Rasa Iri


“Jika kita memiliki porsi keberuntungan kita masing-masing, mengapa kita harus iri dengan keberuntungan orang lain?”

Dalam diskusi singkat antara saya dan sahabat saya, Ema Yuniarsih, kami mencapai titik pertanyaan ini secara tidak sengaja. Pertanyaan yang sama, saya lontarkan pada sahabat saya Ary Septri Mulaini. Menariknya, keduanya memberikan jawaban dan respon yang tidak jauh berbeda. Keduanya setuju bahwa rasa iri adalah sifat manusia yang sangat manusiawi. Manusia tanpa rasa iri, bukan manusia.

Rasa iri, saya pun merasakannya. Bahkan sering. Rasa iri adalah salah satu bentuk emosi yang nyata, baik efek dan dampaknya bagi pribadi yang merasakannya. Merenungkan mengenai rasa iri ini membawa saya pada kesimpulan bahwa rasa iri bukanlah hal yang berbahaya jika kadarnya cukup. Malah, jika digunakan dengan baik dan tepat, maka energi yang dihasilkan oleh rasa iri dapat membuat kita melakukan banyak hal baik dalam hidup.

Rasa iri, ada yang bilang emosi ini lahir dari sifat tidak percaya diri seseorang terhadap dirinya sendiri (insecure). Ada juga yang mengatakan bahwa rasa iri lahir sebagai salah satu respon paling tua dari manusia sebagai salah satu spesies makhluk hidup di muka bumi. Emosi ini lahir sebagai jawaban dari keinginan manusia untuk ‘bertahan hidup’.

Diskusi mengenai emosi kadang berujung pada pertanyaan ini, “Lalu, apakah rasa iri itu baik atau buruk?”. Pertanyaan  ini menunjukkan salah satu sifat manusia yang selalu berpegang pada nilai dan moral. Wajar.

Dalam pembicaraan mengenai ‘rasa’ atau emosi, saya rasa, baik atau buruk hanya dibatasi oleh kebermanfaatan dari rasa atau emosi itu sendiri. Tiada yang buruk dari berbagai emosi yang kita rasakan, tidak ada. Emosi yang kita rasakan dapat berarti dua hal, pertama dalah pesan dari diri kita yang terdalam dan yang kedua adalah cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Jika emosi yang kita rasakan dapat kita gunakan dengan baik, maka ia akan memberikan kita keuntungan. Jika tidak, maka kebuntunganlah yang akan kita tuai. Hipotesis ini pun berlaku untuk rasa iri. As simple as that.

Baca juga: Saya Melahirkan Sebuah Buku

Lalu, mengapa kita merasa “iri” dengan keberuntungan orang lain? padahal kita memiliki jumlah atau kadar keberuntungan masing-masing.

Nature-nya rasa iri, lahir ketika kita berusaha untuk membandingkan apa yang kita miliki dengan objek pembanding lain. Objek pembanding ini bisa diri kita sendiri, dan bisa saja orang yang berada di luar diri kita (orang lain). Jika kita menemukan ketidakadilan, dan ketidakadilan itu menimpa kita sebagai pribadi/individu, rasa terluka akan lahir secara otomatis. Rasa terluka ini, bisa kita terjemahkan sebagai rasa iri.

Jika objek dari rasa iri kita adalah mengenai keberuntungan, maka kita akan berlanjut pada persoalan mengenai beruntung dan buntung.

Ada yang berpikir bahwa keberuntungan dalam diri manusia memiliki semacam jumlah, kadar atau kapasitas. Seumpama angka, keberuntungan itu bisa diibaratkan memiliki angka. Misalkan 10 buah keberuntungan. Ada yang berpikir bahwa jumlah keberuntungan ini sama antara manusia satu dan manusia lainnya. Seperti sudah dituliskan dan diberikan demikian oleh Sang Pencipta.

Jika kita berpikir (dan percaya) bahwa angka keberuntungan ini sama antara satu manusia dan manusia yang lainnya, maka tidak pas dan tidak tepat kalau kita merasa iri dengan keberuntungan orang lain. Toh, kita memiliki keberuntungan kita masing-masing dan jumlahya sama. Lucu malah kalau ada orang yang iri bahkan sampai dengki (level rasa iri yang advance) dengan keberuntungan orang lain.

So, bagaimana teman-teman? bagaimana pendapatmu dengan rasa iri dan upaya saya untuk merasionalisasikannya dalam tulisan singkat ini?

PS.

Tulisan ini saya tulis dengan sangat cepat tanpa banyak pertimbangan selepas diskusi dengan dua sahabat yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Saya merasa bahwa saya harus menuliskan segera apa yang ada dalam pikiran saya dan menerbitkan tulisan itu di sini, secapatnya. Entah apa yang saya kejar, saya pun tidak tahu. Saya hanya merasa ingin menulis dan menerbitkan sesuatu hari ini. Itu saja.

2 pemikiran pada “Rasa Iri

  1. “jika digunakan dengan baik dan tepat, maka energi yang dihasilkan oleh rasa iri dapat membuat kita melakukan banyak hal baik dalam hidup”

    Saya setuju dengan statement ini, mbak. Namun kenyataanya, banyak yang beranggapan bahwa rasa iri adalah energi negatif yang semestinya dibunuh, bukan untuk dikelola.

    Salam.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Hi, Mas. Terima kasih banyak sudah mampir dan memberi komentar.

    Yeap, benar. Terlalu banyak bahkan orang-orang yang merasa bahwa rasa iri itu adalah sesuatu yang mesti dibunuh dan dibumihanguskan. Well, tulisan ini ingin menunjukkan bahwa no need for that. Emosi, embrace it! acknowledge it dan gunakan itu untuk hal yang baik. Heeee

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s