Review Buku: “Di sini dan saat ini: Pendekatan Sehat Mental untuk Menikmati Setiap Momen di Masa Kini” Karya Putra Wiramuda


Sesaat setelah menyelesaikan lembar terakhir dari buku ini, saya menerima kabar bahwa salah satu sahabat seperjuangan saya, Didik Saudin, S.Kep.,Ners.,M.Kep baru saja dipanggil oleh Sang Khalik ke hadiratNya.

Saya mengambil moment sejenak untuk mendoakan beliau, sambil teringat banyaknya kebaikan yang pernah beliau berikan kepada saya dan kepada teman-teman seangkatan waktu itu. Meskipun saya hanya sempat berinteraksi dengan beliau selama 6 bulan, tapi beliau meninggalkan kesan yang mendalam untuk saya. Keaktifan beliau di ruang kelas, dan gaya berbicara yang khas jowo-nya membuat setiap orang dengan sangat mudah tertarik dengan beliau. Saya berdoa bagi keselamatan jiwa beliau, dan semoga doa sederhana ini dapat mengantarnya sampai ke pintu surga.

Saya menyadari munculnya perasaan berduka dan kehilangan ketika saya menutup mata. Kesadaran ini masuk ke dalam diri saya, dan saya menyadarinya. Sesadar-sadarnya. Ini adalah bagian dari praktik mindfulness yang saya pelajari dari buku karya Putra Wiramuda ini.

Selama beberapa saat ini, saya menghabiskan satu demi satu, lembar demi lembar dari buku ini. Saya mengikuti saran dari penulis pada awal buku untuk mengikuti setiap langkah dan panduan untuk mempraktikkan mindfulness secara sederhana di rumah. Sungguh sangat membantu.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini sederhana dan sangat mudah dipahami. Tidak sulit untuk mengikuti setiap langkah-langkah yang diarahkan di sini.

Let It Be

Hal menarik yang saya temukan dalam buku ini, salah satunya adalah konsep tentang “Let it Be” bukan Let it Go. Saya menyadari bahwa sejak Disney Movie “Frozen”, saya memakukan diri saya dengan konsep Let it Go (melepas pergi). Tapi, saya menyadari bahwa ada yang kurang di sini. Baru kemudian saya menyadari ada konsep lain yang dapat melengkapi rasa kurang ini, yaitu konsep Let it Be.

Mengenai konsep Let it Be, saya teringat lagu sederhana dan sangat terkenal dari Group Band, The Beatles yang berjudul sama, “Let it Be”. Cerita di balik lagu ini sangat berkesan, dan pesan di balik lagu ini pun demikian.

When I find myself in times of trouble, Mother Mary comes to me
Speaking words of wisdom, let it be
And in my hour of darkness she is standing right in front of me
Speaking words of wisdom, let it be

Let it be, let it be, let it be, let it be
Whisper words of wisdom, let it be

And when the broken hearted people living in the world agree
There will be an answer, let it be
For though they may be parted, there is still a chance that they will see
There will be an answer, let it be

Let it be, let it be, let it be, let it be
There will be an answer, let it be

Let it be, let it be, let it be, let it be
Whisper words of wisdom, let it be

Let it be, let it be, let it be, let it be
Whisper words of wisdom, let it be, be

And when the night is cloudy there is still a light that shines on me
Shinin’ until tomorrow, let it be
I wake up to the sound of music, Mother Mary comes to me
Speaking words of wisdom, let it be

And let it be, let it be, let it be, let it be
Whisper words of wisdom, let it be

And let it be, let it be, let it be, let it be
Whisper words of wisdom, let it be

(Let it Be_The Beatles)

Alih-alih melepaskan begitu saja, dan membuang jauh-jauh apa yang terjadi (dan melupakan), akan lebih baik jika “merelakan” apa yang sudah terjadi dan meletakkan definisi melepaskan sebagai merelakan apa yang terjadi menjadi terjadi. Membiarkan hal buruk apapun yang terjadi mengalir lepas dari genggaman tangan saya dan membiarkannya menjadi “terjadi”.

Konsep ini berbeda dengan hanya “melepaskan” begitu saja.

Let it Be…(Foto Dokumentasi Pribadi)

STOP.

Semakin ke dalam, saya menyadari bahwa selama ini, saya sudah sering mempraktikkan langkah-langkah yang tertuang dalam buku ini. Saya percaya bahwa ini adalah cara alami yang dilakukan oleh tubuh saya untuk menyembuhkan diri ketika terjadi luka yang tidak kelihatan.

Langkah STOP misalkan. Ketika berhadapan dengan peristiwa yang mengguncang, atau ketika saya berada dalam pusaran badai emosi yang merusak, secara otomatis saya akan berhenti. Saya akan stop sejenak dari apapun yang saya kerjakan dan apapun yang saya pikirkan. Pada saat seperti ini, tubuh saya secara otomatis akan memusatkan pikiran pada hal yang mengganggu dan berusaha menyingkirkannya. Saya pasti tidak dapat berkonsentrasi pada saat ini, dan hal ini semakin menguatkan saya untuk berhenti. Saya berhenti sejenak.

Selanjutnya, saya akan memusatkan perhatian saya pada tarikan nafas. Ini adalah kebiasaan yang sudah saya pelajari sejak lama, tepatnya ketika saya membaca buku-buku tentang “mindfulness” beberapa tahun belakangan.

Saya memusatkan pikiran saya pada tarikan nafas, dan ketika saya melepaskan nafas. Ketika saya menarik nafas, sangat terasa beban berat yang saya alami. Lalu, bersama hembusan nafas ke luar, saya lepaskan dan biarkan pergi menyatu bersama alam semesta. Pada saat itu, perlahan dan sangat perlahan, beban saya menjadi ringan. Saya merasakan perbedaan yang cukup significant.

Dua langkah di atas cukup untuk menenangkan diri, dan membuat saya bisa melakukan observasi terhadap apapun yang terjadi. Atas pertolongan pikiran saya yang memang sangat suka menganalisa berbagai hal, saya melihat masalah atau hal yang mengganggu dari berbagai sudut dan sisi. Seumpama bermain lego, saya melakukan bongkar pasang terhadap apapun yang terjadi. Merekontruksi kemungkinan yang dapat terjadi dan melihat dari berbagai sudut. Tanpa melakukan penilaian yang berlebihan. Ya, saya menahan diri untuk tidak memberikan penilaian. Saya biarkan masalah tetap pada bentuknya, yaitu masalah. Tanpa harus ditambah dengan beban lain sepeti emotional attachment atau sejenisnya. Langkah ini memudahkan saya untuk melihat masalah dengan lebih jernih, dengan lebih baik dan dengan lebih objektif.

Terakhir, saya membiarkan diri saya mengambil keputusan. Diam pun adalah bagian dari keputusan. Sambil mengambil keputusan, saya pun berusaha untuk melihat tanggung jawab atau resiko apa yang akan saya peroleh di depan sana. Tidak ada keputusan yang akan berakhir sia-sia, selalu ada harga yang harus dibayar dari apapun yang diambil. So, chose well!

Photo by Pera Urosevic on Pexels.com

Buku ini kembali membuktikan teori saya tentang hubungan antara buku dan pembacanya. Saya merasa bahwa Tuhan mengirimkan pertolongannya pada saya melalui catatan atau buku-buku yang saya baca. Salah satunya adalah buku ini. Saya menikmati setiap proses ini, dan ini membuat saya semakin dewasa dalam berpikir dan juga semoga, dapat memperdalam hubungan spiritual saya dengan Sang Maha Pencipta.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh siapapun. Mereka yang tertarik dengan kedamaian dan ketenangan jiwa; mereka yang mencari jawaban tentang “bagaimana menenangkan pikiran di tengah hiruk pikik dunia pada saat ini”.

Buku ini, saya rasa cukup memberikan jawaban dari sisi ilmu psikologi. Apalagi ditunjang dengan latihan-latihan sederhana yang bisa dipraktikkan secara mandiri di rumah. Paket komplit!

Bagi teman-teman yang ingin memesan buku ini, silakan berkunjung ke beranda toko buku Yoi (Yoi Book store) dan langsung memesan buku ini secara langsung.

Bagi yang sudah membeli dan membaca buku ini, silakan bagikan pemikiranmu mengenai buku ini. Kita bisa saling memperkaya diri dan sama-sama saling belajar.

As always, salam hangat dari saya.

Sincerely, Ayu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s