Mengapa Gadis Baik Cenderung Jatuh Hati dengan Bad Boy?


Beberapa waktu ini, beranda sosial media saya penuh dengan gambar-gambar drama korea terbaru di Netflix, Nevertheless. Drama korea dengan caustion untuk usia 19 tahun ke atas ini, entah bagaimana menarik banyak orang. Penasaran, saya pun menggali beberapa informasi mengenai drama ini. Tanpa terasa, sambil menggali tentang drama ini, satu tulisan pun terlahir dari jari-jari saya.

Saya membagi tulisan ini menjadi dua bagian. Pertama adalah sedikit synopsis tentang Korean drama, Nevertheless. Lalu yang kedua adalah tentang syndrome gadis baik yang saya kaitkan dengan drama Nevertheless sebelumnya.

So, here it comes!

-Bagian I-


Nevertheless adalah

Nevertheless (Bahasa Indonesia,”namun”) atau diartikan sebagai,

In spite of that; notwithstanding; all the same; statements which, although literally true, are nevertheless misleading” atau

(Google translate),

“Despite what has been said or reffered to…” .

(Cambridge Dictionary)

“Nevertheless implies a concession, something which should not be forgotten in making a summing up: We are going; nevertheless (“do not forget that”), we shall return”

(Thesaurus.com)

Nevertheless, adalah kata yang tidak bisa berdiri sendiri. Kata ini adalah kata keterangan yang bertugas untuk menerangkan sesuatu. Kata ini harus dilengkapi dengan kata-kata lainnya untuk mendapatkan fungsinya. Nevertheless, akan memberikan arti kalau dihubungkan dengan kata-kata atau informasi ini.

Nevertheless, ternyata dipilih menjadi judul sebuah webtoon yang sangat menarik untuk dibaca. Webtoon ini sudah selesai terbit (tamat), dan akses untuk membacanya dapat dilakukan setiap hari (gratis) atau menggunakan coin untuk mendapatkan akses membaca tanpa hambatan (berbayar).

Nevertheless, bercerita tentang kisah seorang wanita bernama, Yoo Na Bi, seorang wanita baik-baik, penuh warna emosi, tapi memilih untuk tidak percaya pada “cinta”. Ia jatuh cinta dan tertarik dengan Park Jae Eon, seorang mahasiswa dari universitas yang sama dengannya. Sosok Park Jae Eon ini sangat menarik saya, karena ia digambarkan sebagai sosok “fuck boy”, yang tidak berniat menjalin hubungan resmi dengan wanita manapun. Everything is a game untuknya!

Sosok Park Jae Eon ini sangatlah menjengkelkan, tapi juga adalah sosok yang sangat menarik untuk dipelajari.

Drama ini adalah salah satu drama korea yang membuat saya benar-benar harus berpikir untuk menelaah karakter secara hati-hati dan tidak sembarangan. Saya melihat adegan demi adegan sebagai bahan kajian yang sangat menarik dan membutuhkan perhatian. Saya analisis setiap gerak, dan ekspresi bahkan adegen demi adegan. Kegiatan ini menarik sekali! Terutama pada masa pandemi seperti saat ini, saya senang mengalihkan perhatian saya dengan menelusuri jejak drama ini.

Saya pun berterima kasih kepada pihak Netflix yang menayangkan drama ini pada hari libur, sehingga sekarang setiap pagi minggu, saya memiliki pekerjaan sebelum turun dari tempat tidur, nonton.

Hal menarik yang saya temukan dari drama ini adalah bahwa drama ini disutradai oleh seorang perempuan. Ia bernama, Kim Ga-Ram. Lebih lanjut, Drama ini dijadwalkan hanya berisi 10 episode. Ini mungkin akan menjadi drama korea terpendek yang pernah saya tonton.

Saya menjadi sangat tidak sabar untuk menikmati setiap episode drama ini setiap minggunya. Satu episode hanya berdurasi kurang lebih 70 menit. Drama ini “dianggap” sebagai drama yang diangkat dari kisah nyata atau kisah yang banyak terjadi dalam hidup sehari-hari (realistis) anak-anak muda di Korea, atau di kota-kota modern di dunia. Kalau kita lihat sinopsisnya, saya pikir benar. Setiap segmen yang ada dalam drama ini, nampak seperti kejadian yang banyak terjadi di kalangan anak muda pada masa saat ini.

Yoo Na-Bi (Hang Soo Hee) dan Park Jae-Eon (Song Kang)

Masa Lalu

Yoo Na-bi, dalam drama ini dikisahkan memiliki luka masa lalu akibat hubungannya dengan mantan kekasihnya. Luka ini membuat ia tidak percaya lagi pada cinta, tapi masih berharap menjalin hubungan baru dengan orang lain. Sedangkan, sosok Park Jae-Eon adalah sosok yang penuh misteri. Dalam catatan Wikipedia, sosok Park-Jae-Eon dijelaskan sebagai berikut:

“A student at Hongseo University’s Sculpture Department who thinks relationships are a bother but likes to flirt. He is kind and friendly to everyone but is actually uninterested in other people. He is an expert in playing hard to get and does not show his true feelings..”

Saya menyimpan ketertarikan akan dua pribadi yang menjadi tokoh utama dalam drama ini. Yoo Na-bi dan Park Jea-Eon. Keduanya mewakili pernyataan “Sindrom gadis baik yang sulit melepaskan diri dari bad boy”. Saya mencoba untuk menempatkan diri saya dalam sosok si “gadis baik”, dan melihat mengapa ketertarikan pada the opposite menjadi suatu hal yang menarik untuk direnungkan.

Drama Korea ini memberi saya vibe yang sama seperti cerita “After”, antara Hardin dan Tessa. (Silakan membaca tulisan saya mengenai “After” dengan judul, “After Series karya Anna Todd: Toxic Relationship yang berujung pada pemulihan dan penemuan diri sendiri”).

Yeap! Park Jae Eon adalah sosok yang toxic, dan Yoo Na-bi tidak bisa melepasnnya. Park Jae Eon itu seperti obat yang rasanya pahit. Bisa meracuni, tapi juga dibutuhkan.

Para pembaca yang sudah selesai membaca Webtoon Nevertheless akan sangat paham dengan pernyataan ini. Saya sudah menyelesaikan webtoon ini, dan ditinggalkan dengan banyak sekali pikiran tentangnya. Banyak hal yang nampak belum selesai, dan memebri saya kesempatan untuk memikirkannya kembali.

Seperti dugaan saya, Park Jae Eon dan Yoo Na-bi memiliki masalah yang ada kaitannya dengan keluarga asalnya. Keduanya memiliki luka di rumah asal mereka, dari kedua orang tua mereka.

Yoo Na-bi tidak memiliki ayah. Ia kehilangan sosok ayah, atau sosok laki-laki dalam hidupnya yang dapat ia jadikan tempat bersandar. Ibunya menjalin hubungan yang tidak tetap dengan banyak pria, dan ia hanya menjadikan tante-nya sebagai panutan dan role model. Park Jae Eon adalah sosok yang lebih menyedihkan lagi. Ia melihat kedua orang tuanya menjalin hubungan lain dengan orang lain. Kedua orang tuanya, ayahnya dan Ibunya, masing-masing memiliki kekasih masing-masing. Lalu ia ditinggalkan seorang diri untuk menemukan kehangatan rumah di rumah orang lain (Spoiler alert!).

Luka masa lalu ternyata memberi jawaban dibalik luka dan rasa sakit yang dialami oleh para tokoh ini. Keadaan keduanya sangat dapat dijelaskan dari riwayat masa lalu seperti ini.

Saya tidak heran kalau Park Jae Eon tidak akan bersama Yoo Na Bi dalam drama ini. Saya tidak heran juga kalau seberapa move on-nya Yoo Na Bi, ia tetap akan terikat dengan Park Jae Eon.

Kupu-kupu

Ini mungkin baru pertama kalinya saya memikirkan tentang “kupu-kupu”, selain dari daya transformasinya. Benar, selama ini kita belajar tentang kekuatan transformasi seekor kupu-kupu. Hewan ini bahkan dilambangkan sebagai bentuk transformasi, perubahan.

Namun, berkat Nevertheless, saya memikirkan ulang apa yang sudah saya pikirkan ini. Kupu-kupu bukan hanya tentang transformasi, tapi banyak hal.

Park Jae Eon, adalah sosok yang menyukai kupu-kupu. Ia mengibaratkan wanita-wanita sebagai kupu-kupu. Hewan peliharaannya, yang ia jaga dan ia cintai. Tapi, yang juga ia kendalikan. Ia akan melepaskan kupu-kupu ke alam liar, karena ia paham dan tahu betul bahwa kupu-kupu adalah hewan yang “akan kembali” padanya ketika waktunya tiba.

Hal unik lainnya adalah bahwa kupu-kupu adalah hewan yang hanya hidup dalam hitungan minggu saja. Kalau hubunganmu dianalogikan sebagai masa hidup kupu-kupu, maka itu artinya hubungan ini tidak akan bertahan lama. Hanya dalam hitungan minggu saja, lalu hilang. Ya, meskipun tidak semua orang setuju dengan pendapat saya ini (Silakan baca catatan Denise Handlon “Butterflies: Symbols of Life and Hope”).

Kupu-kupu dan bunga memiliki hubungan yang sangat unik. Bunga adalah tanaman yang diam di tempatnya. Ia tumbuh, mekar dan menyediakan madu sebagai bahan makanan kupu-kupu. Lalu, datanglah si kupu-kupu. Ia terbang dan menyerap sari makanan dari bunga. Lalu, ia terbang dan pergi meninggalkan si bunga. Tapi, ia tidak akan terbang jauh-jauh. Kupu-kupu akan terbang kembali ke bunga yang pernah ia hinggapi sebelumnya, untuk mendapatkan madu, untuk mendapatkan sari-sari makanan. Ia akan terbang dengan sukarela, kembali dengan sendirinya, dan menghampiri sumber sari makanan, yaitu bunga. Kupu-kupu akan terbang kembali menghampiri bunga.

(Silakan baca mengenai perilaku Kupu-kupu melalui tulisan Wikipedia, “Butterfly”).

Nevertheless, membuat saya menyadari tentang hal ini. Sesuatu yang mungkin oleh kebanyakan orang dikatakan “sick”. Saya tidak menyangka ada pemikiran seperti ini, atau bahkan ada pemikiran seperti ini tentang hubungan antara bunga dan kupu-kupu.

Kupu-kupu mungkin terbang bebas, tidak seperti bunga yang terikat pada akarnya. Tapi, kupu-kupu adalah sosok yang terikat di sini. Ia terikat secara kasat mata dengan bunga yang diam dan tidak bergerak. Ia terikat secara sukarela, dan karena kebutuhannya. Analogi ini yang digunakan oleh penulis untuk membuat cerita tentang Yoo Na bi dan park Jae Eon. Cerdas!

Park Jae Eon dan Yoo Nabi dalam salah satu scene drama (Source. Antaranews.com)

Kisah Cinta Modern

Saya menganggap bahwa jalinan antara Park Jae Eon dan Yoo Na Bi adalah jalinan kisah cinta modern.

Kisah cinta moden adalah kisah cinta yang tidak ada unsur cintanya. Itu definisi saya. Kisah cinta seperti ini adalah kisah cinta yang hanya didasari oleh kebutuhan, dan keinginan yang sementara saja. Tidak ada komitmen yang jelas, dan akan berhenti ketika bosan dan tidak menarik lagi. Kisah cinta ini sangat cocok untuk orang yang menghindari komitmen, dan tidak ingin terkait secara emosional dengan orang lain. Pada saat ini, jenis hubungan seperti ini sudah sangat banyak ditemukan di kalangan anak muda.

Nevertheless, menceritakan kisah cinta atau hubungan seperti ini dengan sangat jelas, dan semakin kentara saja. Ini adalah realitas yang terjadi pada dunia saat ini. Pada anak-anak muda saat ini. Saya rasa, sangat cocok jika saya mengatakan bahwa pada saat ini, sangat sulit untuk menemukan cinta sejati di dunia ini. Sulit! Apalagi pada masa-masa pandemi seperti ini.

-Bagian II-


Source. Media.suara.com

Bad Boy Vs Good Girl, Siapakah mereka?

Bad boy, diasosiasikan sebagai seseorang yang memiliki kadar testosterone lebih tinggi dibandingkan pria-pria lannya kebanyakan. Bad boy, (untuk yang kesekian kalinya), bersifat sangat seksual, dan memiliki daya tarik yang sifatnya sangat seksual.

Good girl, sama seperti artinya adalah gadis baik-baik yang memiliki perilaku yang selaras dengan nilai-nilai baik dalam masyarakat.

Dalam drama ini, Park Jae Eon mungkin bis akita golongkan sebagai Bad boy, dan Yoo Na-bi sebagai the Good Girl. Setuju? mungkin.

Park Jae Eon ketika melihat Yoo Na Bi dekat dengan sahabat pria lainnya (Source:kumparan.com)

Kecemburuan

Pada dasarnya, kita tertarik pada sesuatu yang tidak kita miliki. Sociologist dan clinical sexologist Sarah Melancon, Ph. D menyebutnya seperti ini,

Basically, “We’re attracted to qualities in others that we ourselves wish we had”

Rasa cemburu yang kita miliki, lahir dari perasaan dan kesadaran bahwa kita sedang tidak memiliki sesuatu yang pada saat yang bersamaan dimiliki oleh orang lain. Sebagai manusia, kita memiliki kecenderungan ini, “menginginkan milik orang lain”. Konflik dan banyak kejadian lahir dari keinginan ini. Tapi, selain konflik dan hal negative, ada hal positif juga yang lahir dari sifat ini, yaitu perkembangan dan kemajuan. So, not bad at all!

Rasa cemburu nampak dari banyak aksi dalam drama Nevertheless ini. Rasa cemburu dapat juga dikatakan rasa yang lahir karena “merasa memiliki” ?

Beban untuk menjadi “Good Girl”

Mereka yang diberi label “good girl” kadang memiliki perasaan ini “tertekan” dan tidak menginginkan label ini ada di jidat mereka setiap kali orang lain melihat mereka. Keinginan untuk melepaskan label ini, dan menjadi berbeda ada dan hadir seiring berjalannya waktu. Ada karena ternyata hal ini sudah ada dalam DNA perempuan yang memiliki label “good girl”, dan seiring berjalannya waktu keinginan ini subur dan hadir terus menerus.

Tantangan

Manusia, pada dasarnya sangat menyukai tantangan. Sesuatu yang menantang akan melahirkan pertumbuhan, perkembangan dan jalur hidup yang baru. Sesuatu yang berbeda, dan baru adalah tawaran yang sangat menggiurkan.

Seorang Good girl pun memiliki dan menyimpan perasaan seperti ini, perasaan untuk menapaki jalan yang baru. Jalan yang berbeda dari apa yang selama ini mereka jalani. So, Bad boy, dilihat sebagai peluang untuk mewujudkan dan menyalurkan keinginan ini.

Selain itu, ada tantangan untuk “menakhlukkan” sosok bad boy, yang nampak tidak terjamah dan tidak tergapai. Menggapai tangga pencapaian untuk bisa menakhlukkan sosok bad boy adalah prestasi yang luar biasa dan sangat bisa dibanggakan.

Keinginan untuk menakhlukkan juga lahir dari keinginan untuk “memperbaiki” sesuatu yang abnormal atau tidak pada tempatnya. Bad boy adalah abnormalitas di lingkungan good girl yang normal-normal saja. Wajar kalau keinginan untuk memperbaiki sesuatu yang tidak sesuai lahir dan muncul dalam diri si anak.

Source. idntimes.com

Perlindungan

Dalam teori motivasi milik Maslow, rasa aman adalah salah satu kebutuhan yang sangat penting setelah kebutuhan fisiologis manusia. Rasa aman dan nyaman lahir dari perlindungan yang cukup. Manusia manapun, bahkan golongan good girl mengharapkan dan menginginkan hal ini, perlindungan.

Sosok bad boy adalah sosok yang kadang diasosiasikan dengan sosok yang mampu untuk melindungi dan memberikan rasa aman. Anggapan bisa demikian dan bisa seperti itu.

So, demikian para pembaca sekalian. Saya sangat berharap teman-teman pembaca sekalian dapat mengambil sedikit pelajaran atau bahan pemikiran dari tulisan receh ini.

As always, salam hangat dari saya.

Bacaan yang mendukung tulisan ini:

  1. Dina Cheney (2020). Why Women Find “Bad Boys” So Attractive, Even Though We Know They’re Trouble. https://www.goodhousekeeping.com/life/relationships/a32314885/dating-bad-boys/
  2. Pierce Conran (8 July 2021). Netflix K-drama Nevertheless: Song Kang, Han So-hee in college romance drama that struggles to break the mould. https://www.scmp.com/lifestyle/k-pop/k-drama/article/3140313/netflix-k-drama-nevertheless-song-kang-han-so-hee-college,
  3. Halodokter (2021). Good girl syndrome, Ketika Bersikap Baik Justru Membuat Tidak Bahagia. https://www.alodokter.com/good-girl-syndrome-ketika-bersikap-baik-justru-membuat-tidak-bahagia.
  4. Beverly Engel (2010). The Nice Girl Syndrome: Stop Being Manipulated and Abused-and Start Standing Up for Yourself.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s