Redefine Education: Belajar dari “Bajak Laut”


Dunia bajak laut, adalah dunia yang sangat menarik. Dunia ini penuh dengan petualangan, hal-hal yang tidak terduga dan sihir. Saya pun tidak menduga dunia bajak laut menjadi inspirasi yang sangat baik untuk kegiatan belajar-mengajar atau dalam artian khusus, pendidikan. Dunia bajak laut yang terkesan dengan tidak taat aturan, mencuri bahkan brutal, ternyata dapat diramu menjadi metode belajar menarik untuk mencapai pendidikan yang diharapkan. Tulisan ini mengupas sedikit filosofi hidup bajak laut, yang sangat bisa diterapkan dalam dunia pendidikan.

Baca juga: (Review Buku): “Guru tanpa Murid”, karya Pankras Kraeng, SSCC

Ketika film Pirates of the Caribbean lahir, dan selanjutnya mengguncang dunia, banyak dari antara kita yang menjadi sangat terobsesi dengan hal-hal yang berhubungan dengan bajak laut.

Bajak laut, dalam Bahasa Inggris disebut sebagai “pirates”. Pirates sendiri diambil dari kata, piracy, yang berarti,

“Act of robbery or criminal violence by ship or boat-borne attackers upon another ship or a coastal area, typically with the goal of stealing cargo and other valuable goods”.

Inti dari aktivitas atau kegiatan bajak laut adalah “mencuri” atau mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Kegiatan mengambil ini, bisa dilakukan secara paksaan atau tidak. Paksaan dalam artian menggunakan dorongan yang melampaui kehendak dari individu atau subjek yang menjadi target. Bajak laut, bisa diartikan sebagai aktivitas mencuri, tapi dengan cara dan tindakan yang dapat digolongkan sebagai kegiatan yang “lebih keren”.

Mengumpamakan kegiatan belajar atau proses pendidikan dengan kegiatan bajak laut atau hidup bajak laut itu adalah ide yang lucu dan tidak biasa. Saya pun awalnya memikirkan hal seperti ini. Tapi, setelah saya membaca buku milik James Marcus Bach, saya pun mengerti mengapa ia bersikukuh untuk mengajak para pembelajar di muka bumi ini mengikuti jejaknya.

Kisah Sang Guru dan satu orang muridnya

Seorang guru pernah menyatakan pernyataan seperti ini kepada murid-muridnya. Ia mengatakan bahwa ia akan dengan senang hati meninggalkan 99 orang muridnya, dan pergi menyelamatkan satu orang murid yang tertinggal atau tersesat. Bukan sebaliknya. Pernyataan ini, bold! dan juga nampak sangat tidak mungkin.

Terkait dengan kisah sang guru, saya pernah mendengar cerita seorang sahabat yang juga adalah seorang guru. Ia pernah bercerita kepada saya tentang seorang murid yang sangat sulit di kelasnya. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa murid ini mengalami banyak sekali hambatan belajar dan sampai dinyatakan “tidak layak” untuk melanjutkan pendidikan lagi. Murid ini seharusnya tidak lulus. Murid ini menjadi masalah untuk sahabat saya ini, dan karena masalahnya ini, Ia pun teringat dengan kisah sang Guru yang pernah kami dengarkan bersama.

Ia teringat akan kisah sang Guru yang akan meninggalkan 99 orang muridnya dan pergi menyelamatkan satu orang murid yang gagal ini. Kami pun berdiskusi mengenai masalahnya ini. Ketika itu, ini yang ia katakan pada saya,

“Saya bukan Sang Guru. Saya tidak bisa melakukan hal yang sangat tidak mungkin. Saya tidak akan mungkin mengorbankan 99 orang murid yang lain, hanya demi menyelamatkan satu orang murid saja. Akan lebih baik bagi kelas, dan juga bagi murid-murid yang lain jika saya melepas satu murid ini dan membiarkannya belajar kembali. Ia tidak?”

Pada saat itu, saya tidak memiliki jawaban yang ia inginkan atau bahkan yang sangat ia butuhkan. Tapi, saya bisa melihat dan ikut merasakan beban yang seorang guru miliki di pundaknya. Keputusan apapun yang ia buat, akan mempengaruhi hidup muridnya. Lagi, apapun keputusannya haruslah menjadi, dan berbentuk “pelajaran” bagi muridnya. Berat!

Percakapan dan cerita yang dimiliki oleh sahabat saya ini menjadi salah satu faktor yang mendorong saya untuk melihat kembali kegiatan belajar-mengajar, atau dalam hal ini, pendidikan. Saya tidak bisa pura-pura menutup mata dan menjadi tidak peduli, karena pada kenyataannya saya sangatlah peduli dengan yang namanya pendidikan.

Kisah sahabat saya ini membuat saya bertanya tentang, “Kegagalan dalam proses belajar.” Apakah benar dan tepat istilah pernyataan tentang kegagalan dalam proses belajar? Bukankah kita akan belajar lebih banyak dari “kegagalan”, apalagi itu adalah kegagalan dalam kegiatan belajar?. Lalu, mengapa sampai ada murid yang tidak lulus dari sebuah kelas atau bahkan sebuah institusi pendidikan?

Apakah kelas atau institusi pendidikan itu hanyalah system yang bekerja seperti mesin seleksi alam? Membuang yang tidak layak dan melestarikan yang baik dan bisa bertahan?. Bukankah sekolah itu adalah tempat untuk melakukan perubahan? Mengubah yang tidak baik menjadi baik, dan mengubah sesuatu yang tidak mampu menjadi mampu ?. Tapi, masih saja ada istilah “tidak lulus” atau “tidak kompeten”?

Ini semua tentu saja adalah pemikiran saya saja. Pikiran ini bisa saja keliru dan pasti aneh bagi banyak orang. But, please do not mind me!

Mengapa Bajak Laut?

James Marcus Bach secara sengaja memilih bajak laut sebagai objek pembelajaran yang sangat menarik dalam bukunya. Bukunya dalam Bahasa indoensia yang berjudul, Tinggalkan Sekolah sebelum Terlambat: Belajar Cerdas Mandiri dan Meraih Sukses dengan Metode Bajak Lautmenghipnotis saya sampai berhari-hari. Saya terikat dengan buku ini, mengulitinya sampai ke sel-sel di dalamnya. Menikmatinya.

Bajak laut adalah kelompok orang-orang yang “bebas” dan tidak mengikat dirinya dengan hukum yang berlaku di suatu tempat. Hukum yang ditetapkan adalah untuk dilanggar. Kecenderungan mereka adalah menggunakan intuisi mereka untuk bersenang-senang, menjelajah ke tempat-tempat yang baru dan menikmati hidup dengan sedemikian rupa. Kesan negative memang sering melekat dalam diri mereka, dan bahkan memberi identitas pada mereka. Mereka adalah pemberontak dengan segala keburukannya. Tapi, saya sendiri iri dengan hidup mereka yang bebas. Kebebasan adalah apa yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang mengikatkan dirinya dengan sistem. Mereka hanya dapat berkomentar tentang hidup orang-orang bebas dan berusaha untuk membuang kenikmatan akan kebebasan.

Ya, meskipun memang kebebasan itu memiliki harga yang harus dibayar juga. Tapi, karakter bajak laut yang disorot oleh James Marcus Bach di sini adalah karakter yang menjadikan seorang individu menikmati kegiatan belajar, dan melihat kegiatan belajar sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan dan penuh petualangan. Lebih lagi, belajar itu adalah bagian dari hidup dan merupakan hidup itu sendiri.

So, itulah mengapa bajak laut.

Mulai dengan kata “M”

Belajar, pada dasarnya adalah keadaan atau aktivitas yang alami. Belajar adalah bagian dari hidup, yang tujuannya adalah satu, bertahan hidup. Belajar bahkan dapat dikatakan sebagai kemampuan dasar, atau syarat utama untuk dapat hidup di planet bumi ini. Manusia yang tidak belajar, adalah manusia yang tidak akan dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama di muka bumi ini. Belajar adalah bagian penting, dan mungkin adalah the most vital skill possessed by human being!

Melihat betapa pentingnya kegiatan belajar dalam kehidupan manusia, baiknya kegiatan belajar itu tidak dibuat menjadi beban. Sama sekali bukan! Tapi memang, pada kenyataannya, ketika kegiatan belajar sudah di-institutional-kan menjadi sekolah, maka kegiatan belajar itu menjadi berkurang kegiatan menyenangkannya. Belajar, malah menjadi kegiatan yang seumpama “beban”, yang harus dibuang, dihindari dan dilenyapkan.

Untuk alasan ini, penting sekali untuk mendalami alasan “mengapa belajar” dan menggali sumber api yang mendorong seseorang untuk bersemangat untuk belajar.

Sama seperti aksi yang dikerjakan oleh individu atau manusia pada umumnya, selalu dimulai dengan ini, motif. Ya, motif atau yang selanjutnya dijabarkan menjadi “motivasi”. Motif atau motivasi itu ibarat bahan bakar untuk mengerjakan sesuatu atau menjalankan aksi tertentu. Sangat penting.

Ketika saya masih menjadi seorang mahasiswi aktif, saya selalu mengalami masalah penurunan motivasi dan melakukan pencarian yang tidak berujung untuk menemukan motivasi yang akan terus membakar saya, dalam keadaan apapun, ketika saya menginginkannya. Saya mencari, dan kebanyakan menemukannya melalui film yang saya tonton, sebut saja, Detective Conan Series, Sherlock Holmes, Harry Potter dan masih banyak lagi. Satu hal yang saya pelajari tentang motivasi adalah, kekuatan untuk “mencari tahu” atau kekuatan untuk berkelana, mengembara atau bertualang. Belajar adalah sebuah “petualangan yang menyenangkan”. Seharusnya demikian.

Pelajaran yang saya temukan adalah ini, “jadikan kegiatan belajar sebagai petualangan, sebagai sesuatu yang menarik dan menyenangkan”, sehingga apapun jalan yang kita tempuh, dan bagaimana pun beratnya, semuanya dapat dijalani dengan penuh kenyamanan dan minim keluhan. Itu saja.

Sampai saat ini,  saya masih berusaha menghidupi semangat dan motivasi ini. Apapun yang saya lakukan adalah berdasarkan rasa ingin tahu, keinginan untuk bersenang-senang dan menjadi diri saya sendiri. Ketika saya diberikan kesempatan untuk belajar atau mempelajari sesuatu, hal yang saya tanamkan dalam hati adalah ini, agar saya dapat menikmati proses belajar ini. Menikmati, dengan, dan sampai penuh.

Belajar Mandiri

Pada masa-masa pandemik seperti saat ini, kegiatan “belajar di rumah” adalah sebuah keharusan. Belajar mandiri membutuhkan kemampuan untuk dapat belajar seorang diri atau belajar mandiri. Belajar mandiri itu bukanlah perkara yang mudah, perlu kemampuan untuk secara disiplin mengatur jadwal mandiri, menemukan metode yang tepat untuk belajar dan menemukan sumber belajar secara mandiri dengan bimbingan yang minimal.

Belajar mandiri adalah sebuah keharusan, dan ini adalah keterampilan yang dianugerahkan kepada masing-masing individu di muka bumi ini. Belajar bahkan adalah keterampilan dasar dan paling ancient yang dimiliki manusia. Belajar adalah set keterampilan yang memampukan manusia untuk hidup dan bertahan di planet ini. Belajar memampukan manusia untuk beradaptasi dengan masalah atau stress, dan yang paling penting adalah hidup.

Belajar mandiri sangatlah penting. Melalui belajar mandiri, sang pembelajar akan berproses dan menemukan fondasi kuat untuk kelanjutan kegiatan belajarnya nanti. Bukan hanya “meniru”, tapi secara original atau asli menemukan caranya sendiri. Belajar mandiri, dapat dikatakan sebagai belajar untuk menemukan diri sendiri.

Namun, ada hal penting yang harus diingat ketika belajar mandiri ini terlalu banyak dilakukan. Saya menyebutnya sebagai penyakit “kesepian” (loneliness) dan bosan. Bagaimana pun, penyakit kesepian ini adalah sesuatu yang sangat serius. Penyakit ini kadang lahir dari kesadaran akan diri dan lingkungan yang terlalu berlebihan. Kesepian ini bahkan sudah menjadi penyakit nomor satu yang paling sering kita keluhkan selama masa pandemik ini. Menjadi seorang pembelajar yang mandiri, haruslah menemukan cara untuk melawan rasa “kesepian” ini. Kalau mampu, maka proses belajar mandiri akan berjalan dengan sangat mulus.

Baca juga: Kesepian: Penyakit yang Perlahan dapat Membunuh

Ketika saya sedang mencuci piring, pikiran ini muncul dalam kepala saya. Pikiran ini adalah tentang menghadapi rasa sepi dan bosan dalam kegiatan belajar. Saya pikir, rasa sepi dan bosan itu tidak akan muncul kalau kita benar-benar menikmati mengerjakan atau melakukan sesuatu. Sangat kecil kemungkinan kemunculan rasa sepi dan bahkan bosan kalau kita benar-benar “into” something! Contohnya adalah piring-piring yang sedang saya cuci pada saat ini. Saya selalu mencuci piring sehabis makan, dan itu sudah saya lakukan berkali-kali dan sudah tidak terhitung lagi. Saya tidak bisa bosan apalagi sampai kesepian karenanya, alasannya adalah karena kegiatan mencuci piring ini adalah sebuah keharusan. Kalau saya tidak mencuci piring saya, lalu saya akan makan di mana? Terlebih lagi, saya menikmati kegiatan mencuci piring ini. Saya senang dapat merasakan aliran air di tangan saya, bau sabun dan rasa puas setelah menyelesaikan sesuatu. Se-simple itu.

Saya pun mulai berpikir tentang hal yang sama tentang pendidikan atau kegiatan belajar. Jika kita sungguh-sungguh menikmatinya, maka saya yakin bahwa rasa sepi apalagi bosan itu tidak akan tercipta.

Tidak terikat atau mengingatkan diri

Belajar dari bajak laut, mengingatkan saya pada serial anime “One Peace”. Saya ingat betul bahwa para bajak laut dalam anime ini tidak terikat atau bahkan mengikatkan diri pada aturan tertentu. Mereka bebas berlayar dan melakukan apapun yang mereka inginkan. Mereka berlayar sesuka hati mereka, dan menetapkan tujuan berlayar sesuka mereka juga. Menyenangkan!

Proses belajar juga seperti ini. Baiknya tidak terlalu banyak mengikatkan diri pada aturan-aturan yang malah membuat kegiatan belajar menjadi tidak nyaman dan menekan.

Mengenai hal ini, saya teringat akan sebuah kisah yang diceritakan oleh salah satu mentor saya. Dulu waktu Ia dan kawan-kawannya belajar ilmu keperawatan setingkat akademi keperawatan, mereka belajar dengan sangat keras dan dengan pengawasan. Kegiatan belajar itu menjadi satu keharusan karena “ada yang mengawasi”. Banyak diantara mereka yang menjadi sangat tertekan dan memilih untuk keluar dari akademi keperawatan. Alasannya adalah itu, mereka tidak sanggup dengan segala macam tekanan dan bahkan tuntutan yang rasanya mustahil. Mereka tidak belajar dari keinginan dan kemauan mereka sendiri, dan mereka dipaksa untuk belajar.

Memang, sekolah dan belajar tentang ilmu-ilmu kesehatan atau ilmu-ilmu untuk menyelamatkan manusia membutuhkan kedisiplinan, kerja keras dan bahkan dedikasi yang tinggi. Tapi, untuk dapat bertahan, sangat diperlukan motivasi yang kuat, dan juga kemampuan untuk bertahan dari hal-hal yang menyulitkan atau susah. Meskipun demikian, itu bukan berarti seorang perawat atau petugas kesehatan yang sedang belajar harus melupakan kenikmatan dalam belajar. Mereka perlu belajar sesuatu yang menyenangkan dan yang juga membuat mereka senang. Saya yakin, dengan cara seperti ini proses belajar akan menjadi semakin bermanfaat, mudah untuk diserap dan dapat dipraktikkan dengan baik.

Baca juga: Perawat, dan kegiatan merawat yang katanya “biasa-biasa saja”.

Seorang pembelajar, kalau pun harus mengikatkan dirinya, maka ia harusnya mengikatkan dirinya pada kenikmatan belajar. Itu. Kenikmatan belajar akan membuat si pembelajar terus menerus mencari waktu untuk belajar dan memperkaya diri dengan ilmu. Si pembelajar tidak akan berhenti, hanya di satu titik saja, tapi terus menjelajah dan menikmati petualangan belajar. Tujuannya satu, belajar dan bermanfaat bagi orang lain.

Akhirnya, pendidikan itu seperti ini, dimulai dari motivasi yang kuat, dilakukan terlebih dahulu secara mandiri dan dijalani dengan penuh semangat dan terus menerus/petualangan yang tiada akhir.

Semoga tulisan ini bermanfaat, as always salam hangat dari saya.

Catatan di balik layar:

Tulisan ini sebenarnya saya persiapkan untuk diterbitkan bersama penulis lain dalam sebuah buku dengan tema pendidikan. Tapi, saya tidak jadi mengikutsertakannya karena alasan klasik, saya tidak memuliki cukup waktu untuk menyempurnakannya. Seperti saya biasanya, tulisan ini kemudian saya terbitkan di sini dengan harapan agar lebih banyak orang membacanya. Semoga.

Menulis tentang pendidikan, atau bahkan tentang belajar secara lebih spesifik adalah sebuah tantangan tersendiri, terutama pada masa-masa sekarang. Dalam beberapa waktu ini, saya mendapati diri saya merenungkan tentang pendidikan lebih dari biasanya. Saya mencari jawaban untuk pertanyaan seperti, “Bagaimanakah pendidikan yang ideal itu?”

Pencarian saya membawa saya untuk menggali dan melihat lebih ke dalam, melihat diri saya sendiri. Saya melihat pengalaman-pengalaman belajar yang banyak “tidak menguntungkan” dalam hidup saya. Saya menemukan banyak sekali pelajaran dari sana, yang rasanya sayang kalau dibiarkan begitu saja. Saya rasa, saya harus sering-sering membagikannya. So, here it is, tulisan tentang pendidikan.

Tulisan ini terlahir berkat bantuan dari penulis James Marcus Bach, dengan bukunya yang sangat menarik “Tinggalkan Sekolah sebelum Terlambat: Belajar Cerdas Mandiri dan Meraih Sukses dengan Metode Bajak Laut”. Buku ini adalah buku terjemahan yang sudah saya miliki sejak beberapa tahun yang lalu. Sudah lama.

Ketika saya pulang kampung, saya menemukan kembali buku ini di perpustakaan mini saya di kamar, dan kembali membaca buku ini untuk kesekian kalinya. Menariknya, buku ini membantu saya untuk melihat permasalahan pendidikan yang pada saat ini menjadi hal yang sangat-sangat penting untuk dilihat dan dipikirkan.

So, bagaimana pendapatmu tentang tulisan ini? Silakan tuliskan di kolom komentar.

Kamu bisa memperoleh buku, James Marcus Bach, yang berjudul “Tinggalkan Sekolah sebelum Terlambat: Belajar Cerdas Mandiri dan Meraih Sukses dengan Metode Bajak Laut” dengan membelinya dengan harga yang sangat terjangkau di Google Book.

6 pemikiran pada “Redefine Education: Belajar dari “Bajak Laut”

  1. Kayaknya bacaan komik kita serupa ini mba. Ada detective Conan 😂 btw. judul bukunya menarik banget ya. Judul kontroversial. Btw sebetulnya ada yg hidupnya mirip2 bajak laut kalau yg diambil bagian kebebasannya, yaitu suku2 nomaden.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Suka Detective Conan ya? Wah, satu perguruan kita berarti wkwkkw.

    Saya pecinta komik ini sejak SMP! Sampai sekarang sudah nyaris kepala tiga masih suka aja.

    Ia, bukunya menarik banget! Sangat out of the box! dan saya rasa mampu mengisi kekurangan dalam pendidikan dan proses belajar kita pada saat ini.

    Benar ini, suku-suku nomaden. Hidupnya berpindah-pindah, tidak menetap dan sangat bebas. Terima kasih ya!

    Suka

  3. Seru juga tuh mba bukunya, kadang “bajak laut” di sekolah erat hubungannya sama anak nakal, tapi sebenarnya sisi positif jika di terapkan dalam belajar luar biasa keren, di mana punya kebebasan buat selalu ingin belajar ilmu apa saja. Jadi pengen baca, ceritanya seruu yang mba tuliss. Jdi pengen blajar terus nih, “haus” kyk bajak laut..terutama dalam menulis. Mantap mbaa!

    Disukai oleh 1 orang

  4. Saya jadi ingat dengan Freire, tokoh pendidikan pembebasan dari Amerika Latin; ia mengungkapkan bahwa semua tempat adalah sekolah. Bagaimana kita merefleksikan dan belajar dari fenomena. Apa yang dia sebut pendidikan berbasis masalah. Terima kasih sharingnya.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Terima kasih karena sudah mampir dan memberikan komentar, Pak Mulyadi. Saya setuju, belajar itu seharusnya di mana saja dan kapan saja, dan tidak melulu hanya dari institusi yang bernama sekolah. Belajar pun baiknya adalah berbasis masalah, dan masalah ini adalah masalah nyata yang real dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya agar dapat diterapkan segera dalam keseharian. Saya hendaknya demikian, Pak.

    Suka

  6. Semangat untuk belajar, Kak Kristian Adi!
    Benar, banyak kejadian ketika apa yang banyak dianggap orang sebagai ‘sampah’, malah adalah permata. Semangat!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s