Belajar untuk Hidup “bersama-sama”


“Learning to know, learning to do, learning to live together and learning to be”

Keempat hal ini kita kenal sebagai keempat pilar dalam pendidikan (The four pillars of Education). Keempat hal ini adalah hal yang terlalu sering digemakan ketika belajar mengenai pendidikan dan hal-hal detil yang mengikutinya. Tapi untuk saya, baru-baru ini saja saya pahami dengan dalam terutama untuk poin penting ini, “Learn to live together.”

Jika saya pikir lagi, pendidikan yang dirancang di sekolah secara dominan masih mengedepankan hal ini, belajar seorang diri (mandiri). Tugas-tugas sekolah masih dimonopoli oleh tugas mandiri, dan minim tugas bersama. Kalau pun ada tugas bersama, saya yakin hanya beberapa orang saja yang secara aktif berkontribusi untuk menyelesaikan tugas tersebut. Kalau begini jadinya, kerja kelompok pun berubah menjadi kerja mandiri yang dipaksakan.

Satu hal yang menurut saya luput dari peristiwa dan keadaan ‘belajar bersama’, yaitu kemampuan dan kerelaan untuk mengedepankan kepentingan kelompok (bersama).

Hakikatnya dalam bekerja bersama, ada ego pribadi yang harus diproses dan dipahami. Masalahnya adalah masih banyak orang yang hanya ingin menang sendiri atau bersinar sendiri di kelompok. Jika hal ini masih terjadi, tujuan dari kerja kelompok tidak akan terwujud! dan kerjasama atau kerja kelompok hanya akan berisi wadah untuk saling salah menyalahkan satu dan lainnya.

Sulit!

Lalu, apa yang harus kita lakukan jika ego pribadi masih mendominasi dalam kelompok?

Komunikasi

Saya selalu mengusahakan komunikasi. Komunikasi harus terjalin dengan prinsip terbuka, jujur, rasional dan peka. Akan lebih baik lagi jika komunikasi dilakukan dengan tetap memang prinsip terapeutik dan bertujuan baik.

Ini adalah saran yang tidak mudah untuk dijalankan. Sungguh! tapi, sangat layak untuk dicoba.

Ketika ego pribadi dan masing-masing individu masih merajai dalam kelompok, coba komunikasikan temuan ini.

“Lay everything on the table!” demikian kata guru saya dulu.

Bicarakan apa yang dirasa menjanggal, jujur mengatakan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan. Tekankan kata, “Minta tolong jangan tersinggung” dan komunikasikan saja semuanya.

Lalu, mulailah berproses dari sana. Pelan-pelan mencocokkan niat dan minat pribadi. Tidak mudah untuk menyatukan lebih dari dua kepala dalam suatu kelompok, tapi temukan satu kecocokan dan kesamaan. Kadang, masing-masing anggota memiliki visi yang sama, tapi cara eksekusi yang berbeda. So, mulai menyamakan langkah dari sana.

Alihkan fokus pada perkembangan, bukan penderitaan

Ketika seseorang mulai berbicara dengan kita, dan kita mulai merasa tersinggung sana dan sini. Ini adalah pertanda bahwa fokus pikiran dan energi kita tidak pada tempat yang seharusnya. Alihkan!

Jika niat kita adalah pada perkembangan, maka segala kritik dan saran tidak akan menyakiti kita. Tapi, sebaliknya menjadi bahan bakar untuk berkembang dan menjadi the best version of ourselves. Satu hal yang harus diingat, secara pribadi, kita tidak akan mencapai tahap ini, kalau kita tidak hidup dan berinteraksi dengan kelompok.

Terakhir, perjalanan dan pekerjaan akan terasa ringan dan menyenangkan kalau dikerjakan bersama-sama. Ini pelajaran terbaik yang saya peroleh dari teman-teman satu angkatan selama masa-masa pendidikan keperawatan. Mereka membuat saya menyadari bahwa seberapa hebatnya saya, kalau saya tidak bisa bekerja bersama orang lain, sia-sialah kehebatan saya.

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan salam hangat untuk teman-teman sekalian.

Sincerely, Ayu.

6 pemikiran pada “Belajar untuk Hidup “bersama-sama”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s