(Review Buku) How to Hug a Porcupine: 101 Ways to Love the Most Difficult People in Your Life


Secara tidak sengaja, saya menemukan iklan buku ini di Pinterest. Tanpa menunggu waktu yang lama, saya langsung memasukkannya ke dalam daftar bacaan.

Buku ini tipis, tidak berat dan langsung memberikan informasi singkat-padat dan jelas. Buku ini memuat banyak trik untuk berhadapan dengan orang yang sulit atau dalam istilahnya a Porcupine (landak). Tapi hati-hati, kadang buku seperti ini meninggalkan banyak pertanyaan untuk direnungkan. Tidak heran, saya membutuhkan waktu lebih dari 2 minggu untuk memahami dengan baik isi buku ini.

Porcupine (landak) adalah hewan yang sangat unik. Bulu-bulu tubuhnya adalah senjata yang mematikan, dan ketika terancam, landak akan secara otomatis menggerakkan otot dibawah bulunya dan menyerang lawan. Buku ini mengumpamakan landak sebagai simbol orang yang ‘sulit’ untuk dihadapi dalam hidup sehari-hari. Saya tentu saja sangat tertarik dengan hal ini. Ini adalah perumpamaan yang briliant! Sebelumnya, saya pikir ‘ular’ adalah hewan yang berbahaya dan sangat cocok diumpamakan sebagai “orang yang sulit”, ternyata tidak juga. Ada pembanding lain yang ternyata lebih menarik.

“Hug a porcupine” adalah istilah yang sangat menarik bagi saya. Memuluk (Hug) dalam buku ini mengindikasikan keinginan untuk menyayangi dan mencintai makluk yang sangat berbahaya ini. Risky! but, needed!

Salah satu alasan mengapa saya begitu tertarik dengan buku ini, tiada lain dan tiada bukan adalah karena alasan klasik ini, saya membutuhkannya. Setiap saat, saya selalu berhadapan dengan orang yang sulit, dan hampir setiap waktu, saya nyaris kehabisan akal dan kehabisan kesabaran. Melihat buku ini membuat jiwa minta tolong saya bergejolak! saya sangat membutuhkan buku ini!

Menghadapi orang yang sulit harus dan wajib dimulai dari diri si penolong atau orang yang ingin berhadapan dengan orang sulit ini. Harus siap dan harus ikhlas!, kalau syarat pertama ini tidak bisa dipenuhi, maka jangan harap langkah-langkah selanjutnya dapat dijalankan dengan baik dan berhasil.

Dalam diri si penolong, harus tertanam kuat-kuat jiwa ingin menolong dan rela terluka karena duri-duri. Kesediaan untuk menolong dan bahkan terluka ketika saatnya tiba, memungkinkan seorang penolong untuk mendekati si-landak dan menjadi sahabatnya.

Selain itu, penolong harus “sadar diri”, dalam artian yang sesungguhnya. Sadar dengan keinginan, harapan yang dimiliki terhadap si-landak ini. Baiknya memang jangan berharap yang tinggi-tinggi atau menggantungkan harapan hanya pada satu titik saja. Berharap boleh, lalu lepaskan. Lepaskan hal-hal yang mungkin tidak bisa dikendalikan atau yang berada di luar kendali.

Langkah-langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah melangkah satu-satu dan perlahan-lahan. Langkah ini adalah salah satu cara untuk menghubungkan trust dengan pasien atau dengan si-landak. Usahakan untuk tidak memaksa, atau sangat menuntut. Ikuti irama si-landak, tulus dan setia. Jangan pura-pura. Orang-orang seperti ini sangat peka dengan perubahan dan kepura-puraaan. Mereka bahkan senang mencoba orang-orang yang akan mendekati mereka.

Buku ini menyajikan banyak sekali pilihan langkah-langkah yang bisa dipertimbangkan dan diambil. Menarik!

Mengapa buku ini?

Sebagai seorang perawat, terutama perawat kesehatan jiwa, saya menemukan bahwa hampir setiap saat saya selalu berhadapan dengan orang-orang yang sulit. Salah satu yang menjadi tantangan saya adalah ketika saya berhadapan dengan pasien dengan masalah delusi (atau dalam bahasa yang lebih dikenal, waham).

Orang-orang dengan delusi memilih untuk mengikatkan dirinya percaya pada sesuatu yang berada di luar normalnya manusia pada umumnya. Misalkan, percaya bahwa mereka adalah orang yang paling hebat di dunia. Orang-orang seperti ini menjadi sangat sulit untuk didekati karena mereka memiliki dinding pelindung yang sangat-sangat tebal, dan itu adalah kepercayaan mereka yang salah. Mereka menjadi orang yang sulit juga karena mereka menyimpan duri-duri yang bisa menyakiti orang lain yang mendekati mereka. Merawat pasien dengan delusi adalah sebuah tantangan sendiri.

Selama ini, saya belajar hanya sebatas teknik komunikasi saja. Tapi, saya merasa hal demikian sangatlah terbatas dan masih belum cukup. Untuk alasan ini, bahan bacaan dan sumber lainnya sangat saya perlukan untuk menunjang proses belajar dan praktik tentu saja.

Untuk alasan ini, buku ini menjadi sangat penting bagi saya, dan saya pun berharap demikian untuk teman-teman sekalian.

Selamat membaca! dan Good Luck!

Buku “How to Hug a Porcupine: 101 ways to love the most difficlt people in your life”

6 pemikiran pada “(Review Buku) How to Hug a Porcupine: 101 Ways to Love the Most Difficult People in Your Life

  1. Ping-balik: Mencintai Orang yang Sulit, Mungkinkah? – Maria Frani Ayu

  2. yup tentu perjuangan untuk mencintai seekor landak. kalau untuk saya sendiri, yg mana pernah mengalami itu, berpikir bahwa life is too short to be spent into the drama with a porcupine. justru bisa membuat kita kehilangan waktu, kehilangan fokus untuk sesuatu yang lebih besar.

    namun tentunya mencintai siapa itu pilihan masing-masing orang.

    salam kenal juga, sekalian blogwalking…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s