Seri Diagnosis Keperawatan: Penyangkalan Tidak Efektif (D.0098)


Pada beberapa waktu yang lalu, seorang Mahasiswa pendidikan ilmu keperawatan bertanya kepada saya mengenai, diagnosis keperawatan yang tepat untuk memberi label pada keadaan pasien yang mengalami masalah pada daya tilik dirinya. Pertanyaan yang diajukan oleh Mahasiswa ini adalah sebagai berikut:

“Kak, saya memiliki pasien dengan masalah pada daya tilik dirinya. Pasien saya ini usianya sudah 50 tahun, dan dirawat di ruangan psikogeriatri. Ia tidak mengakui bahwa dia mengalami gangguan jiwa, dan menyalahkan anaknya karena sudah mengirimkan dia ke sini. Padahal, pasien menunjukkan tanda-tanda halusinsi dan delusi yang kuat. Hasil pemeriksaan dokter juga menguatkan hasil pengkajian saya ini. Tapi masalahnya adalah, saya binggung harus mengangkat diagnosis keperawatan apa yang tepat untuk masalah ini. Beberapa kakak perawat menyarankan menulis diagnosis keperawatan dengan label, “Gangguan Daya Tilik Diri”, tapi saya tidak yakin. Saya sudah mencari di beberapa sumber Pustaka, tapi saya tidak menemukan label diagnosis seperti ini. Apakah kakak ada saran?”

Diskusi saya dengan mahasiswa pendidikan ilmu keperawatan ini menginspirasi tulisan ini, dan atas ijinnya, saya menuliskan kembali diskusi kami ini dengan harapan agar siapapun yang membacanya kelak dapat belajar dan juga memberikan masukan untuk tulisan ini.

Baca juga catatan saya mengenai Diagnosis Keperawatan di Blog ini:

  1. Kontroversi Kata “Diagnosa” vs “Diagnosis”
  2. Perawat dan Diagnosis Keperawatan: Membedah Label Diagnosis NANDA-I 2018-2022 (Seri I).
  3. Taxonomy Diganosis Keperawatan menurut NANDA-I: Membedah Diagnosis NANDA-I 2018-2022 (Seri 2).  

Daya Tilik Diri

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring mendefinisikan “Tilik” sebagai,

“Penglihatan yang teliti (terutama penglihatan dengan mata batin); sinar (pandangan) mata; atau tenang. Teluh”

KBBI Daring, 2021.

Frase “Tilik diri” tidak memiliki arti dalam KBBI Daring. Untuk itu, merujuk pada catatan atau tulisan yang diberikan oleh Willy F. Maramis dan Albert A. Maramis dalam buku Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, daya tilik diri atau self-insight diartikan sebagai “kesadaran dan pemahaman pasien terhadap keadaan sakitnya”.

Seorang individu mengalami dan bisa dikatakan mengalami masalah dengan daya tilik dirinya, jika sudah memenuhi beberapa hal sebagai berikut:

  1. Sama sekali menyangkal keadaan sakitnya.
  2. Sedikit menyadari keadaan sakitnya, dan memerlukan pertolongan, tetapi pada saat yang bersamaan menyangkal dan masih menolak keadaan sakitnya.
  3. Menyadari keadaan sakitnya, tetapi menyalahkan orang lain atau factor luar (diluar dirinya)
  4. Menyadari keadaan sakitnya disebabkan oleh sesuatu yang tidak diketahui dalam dirinya.
  5. Menyadari sakitnya, bahwa gejala dan kegagalan dalam penyesuaikan social karena perasaan irrasional tertentu/adanya gangguan dalam diri pasien, tetapi tidak menerapkan kesadaran ini pada pemahaman di kemudian hari (intellectual insight).
  6. Kesadaran emosional dari perasaan dalam diri pasien dan orang penting dalam diri pasien, dimana pemahaman tersebut sampai mengubah perilaku pasien (true emositonal insight).

Disalin dan dimodifikasi dari catatan mengenai “Insight” dari Rumah Sakit Jiwa Grhasia Jogjakarta.

Saya sendiri menyimpulkan bahwa individu mengalami gangguan daya tilik diri, kalau individu tersebut “menyangkal” atau menolak keberadaan penyakit dalam dirinya.

Daya Tilik Diri dalam Dunia Ilmu Keperawatan

Berbeda dengan ilmu kedokteran, ilmu keperawatan memiliki istilah tersendiri tentang masalah atau gangguan pada daya tilik diri. Merujuk pada buku Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI): Definisi dan Indikator (2017) yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Indonesia (PPNI), istilah gangguan pada daya tilik diri akan dikelompokkan dalam masalah “Penyangkalan Tidak Efektif” (SDKI, 2017. Hal 204).

Saya mencoba untuk mencari diagnosis keperawatan yang sesuai untuk masalah ini, tapi saya tetap berujung pada kesimpulan yang sama, diagnosis yang tepat adalah ini, “Penyangkalan Tidak Efektif”.

Penyangkalan tidak efektif (D.0098) didefinisikan sebagai upaya mengingkari pemahaman atau makna suatu peristiwa secara sadar atau tidak sadar untuk menurunkan kecemasan/ketakutan yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Diagnosis ini muncul dengan penyebab:

  1. Kecemasan
  2. Ketakutan terhadap kematian
  3. Ketakutan mengalami kehilangan kemandirian
  4. Ketakutan terhadap perpisahan
  5. Ketidakefektifan strategi koping
  6. Ketidakpercayaan terhadap kemampuan mengatasi masalah
  7. Ancaman terhadap realitas yang tidak menyenangkan

Masalah atau tanda dan gejala pengabaian dapat ditemukan pada gajala dan tanda mayor dalam diri individu.

Subjektif:

  1. Tidak mengakui dirinya mengalami gejala atau atau bahaya (walaupun kenyataan sebaliknya)

Objektif:

  1. Menunda mencari pertolongan pelayanan kesehatan.

Tanda dan gejala pun dapat ditemukan dalam tanda minor yang ditunjukkan oleh individu:

Subjektif:

  1. Tidak mengakui bahwa penyakit berdampak pada pola hidup.
  2. Dst…

Objektif:

  1. Mengalihkan sumber gejala ke organ lain.
  2. Berperilaku acuh tak acuh saat membicarakan peristiwa penyebab stress.
  3. Menunjukkan afek yang tidak sesuai.

Jadi, dari kasus yang dikonsultasikan oleh mahasiswa tadi, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa diagnosis keperawatan yang bisa diambil adalah

“Penyangkalan tidak efektif berhubungan dengan Ketidakefektifan strategi koping yang ditandai dengan klien mengatakan bahwa ia tidak mengakui dirinya mengalami gejala gangguan jiwa, dst…”

Penelitian yang Mendukung

Pencarian di mesin pencari Google dengan menggunakan kata kunci, “Daya tilik diri”, mempertemukan saya dengan artikel yang diterbitkan oleh Daryanto dan Khairani (2020), dengan judul “Daya Tilik Diri (Self-Insight), Harga Diri (Self-Esteem) dan Stigma Diri (Self-Stigma) serta Kualitas Hidup Pasien Skizophrenia di Klinik Jiwa RS Jiwa Daerah Jambi”.

Penelitian yang dilakukan oleh Dosen Jurusan Keperawtaan Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jambi ini membantu saya untuk lebih memahami mengenai masalah daya tilik diri yang dirasakan oleh pasien atau orang lain, dan dampaknya bagi variable lain seperti kualitas hidup.

Penelitian ini sangatlah menarik karena hasil penelitian terdahulu malah menunjukkan bahwa semakin tinggi daya tilik diri seseorang, maka kualitas hidup akan semakin rendah dan sebaliknya (Penelitian dari Karow dan Pajonk (2006)). Belum lagi hasil penelitian ini yang menguatkan bukti bahwa daya tilik diri berkorelasi negative dengan kualitas hidup pasien skizofrenia (P value 0,009 < α 0,05). Hal ini tentu saja membuat saya terkesima. Masalahnya, saya menemukan fenomena yang berbeda di dalam hidup saya sehari-hari, bahkan interaksi saya dengan orang-orang.

Penjelasan yang saya temukan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa

“…kualitas hidup berkaitan dengan kesadaran terhadap penyakit jiwanya. Bila pasien menyadari penyakitnya maka pasien semakin menyadari realitas hidup yang sebenarnya dialami sehingga pasien memberikan penilaian secara obyektif terhadap kualitas hidupnya yang rendah. “

Dikutip langsung dari artikel Daryanto dan Khairani (2020).

Saya pun selanjutnya menyimpulkan bahwa kesadaran itu adalah sesuatu yang harus secara hati-hati saya tanggapi. Kesadaran akan diri, dan juga akan penyakit yang terlalu tinggi malah memberi pengaruh negatif seperti pandangan akan diri (dan kualitas hidup).

Memang penelitian yang saya temukan ini masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut, atau penelitian lebih jauh lagi. Tapi, sampai di sini, cukup. Saya sudah belajar sesuatu yang menarik, dan saya biarkan di situ saja.

Lalu, setelah semua ini…

Belajar mengenai diagnosis keperawatan itu rasanya bagaimana begitu. Saya masih cukup sulit untuk bisa mengangkat diagnosis keperawatan seorang diri tanpa konsultasi. Saya pun masih dan harus membutuhkan bantuan, serta diskusi dengan beberapa sejawat perawat. Pertanyaan dari Mahasiswa ini benar-benar menggugah saya untuk belajar lagi, dan melihat lagi apa label diagnosis keperawatan yang cocok dengan tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh pasien.

Lalu, yang terpenting dan sangat penting adalah tidak hanya berhenti di sini saja. Diagnosis keperawatan hanyalah label, langkah selanjutnyalah yang perlu diambil, yaitu langkah untuk menyusun rencana (intervensi) keperawatan yang dibutuhkan oleh pasien. Ini akan menjadi proses belajar yang menarik lagi.

Selain itu, ketika membaca dan menganalisa artikel yang diterbitkan oleh para dosen ilmu keperawatan ini, saya merasa sangat senang dan beruntung. Saya memandang dengan sangat optimis keberlangsungan kegiatan penelitian ilmu keperawatan di negeri saya sendiri. Saya pun semakin termotivasi untuk belajar dan juga membagikan tulisan mengenai artikel-artikel penelitian yang sudah dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmu kesehatan dan keperawatan.

Semangat belajar!

Terakhir, terima kasih karena sudah membaca tulisan saya ini atau sekedar mampir. As always, salam hangat dari saya.

Sumber Bacaan:

  1. Daryanto dan Wittin Khairani (2020). Daya Tilik Diri (Self-Insight), Harga Diri (Self-Esteem) dan Stigma Diri (Self Stigma) serta Kualitas Hidup Pasien Skizofrenia di Klinik Jiwa RS Jiwa Daerah Jambi. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi. Volume 20. No 1.
  2. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPI) (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik.

2 pemikiran pada “Seri Diagnosis Keperawatan: Penyangkalan Tidak Efektif (D.0098)

  1. Belum lagi hasil penelitian ini yang menguatkan bukti bahwa daya tilik diri berkorelasi negative dengan kualitas hidup pasien skizofrenia ….

    ini menarik ya, mbak. saya pikir tadinya jenis lain dr skizofren. Apa daya tilik diri ini termasuk dalam strategi survival manusia dlm menghadapi kenyataan hidup atau eksistensi kita? apakah sdh pasti yg memiliki gangguan daya tilik diri ini adl org yg sakit? khusus mental illness atau any kind of sickness?

    jd banyak tanya hehe

    Disukai oleh 2 orang

  2. Hi, Mbak.

    Daya tilik itu, saya rasa adalah kemampuan untuk menyadari apa yang terjadi dengan dan dalam diri. Sebagai contoh, kesadaran akan penyakit.

    “Saya menyadari bahwa saya sakit dan saat ini saya berada di rumah sakit.” Kira-kira seperti ini kalimat yang mungkin diutarakan orang dengan daya tilik diri yang positif.

    “Saya tidak sakit, orang tua saya yang mengirim saya ke sini. Mereka tidak melihat bahwa saya ini baik-baik saja” (Padahal, dia sedang sakit dan sangat membutuhkan perawatan di rumah sakit). Kira-kira seperti ini gambaran untuk daya tilik diri yang negatif.

    Hasil penelitian ini dan beberapa hasil penelitian sebelumnya membuat saya binggung karena, daya tilik diri yang positif, malah membuat kualitas hidup pasien menjadi rendah (korelasi negatif). Dalam artian, “menyadari realitas” yang terjadi, malah membuat hidup nampak buruk (istilahnya demikian).

    Benar Mbak, saya pun jadi punya banyak pertanyaan dan masih sambil memproses apa yang terjadi. Tapi, semoga usaha saya untuk menyadari dan memahami apa yang terjadi, tidak semakin membuat hidup saya menderita haaaa

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s