Catatan dan Refleksi tentang Buku “Merawat Cinta”


Merawat Cinta, buku yang aslinya ditulis oleh W. Vajiramedhi dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ini memberikan penjelasan lebih lanjut tentang judulnya, “Semua Orang Butuh cinta, Sedikit yang Belajar Mencintai Secara Tepat”.

Menarik untuk memahami tentang cinta dan bagaimana “Cinta” menurut pandangan seorang guru dan seorang biarawan. Untuk alasan sederhana ini, saya pun bergegas membeli buku ini, yang tentu saja diterbitkan oleh penerbit Karaniya.

Saya sudah sangat terobsesi untuk mendalami tentang cinta sejak masa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ketika sahabat saya menyatakan rasa sukanya dengan sahabat saya (yang lainnya), saya secara langsung melahirkan tanda tanya besar dalam diri Pertanyaan demi pertanyaan lahir dari dalam pikiran saya. Pertanyaan seperti, “Mengapa?”, “Bagaimana?”, “Kenapa?”, lahir dan terus lahir tanpa henti.

Saya tidak habis pikir, mengapa rasa suka terhadap satu orang dan orang lainnya disebut sebagai cinta. Saya meragukan setiap statement tentang cinta, dan merasa ‘aneh’ dengan setiap penjelasan yang saya terima. Saya tidak cukup puas dengan setiap penjelasan yang diberikan oleh orang-orang yang merasa kesal dengan pertanyaan yang saya ajukan.

“Cinta ya cinta, tidak perlu dijelaskan!” begitu yang dikatakan oleh sahabat saya yang I bet really pissed off because of me.

“Cinta itu ngak pakai otak, pakai hati!”. Ini juga adalah ungkapan yang menjadi penutup dari perbincangan antara saya dan sahabat saya yang lainnya. Dihadapannya, saya mengatakan persetujuan saya, tapi kemudian berhenti dan mulai bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Saya tidak cukup puas dengan jawaban apapun yang diberikan kepada saya.

“Kamu pasti tidak pernah jatuh cinta, makanya kamu menjadi seperti ini” ini juga adalah salah satu komentar yang diberikan oleh sahabat saya yang lain. Saya merasa, mungkin karena saya ini terlalu menyebalkan untuk diajak berdiskusi, makanya sahabat saya akhirnya melemparkan kalimat ini kepada saya untuk menyerang pribadi.

Saya bukannya tidak pernah jatuh cinta. Saya pernah, dan bahkan saya secara konstan dan terus menerus jatuh cinta dengan ‘sesuatu’. Saya tidak akan mungkin bisa melahirkan sajak-sajak dan bahkan tulisan-tulisan tentang cinta, kalau bukan karena alasan ini, jatuh cinta. Jatuh cinta apa yang Ia maksud?

Baca juga: Apakah kamu yakin bahwa kamu sedang “Jatuh Cinta” ?

Pertanyaan demi pertanyaan kemudian berujung pada pernyataan ini, “Orang saling jatuh cinta, satu dengan yang lainnya, secara personal, untuk melanjutkan keturunan di muka bumi ini”. Manusia agaknya dapat mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya di muka bumi ini karena satu hal ini, kemampuannya untuk bereproduksi. Manusia bahkan mengungguli spesies lainnya untuk tumbuh dan merajai bumi karena kemampuannya yang sangat luar biasa ini, bereproduksi. Tidak hanya sampai di situ saja, manusia juga memerlukan cinta untuk dapat menumbuhkan dan membesarkan keturunannya. Keadaan lahir-reproduksi-memelihara-dst adalah semacam siklus yang hukumnya sudah terpatri dalam diri manusia. Semua orang, tanpa kecuali menganggap demikian. Alhasil, ketika seseorang yang sudah sangat cukup usia belum juga menikah atau berkeluarga, maka selesailah Ia. Banyak ragam cap dan pendapat yang tidak menyenangkan lahir dari sana, dan rata-rata sifatnya negatif.

Lalu, apakah itu ‘cinta’ dan apakah tujuannya? Lalu, bagaimana cinta dapat menjadi penjamin keberlangsungan hidup manusia.

Mencari jawabannya adalah sebuah proses tersendiri. Saya rasa, akan panjang waktu yang harus saya tempuh, sampai saya benar-benar puas. Saya tidak mengharapkan jawaban yang wah, karena jelas, jawaban yang wah itu tidak ada. Kadang, jawaban yang saya harapkan sederhana, dan sangat tidak sebanding dengan proses yang akan saya tempuh. Saya sudah mengantisipasi hal ini. Tapi, tidak apa-apa, karena perjalanan ini pasti akan menjadi sangat-sangat menarik. Saya merasa, ada banyak hal yang akan saya renungkan dan saya bagikan selama perjalanan ini.

Baca juga: Tiga Fakta Ilmiah Tentang CINTA

Salah satu buah dari perjalanan ini adalah menemukan buku ini. Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa pertemuan dengan buku yang berkualitas, adalah seumpama bertemu dengan jodoh atau belahan jiwa. Jutaan buku yang ada di dunia ini, seumpama jumlah manusia di muka bumi. Jika kita beruntung, kita akan menemukan buku yang baik, yang dapat mengantar kita pada pencerahan yang baik pula. Jika tidak, maka sebaliknya.

Untuk alasan ini, saya menganggap bahwa diri saya sangatlah beruntung. Saya menemukan buku yang mencerahkan dan sekaligus membantu saya untuk menjawab berbagai pertanyaan di dalam pikiran saya.

Buku ini, terbagi menjadi lima bagian. Pertama adalah permulaan cinta, kedua adalah bersama dalam cinta, ketiga adalah menenun cinta, keempat adalah berlanjut dalam cinta dan yang terakhir adalah cinta yang terperdaya. Buku ini, tentu saja berbicara tentang cinta. Cinta adalah tema utamanya, dan cinta itu dituliskan dalam sebuah analogi yang utuh tentang pertumbuhan atau tumbuh kembang. Cinta itu mengalir, mula-mula dari seseorang pribadi, kemudian mengalir ke pribadi-pribadi lain. Tujuannya adalah ini, merayakan kehidupan dan menjadikan bumi dan dunia ini indah dan layak untuk dihuni.

Tapi, kembali ‘dunia yang layak huni’ ini menimbulkan pertanyaan. Sampai kapan ? dan kalau dunia semakin tidak layak huni, apakah ini berarti bahwa dunia ini sudah tidak memilik banyak cadangan cinta? Cut it! Lanjut ke topik.

Permulaan cinta

Cinta itu dimulai dari dalam diri masing-masing orang. Ia seumpama anugerah, ada di dalam sana, dan sudah ada di dalam sana sejak manusia lahir. Ia tumbuh, sama seperti manusia ketika Ia tumbuh dan menjadi bagian dari bumi ini. Cinta sendiri, mungkin itu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan tentang jenis cinta ini. Cinta ini memiliki sifat, dan sifat ini sangatlah dekat dengan penderitaan. Saya awalnya sangat kaget membaca mengenai penyataan ini, tapi kalau dipikir cinta itu memang adalah sebuah jalan penderitaan. Hidup kita ini pun adalah jalan penderitaan. Penderitaan yang dimaksud di sini bukanlah hal yang negatif, tapi adalah sesuatu yang baik dan tentu saja membawa pada kebaikan. Tapi kembali, ini semua tergantung dari pandangan kita sendiri-sendiri.

Cinta itu, tidak dapat berdiri sendiri atau hidup seorang diri saja. Cinta sendiri, memancar ke luar dan dikenali oleh pribadi-pribadi lain di dunia. Cinta itu kemudian bekerja seperti virus yang menginfeksi inang yang berbeda, dan melahirkan tanda dan gejala jatuh cintanya. Cinta itu kemudian menyatukan dua hati, bahkan bisa lebih. Cinta yang menyatukan ini kemudian memungkinkan orang-orang untuk bercermin pada diri orang lain dan melihat dirinya sendiri. Cinta ini membuat orang menjadi lebih reflektif, lebih hati-hati, dan lebih bersemangat untuk menjalani hidupnya-merencanakan masa depannya di dunia. Intinya adalah melanjutkan hidupnya.

Baca juga: #DearAyu: Cinta, Pria dan Wanita

Norma dalam masyarakat menggariskan bahwa cinta itu, secara normal diwujudkan dalam bentuk pernikahan. Wujud tertinggi dari cinta dua orang yang secara personal adalah pernikahan. Tiada hukum lain yang bisa menjelaskan hal ini selain ini, pernikahan. Cinta yang dimiliki oleh dua belah pihak, kalau tidak dituliskan atau diwujudkan dalam bentuk pernikahan, sia-sia belaka. Entah apa perjuangannya, dan bagaimana perjuangannya, jika cinta tidak diakhiri dengan pernikahan, maka ini lagi hukumnya, sia-sia.

Bagian ke dua dari buku ini bercerita tentang ketika dua insan sudah dipersatukan dalam cinta. Dua insan, dan bukan tiga atau empat. Cinta yang bersifat sangat-sangat egois ini menuntut kesetiaan antara satu orang dengan satu orang lainnya. Tiada lebih.

Cinta ini, ternyata tumbuh dari kesepakatan. Kesepakatan itu bersifat saling menguntungkan satu sama lain, dan karena kesepatakan ini maka secara sendirinya lahir pula hukum-hukum untuk menjaga kesepatakan ini. Hukum-hukum ini lahir untuk menjaga keberlangsungan cinta ini sampai waktu tertentu. Hukum ini harus dipatuhi oleh kedua belah pihak. Jika hanya satu pihak saja, maka tiada tujuan yang bisa dicapai dengan cinta seperti ini. Tidak ada.

Ketika dua pasangan memutuskan untuk membina rumah tangga, akan lebih baik jika keduanya pun saling memperkenalkan keluarga masing-masing. Ada istilah seperti ini, “Cintailah diriku, cintailah keluargaku”, hal ini benar adanya. Wajar juga kalau dalam beberapa budaya tertentu, sebelum dua sejoli saling mengikat janji, kedua keluarga harus saling diperkenalkan dan harus saling menerima. Cinta dua sejoli tanpa restu dari keluarga adalah sesuatu yang berat.

Selama ini, saya menjadi saksi beberapa pernikahan dua sejoli yang tidak direstui oleh keluarga. Perjuangan keduanya berat, sangat berat. Cinta yang besar saja tidak cukup, perlu kerelaan hati yang besar, komitmen yang tidak main-main serta kesetiaan yang tahan uji. Tapi, apapun namanya, pernikahan haruslah direstui oleh keluarga kedua belah pihak. Restu dan persetujuan adalah bekal yang akan sangat mempengaruhi kualitas hubungan kedua pasangan. Kedua pasangan akan hidup dalam kedamaian jika restu sudah mengalir. Harmonis dalam keluarga adalah sesuatu yang sangat didamba-dambakan oleh keluarga.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah mengenal tanda-tanda ketika kapal sudah mau karam. Kapal sudah mau karam ini adalah istilah untuk menunjukkan bahwa dua hubungan mungkin saja sedang di ambang kehancuran. Seperti halnya kapal yang hendak karam, ia tidak tenggelam tanpa adanya peringatan-peringatan. Peringatan itu bisa dipelajari dan diwaspadai. Pasangan-pasangan, harus dengan rajin dan telaten belajar mengenai hal ini, agar mengambil langkah yang baik dan pasti nantinya.

Bagian ketiga dari buku ini bercerita tentang menenun cinta. Kegiatan menenun adalah kegiatan untuk menjalin hubungan cinta dan mempertahankannya sampai waktu paling lama, seumur hidup. Menenun cinta berarti adalah menjalin hubungan diatas segala perbedaan-perbedaan yang hakiki. Manusia, tentu saja adalah makhluk dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, serta tidak lupa adalah peraturan-peraturannya.

Bagian ini juga menceritakan tentang bagaimana menahan diri (melakukan pengorbanan) untuk bisa mencapai tujuan yang lebih baik dan mulai, yaitu kesatuan. Terlalu mengedepankan pribadi sendiri, melahirkan keadaan yang tidak nyaman untuk pribadi lainnya. Jadi, memang harus ada keseimbangan antara dua pribadi. Harus ada yang namanya kesepakatan untuk berdua.

Bagian selanjutnya adalah kelanjutan dari cinta. Cinta terakhir yang harus dicapai antara dua orang adalah cinta sejati. Kata “Sejati’ di sini melahirkan arti untuk dan dalam waktu yang lama, dan langgeng. Cinta sejati juga, adalah defisi dari pengorbanan untuk bisa bersama. Kebersamaan ini dipelopori oleh apa yang disebut sebagai pengorbanan kedua belah pihak.

Bagian terakhir dari buku ini adalah mengenai cinta yang terperdaya. Cinta ini adalah jenis cinta yang penuh dengan keprihatinan. Cinta yang tidak adil, dan cinta yang melahirkan banyak kesengsaraan dan penderitaan bagi banyak orang dan bagi banyak sistem. Mereka yang memahami tentang cinta, diharapkan untuk menerangi jalan mereka yang belum menemukan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang membawa pada keutuhan dan maksimal diri.

Pada akhirnya

Buku ini adalah salah satu dari sekian banyak buku yang sangat saya rekomendasikan bagi mereka yang ingin menjalin hubungan kasih sampai pada jenjang pernikahan. Mereka yang sedang mempersiapkan menyongsong pelaminan, wajib untuk memiliki buku ini. Buku ini sangat menarik untuk dibaca, dan direfleksikan oleh dua belah pihak (pria dan wanita, sebagai pasangan). Buku ini bisa menjadi salah satu bahan diskusi yang menarik.

Perawat seperti saya, dapat mengambil manfaat juga dari buku ini. Salah satunya adalah, buku ini akan sangat berguna dan bermanfaat dalam proses konseling keluarga.

Pada beberapa kesempatan, saya dan beberapa perawat lainnya dihadapkan pada kasus atau masalah keluarga. Kasus ini kadang terjadi antara orang tua pasien, atau pasien sendiri sebagai bagian dari keluarga yang sedang berada dalam masalah. Konseling bisa dijadikan salah satu intervensi untuk membantu pasien-pasien (dan keluarganya) yang memiliki masalah-masalah seputar cinta dan pernikahan.

Buku ini, bisa digunakan sebagai bagian dari upaya untuk memulai pembicaraan, dan memulai konseling. Buku ini juga bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk memberikan intervensi keluarga untuk memulihkan hati yang terluka.

Saya rasa, mereka yang membaca buku ini, akan dapat mengambil banyak manfaat dari buku ini. Saya sangat tidak sabar untuk menantikan cerita dari teman-teman sekalian tentang buku ini, serta manfaatnya.

Terakhir, bagaimana dengan proses penemuan cinta yang saya bahas terus di awal tulisan ini?. Well, saya berkesimpulan bahwa cinta itu adalah topik menarik yang tidak akan habis dibahas dan ditulis. Selalu banyak versi dan banyak sekali varian-nya. Apapun itu, dan apapun yang dijalani oleh masing-masing orang, keputusan ada di tangan masing-masing orang juga. Jika cinta itu harus berakhir pada wujud pernikahan, maka itulah dia. Tapi, jika cinta itu akan berakhir dalam wujud cinta spiritual, yang secara tidak egois membagikannya untuk semua makhluk, maka berakhir seperti itulah nanti. Sekali lagi, keputusan itu ada di tangan masing-masing orang.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Catatan Penting:

Untuk memesan buku yang berjudul “Merawat Cinta: Semua Orang Butuh Cinta, Sedikit yang Belajar Mencintai Secara Tepat”, silakan untuk menghubungi nomor contact penerbit Karaniya dengan nomor 081315315699 atau langsung mengunjungi website Karaniya.com untuk membeli buku Merawat Cinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s