sejak beberapa bulan yang lalu, tapi karena kesibukan saya, dan karena prioritas pekerjaan lain, maka saya mengambil langkah untuk menunda menyelesaikan buku ini. Baru, ketika saya memiliki waktu liburan akhir tahun ini, saya mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan buku ini sampai habis. Sebuah pencapaian yang sangat berkesan menurut saya, dan saya sangat puas dengan usaha yang sudah saya lakukan. Saya merasa kalau waktu yang saya gunakan untuk menyelesaikan buku ini tidaklah sia-sia. Saya belajar banyak hal dari buku ini, dan juga dari kisah yang diuntai di sini.

Awalnya, cukup berat bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Selain karena buku ini ditulis dalam Bahasa Inggris, buku ini pun mengandung istilah-istilah yang sangat tidak mudah untuk dicerna. Saya harus membuka kamus beberapa kali untuk bisa memahami arti dan makna tulisan atau cerita. Salah satu alasannya mungkin karena buku ini adalah terjemahan dari buku berbahasa asing (Bahasa Jepang). Wajar kalau proses alih bahasa tidak sesempurna yang pembaca sekalian harapan. Sekali lagi, soal kepuasaan itu sifatnya sangat subjektif.

Buku ini sangat saya rekomendasikan di baca di waktu luang. Tapi, memang harus benar-benar waktu luang yang sedang tidak mengerjakan hal-hal berat lainnya. Soalnya, akan sangat berat dalam memahami isi buku ini. Saya sendiri, karena ingatan saya yang tidak begitu baik, harus berusaha dengan sangat maksimal (sampai harus banyak menulis di kertas) runtutan kejadikan demi kejadian yang dipaparkan dalam buku ini. Maklum, buku ini mengajak pembaca untuk menjadi detektif juga. Jadi, tidak heran.

Pembaca juga harus waspada dengan isi istilah serta nama-nama yang tentu saja diambil dari negara dan kebudayaan Jepang. Mereka yang tidak biasa, akan merasa kesulitan dan binggung untuk memahami kisah di sini, karena nama-nama dalam bahasa Jepang yang sangat mirip. Saya sendiri mengalami kesulitan untuk mengingat dan mengenali satu tokoh dan tokoh lainnya. Saya memerlukan waktu untuk mengingat nama, dan membiasakan diri dengan nama-nama asing dalam buku ini.

Terakhir, sama seperti kisah-kisah detektif lainnya, kisah yang tidak terduga akan sangat kita antisipasi dalam buku ini. Biasanya, dan sangat biasa kalau pelaku adalah orang yang tidak kita duga dan tidak kita sangka. Meskipun penulis sudah memberikan banyak petunjuk dari cerita-ceritanya, tetap saja hal ini kadang tidak cukup membuat kita mengambil kesimpulan atas kejadian yang terjadi, dan menentukan siapa pelakunya.

Saya terperangah ketika tahu siapa pelakunya, dan sangat diluar prediksi saya.

But, ini adalah menariknya cerita ini, dan ini adalah daya pikat buku ini. Bagi saya, ini adalah kekayaan menarik buku ini.

Yuk Baca Buku!

PS. Buku ini bisa dibeli di Toko Buku Gramedia. Buku ini sudah tersedia dalam koleksi Buku Fiksi terjemahan.

4 pemikiran pada “The Tokyo Zodiac Murders: Karya Briliant Detektif dari Timur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s