Kedai Kopi dan Pikiran tentang Melepas Pergi


Sore itu adalah hari yang dinantikan oleh sahabat saya. Bukan saya. Sejak beberapa hari yang lalu, sahabat saya ini bersikeras untuk memperkenalkan saya dengan seseorang, ia mengatakan bahwa ia ingin sekali berbuat baik. Cara yang sempat ia pikirkan adalah dengan ini, mempertemukan saya dengan seseorang yang ia kenal.

Photo by Ekrulila on Pexels.com

Sudah sangat lama rasanya sejak terakhri kali saya berkunjung ke kedai kopi. Pada masa pandemi seperti saat ini, saya memang membatasi diri untuk berkunjung ke tempat-tempat ramai. Alasannya sederhana, menghindari kerumunan. Tapi, ketika tawaran untuk berkunjung ke sebuah kedai kopi di pinggir kota datang, saya pun menyetujui dengan segera. Kali ini, saya tidak ingin mengelaknya. Sudah berapa kali penawaran datang dan saya tepis pergi. Saya ingin berada di kedai kopi lagi, menggali inspirasi seperti sebelum-sebelumnya. Menggores kisah dan membagikannya lagi pada siapapun yang peduli. Rindu sekali rasanya.

To be honest, saya sudah mengenal orang yang ingin dijodohkan dengan saya ini. Saya tahu orangnya, dan namanya melekat dalam kepala saya. Saya sudah pernah melihat orang ini di suatu tempat, dan saya pernah begitu terkesima dengannya. Ia orang yang unik, dengan gayanya yang juga nyentrik. Saya bahkan pernah iri dengan kebebasannya dan betapa sangat ringannya Ia berhadapan dengan hidup. Saya tidak pernah menduga, orang inilah yang ingin dipertemukan dengan saya.

Namun, mungkin karena hati ini sudah tua dan lelah. Saya tidak se-antusias dahulu. Saya malah lebih tertarik berkunjung ke kedai kopi ini, menghirup kembali aroma kopi asli buatan tangan-tangan lincah, dan merasakan setiap detik menimba inspirasi sambil melumuri diri dengan manisnya gula-gula.

Photo by Lood Goosen on Pexels.com

Kedai kopi ini sederhana. Kecil. Tapi, entah bagaimana bisa memberi saya kesan tentang masa-masa dahulu. Saya rindu suasana ini. Saya rindu suasana kedai kopi yang tenang dengan musik jazz klasik sebagai selimut hari.

Kedai kopi ini mengingatkan saya pada masa-masa itu. Ketika saya seorang diri di perantauan. Ketika yang ada pada saya hanyalah harapan untuk menyelesaikan misi dan segera kembali. Kedai kopi ini membawa saya pada masa-masa itu, ketika saya bisa merubah sepi menjadi kehangatan dan rasa rindu menjadi bahagia. Keajaiban itu terjadi di tempat yang bernama kedai kopi, dan saya merindukan itu.

Sembari memesan, saya menemukan sebuah rak buku kecil di depan meja pemesanan. Buku-buku di sana entah bagaimana tidak menarik perhatian saya. Jika sebelumnya buku begitu menarik saya kemana pun saya pergi, saat itu tidak. Saya lebih penasaran dengan kopi, dan saya kelaparan.

Ingin sekali memesan kopi khas yang disediakan oleh kedai kopi ini. Tapi, pilihan akhrinya saja jatuhkan pada Coffee Latte. Saya tidak tahu mengapa saya memilih kopi ini, tapi saya merasa bahwa saat ini saya membutuhkannya. Saya ingin memilih Americano, tapi pekerjaan saya saat ini tidak seberat yang biasanya. Saya masih membutuhkan istirahat dan malam ini saya ingin tidur berselimut awan.

Setelah memesan, saya dan sahabat lalu beranjak ke ruang atas. Lantai bawah kedai kopi ini kecil. Lantai atas adalah lantai yang memang disediakan untuk duduk dan bersantai.

Lantai dua jauh sekali dari bayangan saya. Saya merasa kecewa. Ya!. Tapi, rasa kecewa ini seketika hilang setelah saya menyecap kopi yang dibawakan kepada saya. Saya mengenal rasa ini, aroma ini. Saya mengenal perasaan ini.

Perasaan ini seperti air sungai hangat yang mengalir di tengah hutan. Membawa saya pada ingatan ketika saya masih kecil. Berlari dan bertualang di hutan bebas bersama teman-teman kecil. Meskipun saya memesan minuman dingin, tapi ketika minuman ini mencapai tenggorokan, kehangatan yang saya rasakan. Saya mulai merasakan tanda-tanda itu, ketika keajaiban itu muncul dan menampakkan wujudnya pada saya. Saya terkesima.

Riuh adalah ciri khas dari kedai kopi ini. Sahut menyahut suara orang satu dan orang lainnya. Belum lagi asap rokok di mana-mana. Betah, tiada hal yang lama-lama saya kerjakan di sini. Memutuskan untuk segera berpindah adalah kesepakatan saya dan sahabat. Kami pun berpindah ke rumah makan sebelah.

Ketika keluar pintu kedai, saya menemukan wajahnya. Ia memang memiliki wajah yang tidak akan mudah dilupakan. Apalagi oleh orang dengan segudang kesunyian seperti saya. Pada saat itu, waktu bergerak melambat dan otak saya mengingat semuanya seakan waktu seperti ini tidak akan terulang lagi pada masa-masa yang akan datang. Itu pertemuan pertama setelah sekian lama.

Photo by NastyaSensei on Pexels.com

Saya tidak begitu ingat dengan percakapan kami. Semuanya berjalan begitu cepat dan saya tidak dapat menahan semuanya melaju. Sangat ingat bahwa kita berbicara tentang politik dan isu-isu kemanusiaan, lalu tentang seni. Kita terhenti ketika berbicara tentang puisi. Saya bisa melihat bahwa puisi membahasakan sunyi, dan kedalamannya terukur dalam diam.

Satu yang sangat saya ingat tentang percakapan-percakapan waktu itu. Kedalaman matanya. Ia memiliki mata yang bening, sebening mata air dan sedalam samudera. Saya ingin menyelam sampai ke ujung-ujungnya dan membiarkan diri ini mengapung dan menjadi satu dengannya. Mata itu, membahasakan semuanya.

Matanya memberi tanda bahwa ia tidak sedang menanti siapa-siapa. Ia menghargai persahabatan, dan ia menghargai orang yang ada di depannya. Ia pandai bermain kata, lalu memeluk lawan bicaranya dengan pembicaraan yang cerdas dan berisi. Ia nampak sulit dibaca, tapi Ia pun sederhana. Meletakkannya di depan saya, dan bercermin dengan diri sendiri, Ia bukan pribadi seperti mereka-mereka sebelumnya. Ia berbeda.

Photo by John-Mark Smith on Pexels.com


Malam itu, cahaya bulan menerangi celah-celah rasa penasaran dalam hati. Lalu, dalam erangan tanda tanya, saya menulis ini,

“ Matamu memancarkan rasa ingin tahu yang besar, penasaran dan semangat. Tapi, dari mata yang sama terpancar rasa lelah. Bukti perjuangan dan kerja keras ada di sana. Sabar, apa yang kau inginkan akan segera tiba. Ia tidak akan terlalu cepat, dan pun tidak akan terlalu lambat. Ia akan datang tepat pada waktunya.”

Banjarmasin, 29 Januari 2021

Membaca lagi tulisan ini, saya begitu yakin bahwa cahaya bulan waktu itu yang pasti menuntun saya menulisnya. Saya tidak tahu apa-apa tentang dia, dan saya melawan alam untuk memahami pikirnya. Ini kali pertama bagi saya, pulang, dan menenggelamkan diri pada takdir kartu berbahasa asing.

Malam itu, bersama hujan gerimis dan angin sepoi-sepoi, saya melepas semuanya ke udara.

Demikian dia, dan kedai kopi waktu itu. Saya lepaskan pergi. Kedai kopi adalah masa lalu, dan Ia pun terseret bersamanya.

Banjarmasin, 15 Februari 2021.

Sincerely, Ayu.

10 pemikiran pada “Kedai Kopi dan Pikiran tentang Melepas Pergi

  1. haaa…terima kasih, Mas.

    Dulu sekali, sering menulis seperti ini. Sekarang mau menghidupkan kembali jenis tulisan imajinatif seperti ini.

    Suka

  2. Baiklah, ternyata perjalanan ke kedai kopi kemarin menggangu alam bawah sadar anda kawan, senang mengetahui diri mu masih memikirkan diri sendiri. Tenang, tak akan tersebar ke bilik-bilik riuh di depan kita itu (read: Dewi Sari) hahaha
    Semoga dicerita berikutnya, ada manis-manisnya seperti ini.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Hi, Lana. Ternyata km muncul juga, dan itu pun karena cerita receh seperti ini haaa

    Aku sangat memikirkan diri sendiri, Lan. Makanya tulisan ini lahir. Otakku punya kapasitas yang tidak banyak, makanya kalau hal-hal seperti ini, lepaskan dan buang ke udara saja. Siapa tahu nanti akan kembali dalam bentuk cerita yang lebih menarik lagi.

    Ngomong apa ae diriku…

    Suka

  4. Halo, Kak Ayu. Lama tak berkunjung. Rindu rasanya. Dan sekarang saya membaca tulisan ini. Ada rasa getir tapi juga tenang dan menyentuh saat membacanya.
    Ah, maaf kalau saya jadi melankolis begini.
    Well written as always 👍

    Disukai oleh 1 orang

  5. Hi, Mbak Luna.

    Surely, yes! Lama sekali tidak membaca tulisan Mbak Luna juga. Semoga kabar di sana baik-baik saja ya.

    Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan pesan ya. Ehm…akhir-akhir ini saya sedang belajar untuk meningkatkan aktivitis menulis dengan gaya yang berbeda. Tulisan ini salah satunya. Baru sadar juga dari perkataan Mbak, “getir”. Ada rasa itu yang terselip di sana. Menarik, karena waktu menulisnya tidak terpikir ada rasa ini. Lalu, setelah membaca ulang tulisan ini, “Ia ya…ada itu” hee

    Thank you as always.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s