Review buku: “Di Tepian Itu”, Karya Candrasangkala


“…Kau adalah ombak-ombak kecil yang merayap pelan menyapa kakiku yang telanjang. Lalu buihnya pecah sekaligus menghapus jejak-jejak yang kutinggalkan sebagai tanda jalan pulang. Seperti mencintaimu: aku tak pernah tahu ke mana aku harus kembali, selain harus terus menjalaninya…”

Caramu, dalam buku “Di Tepian Itu”, karya Candrasangkala.

Masa ini, adalah masa yang sibuk. Setiap orang sibuk dengan apa yang ia kerjakan. Setiap hari, setiap waktu, tiada hal lain selain, bekerja. Bekerja dan bekerja. Agenda-agenda harian selalu dipenuhi oleh hal yang sama. Sibuk.

Pada situasi seperti ini, apa yang dibutuhkan adalah hanya ini, waktu untuk membuat jeda. Berhenti sebentar dan istirahat. Agenda kegiatan untuk istirahat dan mengistirahatkan badan-pikiran harus ada, dan secara konsisten harus dimuat dalam daftar kegiatan sehari-hari.

Saya menyadari betapa pentingnya istirahat ketika saya jatuh sakit dan tidak dapat melakukan apa-apa selain terbaring lemah/tidak berdaya di tempat tidur. Untuk alasan ini, saya sangat mendorong orang-orang untuk segera beristirahat dan mengistirahatkan dirinya ketika tanda-tanda kelelahan itu mulai muncul.

Salah satu cara yang sering saya praktikkan adalah dengan membaca, atau lebih tepatnya menyerahkan diri saya pada kegiatan untuk melumat buku bacaan dengan topik yang menenangkan. Salah satu jenis tulisan yang sangat saya rekomendasikan adalah puisi. Ya, puisi!

Meskipun sudah cukup lama saya mengenal tentang puisi, tapi baru beberapa waktu ini saja saya memahami tentang kekuatan ketenangan dari puisi, terutama puisi dengan tema romance. Kembali saya menyetujui hipotesis yang mengatakan bahwa:

Cinta memang membuat seseorang menjadi tenang dan damai, membuat dunia menjadi sangat layak untuk dihuni

Damai, itulah yang saya rasakan setelah membaca puisi. Puisi bukanlah kumpulan kata-kata indah, tapi adalah kata-kata yang mengandung sihir, yang ketika menyentuh sisi sensitive dalam hati saya, mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik. Itu puisi bagi saya.

Akhir-akhir ini, saya sedang sangat terobsesi dengan tulisan-tulisan dalam buku yang berjudul, “Di Tepian Itu” yang ditulis oleh Candrasangkala, dan diterbitkan oleh Buku Mojok. Tulisan-tulisan di dalam buku ini bekerja seperti magic!

Sejak pertama saya menjejaki halaman pertamanya, saya langsung menyelam dan tenggelam dalam kata-kata indahnya. Tenang menyelam ke dalam, dan dengan sendirinya menyelimuti diri saya dalam lautan penuh rasa, penuh keheningan dan damai.  

Membaca tulisan demi tulisan yang ada di dalam buku ini, saya merasa seperti seorang wanita yang berdiri di tepi lautan. Lautan adalah kata-kata yang tertulis di sana, dan saya tidak berpikir dua kali untuk menceburkan diri saya ke dalam sana, dan menyelam dalam. Saya menikmati setiap prosesnya, dan saya merasa diselimuti oleh lautan berwarna biru gelap, damai dan tenang. Hanya saya dan pikiran saya. Damai.

Saya tidak ingin apa-apa, saya tidak mengharapkan apa-apa. Hanya saat ini, waktu ini.

Saya menyebut moment ini sebagai keajaiban.

Keadaan seperti ini adalah sesuatu yang langka dalam kegiatan harian saya. Saya terlalu gila bekerja, dan sangat sedikit memberikan waktu untuk beristirahat. Saya menyadari hal ini setiap kali saya merasa ‘tidak bersemangat’ untuk mengerjakan sesuatu.

Buku dan tulisan-tulisan dari Candrasangkala membawa saya pada titik yang sangat saya inginkan ini.

Buku ini hanya berisi kurang lebih 175 halaman, dan terdiri dari 3 bagian. Tiga bagian ini adalah 1) Mengalah kepada Takdir, 2) Berjalan Bersamaku dan 3) Senyuman lirih. Meksipun hanya berisi tiga bagian, tapi buku ini berisi tulisan-tulisan yang sangat powerful! dan disusun dengan penuh perhatian dan kehati-hatian.

Tulisan-tulisan dalam buku ini bersifat sangat personal, tapi siapapun yang membacanya dapat dengan mudah ikut merasakan apa yang terkandung di dalam sana. Sederhana seperti itu saja.

Buku ini menyelamatkan saya, dan membuat saya menyadari bahwa sangat perlu bagi saya untuk mendengarkan diri saya sendiri. Lebih lagi pada masa-masa penuh ketidakpastian dan kesibukan ini; bahwa sangat perlu bagi saya untuk menenagkan diri, dan mencari kembali apa yang menjadi sumber energi dalam apapun yang saya kerjakan.

Sebagai seorang perawat, sudah berkali-kali saya mengatakan hal ini, saya sangat membutuhkan waktu untuk me-recharge lagi energi yang saya miliki. Selain menulis, kegiatan membaca bahan bacaan ringan yang sederhana tapi juga dalam, sangat membantu.

Saya sangat merekomendasikan buku ini dibaca oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Buku ini menyelamatkan saya, dan saya harap sihir yang sama tercurah padamu juga.

Semoga tulisan ini bermanfaat, and as always salam hangat dari saya.

PS.

Buku ini bisa dipesan langsung dari Buku Mojok, atau seperti saya, memesannya dari Umah Buku dengan harga yang cukup terjangkau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s