Kekhawatiran yang Berlebihan dan Aktivitas Membaca Buku


Rasa cemas atau khawatir yang berlebihan dapat dilihat dari perilaku atau aktivitas membaca buku. Sebenarnya tidak hanya membaca buku saja, tapi juga memilih dan menonton film. Intinya adalah pada aktivitas yang tidak dapat diprediksi hasil dan reaksinya.

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah diskusi, saya menemukan informasi bahwa rasa takut (fear) itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama adalah ketakutan akan sesuatu yang tidak pasti (fear of uncertainty) dan ketakutan akan diolok-olok orang lain (fear of idicule). Dua jenis ketakutan ini dimiliki oleh manusia-manusia pada umumnya. Saya pun demikian.

Rasa takut itu adalah bentuk lain dari rasa cemas atau khawatir. “Rasa takut itu biasanya memiliki bentuk atau objek yang jelas“, begitu Freud biasanya memberi kuliah. Berbeda dengan rasa cemas atau khawatir, yang kadang objeknya tidak jelas. Pembagian rasa takut, seperti yang baru saja saya diskusikan bersama teman-teman itu entah dari mana sumbernya. Tapi, it stills make sense!

Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, kecemasan atau rasa khawatir itu bisa ditemukan atau dilihat dari aktivitas membaca buku. Saya menyadari hal ini ketika saya melihat kembali jenis buku-buku yang saya nikmati. Saya ternyata sangat pemilih dalam menentukan buku untuk saya konsumsi. Saya memiliki daftar panjang untuk buku yang saya nikmati, dan sebagian besar adalah buku-buku yang berhubungan dengan self-improvement dan psikologi praktis. Saya juga menyadari bahwa saya sedikit kesulitan untuk menghabiskan buku-buku fiktif yang hanya menyajikan romansa tanpa ada pelajaran apapun didalamnya.

Satu hal yang saya sadari dari kegiatan ‘pemilih’ ini adalah rasa khawatir akan banyak hal ketika saya ingin membaca atau ketika saya sedang menghabiskan buku. Kekhawatiran itu bentuknya seperti ini,

“Apakah ‘ending’ dari buku ini akan menarik?”

“Apakah saya tidak membuang-buang waktu dengan membaca buku ini?” dan masih banyak lagi.

Saya khawatir! dan kekhawatiran saya ini membuat saya tidak dapat menikmati buku yang saya baca. Kekhawatiran itu pun membuat saya tidak mampu menikmati hidup dengan lebih santai dan mengalir apa adanya.

Kekhawatiran ini baik, jika porsinya pas dan tepat. Tapi, kalau berlebihan maka akan melahirkan penderitaan yang tidak seharusnya kita alami.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Berikut adalah cara sederhana saya untuk menghadapi rasa khawatir berlebihan.

Sadari

Sadari disini bukan berarti pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) tapi adalah kegiatan untuk menyadari apa yang dirasakan, apa yang dialami dan melihat jejak-jejak pikiran serta emosi yang muncul saat memikirkan tentang sesuatu. Menyadari apa yang dirasakan, itu singkatnya.

Ada yang mengatakan bahwa kegiatan untuk menyadari apa yang kita rasakan ini adalah permulaan dari penderitaan. Alasannya adalah karena kegiatan ini sama seperti melihat kembali bagaimana luka terbentuk di dalam diri kita. Trauma, karena melihat dan merasakan pengalaman yang tidak nyaman inilah yang sangat ingin kita hindari. Ini tindakan yang wajar. Tapi, pada kesempatan ini, saya mengajak kita semua untuk menantang kemanusiaan kita dan bergerak lebih jauh ke dalam. Melihat apa yang kita rasakan, apa yang kita alami dan mengamati reaksi-reaksi yang timbul dalam diri kita.

Menyadari pun dapat berarti sebagai tindakan mendengarkan diri kita sendiri. Tindakan ini didasarkan pada premis yang menyatakan bahwa apa yang kita rasakan, emosi apapun yang kita keluarkan dari dalam diri, adalah bentuk komunikasi yang dijalin oleh diri kita sendiri dengan diri kita sendiri. Meskipun secara sadar, kita sadar apa yang kita inginkan atau apa yang kita butuhkan, tapi ada Bahasa lain yang harus kita pahami dan sifatnya sangat personal (hanya kita saja yang tahu dan paham) dan itu adalah komunikasi intim kita dengan diri kita sendiri.

Mendengarkan diri kita sendiri akan memberi kita lebih banyak keuntungan untuk berhadapan dengan dunia diluar kita.

Menempatkan rasa khawatir itu pada posisinya

Rasa khawatir (atau cemas) adalah bagian dari pertahanan diri/perlindungan diri. Ia ada di sana untuk satu tugas mulia, melindungi kita dari rasa sakit dan dari luka. Tapi, ketika perlindungan ini berlebihan, kita juga yang terkena dampaknya.

Salah satu cara yang biasanya saya lakukan adalah meyakinkan diri saya sendiri. Yakinkan diri bahwa pada saat ini kita berada pada situasi atau keadaan yang aman. Ucapkan ini, “Saya aman..” dan resapi kalimat ini sambil mengucapkannya berulang-ulang. Tindakan ini dapat mengirimkan pesan ke diri sendiri bahwa benar, pada saat ini keadaan kita aman dan nyaman. Tidak ada tanda bahaya yang perlu diwaspadai. Bersikap tenang saja untuk saat ini.

Ada juga yang menganjurkan untuk mengatur pola nafas, atau memfokuskan pikiran pada naik turunnya pernapasan. Jika merasa nyaman, lakukan saja ini. Bagus juga untuk dipraktikkan.  

So, demikianlah teman-teman. Aktivitas sederhana membaca buku, dapat menunjukkan kita sesuatu. Akhirnya adalah pada kita, apakah kita mau beranjak dari apa yang kita alami saat ini, atau memilih diam dan tinggal didalamnya.

Semoga tulisan ini membantu. Salam hangat selalu dari saya.

Love, Ayu.

PS. Saya menulis buku dengan judul Agnosthesia. Buku ini berbicara tentang emosi dan bagaimana berhadapan dengannya. Teman-teman bisa melihat sedikit informasi mengenai buku ini dengan membaca tulisan berjudul “Saya Melahirkan Sebuah Buku”.  

7 pemikiran pada “Kekhawatiran yang Berlebihan dan Aktivitas Membaca Buku

  1. Aku juga sangat pemilih terhadap buku yang ingin aku baca. Tetapi buku-buku yang kupilih banyak jenisnya, tidak hanya satu atau dua genre. Aku ‘hampir’ tidak pernah khawatir terhadap buku yang aku baca. Mungkin karena aku sudah tidak peduli dengan apa yang akan aku dapatkan, ataukah aku hanya akan membuang-buang waktu membacanya. Jadi kekhawatiran atau kecemasan bisa ditemukan atau bisa dilihat dari aktivitas membaca buku, kukira itu tidak sepenuhnya valid. Lagi pula semakin sering membaca buku membuatku tahu buku apa yang akan kubaca, bisa juga akan membuat intuisi seseorang terhadap buku yang akan dibaca menjadi lebih kuat, dan itu akan membuatnya mampu menyingkirkan buku-buku yang tidak perlu ia baca bahkan sebelum mengetahui isinya.

    Aku setuju dengan topik SADARI. Albert Camus mengatakan pemberontakan metafisik dimulai ketika seseorang menyadari keadaan dirinya. Lalu ia hidup dengan absurditas yang dialami. Seperti mencari kedamaian dengan membuka luka lama, atau berjalan dengan gagah menyambut kematian yang menunggu di tiang gantungan. Kekecewaan dan kecemasan adalah salah satu bentuk absurd yang dialami oleh manusia. Dan, masih menurut Albert Camus, seseorang tak akan pernah bahagia sampai apa yang ia lakukan tak lagi bertentangan dengan apa yang diyakininya.

    Salam hangat, dari saya Andy Riyan

    Suka

  2. kalo aku overthinking-nya lebih ke bandingin pengalaman membacaku dengan pengalaman orang lain mbak, pikiran-pikiran kayak “Kok w lama banget ngelarin buku ini, orang-orang bisa kelar dalam sekali duduk”, “Kok w nggak nangkep pesan X yang pembaca lain tangkap dari buku ini”, “Kok w nggak nemu poin bagus dan menariknya/jelek dan boringnya kayak yang dibilang bookstagrammer/reviewer X” gitu wkwk 😦

    Disukai oleh 1 orang

  3. insightfull kak Ayu! -Ada yang mengatakan bahwa kegiatan untuk menyadari apa yang kita rasakan ini adalah permulaan dari penderitaan. Alasannya adalah karena kegiatan ini sama seperti melihat kembali bagaimana luka terbentuk di dalam diri kita-
    setelah melewati proses itu memang benar-benar bisa mengerti diri, dan mulai belajar lebih mengendalikan diri, akhirnya memaafkan diri sendiri.

    Disukai oleh 1 orang

  4. Hi, Mas Andy. Long time no see.

    Saya senang dengan pendapat yang diuraikan di sini. Saya senang mendapatkan kata “tidak valid”. Tanda bahwa memang tulisan ini terlahir dari subjektifitasnya.

    Terima kasih juga atas informasi tentang Albert Camus. Menarik sekali pernyataan ini, “seseorang tak akan pernah bahagia sampai apa yang ia lakukan tak lagi bertentangan dengan apa yang diyakininya”. Ini bisa menjadi topik tulisan berikutnya.

    Salam hangat juga Mas Andy. Senang bisa bersua di sini lagi.

    Suka

  5. Hi, Mbak.
    Awal dari rasa tidak nyaman Mbak adalah ini, “Membandingkan”, dan itu dilakukan terhadap orang lain wkwkwk. Tidak apa-apa, menyadari hal ini sudah menjadi langkah pertama untuk memperbaikinya. Itu pun kalau memang mau diperbaiki, tapi kalau tidak pun tidak apa-apa. Berbeda itu malah kece!

    Terima kasih sudah berbagi Mbak.

    Disukai oleh 1 orang

  6. Hi, Mas. Terima kasih banyak sudah mampir dan meninggalkan pesan.
    Hee…saya menulis ini dari pengalaman pribadi. Sudah lama sejak saya berhenti untuk melarikan diri dari luka dan sedih yang saya rasakan. Menghadapinya, duduk bersamanya adalah cara saya untuk memahami diri saya sendiri.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s