Wanita Berkemeja Biru, Taman dan Pikiran-pikirannya


Wanita berkemeja biru itu sedang duduk di bangku taman. Matanya sulit dibaca, apalagi pikirannya. Ia menyerukan sesuatu, tapi hilang dan menguap di udara. Sebuah buku berada di tangannya, ia sedang mengomentari bacaan yang ada di hadapannya. Sesekali ia memandang ke arah taman. Tidak ada bunga yang bermekaran, hanya tanaman-tanaman hijau yang sudah mulai menguning di banyak sisi. Pemandangan ini entah kenapa tidak mempengaruhinya. Ia tidak terpengaruh dengan perubahan alam yang terjadi.

Dalam pikirannya, Wanita berkemeja biru ini memikirkan banyak hal. Peperangan itu terjadi di dalam sana. pada bagian yang tidak tersentuh, dan tidak dapat disentuh oleh orang lain. Dalam pikirannya.

Wanita berkemeja biru ini memikirkan tentang cintanya yang sudah pergi. Memikirkan kembali pengalaman-pengalaman yang ia jalani sebelumnya. Penyesalan timbul sampai ke permukaan kulitnya. Ia membayangkan percakapan terakhir malam itu, dan pesan-pesan yang tidak pernah mendapatkan balasan.

Ia merasa bersalah, dan tertekan dalam suatu waktu.

“Bagaimana mungkin hal seperti ini dapat terjadi pada saya?,” kata-kata ini akhirnya keluar dari mulutnya disertai dengan hembusan nafas yang berat. Buku ditangannya ia lipat, dan ia hentikan aktivitas membacanya.  

Pikirannya tertuju pada percakapan terakhirnya dengan orang ‘itu’.

“Kalau mendengar masalahmu ini, nampaknya kamu tidak membutuhkan saran dari saya. Hal yang kamu butuhkan hanyalah waktu dan kesempatan untuk didengarkan, “ demikian kata-kata terakhir yang ia ingat tentang orang ini.

Wanita berkemeja biru ini tidak sedang membutuhkan menjalin hubungan dengan seseorang, tapi ia tidak benar-benar menyadari bahwa ia membutuhkan orang lain sebagai tempat untuk bersandar dan bertahan. Hal yang sangat ia butuhkan ini, luput dari perhatiannya. Atau memang karena ia tidak ingin peduli. Ia adalah wanita yang kuat, tapi kekuatannya hanya ilusi saja. Ia sama seperti wanita pada umumnya, membutuhkan sandaran dan tempat untuk berlindung.

Ia paham, harga yang harus ia bayar atas apa yang terjadi adalah komitmen. Tapi, ini adalah hal yang tidak bisa ia berikan. Hidupnya sudah sangat penuh dengan komitmen dan tanggung jawab, dan apa yang ia jalin bersama orang “ini” adalah hal terakhir yang ingin ia pilih untuk ‘berkomitmen’. Wanita berkemeja biru ini diam, dan tidak ingin melakukan apapun. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Pikiran itu mengalir seperti air, dan ia membiarkan pikiran itu mengalir jauh sampai ke tempat yang tidak bisa ia lihat.

Wanita berkemeja biru itu tidak ingin mencari pembelaan lagi untuk apapun yang ia kerjakan. Ia berhenti di sana. Ia terima apapun yang ia rasakan, apapun yang ia pikirkan. Lalu melepaskannya di sana.

Lalu, pikiran lainnya muncul. Pikiran ini muncul, dan hadir setelah kepergian pikiran akan orang yang dikasihinya.

Pekerjaan.

Wanita berkemeja biru ini binggung bagaimana ia harus mendefinisikan soal “pekerjaan”. Ketika ada yang bertanya tentang dirinya, kata “gila bekerja” itu melekat erat padanya. Wanita berkemeja biru ini memang terkenal sebagai orang yang sangat berdedikasi, terutama dengan pekerjaannya. Bukan soal ‘hanya pekerjaan”, tapi juga adalah pelayanannya kepada orang lain. Pekerjaannya adalah pekerjaan untuk melayani orang lain.

Beban yang harus ia terima sebagai “pelayanan” sudah cukup berat, ditambahkan dengan gunjingan dari sana dan sini. Ia memang bukan orang yang gampang peduli dengan omongan orang lain, tapi pada beberapa waktu omongan orang lain dapat menyusup masuk ke dalam pikirannya.

Wanita berbaju biru ini sudah tidak bisa mendefinisikan dirinya sebagai “manusia”. Ia memutuskan untuk memanggil dirinya, “manusia super”, karena apapun yang ia kerjakan sudah melebihi apapun yang dikerjakan oleh banyak orang pada umumnya. Ia sadar betul dengan hal ini.

Sambil menatap taman yang ada di sekelilingnya. Ingatan wanita ini tertuju pada setumpuk tanggung jawab yang dibebankan padanya, atau lebih tepatnya, yang ia bebankan pada dirinya sendiri.

“Pekerjaan itu hanya pekerjaan saja, yang lebih berat dari pekerjaan adalah tanggung jawabnya,” demikian pesan yang diberikan oleh salah seorang mentornya. Perkataan ini melekat padanya sejak lama. Ia tidak hanya mendengarkan perkataan sambil lalu, tapi ia pun menghidupi perkataan ini. Ia adalah bukti nyata untuk pekerja yang melihat jauh pekerjaan yang ia kerjakan.

Wanita ini tampak bangga dengan dirinya sendiri.

Namun, pada beberapa saat kemudian, ia terdiam dalam keadaan yang berbeda. Ia merasakan beban yang tidak nampak itu. Sesak, itu adalah respon pertama yang ia rasakan. Ia sangat kenal dengan rasa tertekan ini, dan merasakan tekanan yang lebih lagi jika dibandingkan dengan tekanan yang sebelumnya. Ia bertanya pada diri sendiri,

“Bagaimana kamu dapat bertahan sejauh ini?,” Ia mengulang-ulang pertanyaan ini di dalam hati.

Pada kenyataannya, ia tidak sanggup. Ia sudah lama menyerah dengan keadaannya. Ia sudah lama berhenti berharap, dan pada saat ini, ia seperti robot yang sedang mengerjakan apapun yang ada di hadapannya. Ia melakukan apapun yang bisa ia lakukan, dan nampak seperti sedang bertahan (padahal tidak).

Ia membolak balik buku yang ada ditangannya. Buku tersebut berjudul, “What I Know for Sure” yang ditulis oleh Oprah Winfrey. Isi buku ini terbagi menjadi delapan bagian. Delapan, lambang dari putaran dan proses yang terus menerus dan abadi. Ia melihat tentang, joy, resilience, connection, gratitude, possibility, awe, clarity, dan power. Ia tahu bahwa penulis adalah orang hebat, tapi entah bagaimana apapun yang ditulis di sana memunculkan banyak pertentangan dalam pikirannya.

“Saya tidak bisa menerima keadaan saya, dan itu yang menyebabkan saya tidak bisa menerima apapun yang disuguhkan oleh penulis dalam buku ini,” demikian komentar wanita berkemeja biru ini.

Wanita berkemeja biru ini melepaskan pemikirannya ini. Sama seperti buah-buah pikirannya sebelumnya. Ia lepaskan bersama hembusan angin kering di taman tempat ia berada. Ia memperhatikan daun-daun taman yang mulai kering, dan ia mulai berpikir tentang mereka.

“Daun-daun tumbuhan yang mulai mengering, mungkin adalah respon dari masalah-masalah yang ia kirimkan ke lingkungan di taman ini, “ demikian Wanita berkemeja biru ini memberikan komentar. Ia berhenti di sana. Lalu berjalan ke luar taman.

Catatan di Balik Layar:

Saya pernah menulis tentang wanita berkemeja warna dalam blog ini. Silakan berkunjung ke tulisan saya yang berjudul, “Wanita Berkemeja Putih dan Pikiran-pikirannya”. Saya bahkan sempat berniat untuk membuat tulisan ini sebagai series, tapi seperti biasa karena waktu saya yang sangat tidak memungkinkan maka bablas-lah semuanya.

Mengenai tulisan ini, saya menemukan sesuatu yang sangat menarik dalam diri saya sendiri. Saya nampaknya sangat menikmati kegiatan untuk menulis cerita, lalu menyelipkan pesan dalam cerita tersebut. Kegiatan menulis cerita itu sendiri sangat menenangkan. Tulisan ini memberikan efek nyaman, dan juga ringan.

Tulisan ini bahkan ditulis pada saat-saat genting dan berat yang dialami oleh diri saya sendiri. Tapi, entah bagaimana tulisan ini mampu memberi saya kesembuhan yang tidak saya pikirkan, sangat saya inginkan/harapkan. Lucu rasanya ketika saya bisa berkata seperti ini kepada diri saya sendiri,

Saya semakin dikuatkan oleh tulisan saya sendiri.”

Selanjutnya, jika teman-teman memperhatikan tulisan atau cerita yang saya tulis ini, saya menyematkan pesan mengenai emosi dan bagaimana bisa melepaskannya, dan sedikit tentang mindfulness.

Terakhir, saya berharap agar tulisan ini dapat bermanfaat, and as always, salam hangat dari saya.

5 pemikiran pada “Wanita Berkemeja Biru, Taman dan Pikiran-pikirannya

  1. Menulis saya dengar memang bisa menjadi sarana terapi bagi penulisnya. Saya punya teman yang menderita penyakit stroke. Tetapi dengan menulis ia bisa survive, bahkan bisa menulis banyak buku dan menjadi nara sumber yang menginspirasi banyak orang. Bahkan ia bisa bepergian ke banyak negara dengan kursi rodanya.

    Saya rasa pengalaman kak Maria juga akan bisa menginspirasi dan membuat kehidupan lebih baik. Amin.

    salam hangat
    salik thani

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s