Berani.


Beberapa hari yang lalu, setelah saya menerbitkan satu terbitan di Instagram pribadi saya dengan kalimat pertama seperti ini, “Setelah tidak terhitung lagi banyak hari tanpa segelas atau dua gelas kopi…”, seseorang mendatangi saya secara pribadi dan langsung bertanya mengenai intensi saya menulis tulisan dan menerbitkan demikian.

Pertanyaan yang ditujukan kepada saya, langsung tertuju pada bagian tulisan ini,

“Demi tidak masuk UGD lagi! Karena biaya berobat ke rumah sakit dan perawatan dari sakit lebih mahal dari biaya lembur saya beberapa hari!,”

Pertanyaan yang secara langsung ditujukan kepada saya adalah,

“Memangnya, berapa Rupiah kamu dibayar?”

Saya kaget! Bukan karena saya tidak mengantisipasi pertanyaan seperti ini, hanya saja saya kaget karena saya tidak mengira kalau tulisan receh saya itu, memberikan reaksi (atau respon) yang tidak pernah saya bayangkan. Apalagi dari orang yang juga tidak saya duga. Pesan yang saya maksudkan, ternyata dipersepsikan berbeda oleh orang lain. Menarik!

Masalahnya

Sebelumnya, saya memiliki sedikit masalah dengan inspirasi untuk menulis. Sama seperti yang diasumsikan oleh salah satu pengikut Instagram saya, bahwa sebelumnya saya menarik inspirasi dari kopi untuk menulis. Tapi, sejak saya membatasi dan bahkan menghilangkan kopi (aka kafein) dari diet saya setiap harinya, saya membiasakan diri untuk menemukan inspirasi dari hal lain. Kesimpulan yang saya peroleh adalah, anggapan bahwa kopi adalah sumber inspirasi adalah tidak benar. Inspirasi menulis atau mengerjakan sesuatu dalam diri saya lahir dari hal lain, dan itu bukan kopi. Hal ini melegakan saya tentu saja, karena saya ternyata bisa hidup produktif tanpa tergantung pada hanya segelas kopi saja.

Hubungan antara saya dan segelas kopi adalah sesuatu yang sangat menarik, dan menjadi ide tulisan terakhir saya di akun Instagram pribadi saya. Ide tulisan itu mengalir begitu saya, dan langsung saya tuliskan di smartphone saya sendiri. Saya tidak memiliki outline untuk menulis atau menyusun paragraph. Saya hanya menulis, dan terus saja menulis sampai selesai. Setelah selesai, mendiamkan tulisan ini beberapa menit, saya cek kembali sebelum saya putuskan untuk dipublikasikan langsung.

Instagram memang membutuhkan setidaknya satu buah foto untuk diterbitkan bersama tulisan, dan saya kebetulan memiliki foto yang lumayan layak dan sayang kalau tidak dibagikan kepada dunia maya.

Pesan dibalik Tulisan

Ketika saya membaca kembali tulisan tersebut, timbul keraguan dalam diri saya. Saya akui bahwa tulisan itu terkesan berani, dan sungguh tidak seperti saya biasanya. Tapi, saya berpegang pada salah satu filosofi hidup saya yaitu, “be bold, be brave”, maka terjadilah. Tulisan itu saya terbitkan dengan segala konsekuensinya.

Pesan yang saya harap dapat diambil oleh para pembaca adalah sebagai berikut:

  1. Kesehatan adalah investasi yang berharga, dan juga adalah sebuah tanggung jawab pribadi yang tidak bisa digantikan. Kesehatan diri sendiri haruslah menjadi prioritas, apalagi pada masa-masa saat ini.
  2. Boleh bekerja dengan keras, tapi harus selalu ingat untuk menjaga kesehatan. Siapa yang akan peduli dengan kesehatan kita sendiri, kalau bukan kita sendiri? terlebih lagi adalah karena tubuh fisik ini adalah tubuh mulia ciptaan Yang Maha Kuasa, maka harus dan wajib untuk dijaga dan dirawat sebaik mungkin. Bekerja terlalu keras sampai tidak mempedulikan kesehatan sendiri adalah tindakan yang egois.
  3. Perusahaan, atau tempat bekerja harus memperhatikan perihal kesehatan karyawannya. Jaminan kesehatan dan keselamatan harus menjadi prioritas agar karyawan merasakan aman dan nyaman dalam bekerja. Perusahaan harus memiliki sistem penjamin yang akan memudahkan karyawan mengakses layanan yang mereka butuhkan, terutama layanan paling dasar, yaitu layanan kesehatan.

Pesan nomor tiga, yang saya harapkan dipahami oleh para pembaca, adalah pesan yang saya nilai cukup berat untuk saya sampaikan di ruang terbuka. Tulisan ini, bukan hanya curahan hati yang sifatnya pribadi, tapi adalah kritik terselubung yang mengharapkan respon dan tindakan lebih lanjut dari sebuah badan usaha.

Saya hampir mengganti dan menarik tulisan ini. Tapi kemudian saya membatalkannya karena suara di kepala saya yang terus berteriak seperti ini,

“Sampai kapan kamu akan diam saja, dan berlagak tidak peduli?” dan,

“Pergunakan waktumu baik-baik, dan sebaik-baiknya”

Saya lalu membiarkan tulisan itu ada di sana, dan dibaca oleh mereka yang tertarik untuk membacanya atau mempersoalkannya.

Pembelaan diri saya

Dalam keluarga saya, kritik adalah hal yang sangat biasa kami lakukan. Tapi, saya dan saudara-saudari saya selalu menekankan bahwa kritik dapat dilontarkan bersamaan dengan pilihan solusi, agar kritik tidak hanya berakhir dengan omong kosong saja. Mereka yang suka mengkritik, harus menyediakan solusi. Itu rumusan tidak tertulis yang kami jalankan. Kalau tidak memiliki solusi untuk menyelesaikan masalah, jangan mengkritik. Titik.

Bukan kedua orang tua saya yang mengajarkan hal ini kepada saya dan adik-adik saya. Tapi, kedua orang tua saya menginspirasi kamu untuk mempraktikkan hal ini, dan menjalankannya sampai saat ini.

Tidak mudah menjalankan hal sederhana seperti ini. Tapi, saya sangat bersyukur karena kami menjalankan praktik seperti ini di rumah. Setidaknya, ketika kami bekerja dan bersama orang-orang lain, kami lebih berhati-hati dalam mengkritik sesuatu.

So, wajar saja kalau saya suka mengajukan kritik pada apapun yang saya anggap bisa saya ubah.

Cara mengkritik saya pun berbeda. Tidak seperti kedua adik saya yang menggunakan mulutnya, saya lebih menggunakan tulisan, seperti yang sudah banyak saya tuliskan dan jelaskan pada banyak tulisan saya yang lainnya. Ini menjelaskan mengapa media sosial milik saya, banyak saya gunakan tidak hanya untuk mengkritik, tapi juga untuk memberikan solusi ala kadarnya.

Ketika menulis dan membaca kembali tulisan ini, saya merasa sangat lucu! Saya bertanya pada diri saya sendiri, “Mengapa saya harus menjelaskan mengenai keadaan saya seperti ini?”, ini sungguh pembelaaan diri yang sia-sia, dan tidak seharusnya saya tuliskan di sini. Tapi, bagi saya, menuliskan apa yang ada di pikiran saya sendiri, mengurangi rasa cemas dalam diri saya. Lebih lagi saya berharap, agar orang lain dapat belajar dari kasus atau pengalaman yang saya alami.

Saya hanya ingin mengisi hari-hari dalam hidup saya dengan kegiatan belajar dan belajar. Termasuk pengalaman yang saya deskripsikan di sini. Saya juga terdorong oleh keinginan untuk memberi arti dan makna dari hari-hari yang saya jalani setiap harinya. Saya tidak ingin hari-hari saya berakhir dalam kesia-siaan dan penyesalan.

So, bagaimana tanggapan teman-teman terhadap kisah receh saya ini? Apakah ada yang pernah mengalami pengalaman yang serupa? Bisa berikan saya pendapat atau opini kalian?

Well, cukup sampai di sini dlu. As always, salam hangat dari saya dan stay safe.

Sincerely, Ayu.

8 pemikiran pada “Berani.

  1. Semoga puasa kafeinnya lancar dan dimudahkan, dan gak perlu masuk UGD lagi yaa! Mungkin bisa dicoba diganti dengan lebih banyak minum air putih aja supaya tetap fokus?

    Dulu jaman S2, aku termasuk yang ketergantungan dengan kafein, meski bukan kopi, tapi energy drink sejenis Redbull, Monsters, dan betul-betul tiap hari. Aku beruntung gak sampai masuk UGD saat itu, meski kalau dipikir-pikir porsinya kelewatan juga. Eniwei, habis aku paksa diriku buat stop dan cuma minum air putih sering-sering, ditambah teh sekali-kali, eh ternyata bisa bikin fokus juga. Jadi nyesel selama itu nenggak energy drink yang sekali belanja bisa 2 lusin…

    Disukai oleh 1 orang

  2. Terima kasih banyak, Kak. Ia, kapok beneran haha

    Ia, saya fokus untuk mengonsumsi air putih saja supaya tetap fokus dan sehat. Untungnya saya bukan penyuka minuman energy drink, jadi masih aman sejauh ini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s