Rintihan Itu Tidak Bersuara


Saya adalah salah seorang editor tulisan ilmiah pada salah satu jurnal ilmu keperawatan. Setiap kali saya memilikirkan tentang status ini, saya terus saja kembali pada pertanyaan ini, “Apakah benar saya adalah seorang editor artikel?, apakah saya layak untuk dikatakan sebagai editor artikel ilmiah? Keterampilan dan kemampuan apa yang saya miliki sehingga saya layak untuk disebut sebagai editor artikel?”

Kenyataannya, tidak banyak artikel yang sudah berhasil saya terbitkan. Sampai saat ini, saya hanya berhasil menerbitkan artikel dengan level lokal dan nasional saja.

Soal menerbitkan artikel itu, soal yang berbeda dengan penguasaan konten (dalam artikel). Kemampuan ini berbeda-beda antara orang satu dengan orang lainnya, dan kedalaman pemahaman dan keterampilan untuk mereview sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman masing-masing orang dibidangnya masing-masing. Saya? masih sangat jauh dari standar rata-rata orang. Lalu, mengapa saya masih berada di sini, menyandang status sebagai salah satu editor artikel ilmiah. Saya rasa, teman-teman dapat menduga alasannya, alasannya adalah karena “tidak ada lagi orang” yang mau bekerja di bidang ini.

Meminjam istilah dari Bapak Budi Suwarna, yang dikutip dari tulisannya yang berjudul “Dunia Sunyi Para Peneliti”, saya pun ingin mengatakan bahwa keputusan saya untuk membantu tugas editor utama, adalah jalan yang sunyi. Jalan sunyi seorang editor.

Setiap kali saya berhadapan dengan artikel ilmiah di hadapan saya, saya selalu berpikir seperti ini, “Mengapa saya?, mengapa saya melakukan ini? Apa harganya untuk saya?”. Tiada honor yang cukup untuk mengerjakan tugas sebagai editor ini. Tidak ada sama sekali. Harga yang dibayarkan untuk pengerjaan tulisan-tulisan ini adalah melihat tulisan orang lain terpublikasi atau tercapai tujuan publikasinya. Tiada keuntungan lain. Berharap akan mendapatkan keuntungan lain? Jangan! Itu hanya akan menyisakan rasa sakit hati yang berujung pada penyakit. Saya sudah berkali-kali bertatapan muka dengan keadaan seperti ini, dan saya merasa sangat tidak nyaman karenannya. Saya bahkan tidak ingin membahasnya lebih jauh.

Peneliti saja berjalan di jalan yang sunyi di negeri ini, apalagi seorang editor tulisan seperti saya? Saya rasa, bukan saja jalan sunyi, tapi jalan berduri.

Baca juga: (Bedah Buku) Serba-serbi Pengelolaan Jurnal: Belajar mengenai pengelolaan Jurnal dari Relawan Jurnal Indonesia (RJI)

Reviewer yang tidak me-review sesuai dengan yang diharapkan

Sudah berulang kali saya mendapati ada banyak artikel yang saya kirimkan ke reviewer dan dibalas dengan sangat tidak memuaskan. Tugas sebagai seorang reviewer sudah dijelaskan dengan baik, tapi hasil kadang berkata berbeda. Artikel yang dikirimkan oleh reviewer kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bukannya me-review artikel, tapi malah mengambil tugas copy-editor untuk mengomentari tata letak dan bentuk table.
Pada saat saya dihadapkan pada kondisi ini, saya sungguh ingin berteriak, “Kenapa tidak saya kerjakan seorang diri saja?”. Saya rasa, akan lebih baik kalau saya kerjakan seorang diri saja. Saya akan menjadi sangat egois karena saya akan menjadi seorang editor dan juga reviewer dalam suatu waktu. Tapi, ada aturan ‘tidak kelihatan’ yang menjerat saya. Belum soal “moral” yang mengikat saya agar tidak takabur dengan tugas saya. Lebih lagi, memangnya siapa saya?.

Pendidikan saya tidak cukup untuk naik banding atau mempersoalkan tulisan atau keputusan reviewer.

Belajar dari pengalaman

Belajar dari pengalaman adalah apa yang saya lakukan selama ini. Memangnya, apa yang dilakukan oleh orang seperti saya?. Saya tidak mengenyam pendidikan khusus sebagai seorang editor. Saya hanya menginvestasikan sedikit waktu untuk menonton presentasi yang dilakukan oleh teman-teman di akun youtube Relawan Jurnal Indonesia. Saya sudah merasa sangat beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk belajar secara gratis melalui channel tersebut.  

Belajar dari sharing yang dilakukan oleh teman-teman editor atau pengelola jurnal adalah waktu untuk belajar. Saya sendiri paling suka melakukan kegiatan ini. Saya rasa, ini adalah kesempatan yang baik untuk beristirahat dan mengumpulkan energi untuk mulai mengerjakan tugas kembali.

Tugas yang dianggap sepele

Menjadi seorang editor, apalagi merangkap sebagai pengelola jurnal itu adalah tugas yang paling disepelekan selama ini. Selama ini, saya hanya mendengar komentar bernada sinis dari para pembaca, “Ah, hanya editor, tidak berat kan pekerjananya?”, “Mudah aja itu?!”. Saya hanya bisa berkomentar, What the pak!

Kita memang sangat mudah mengomentari, tapi mengambil tanggung jawab atas apa yang kita katakan adalah sesuatu yang sulit! dan hanya orang-orang tolol seperti saya yang mau mengambil jalan sulit seperti ini.

Kualitas, bukan kuantitas

Tugas editor adalah untuk mempertahankan kualitas. Ini bukan tugas yang mudah, dan tentu saja membutuhkan banyak energi untuk mencapainya. Artikel yang berkualitas itu seperti apa? Apakah artikel yang banyak digunakan orang adalah artikel yang berkualitas?. Para editor akan berhadapan muka dengan hal-hal seperti ini, dan hanya para editor saja yang merasa ‘ngeh’ dengan hal seperti ini.

Kadang, terlalu fokus pada kualitas juga tidaklah baik. Apalagi kalau bekerja dibawah naungan bos yang mengharapkan ‘jumlah’ dibandingkan dengan kualitas. “Ada berapa artikel yang kita terbitkan edisi ini?” Itu saja yang diteriakkan oleh mereka diatas sana. Jumlah artikel yang diterbitkan adalah hasil yang diakui, tanpa harus repot-repot melihat kualitas artikel yang diterbitkan.

Soal kualitas itu pun masih banyak bersifat ‘subjektif’. Antara satu orang dan orang lainnya memiliki standar kualitas yang berbeda. Ini sangatlah bagaimana begitu. Karena, jika kualitas itu sangatlah ribet. Banyak orang, menggunakan alasan ‘tidak mau ribet’ sebagai alasan untuk tidak mau bekerja di sana. Tidak mau mengambil jalan repotnya.

Kedisiplinan kerja teman-teman

Bekerja sebagai seorang editor itu, bukanlah pekerjaan yang dilakukan oleh diri sendiri atau seorang diri. Pekeraan ini dilakukan oleh satu orang dan orang lainnya, atau dalam artikel berkelompok (team). Sulitnya adalah begini, kalau kita harus bekerja dalam team, dan hanya beberapa orang saja yang memegang teguh kedisiplinan dalam bekerja. Kalau kita harus berpasangan dengan orang yang tidak disiplin, dan tidak dapat bekerja dengan baik, maka itu adalah naas bagi kita. Kita harus bekerja double bahkan harus menggeluarkan energi tambahan untuk menyelesaikan pekerjaan orang lain.

Kerja tangan, bukan mulut.

Bekerja sebagai seorang editor dan pengelola artikel sekaligus itu adalah pekerjaan yang banyak menggunakan tangan (dan jari-jari). Tidak ada kesempatan untuk bekerja dengan menggunakan mulut. Salah satu alasan inilah mengapa banyak orang tidak tahan untuk bekerja sebagai editor atau merangkap sekaligus sebagai pengelola jurnal. Mungkin, hanya orang-orang introvert saja yang tahan bekerja di sini. Untuk orang-orang yang suka berbicara, atau menggunakan mulutnya untuk bekerja, tempat ini sangatlah tidak cocok. Tidak akan banyak orang yang tahan lama bekerja di bidang ini.

Budaya kita, orang Indonesia pada umumnya, mengedepannya pencapaian yang disampaikan secara ‘lisan’ (lewat mulut). Mereka yang bekerja dengan mulut, akan segera mundur secara teratur dan perlahan dari sini.

Saya tinggal dan hidup di lingkungan orang-orang yang berpendidikan. Teman-teman saja adalah mereka yang menguji kelayakan proposal peneliti pemula seperti mahasiswa, atau menjadi seorang anggota sidang kegiatan penelitian. Dalam konteks pendidikan, posisi menjadi seorang “penguji” artikel (dan proposal penelitian) adalah posisi yang sangat terhormat. Menurut saya demikian. Alasannya adalah ini, tidak semua orang bisa mengomentari artikel-artikel penelitian orang lain, dan bukan sembarang orang yang bisa mendapatkan tugas ini.

Hasil yang sangat tidak instan

Melihat bekerjaan editor atau pengelola jurnal, mereka yang tidak memiliki sifat sabar akan merasa sangat-sangat dikecewakan. Soalnya, pekerjaan sebagai editor bukanlah pekerjaan yang hasilnya dapat dilihat secara instan. Bekerja sebagai editor itu seperti menanam padi, membutuhkan waktu dan kesabaran untuk melihat padi yang ditanam tumbuh dan melahirkan padi-padi yang baru. Jika tidak memiliki mental sebagai petani, tidak akan bisa.

Setelah menulis tulisan ini, dan kemudian melihat kembali artikel yang harus saya edit di depan mata. Saya hanya bisa menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat. Memang, tumpukan artikel di depan ini sangat-sangatlah berat untuk dikerjakan dan diselesaikan.

Saya hanya bisa berharap, akan banyak orang-orang hebat yang lahir untuk mengambil jalan sunyi ini. Saya yakin, akan banyak orang di luar sana. Saya tidak berani berharap banyak, tapi untuk saat ini, saya siap dan sudah mulai bisa beradaptasi dan terbiasa dengan keadaaan. Jadi, jalani saja lah.

Semoga tulisan ini bermanfaat, terlepas dari banyaknya keluhan-keluhan yang sangat subjektif di sini.

Saya menduga, saya akan sangat menyesal setelah menerbitkan tulisan ini, karena kelihatan sekali kalau saya kurang bersyukur. Prove me wrong!

13 pemikiran pada “Rintihan Itu Tidak Bersuara

  1. dibalik jurnal-jurnal yang kemudian disitu menjadi salah satu panduan dalam menyusun kebijakan, membuka pengetahuan dll dll, terdapat peran yang tak riuh tapi juga tak redam. Apresiasi untuk kerja kerasnya sebagai Editor Mbak!

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ia, Kak. Terima kasih banyak ya. Saya masih belajar dan perlu banyak belajar untuk menjiwai tugas dan pekerjaan ini, Kak. Seperti yang saya tulis, tidak mudah, tapi itu harapan saya, semoga karya yang kami kerjakan bisa memberi sedikit perubahan baik.

    Salam sehat juga untuk kakak dan keluarga.

    Suka

  3. Terima kasih banyak, Kak.
    Semangat dari pembaca seperti kakak inilah yang membuat saya dan teman-teman kuat, bertahan dan maju terus apapun keadaannya.

    Saya masih harus terus belajar, Kak. Saya juga harus belajar rendah hati menjalani tugas dan tanggung jawab ini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s