Catatan di balik layar #AGNOSTHESIA: Sebuah Percakapan


Penerbit buku #Agnosthesia, EAbooks mengirimkan saya beberapa pertanyaan. Beberapa pertanyaan ini seharusnya saya gunakan untuk membuat video tentang #Agnosthesia. Tapi, saya bukan orang yang pandai menyampaikan sesuatu dengan kata-kata. Kenyamanan saya terletak pada jari-jari saya, pada kata-kata yang saya lahirkan. Video yang saya buat sudah jadi, dan ini adalah sedikit catatan yang saya siapkan untuk video tersebut. Berikut adalah sedikit catatan di balik layar proses kreatif untuk melahirkan #Agnosthesia.

Enjoy!

Hi, Saya Maria Frani Ayu. Atau Ayu. Saya adalah penulis buku Agnosthesia. Saya adalah seorang perawat dengan peminatan ilmu keperawatan jiwa-psychososial care, terutama pada remaja dan dewasa awal.

Baca juga: Saya Melahirkan Sebuah Buku

Apa yang mendorong Anda menulis buku ini?

Menulis, adalah aktivitas yang paling konsisten yang saya lakukan selama ini. Setidaknya dalam enam tahun ini. Saya menikmati aktivitas menenggelamkan diri dalam kegiatan tulis-menulis dan mendapatkan feedback tulisan dari para pembaca setelah saya mem-publish tulisan-tulisan saya. To be honest, menulis bagi saya juga adalah kegiatan atau aktivitas melarikan diri. Terkadang, ada banyak hal yang terjadi dalam hidup ini, yang tidak bisa hanya diselesaikan dengan berbicara saja. Hal-hal ini mendapatkan tempat terbaiknya dalam bentuk tulisan dan akan lebih memberi makna ketika dituliskan. Melarikan diri atau bisa juga dikatakan menenggelamkan diri ke dalam tulisan adalah aktivitas yang sangat saya nikmati dan sungguh sangat melegakan setelah saya melakukannya. Saya tidak hanya menemukan diri saya jatuh dan rapuh di sana, tapi saya belajar, dan itu adalah hal yang penting. Menulis juga adalah terapi, dan kalau saya bisa menyimpulkan, menulis bagi saya adalah aktivitas untuk melarikan diri, dan untuk menyelamatkan diri saya sendiri.

Untuk siapa Anda menulis?

Pada awalnya, menulis adalah kegiatan untuk diri saya sendiri. Aktivitas dan kegiatan yang hanya untuk diri saya sendiri.

Setiap hari, saya bekerja dan berkarya untuk orang lain. Pada akhir hari, ketika semuanya sudah selesai, saya selalu berusaha untuk memberikan waktu untuk diri saya sendiri. Untuk re-charge dan memulihkan diri. Menulis adalah jalan untuk memulihkan diri sendiri, waktu untuk menikmati dunia dengan diri sendiri khususnya.

Tulisan-tulisan itu kemudian berkembang, menjadi banyak. Melihat kebelakang, saya kemudian berpikir bahwa akan lebih baik kalau tulisan-tulisan ini dibagikan kepada orang-orang. Tujuannya adalah, agar orang-orang atau pembaca dapat belajar dari pengalaman-pengalaman receh milik saya.

Sebelum saya menerbitkan buku, saya adalah seorang blogger. Saya memiliki blog pribadi, dan rutin menulis dan menerbitkan tulisan di sana. Saya juga mengikuti komunitas blogger dan belajar dari para blogger di sana. Tulisan-tulisan yang saya tuangkan dalam blog sering mendapatkan feedback, dan ini adalah bagian yang sangat saya nantikan. Entah itu feedback untuk membangun kualitas tulisan atau cerita dari teman-teman pembaca terkait dengan apa yang saya tulis. Feedback ini menjadi bekal yang luar biasa untuk kegiatan menulis saya selanjutnya.

Siapa penulis yang memengaruhi Anda?

Saya tidak memiliki penulis khusus yang menjadi inspirator saya. Semua orang yang saya temui memberikan saya inspirasi untuk menulis dengan keunikannya masing-masing. Setiap penulis memiliki gayanya sendiri-sendiri, dan saya sangat menikmati kegiatan belajar dan sekaligus menikmati tulisan-tulisan mereka.

Selain menulis, saya juga sangat menikmati kegiatan membaca. Topik bacaan saya random, dan biasanya sangat berhubungan dengan pekerjaan atau aktivitas saya sehari-hari. Kebanyakan berhubungan dengan lahan pekerjaan saya, self-improvement, psychology, mental health dan lain sebagainya. Penulis buku-buku ini, secara lansung menjadi inspirator saya dalam menulis, dan menyebarkan ide-ide atau pandangan saya tentang suatu fenomena.

Kenapa Anda memilih menulis buku ini?

Pada awalnya, saya mendapatkan email dari Editor, Mas Rifai, untuk membukukan beberapa tulisan-tulisan saya di blog. Sungguh sesuatu yang sangat luar biasa bagi saya sendiri untuk mendapatkan tawaran ini. Saya perlu waktu setidaknya sehari untuk menjawab email ini, karena saya mempertimbangkan banyak hal. Tapi, akhirnya saya setujui tawaran ini dan the rest is history!

Blog saya adalah blog gado-gado, tapi secara umum apa yang saya tulis di sini adalah hal-hal yang berhubungan dengan ‘kesehatan mental’. Setelah saya dan editor saya membedah beberapa tulisan saya di sana, kami menemukan bahwa ternyata selama ini, saya banyak menuliskan tentang emosi. Sebelumnya, saya tidak menyadarinya, sampai kami menganalisa satu-satu isi tulisan yang saya putuskan untuk diterbitkan. Menyadari hal ini, kami akhirnya memutuskan untuk bekerja mewujudkan topik mengenai emosi, dan menjadikannya topik utama. Harapannya adalah ini, agar buku ini dapat dinikmati oleh pembaca.

Emosi sendiri adalah topik yang umum. Sangat sering dirasakan dan merupakan bagian vital dan tidak terpisahkan dengan individu satu dengan individu yang lainnya. Saya sendiri, yang bekerja sebagai perawat kesehatan jiwa, bekerja dalam lapisan-lapisan emosi ini. Setiap hari.

Memahami emosi seseorang, lalu bekerja untuk menjadikan emosi ini sebagai sesuatu yang baik untuk seseorang (atau dalam artian adalah pasien) adalah salah satu tugas harian saya. Berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling saya, atau secara khusus dengan pasien saya juga berarti bersentuhan atau melakukan kontak dengan emosi individu ini. Kontak yang saya lakukan ini, secara terus menurus saya refleksikan, saya renungkan atau saya analisis. Alasan melakukan kegiatan (yang kadang dipandang merepotkan ini) adalah karena kehadiran saya sendiri haruslah menjadi ‘terapi’ atau ‘obat’ untuk pasien saya. Sulit, dan sangat kompleks, tapi banyak hal yang bisa dipelajari dari keadaan atau masalah-masalah ini.

Apa yang membuat Anda berani menerbitkan karya Anda?

Menulis dan menerbitkan tulisan sebenarnya sudah sering dan rutin saya lakukan melalui blog saya. Secara rutin dan terjadwal, saya menulis dan menerbitkan tulisan-tulisan kecil dengan tema yang berbeda-beda. Random.

Ketika saya menerbitkan tulisan, saya sudah merelakan apa yang menjadi milik saya untuk menjadi milik para pembaca. Saya senang melihat bagaimana tulisan saya menjadi bahan diskusi, dan pada saat itu juga secara otomatis saya merasa menjadi kaya.

Ketika tawaran untuk membukukan tulisan-tulisan saya ini datang, dengan niat dan keberanian yang sama, saya mengijinkan tulisan-tulisan saya digunakan dan dikumpulkan menjadi sebuah buku. Saya memiliki harapan agar apa yang saya alami, apapun itu, menjadi bahan yang cukup untuk belajar bagi para pembaca sekalian. Saya tidak hanya menyebarkan ide, tapi mendorong para pembaca untuk melihat ke dalam diri, menyelidiki diri sendiri dan mencari cara yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh diri sendiri, syukur kalau bisa sampai pada membantu orang lain.  

Bagaimana proses kreatif Anda menulis buku ini?

Proses kreatif bagi saya dimulai dari ini, kemunculan ide atau the AHA moment. Kemunculan ide yang sangat berhubungan dengan topik tulisan, terjadi begitu saja dan sekali lagi, random. Biasanya sangat dipengaruhi oleh perasaan yang saya alami pada waktu itu, atau buku yang sedang saya baca pada saat itu, atau bahkan film apa yang sedang saya tonton waktu itu. Ide itu juga kadang muncul dari interaksi yang saya lakukan bersama orang-orang yang ada di sekitar saya, atau hal-hal kecil yang saya temui pada saat itu. Bahkan kadang, setiap pagi, setiap bangun tidur, pikiran saya sudah mengalir dan menunggu untuk dipindahkan ke buku atau ke computer saya.

Lalu, saya memiliki kebiasaan ini. Tidak membiarkan sedikit pun ide saya hilang atau menguap begitu saja. Saya senang menuliskan ide-ide konyol yang saya punya ke dalam buku catatan. Kalau saya memiliki waktu yang cukup, saya akan menuliskan secara rinci ke dalam sebuah tulisan yang utuh. Lalu, bump jadilah tulisan.

Tulisan-tulisan ini saya simpan, kadang ada beberapa yang saya terbitkan di blog. Ada yang saya simpan untuk koleksi pribadi. Semua tulisan saya, saya perlakukan sebagai benda yang berharga dan penting. Saya senang membaca kembali tulisan-tulisan lama saya, dan melihat seberapa jauh saya berkembang dalam segi keterampilan tulis menulis. Saya senang melihat apa yang saya tuliskan sebelumnya, dan menelusuri apa yang saya rasakan atau yang saya pikirkan pada saat itu. Saya senang menerka atau menebak-nebak, memberi analisa terhadap apapun yang saya tuliskan pada saat itu. Aktivitas itu membuat saya sangat senang dan ringan.

Apa yang ingin Anda sampaikan lewat buku ini?

Melalui buku ini, saya ingin menyampaikan bahwa apapun yang kita rasakan, apapun yang kita pikirkan, dan emosi dalam bentuk apapun itu, adalah sesuatu yang berharga dan wajib untuk diberi ruang. Emosi yang kita rasakan, bisa jadi adalah pesan yang disampaikan oleh diri kita sendiri untuk diri kita sendiri. Kadang, ada banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, dan karena kesibukan yang kita jalani, kita luput untuk mendengarkan diri sendiri, luput untuk mendengarkan pesan yang diberikan oleh diri kita sendiri.

Satu kalimat untuk pembaca buku Anda?

Satu kata untuk para pembaca sekalian adalah, Enjoy!

Nikmati kegiatan untuk melumat buku ini dari halaman pertamanya. Tapi, jangan sampai menanggalkan jubah berpikir kritis teman-teman sekalian. Tetap gunakan pikiran yang kritis untuk menilai isi buku ini. Jika ada yang tidak sesuai, yang masih terasa kurang atau tidak pas, jangan sungkan untuk membawanya dalam diskusi bersama teman-teman yang lain. Libatkan saya melalui diskusi, dan mari kita saling memperkaya diri. Selamat menikmati buku ini, dan terima kasih untuk teman-teman semua yang sudah membeli dan menikmati buku asli ini.

….

As always salam hangat dari saya.

8 pemikiran pada “Catatan di balik layar #AGNOSTHESIA: Sebuah Percakapan

  1. Bang Ical, saya sangat mendorong Bang Ical mengirim tulisan dan bahkan menerbitkannya ke penerbit buku. Sebagai penikmat tulisan Bang Ical, saya pasti akan membeli buku Bang Ical dengan penuh kebanggaan.

    Soal pertanyaan, hum…itu benar sekali! Saya perlu waktu yang “cukup” untuk memberi jawabannya. Kalau ditanya dadakan, saya mungkin tidak tahu harus menjawab seperti apa haaa

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s